Saudara Tidak Tahu Diri

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Tulisan ini terinpirasi dari keluhan beberapa teman yang tinggal di luar negri, yang pernah menghadapi ulah saudaranya yang nggak tahu diri, padahal sudah dibantu malah ujung-ujungnya suka nyatut, suka berbohong, mempergunakan kebaikan kita yang sudah membantunya dengan tulus tapi balasannya malah kita dikerjain saudara kita itu.

Tinggal di luar Indonesia nggak seenak yang kita bayangkan, hidup di luar negri itu sebenernya seperti robot dan sangat individu banget. Kita sudah kerja fulltime seminggu 40 jam kadang lembur kalau memang perusahaan membutuhkan kita, dan menghadapi cuaca empat musim yang lebih banyak cuaca buruknya daripada cuaca panas cerah.

Bayangin kalau yang nggak punya mobil harus naik sepeda kadang menghadapi cuaca buruk seperti hujan angin, salju turun jalanan licin, harus nggenjot sepeda atau jalan kaki ke halte bus dengan terburu-buru karena takut ketinggalan bus dan kereta api, kita harus tepat waktu berdiri di halte bus atau station kereta, kalau nggak tepat waktu bisa ketinggalan kita telat masuk kerja, karena kendaraan umum nggak ngejar setoran jadi nggak bakal nunggu penumpang. Pulang kerja harus masak sendiri atau gantian dengan pasangan kita siapa yang lebih dulu sampai rumah dialah yang masak untuk makan malam karena nggak ada pembantu di rumah, belum lagi harus membersihkan rumah.

Saat weekend setelah belanja mingguan kita juga masih harus membersihkan rumah, karena hari biasa kita hanya membersihkan hal-hal yang penting aja jadi nggak semua dibersihkan. Membawa belanjaan ke dalam rumah dan menyusunnya dengan rapi di tempatnya masing-masing. Malam baru bisa santai kadang malah belum semuanya dikerjakan karena belum ada waktu, siangnya terlalu banyak berada di luar rumah ketika pergi belanja makanan mingguan di supermarket atau pasar tradisional, lalu keliling pertokoan atau duduk di cafe sejenak. Bagi yang nggak biasa melakukan acara rutin seperti itu tentu berat awalnya kalau membandingkan hidup di Indonesia.

Karena kendala bahasa umumnya di luar negri kita bekerja di pabrik atau kerja bersih-bersih kantor, atau jualan makanan menerima pesanan. Biarpun misalnya kita di Indonesia lulusan S1 atau S2 atau mungkin lulusan HBO di Belanda banyak yang ujung-ujungnya nggak kerja kantoran karena itu tadi masalah bahasa dan menulis bahasa Belanda itu susah. Tetapi walaupun kerja di pabrik atau bersih-bersih kantor di Belanda nggak masalah karena di sini orang-orangnya nggak melihat profesi seseorang jadi nggak akan ada orang sinis merendahkan profesi kita.

Nah, apa saudara-saudara kita di Indonesia tahu bahwa kita di luar negri jadi pekerja kasar untuk membantu ekonomi mereka? Umumnya mereka itu nggak mau tahu yang penting dikirim uang, dibantu ekonominya. Titik! Kalaupun kita kasih tahu bahwa kita kerja kasar di pabrik mereka kadang nggak percaya kalau percaya jawaban mereka umumnya ”Masa, sih? Kalau kerja di pabrik atau bersih-bersih kantor mending pulang aja tinggal di Indonesia, ngapain tinggal di luar negri?” Katanya enteng.

Hidup adalah pilihan tentunya, pulang ke Indonesia kalau dapet pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kita tapi kalau nggak ujung-ujungnya kerja serabutan kan? Masalah kerja serabutan orang Belanda sendiri walau lulusan HBO atau Universitas tapi kalau belum mendapat pekerjaan ujung-ujungnya juga kerja serabutan sambil melamar ke sana-sini sampai mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.

Untuk bisa membantu saudara kita di Indonesia tentu kita harus bekerja karena nggak mungkin mengandalkan uang dari pasangan kita, biar bagaimana kita punya rumah tangga bukan hanya ngurusin orangtua dan saudara-saudara kita yang di Indonesia itu. Kita pun dengan hati tulus mengirim uang untuk orangtua dan saudara kita membantu ekonomi mereka kalau kita memang dari keluarga yang ekonominya kembang-kempis kan?

Setiap bulan kita sisihkan uang mengirim untuk orangtua dan saudara kita tanpa henti selama bertahun-tahun. Ada saudara kita yang minta dibelikan motor kita pun menurutinya membelikan motor padahal untuk bisa membelikan motor saudara, kita harus menyisihkan uang lebih ketat lagi agar bisa mengirim uang untuk membelikan saudara kita motor sementara kita mau beli sesuatu yang harganya sebenernya murah kita malah nggak berani beli karena merasa mahal padahal untuk diri kita sendiri.

Tapi ketika kita mengirim uang untuk orangtua dan saudara, uang yang kita kirim itu cukup banyak jumlahnya sampai jutaan bahkan puluhan juta, tapi kok ketika kita pengen beli sesuatu misalnya makanan yang harganya cuma tiga atau lima euro untuk diri kita sendiri kok merasa mahal ya? Itu karena kita terlalu sayang dan memikirkan orangtua dan saudara kita.

Orangtua dan saudara kita pun akhirnya bertahun-tahun jadi tanggungan kita, umumnya mereka bukannya makin tahu diri bahwa uang yang kita kirimin suatu saat ada batasnya bukan malah jadi benalu dalam hidup kita seumur hidupnya kan? Kalau orangtua kita sendiri pasti nggak masalah kita bantu seumur hidupnya, tapi ada juga orangtua yang membela anak-anaknya yang kita bantu sementara kita yang seumur hidup membantunya, yang memberi makan orangtua dan saudara kita malah nggak dibelain kan? Malah sekongkol dengan anak-anaknya yang lain yaitu saudara kandung kita sendiri untuk morotin kita yang kerja setengah mati di luar negri kan?

Nah, anehnya lagi kita sudah membantunya seumur hidup kita kalau dihitung udah ratusan juta tapi giliran mereka suatu saat butuh uang atau minta dibelikan sesuatu lalu kita nggak kasih, nggak kita turutin kemauannya malah saudara kita ngatain kita pelit, bener-bener kebangetan kan, padahal kita sudah sering membantunya, apa lupa?

tahudiri

Sedangkan mereka kalau kita dateng ke Indonesia walau kita sudah bawain oleh-oleh tapi tetap aja kalau belum dikasih uang belum puas mengangap kita ini banyak uangnya, buat jadi sinterklas padahal kalau kita mau ke liburan harus ngumpulin uang dulu malah kadang kita udah cukup uang untuk liburan dan uang saku untuk diri kita sendiri, tapi karena belum cukup uang lebih untuk menjadi sinterklas akhirnya kita nggak jadi pergi liburan ke Indonesia, hanya karena belum ada uang lebih buat bagi-bagi uang ke saudara padahal untuk kita sendiri sudah ada uang ticket dan uang saku, bener-bener ribet dan saudara kita jadi beban hidup kita.

Padahal sebenernya kalau kita sudah cukup bertahun-tahun membantu mereka, ketika kita pengen liburan ke Indonesia nggak harus memikirkan mereka lagi cukup diri kita sendiri, kalau mikirin mereka kapan kita liburan ke Indonesianya? Biar aja mereka mau bilang kita pelit atau apa kek kaya mereka nggak pernah dikasih aja sama kita kan? Makin kita cuek nggak peduli sama saudara karena kita udah kesebelan biasanya mereka lama-lama akan sadar kok dan ketika mereka sudah sadar mereka akan baik-baikin kita dan bilang ke orang-orang kalau kita ini baik, sementara semua itu sudah telat karena kita sudah kesebelan duluan, kalau kita ke Indonesia yang tadinya kita seneng ketemu saudara dan orangtua akhirnya kita jadi malas bertemu mereka kalaupun ketemu cuma sekedar aja nggak senyaman dulu. karena kita sudah sadar bahwa kita sebagai saudaranya malah kita diperas, mereka hidupnya jadi tergantung dengan kita.

Pesan moral dari tulisan ini kalau punya saudara tinggal di luar Indonesia dan kita dibantu secara ekonomi oleh saudara kita itu sebaiknya saat dibantu, gunakan bantuan sebaik-baiknya jangan terus-terusan kaya benalu mempergunakan kebaikan saudara kita yang tinggal di luar negri. Kalau dibiayai kuliah setelah selesai mencari pekerjaan biar bisa membatu orangtua yang nantinya ditanggung bersama jadi saudara kita yang tinggal di luar negri juga nggak terlalu berat. Saudara kita yang tinggal di luar negri juga butuh liburan setelah bekerja berat dan saat liburan ke Indonesia tentu pengen marasakan suasana nyaman bukan malah mendengar keluhan-keluahan ekonomi selama bertahun-tahun.

Apalagi kalau saudara kita yang tinggal di luar negri itu minta pertolongan sama kita misalnya mau membeli rumah atau mobil sebagai orang yang dipercaya harus membelikan sesuai kepercayaan bukan malah mencatut harga atau menipunya. Misalnya saudara kita yang tinggal di luar negri mengirim uang kontan buat beli mobil tujuannya biar bisa dipake orangtua kita dan buat jalan-jalan kalau ke Indonesia, jangan mentang-mentang saudara kita tinggal di luar negri nggak tahu ini, lalu uang cashnya dipake malah beli mobil kreditan, akhirnya bayar bulanannya nggak kebayar bikin repot sementara saudara kita yang tinggal di luar negri memberi uang cash.

Atau misalnya saudara kita yang tinggal di luar negri membeli dan membangun rumah sementara rumah itu untuk ditempati orangtua kita, jangan malah uang untuk membangun rumah itu dicatutin apalagi sampai nggak selesai-selesai membangun rumahnya, kasihan kan masa sama saudara sendiri yang sudah membantu hidup kita dan orangtua masih juga dijahatin, masih juga diperes, dimanfaatin jahat banget kan? Sementara saudara kita yang tinggal di luar negri pergi kerja dengan cuaca dingin, hujan angin, masih harus kerja keras lagi dirumah karena punya rumah tangga.

Jadilah orang jujur dan sayang saudara yang sudah membantu kita jangan sampai mempergunakan kebaikannya hanya karena ingin mendapatkan uang lebih. Kalau pengen uang lebih sebaiknya cari pekerjaan bukan malah menipu atau berbohong agar mendapat uang kiriman lebih dari saudara yang tinggal di luar negri, yang sudah memperhatikan kita dan bekerja keras di luar negri untuk membantu orangtua dan saudara-saudaranya.

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *