Ecstasy

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

FIKSI dan fakta bercampur baur ditemukan bila kita berziarah ke makam-makam Wali Sanga. Bukan menihilkan bahwa Wali Sanga tidak pernah ada, seperti kata penceramah kemarin sore. Bahkan mengejek kebudayaan yang diemban misi Wali Sanga dalam kegiatan evangelisme (penyebaran dakwah agama). Coba, sesekali saja, datang ke sembilan makam Wali Sanga (saya pernah melakukannya saat liburan Natal 1995), Anda akan punya cara pandang yang berbeda tentang Wali Sanga. Bukan berdasarkan kata penceramah kemarin sore dan diikuti membabi buta oleh pengikutnya yang cenderung anti budaya Jawa.

Bukan keberadaan historis para wali yang kemudian menjadi penting, tapi eksistensi mereka. Bahwa kuburan mereka ada atau tidak isinya atau ada, atau ada tidaknya para wali, telah menjadi wibawa dari sosok Wali Sanga itu sendiri.

wali sanga

Walau sejarahwan ‘gak kelar-kelar’ berdebat tentang peran para Wali Sanga dalam sejarah, tapi para peziarah (termasuk saya) membuat makam-makam Wali Sanga terus berdenyut. Karena hanya makam tok, telah memberi ekstase (ecstasy) spiritual yang sangat mereka butuhkan dalam kehidupan. Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan sepanjang tahun, tak pernah sepi! Ini yang membuat tanah Jawa bila dilihat dari satelit seperti prosesi tanpa henti.

Percuma sok tahu bawa kemurnian agama sambil menghujat Wali Sanga. Orang tak butuh itu. Yang perlu membuka mitos, tabir atau kepercayaan untuk mendapat gambaran sebenarnya, seperti apa orang Jawa bisa menerima Islam melalui kebudayaan. Tidak ada kebenaran tunggal yang sok tahu untuk memberi penilaian kepada Wali Sanga. Orang lebih suka perbincangan yang saling mencerdaskan.

Kini banyak alien muslim dari Timur Tengah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri di Indonesia. Sementara Wali Sanga mengislamkan banyak orang kafir.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.