Jilbabmu, kebaikanmu

Wesiati Setyaningsih

 

Gus Dur bisa saja bilang, “Tak peduli apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu.”

Tapi itu kan kata Gus Dur. Realitanya beda lagi.

Suatu pagi teman saya curhat.

“Aku kemarin itu nangis,” katanya.

Teman saya ini termasuk ‘sepuh’, usianya hampir 60 tahun. Beliau bercerita kalau hari sebelumnya beliau berkunjung ke rumah tetangga yang usianya sedikit lebih tua dari beliau, juga sesepuh di perumahannya. Teman saya bermaksud membicarakan tentang TK yang pernah mereka bentuk bertahun lalu. Saat ini TK tersebut berkembang dan saat wisuda akhir tahun ternyata orang mulai lupa siapa pendiri TK tersebut. Maka beliau berinisiatif untuk membuat semacam sejarah pembentukan TK tersebut, mengenang para sesepuh yang terlibat sejak awal. Nyatanya pembicaraan sore itu jauh dari tujuan semula.

Teman saya ini memang aktif minta ampun di lingkungan perumahannya. Meski perempuan beliau suka menggerakkan para tetangga dengan kegiatan ini itu, termasuk salah satunya membentuk TK itu tadi, di masa lalu. Sampai sekarang, ada saja kegiatan yang beliau buat di kampungnya. Tapi sepertinya itu tak cukup.

“Begini ya, Jeng…” kata Ibu sesepuh itu memulai. “Jeng ini semua sudah dilakukan. Banyak kegiatan yang bermanfaat yang sudah terlaksana dan itu membuat warga sini senang. Cuma, satu…”

Teman saya berhenti sejenak. Saya mulai menduga-duga apa yang akan dia ceritakan. Soalnya satu hal itu juga sudah sering jadi perbincangan di kantor.

“Kalau belum pakai jilbab, nanti amalannya enggak bisa dihitung. Tetap saja masuk neraka…”

Saya sudah menduga. Soalnya selama ini teman-teman kantor juga bilang begitu tentang teman ini. “Solat rajin, ngaji iya, tapi kok belum pakai jilbab. Kan sayang,” kata mereka. Saya sudah sering mendengar ini.

“Tau nggak, Dik, aku langsung terpukul. Jadi selama ini aku jadi orang baik itu percuma. Aku berbuat baik itu percuma. Aku sedih sekali.”

Suara teman saya bergetar, tangannya menyusut air mata. Saya bingung mesti bilang apa. Selama ini saya selalu bilang, kalau memang beliau belum ingin pakai jilbab, ya sudah nggak usah memaksa diri.

Sejauh beliau melakukan apa yang menurut beliau baik, ya sudah. Apapun omongan orang abaikan saja. Itung-itungan masuk neraka atau surga itu nanti hak Tuhan sepenuhnya. Kita tidak pernah tahu bagaimana nantinya. intinya, saya hibur supaya tidak mudah terpengaruh omongan orang kalau itu bakal menyakiti hati.

Saya heran kenapa masih saja orang peduli sekali dengan masa depan orang lain: masuk surga atau neraka. Sementara dia sendiri tak bisa menjamin bahwa dia pasti masuk surga. Saya sendiri meski berjilbab, saya tidak yakin apakah jilbab ini akan membawa saya masuk surga. Jujur saya sendiri malah sudah tidak peduli akan masuk surga atau neraka. Biar Tuhan saja yang putuskan mana yang terbaik buat saya, saya rela. Berbuat kebaikan bukan lagi karena ingin masuk surga dan terjauh dari neraka, tapi karena itu membuat saya bahagia. Selesai.

Demi mendengar kalimat seperti tadi oleh seorang sesepuh yang teman saya hormati, jelas membuatnya terluka. Saya maklum. Teman saya itu sering ikut pengajian dan selalu bertemu Ibu sesepuh tadi. Ternyata selama ini dia tetap dipandang sebagai ‘penghuni neraka’ di balik sikap manisnya. Gara-gara itu, teman saya tidak mau datang pengajian lagi. Saat ditarik iuran pengajian dia menolak.

“Ogah. Buat apa? Kebaikanku nggak bakalan dihitung kok. Toh sebaik apapun aku, tetep aja masuk neraka. Mending saya lakukan kebaikan lain yang aku suka. Di RT dan PKK aku masih bisa berkarya dan semua orang gembira. Tapi di pengajian, aku wis males.”

Cerita ini tidak hanya saya dengar dari teman ini. Ada teman lain yang juga pernah mengalaminya, bahkan lebih menyakitkan. Karena tidak memakai jilbab, teman yang sudah pernah naik haji, dipermalukan oleh ketua pengajian di depan ibu-ibu anggota pengajian lain. Mungkin kurang lebih yang disampaikan sama, tapi bedanya kali ini di depan forum pengajian.

Teman saya sakit hati. Apalagi setelah itu dia tidak lagi diajak dalam kegiatan pengajian. Meski begitu, teman saya ini tetap bertahan tidak memakai jilbab. Buat dia mengenakan jilbab itu harus dengan kemantapan. Bukan hanya karena desakan orang lain.

Saya salut.

***

Tapi berjilbab pun bukan berarti bisa begitu saja menerima ‘persetujuan’ sebagai penghuni surga. Masih banyak ketentuan bagaimana cara memakai jilbab ini hingga mereka yang memakai jilbab tapi pakaiannya ‘tidak sesuai’ akan menuai kecaman juga. Baju yang terlalu ketat akan membuat orang menjuluki ‘jilboob’. Demikianlah, tak semudah itu mencapai surga dengan cara berpakaian.

Kemarin karena terburu-buru, saya ke kantor pagi-pagi dengan atasan yang lengannya 3/4, rencana saya setelah itu saya akan pulang dan berganti baju yang lebih sesuai. Maksud saya mau antri rapor agar ditandatangani kepala sekolah pagi-pagi sebelum rapat, lalu saya ke rumah Ibu di mana seragam kantor saya tersimpan (jarak kantor-rumah Ibu cuma 3 menit dengan motor), untuk kemudian kembali ke kantor lagi.

Ketika urusan saya selesai dan saya terburu menuju motor untuk berganti baju, teman saya mendekat.

“Maaf ya kalau terlalu urusan pagi-pagi, tapi aku dengar katanya kamu sodakoh lengan.”

Saya tertawa.

“Sodakoh kok cuma lengan,” kata saya. “Sodakoh ki yo pupu karo susu pisan.”

Habis itu saya berganti baju dan kembali ke kantor. Saya terheran-heran. Enggak pakai jilbab salah, pakai juga salah.

Buat saya sih, tak ada orang lain yang berhak menentukan seseorang bakal masuk surga atau neraka hanya dengan melihat penampilannya ataupun ibadahnya. Cuma Tuhan yang tahu apa saja yang telah dia lakukan ataupun pikirkan. Cuma Tuhan yang akan dengan tepat menghitung amal dan dosa. Semua aturan agama yang ada mestinya kita terapkan untuk diri kita sendiri saja, bukan untuk menghakimi orang lain. Lebih baik menghitung-hitung pahala dan dosa sendiri agar kita jadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Jadi kalau Gus Dur berkata bahwa kebaikan akan membuat orang melupakan agama atau suku kita, buat perempuan Indonesia yang beragama Islam sepertinya tak berlaku. Baik atau tidaknya seorang perempuan cuma dilihat dari cara berpakaiannya.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Jilbabmu, kebaikanmu"

  1. djasMerahputih  4 July, 2015 at 20:09

    Wahhh, ini namanya overload… he he..
    Artinya banyak yang mengalami hal serupa. Semoga tetap bisa saling menerima argumen masing-masing…
    Soal jilbab hanya setitik debu dari sekian banyak perkara agama. So… santai santai aja… Banyak jalan menuju Surga…!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *