Mengapa Kebudayaan Jawa Mengalami Kemunduran yang Signifikan (2)

Indra Ganie

 

Mengenang 70 tahun (1945 – 2015) Proklamasi 1945, pernyataan kehendak bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. Negara yang turut diperjuangkan oleh sejumlah anggota keluarga penulis. Negara yang masih menjadi wilayah pertarungan sejumlah pengaruh asing, terutama IMPERIALISME ARAB – yang telah berlangsung sejak abad 7.

 

Artikel sebelumnya:

Mengapa Kebudayaan Jawa Mengalami Kemunduran yang Signifikan (1)

 

Bagaimana dengan kini? Nah, silahkan simak berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:

  1. Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang jahat sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang dari Arabia.
  2. Artis-artis film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’on politik ini, bagaikan dimasukkan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (setting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
  3. Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalaam…dan wassalaam…. Padahal acaranya belum tentu khusus terkait dengan syi’ar atau da’wah Islam, yang memungkinkan umat lain turut hadir. Dulu kita bangga dengan ungkapan “tut wuri handayani”, “menang tanpo ngasorake”, “gotong royong”, dan sebagainya.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah-istilah asing dari Arab, misalnya “amar makruh nahi mungkar”, “saleh” dan “salehah”, dan seterusnya. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bahasa Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik, bahkan licik.
  4. Kebaya, teluk belanga dan surjan diganti dengan hijab, cadar, celana gombrong, dan janggut ala orang Arab. Nama-nama Jawa dengan Ki dan Nyi (semisal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab-araban dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending-gending Jawa yang indah sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Di beberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum yang disebut “syari’ah” terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berhijab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan-bangunan ibadah dan sekolah non Islam.
  5. Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh (istilah) “madrasah”, “tarbiyyah”, atau “ma’had” – sekaligus istilah tersebut menggusur istilah “pesantren”. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka (terancam) lenyap.
  6. Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente; istilah ke Arab-araban pun diada-adakan, walau (mungkin) nampak kurang logis!
    Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi kontroversi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat istilah “bank syari’ah”.
  7. Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berhijab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk Arabisasi pakaian dinas di kantor masing-masing.
  8. Di hampir pelosok Pulau Jawa kita dapat menyaksikan bangunan-bangunan masjid yang megah, bukan dari dana swadaya masyarakat namun dari dana pembangunan dari Arab yang luar biasa besarnya.
  9. Fatwa MUI tahun 2005 tentang larangan-larangan yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek ketetapan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai.
  10. Buku-buku yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Asia Barat/Arab ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Asia Barat/Arab yang berbasis intuisi-agamis, misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual imam ini imam itu, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dan seterusnya. Masyarakat Indonesia harus selalu cermat dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
  11. Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakter (character assasination) budaya Jawa sekaligus meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama atau bertopeng agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah juga asing!
  12. Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menzalimi kaum perempuan dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah cukup mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan Arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdhatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).
  13. Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing-masing!
  14. Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Ba’asyir) mendirikan lembaga pendidikan Ngruki untuk mencuci otak anak-anak muda. Akhir-akhir ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian.
  15. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan bai’at. Banyak intelektual muda kita di universitas-universitas yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah di Indonesia yang dijadikan tempat cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya pembangunan berbagai madrasah. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

Penulis ulangi, sejarah membuktikan bagaimana Kerajaan Majapahit, yang luar biasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gunung Bromo (suku Tengger) dan Pulau Bali (suku Bali). Dan (mungkin) perlu diselidiki, apakah peranan Wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar? Intinya, semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!

 

Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:

  1. Orang-orang hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih primitif) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
  2. Orang Barat memperdayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = kira-kira Rp. 10.000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di Luar Negeri menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dibohongi dan dimanjakan untuk menjadi negara pengexport bahan mentah dan sekaligus pengimport bahan jadi terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang luar biasa.
  3. Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dan seterusnya. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
  4. Orang Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita di atas; di samping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Azahari, Abu Bakar Ba’asyir dan Habib Riziq S (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
  5. Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke Singapura, Thailand, Filipina, dan seterusnya). Konyol bukan?
  6. Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan /multi level .
  7. Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut-ikutan. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
  8. Sampai dengan saat ini, Indonesia belum dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimension), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama-sama mengalami krisis sudah kembali relative sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

 

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi Arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Asia Barat (Arab), antara modernitas dan kekolotan (memahami) agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington.

Tanpa harus meniru/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristiani modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Italia dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

 

Salam “MERDEKA” dari anggota keluarga Pejuang 1945!

 

 

About Indra Ganie

Dari anggota keluarga Pejuang 1945 yang ingin Indonesia bebas dari pengaruh negatif budaya impor yang menginfiltrasi dan ingin menggantikan budaya Indonesia.

Arsip Artikel

5 Comments to "Mengapa Kebudayaan Jawa Mengalami Kemunduran yang Signifikan (2)"

  1. Lani  8 April, 2017 at 08:06

    Sekarang zaman cari gampang meniru saja……..anut grubyug……..pdhal budaya sendiri sgt tinggi, semakin lama malah semakin meredup/hilang

  2. Alvina VB  8 April, 2017 at 03:51

    Kelewatan, gak pernah baca artikel ini. Mas Dj mungkin betul….banyak yg kesindir atau dah pasrah aja, gak tahu mau bikin apa lagi? Semoga yg temen saya bilang cuman ‘LATAH’ cepat berlalu. Jaman duluuuuu kl yg namanya wanita berkudung itu udah siap lahir dan bathin, biasanya sich kl sudah naik haji, jadi hajah; gak cuman ikut2an doang/ cuman trend doang. Yg disayangkan kok ya yg latah itu dari yg gak pendidikan sampe yg pendidikan tinggi. Apalagi sekarang raja Arab udah berkunjung ke tanah air, makin ambyar dah…..

  3. Pujut  7 April, 2017 at 12:29

    Artikel yg bagus sebagai bahan introspeksi, guna memandang masa depan nusantara yg bebas dan berdaulat

  4. Edy  2 July, 2015 at 11:47

    Artikel nya bagus nih, truth hurt!
    Rupanya Soeharto ikut andil akan kemunduran budaya jawa, saya kira dia itu kejawen tulen.

  5. Dj. 813  29 June, 2015 at 22:59

    Lho artikel bagus gini tidak ada yang kasih komentar….
    Rupanya semua kena tersindir, karena ikutan budaya arab…
    Jadi malu mau kasih komentar….
    Hahahahahahahaha….!!!
    Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.