Kabut Tipis Gunung Talang

Bayu Amde Winata

 

Setelah menyusun kembali logistik dan kantung tidur ke dalam tas besar berukuran 60 liter, rombongan kami berjalan menyusuri jalan setapak dengan perkerasan makadam. Sebelum menyusuri jalan, terlebih dahulu rombongan kami melapor pada pos pendakian, Tujuannya agar mereka bisa mendata dan mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalan seperti tersesat.

Perjalanan kali ini saya bersama dengan Forum Pendaki Gunung Regional Riau serta rombongan dari Padang yang menyusul ke Solok. Saya menuju sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Solok Sumatera Barat. Gunung ini bernama Gunung Talang, Gunung Talang adalah gunung yang bertipe stratovolcano. Stratovolcano adalah pegunungan (gunung berapi) tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras. Bentuk gunung berapi ini secara khas curam di puncak dan landai pada kakinya, hal ini karena aliran lava yang membentuk gunung berapi tersebut kental karena banyak mengandung silika dan begitu dingin setelah mengeras sebelum menyebar jauh.

Rombongan Forum Pendaki Gunung Regional Riau dengan Latar Belakang Gunung Talang

Rombongan Forum Pendaki Gunung Regional Riau dengan Latar Belakang Gunung Talang

Untuk menuju Gunung Talang, terdapat dua jalur pendakian. Jalur pertama adalah jalur lama yang berada di Kenagarian Bukit Sileh. Jalur Bukit Sileh memiliki jalur pendakian yang terjal, jalur ini merupakan jalur yang lama. Sedangkan jalur yang saya lewati adalah jalur baru. Baru tujuh bulan jalur ini dibuka oleh Pemerintah Kabupaten Solok. Tujuan pembukaan jalur baru agar Gunung Talang semakin banyak dikenal bagi kalangan pendaki. Jalur baru yang saya lewati ini melewati Kanagarian Aie Batumbuak (Air Bertemu) Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Jalur yang dilalui ini memiliki yang relatif lebih datar dibandingkan jalur Bukit Sileh.

Kebun Teh Milik PTPN VI

Kebun Teh Milik PTPN VI

Rombongan Pendaki Lain yang Bergabung di Gunung Talang

Rombongan Pendaki Lain yang Bergabung di Gunung Talang

Selama menyusuri jalan setapak menuju puncak Gunung Talang, mata saya dimanjakan oleh hamparan karpet hijau dari kebun teh. Kebun teh yang luas sepanjang jalur perkerasan makadam ini adalah milik PTPN VI. Jalur pendakian menuju puncak Gunung Talang, memiliki kesamaan dengan jalur pendakian menuju Gunung Cikuray, Kabupaten Garut yang terlebih dahulu melewati kebun-kebun teh. Topografi jalan yang saya lewati belum membuat betis menjadi panas. Jalan santai sembari memanjakan mata melihat kebun teh yang berada di kiri dan kanan adalah pilihan yang menyenangkan.

Rombongan kami sempat berhenti sebentar di sebuah warung yang terdapat di ujung jalan. Warung ini biasa dijadikan tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung Talang. Jika musim kemarau, warung ini adalah tempat untuk mengisi air sebelum menuju ke puncak. Jalur pendakian Gunung Talang yang melewati Desa Aie Betumbuk berbeda dengan jalur pendakian Gunung Singgalang, Sumatera Barat. Jika di Gunung Singgalang, airnya berlimpah ruah di sepanjang jalur pendakian, sementara di jalur pendakian Gunung Talang, air hanya bisa didapatkan di sungai yang terdapat di bagian belakang warung atau pada ketinggian 2500 mdpl. Tetapi, untuk air yang berada di ketinggian 2500 mdpl tersebut tidak pasti, karena sifat dari aliran sungai yang berada di ketinggian 2500 mdpl ini, sungai musiman, sungai ini hanya mengalir di musim penghujan dan mati di musim kemarau. Membawa air dari bawah adalah langkah yang tepat.

Setelah meninggalkan warung, pelan-pelan jalur pendakian menjadi semakin terjal. Betis saya menjadi panas. Sebagai gunung yang sudah di jadikan tujuan wisata oleh Kabupaten Solok, Gunung Talang memiliki petunjuk arah yang lengkap. Pemerintah Kabupaten Solok memberikan papan nomor sebagai petunjuk jalur yang kita lewati. Penomoran ini berjarak kurang lebih per seratus meter. Dimulai dari nomor satu dan diakhiri dengan nomor lima puluh empat. Nomor lima puluh empat merupakan finish dari perjalanan menuju puncak Gunung Talang. Titik lima puluh empat merupakan batas vegetasi, tempat para pendaki biasa beristirahat sebelum menuju puncak Gunung Talang. Titik ini memiliki ketinggian kurang lebih 2400 mdpl.

Jalur pendakian di Gunung Talang memiliki kontur yang landai. Punggungan yang saya lewati tidak memiliki kemiringan yang ekstrim. Sepanjang perjalanan menuju batas vegetasi, saya mendengar suara suara monyet dan siamang yang bersahut-sahutan dari hutan yang berada di sisi timur. Dibutuhkan kurang lebih enam jam berjalan kaki dari basecamp pendakian menuju ke batas vegetasi. Ada pemandangan yang menarik dalam perjalanan menuju batas vegetasi, saya melihat ada segmen segmen di gunung yang tersusun atas beberapa kayu-kayu mati yang masih berdiri dengan kokoh. Bang Ipho, Mapala Universitas Muhammadiyah Padang, yang ikut serta dalam perjalanan menjelaskan kepada saya “Kayu-kayu yang mati itu merupakan sisa dari letusan besar yang terjadi pada tahun 2007. Letusan tahun 2007 itu sangat besar. Dan inilah hasilnya,” ujar bang Ipho.

Kayu-kayu yang Menghitam Sisa Letusan Gunung Talang di 2007

Kayu-kayu yang Menghitam Sisa Letusan Gunung Talang di 2007

Perjalanan menuju puncak Gunung Talang, memiliki cerita yang berbeda. Saya melewati jalur pendakian yang terjal. Walaupun memiliki ketinggian 2567 mpdl, namun saat menuju puncak Talang, saya harus menggunakan tangan untuk meniti batu-batuan bekas letusan pada tahun 2007. Karena letusan itu, di sisi Utara bukit menuju puncak Gunung Talang, terdapat kawah baru hasil letusan. Jalur menuju puncak didominasi oleh batu-batuan vulkanik. Ai, salah seorang pendaki yang tergabung dalam Forum Pendaki Regional Riau, menyeletuk “banyak sekali batu cincin di sini bang”.

Setengah jam berjalan dari batas vegetasi. Saya harus melewati jalur sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu badan pendaki saja. Dijalur ini, jika berpapasan, antara yang naik dan yang turun, para pendaki terlebih dahulu harus mengantri. Jalur yang saya lewati ini menyerupai jembatan setan di Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Meminjam istilah Sutan Bhatugana, jalur ini “ngeri ngeri sedap.” Dari batas vegetasi, dibutuhkan sekitar dua jam perjalanan menuju puncak Gunung Talang. Bekas-bekas letusan yang terjadi pada tahun 2007, terlihat jelas pada punggungan keempat menuju puncak. Kayu-kayu meranggas banyak terlihat di sini.

Rembang Petang di Gunung Talang

Rembang Petang di Gunung Talang

Bunga yang Tumbuh di Gunung Talang

Bunga yang Tumbuh di Gunung Talang

Malam Hari di Gunung Talang

Malam Hari di Gunung Talang

Menggapai Matahari

Menggapai Matahari

Dua Matahari di Gunung Talang

Dua Matahari di Gunung Talang

Di atas puncak Talang, cerahnya sinar matahari terbit menyambut saya. Danau di Atas, Danau di Bawah, dan Danau Talang menyambut kedatangan kami. Sayangnya, kabut tipis dengan cepat menutup pemandangan yang indah di depan saya. Gunung Talang, merupakan tempat yang menyenangkan untuk menikmati alam, tiada sampah yang menganggu pemandangan yang indah. Tiadanya sampah, karena aturan ketat dari basecamp, untuk membawa pulang sampah pribadi. Pesona Gunung Talang, menghipnotis saya.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.