Kumpul Kerbau

Dewi Aichi – Brazil

 

(akibat nonton film Beverly Hills)

Kerbau adalah binatang menyusui, yang mempunyai kaki 4, mempunyai tanduk , warna kulit abu-abu, penampilannya kalem, tidak liar, tidak galak, bisa diajak kerjasama, bisa dinaiki sama penggembalanya. Dan kerbau ini adalah vegetarian alias makan rumput. Biasanya kerbau sering bergerombol atau berkumpul sambil makan rumput di pinggiran sawah atau lapangan. Atau mandi bareng di sungai. Pernah lihat kan si empunya kerbau menggosoki badan kerbau miliknya agar bersih dari lumpur atau kotoran?

Kerbau ini banyak ditemukan di kampung-kampung, biasanya dimiliki oleh warga kampung sebagai aset atau kekayaan pribadi. Harganya mahal lho. Kerbau juga bisa membantu membajak sawah, sehingga selain aset pribadi, kerbau bisa dijadikan sumber matapencaharian di kala musim tanam padi. Karena dengan digunakan untuk membajak sawah, biasanya si empunya sawah akan membayar sejumlah uang kepada pemilik kerbau yang telah membajak sawahnya.

kebo

Dengan tenaga kerbau ini, akan bebas polusi, dan pro lingkungan, sebab tidak menggunakan mesin penggerak yang membutuhkan bahan bakar. Meski dalam hati ngga tega ya memperkerjakan kerbau untuk membajak sawah, duh…jadi ingat novela Escrava Isaura, kan suka dicambuk ya biar kerjanya lebih cepat. “Pak…jangan dicambuki ya kerbaunya, kasihan kan!”

Kumpul kerbau tidak sama dengan kumpul kebo. Entah kenapa kedua gabungan kata itu bisa menjadi bahasa Indonesia? Kumpul kebo setahu saya bahasa Jawa lho, jadi kalau di bahasa Indonesia menjadi kumpul kerbau. Betul ngga sih?

Perhatikan nih, menurut KBBI, kata “kumpul” berarti : bersama-sama menjadi satu kesatuan atau kelompok (tidak terpisah-pisah); berhimpun; berkampung; berapat (bersidang); berkerumun. Kalau “kebo” ya itu tadi bahasa Indonesianya adalah “kerbau”.

Hi hi hi…halah..mau membahas kumpul kebo aja sampai muter-muter mbahas kerbaunya tetangga. Mbok langsung aja napa? Ngga kok, serius, dari kemarin saya kan membahas soal bahasa, bahasa Jawa, ya bahasa Indonesia. Serius nih..dari kata “ketanggor”, akhirnya ketemu padanannya yang pas yaitu “kena batunya”. Sekarang yang belum ketemu padanannya adalah “ketlingsut”, meski kemarin sudah dibantu bu Probo, bisa jadi keselip, atau hilang, tetapi menurut mas Juwandi padanan itu belum pas dengan ketlingsut. Skor sementara 1:0 untuk mas Juwandi.

Kembali kumpul kebo yuk. Nah kumpul kebo itu sebenarnya arti kiasan saja kok. yang siapapun, dari suku manapun tau apa itu kumpul kebo. Karena saking biasanya dipakai, maka secara otomatis istilah kumpul kebo menjadi bahasa Indonesia. Tolong kalau salah dikoreksi ya.

Jadi kumpul kebo bukan berarti kerbau yang berkumpul seperti yang saya uraikan di awal tadi he he he…tetapi kumpul kebo itu artinya tinggal dalam satu rumah antara pria dan wanita tanpa ikatan pernikahan yang sah di mata hukum. Pasangan pria dan wanita yang hidup bersama dalam satu rumah layaknya suami istri.

Gaya hidup seperti ini tidak akan menjadi masalah sosial jika dilakukan di Eropa, atau sebagian besar negara wilayah Amerika Latin. Bukan sesuatu yang buruk. Tapi akan bermasalah jika hal ini terjadi di Indonesia, sebab hidup bersama tanpa nikah atau juga seks pra nikah merupakan hal yang tabu dan tidak sesuai dengan kultur Indonesia. Walaupun tidak bisa dipungkiri, pelaku seks pra nikah maupun hidup bersama tanpa nikah di Indonesia banyak banget. Terbukti, nyata, ada, banyak, tetapi tidak terbuka, ditutupi, dan dipungkiri sebagian orang.

Ya karena itu tadi, kultur, budaya dan etika sosial. Bahkan ajaran agama apapun tidak mengajarkan hal itu. Maka pelakunya tidak akan bisa terbuka mengatakan kepada lingkungan bahwa ia memilih hidup bersama tanpa menikah, atau bahwa ia telah melakukan seks pra nikah. Wah bisa gempar jika ada yang terus terang seperti itu. Yang ada malah dirahasiakan sebisa mungkin. Karena kedua hal tersebut memang tabu dan dianggap aib.  Namun norma yang menabukan “kumpul kebo” dan sanksi sosial yang mengancam pelakunya ternyata tidak cukup kuat untuk sekedar meminimalkan banyaknya pelaku “kumpul kebo” dan “seks pra nikah”.

Saya pribadi tidak kontra, tetapi juga tidak mendukung maraknya pelaku. Sebab bagaimanapun, saya berasal dari tanah yang mana masyarakat sosialnya, sesuai dengan norma dan budaya lokal, tidak mengenal kebebasan dari kedua hal tersebut. Misalnya nih, saya memilih melakukan hidup bersama tanpa pernikahan, pasti nurani saya menolak, sebab apa? Yah, jelas, saya dan latar belakang kehidupan saya, lingkungan yang membesarkan saya, lalu keluarga besar yang saya miliki, seperti bapak, ibu, adik-adik, kakek, nenek, yang semuanya berperan dalam hidup saya. Pasti saya juga merasa wajib menjaga kehormatan semua itu.

Sekarang, bagi yang memilih hidup bersama atau melakukan seks pra nikah, itu juga adalah pilihan hidup setiap individu, saya menghormati pilihan itu setinggi-tingginya. karena semua ada konsekuensinya. Setiap pelaku akan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Dan untuk melakukan itu semua kan bisa saja banyak faktornya.

Orang yang sudah cukup dewasa, tetapi belum mau terikat dalam sebuah pernikahan, tetapi dorongan kebutuhan biologis yang tidak bisa ditahan, bisa mejadi salah satu faktor. Ada juga karena faktor ekonomi, belum siap menikah, tapi kan sudah dewasa dan ingin, ya sudah kumpul kebo atau seks pra nikah juga bisa. Semuanya kembali ke pribadi masing-masing, walaupun harus mengabaikan nilai-nilai agama, norma sosial dan etika. Memilih “kumpul kebo”  dan “seks pra nikah” sebagai alternatif terbaik, dengan catatan khusus: itu kalau di Indonesia.

Saya tinggal di Brasil, norma sosial dan etika yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Jika ada pasangan hidup bersama layaknya suami istri, dan punya anak, maka kepengurusan dokumen akte lahir anak akan sama dengan anak yang lain yang merupakan anak dari pasangan resmi. Dalam dokumen akan tercantum nama bapak dan ibunya. Dan jika pasangan tak resmi ini memilih untuk berpisah, jika salah satu pihak (pihak wanita) misalnya menginginkan pembagian harta, maka dalam persidangan, si wanita harus bisa membawa saksinya bahwa ia pernah hidup bersama dalam satu rumah dengan pihak lelaki selama lebih dari 5 tahun. Jika bisa membuktikan, maka pembagian harta bisa dikabulkan di persidangan.

Celakanya, kadang hukum yang bertujuan melindungi pihak wanita ini dimanfaatkan oleh wanita-wanita yang tidak benar alias jahat. Di Brasil, jika terjadi perceraian dari pasangan resmi, pihak lelaki harus memberikan tunjangan hidup kepada pihak wanita yang mendapatkan hak asuh anak di bawah umur. Jika pihak lelaki ingkar dan tidak menafkahi, jika pihak wanita ini tidak terima dan lapor ke polisi, maka pihak lelaki bisa dipenjara selama 30 hari, untuk 1 kali ingkar/bulan(tidak menafkahi). Saya tidak tahu bagaimana hukum di Indonesia soal ini, tetapi saya rasa bagus juga, hanya saja aparat pelaksana yang tidak beres, tidak benar. Mereka bisa disuap.

Menikah resmi atau hidup bersama tanpa ikatan resmi adalah sebuah pilihan atau keputusan yang diambil dengan penuh tanggung jawab, yang paling penting adalah komitmen setiap pasangan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kumpul kebo berdampak terhadap orang lain? Merugikan orang lain? Lantas kenapa praktek kumpul kebo dibenci masyarakat (Indonesia)? Apakah karena anggapan bahwa hal itu melanggar norma-norma dan etika sosial masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan dimana hubungan sosial antar tetangga sangat kuat?

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

4 Comments to "Kumpul Kerbau"

  1. djasMerahputih  4 July, 2015 at 20:10

    Ha ha ha…. Kebonya berubah jadi kambing toh….?? Jadi kambing hitam maksudnya…

  2. Linda Cheang  29 June, 2015 at 09:26

    Pada kenyataannya, pelaku kumpul kebo sudah mulai banyak di Indonesia sini, dengan berlindung di balik alasan : kos.

    hadeuh….

  3. Dewi Aichi  28 June, 2015 at 23:39

    Ilang kabeh ik…

  4. J C  28 June, 2015 at 06:59

    Pasti gara-gara kebo ini juga, Baltyra jadi ambles…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.