Buka Puasa

Anwari Doel Arnowo

 

Apakah ini sarapan? Ya tentu saja bukan. Dalam bahasa Inggris Breakfast adalah sarapan. Asal katanya dari dua kata Break dan Fast yang artinya memecah atau menghentikan (to break)  dan puasa (to fast).  Kok? Iya, kan puasa semalaman selama tidur malam dan kemudian bangun pada pagi keesokan harinya. Telah umum dan menjadi pengetauan orang Indonesia (mungkin orang Malaysia juga) itu kalau Hari Raya Iedul Fitri, berat  badannya meningkat tajam ke atas jumlah kilogramnya.

buka-puasa

Apa pasal? Sebabnya kebanyakan karena puasa itu hanya dikonsentrasikan ke perut saja. Yang menyebut berkilah lapar, yang menyebut menjaga gizi biar tidak lekas mati, yang menyebut adanya acara di masjid, atau di rumah si Polan yang berpangkat dan bersertifikat layak ulama dan berharta lebih. Berpakaian indah dan mahal? Cobalah hal yang seperti ini dikurangi dengan berangsur-angsur, sampai hilang sama sekali nanti beberapa tahun lagi, pasti berat badan bisa normal. Lihat kelakuan kita ketika menjelang maghrib dalam berlalu lintas dan dalam menghadapi waktu selesai bertugas di pekerjaan. Pikiran selalu di urusan peruuuut.

Yang dewasa dan yang belum, hampir semuanya sama. Perut! Mengemudi mobil? Sepeda motor? Kelakuannya sama! Ganas, panik, seakan tak ada waktu lagi, tak ada hari esok! Itu jelas tampak di mana-mana. Laki-laki juga para perempuan. Tua, muda sama saja di mana-mana. Di Surabaya, di Tangerang, Bekasi dan di tempat-tempat lainnya di seluruh Indonesia, kalau mendekati waktu berbuka puasa, wah kelihatan aslinya.

Bahkan kedok-kedok berupa baju dan atribut keagamaan saja mulai dilalaikan, konsentrasi penuh kepada perut,  melalaikan keselamatan berlalu lintas serta sopan santun padahal itu semua bagian dari kehidupan bersama, bermasyarakat multi sosial. Hablum min anas. Itu akan terjadi beberapa hari lagi, satu minggu lagi. Apa yang terjadi setelah me“mangsa” takjil? Minum? Alhamdulillah. Itu wajar saja. Yang kurang wajar adalah kelakuan sebelum maghrib tadi. Begitu selesai habis sembahyang maghrib apa? Ya tentu saja mengisi tempat di mana yang namanya surga konsumsi makanan dan minuman itu berada. Perut! Bukan sedikit yang tidak perduli apa-apa lagi.

Gejala ini saya lihat sebagai akibat ada yang menakut-nakuti mengenai surga dan neraka di akhirat kemudian setelah manusia mati nanti. Setelah dimulainya masa orde baru, dilebihkan lagi dengan kebudayaan anti komunisme, yang digambarkan sebagai anti Tuhan. Terutama di negeri China. Padahal menurut pengetauan umum di China itu yang beragama Islam tidak sedikit.

Silakan buka link berikut: http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_China#Number_of_Muslims_in_China . Anda bisa melihat bahwa pada tahun 2000an sudah ada sekitar 20 juta jiwa lebih orang China yang beragama Islam. Agama Islam pun sudah masuk di China sejak lama sekali. Lalu apa sebab Republik Indonesia diarahkan oleh pemerintahnya untuk me “musuh”i Republik Rakyat Tiongkok (China)??

Ada ancaman seperti apa sesungguhnya? Saya menduga semua pertanyaan ini tidak akan pernah bisa mendapat jawaban yang masuk di akal sehat. Banyak orang telah menyimpulkannya seperti begitu. Marilah kita hentikan sentiment jelek seperti itu. Jelek? Iya bukankah sesungguhnya dalam menjalankan aturan beragama tidak ada diajarkan untuk memusuhi kaum lain yang tidak seiman? Yang ada adalah hanya rasa kurang nyaman di antara para Imam di setiap kelompok, sehingga rasa ini menjadi berkembang di tingkat bawahnya.

Hampir sama yang terjadi di negeri kita seperti yang terjadi pada Partai Politik kita. Cakar- cakaran, bawa senjata tajam ke pertemuan intern Partai?! Ini terbukti berita yang semua senjata tajam itu disita Polisi!! Partai yang katanya tiang demokrasi dan menegakkan kehidupan nyaman Rakyat Indonesia?? Mencapai rasa nyaman di dalam Partainya sendiri saja tidak sanggup, masih ingin menyatukan seluruh bangsa? Itu hanya perseteruan kaum elite Partainya saja. Jangan kaget pendalaman akan membuktikan adanya masalah uang. Malah kebanyakan uang haram, lagi.

Saya yang tidak pernah menjadi anggota atau simpatisan Partai Politik saja, bisa merasakan kelakuan-kelakuan brutal para politikus dalam melakukan tindakan kegiatan sehari-harinya. Banyak sekali yang jahat. Malah jahat keliwatan. Uang rakyat yang masih miskin saja dicurinya ber-ramai-ramai. Sebagian mereka ini sudah dihukum masuk penjara, tetapi masih nyata yang lain belum jera sama sekali.

Marilah dalam mejalankan ibadah puasa ini kita kembali normal tidak berlebihan, dalam menyediakan hidangan makanan dan minuman khusus bulan puasa. Lihat saja kolak yang asli Jawa, juga Lemang yang dikenal orang sebagai disukai oleh mereka yang dari Sumatera Barat. Di Banjarmasin ada Pasar Wadai (jajan, kue dan/atau camilan) yang biasanya hanya ada waktu bulanPuasa saja. Berderet kiosk kiosk warung dan kedai menjual makanan kecil penambah selera. Kemarin teman saya yang usianya sudah senior dibandingkan dengan saya, berasal dari Solok Sumatera Barat, secara bergurau mengatakan kepada saya: “Pak Anwari, orang SumBar itu mau berpuasa karena adanya kolak!” Ha ha ha saya tidak mampu menahan gelak tawa. Mari Bung makan yang biasa saja seperti sehari-hari dan berkonsentrasi kepada apa arti sesungguhnya dari NIAT berpuasa.

 

Anwari Doel Arnowo  –  2015/06/10

 

 

3 Comments to "Buka Puasa"

  1. djasMerahputih  4 July, 2015 at 20:17

    Buka Puasa = Selamat melampiaskan hawa nafsu…??
    Padahal dampak ibadah puasa seharusnya justru baru bisa terlihat saat kita sedang tak berpuasa..

  2. Anwari Doel Arnowo  1 July, 2015 at 11:28

    Bung Djoko,
    Maksud anda sertifikat seperti itu siapa yang tanda tangan? Soedomo atau AAGym atau Paus atau Nabi? Semua pasti bukan, ya? Apa setifikat seperti ini sama dengan vonis kematian? Sayangnya saya masih hidup biarpun suda 77 tahun dan lebih dari 10 tahun terakhir ini saya tidak berpuasa, karena saya lebih mementingkan kesehatan tubuhku yang dikaruniai oleh Allah. Harus saya pelihara sebaik-baiknya karena itu adalah alat-alat yang paling canggih di dalamnya adalah karuniaNya juga.. Hablum min Anas, Min Allah nanti saja kalau saya mati kemudian hari, entah kapan?
    Salam saya,
    Anwari Arnowo

  3. Djoko Iswadi  1 July, 2015 at 05:52

    Ass ww, Anwari san, beruntunglah belum dapat Sertifikat bebas puasa dari dokter keluarga. Banyak sempai-2 yg sdh dapat Sertifikat tsb lho…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.