Big Reality Show

djas Merahputih

 

Industri media berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Siaran langsung dari berbagai penjuru dunia bukan lagi sebuah hal rumit dan ekslusif. Setiap orang bahkan mampu menampilkan berita real time hanya dengan menggunakan beberapa gawai sederhana. Koneksi internet menjadi jembatan bagi seluruh aktifitas jurnalisme.

Ketika industri media berkembang pesat, maka satu hal yang patut kita cermati adalah, apakah perkembangan tersebut turut mengangkat nilai-nilai peradaban manusia? Apakah Iptek yang melahirkan perangkat canggih dunia jurnalisme berhasil memberi nilai tambah bagi peradaban kita?

Nyatanya, Iptek memang tak bisa disalahkan terhadap dampak apapun dari hasil penggunaan karya-karya mutakhir umat manusia. Senjata terhebat ciptaan para ilmuan tak akan mungkin melukai manusia. Tentu saja, sebab senjata baru akan menampakkan daya rusaknya saat ia dioperasikan oleh tangan-tangan manusia, selalu ada the man behind the gun.

img01. The man behind the gun

img01. The man behind the gun

Ya, segala sesuatu memang memiliki dua potensi berbeda. Baik atau buruk, jahat atau terpuji, hidup atau binasa. Sang Penentu kembali pada manusia-manusia di belakangnya. Seperti halnya media, manusia-manusia di balik seluruh produk berita dan tayangan media massa sangat menentukan dampak akhir dari produksi dan penyebaran informasi yang dihasilkan.

Reality Show adalah salah satu favorit pemirsa saat ini. Bentuknya bisa berupa komedi, drama, musik, debat politik, demo, tawuran hingga penangkapan anggota teroris. Apapun bentuknya, reality show selalu menarik untuk disimak. Berbagai kejutan dan elemen dramatis menjadi daya tarik utama. Pemirsa diajak untuk merasakan langsung armosfir peristiwa yang ditayangkan. Ibarat menonton film di bioskop, namun seakan-akan kita hadir secara langsung di dalam rangkaian adegan tersebut.

Perkembangan reality show akhir-akhir ini menimbulkan berbagai kecemasan. Penyebabnya antara lain adalah, adegan realistis dalam tayangan ini ternyata tidak benar-benar real, bukan sesuatu yang alami dan tidak selalu nyata. Peristiwa 911 di AS dan penembakan awak media CH di Perancis adalah beberapa rekaman peristiwa dengan back up video real time mencurigakan dan menimbulkan berbagai spekulasi. Bukan sebuah hal baru jika media televisi adalah sarana paling ampuh untuk membentuk opini publik, meskipun terkadang dengan cara-cara maupun niat buruk yang menyertainya.

Media-media main stream seakan memaksakan opini sepihak yang telah ditetapkan secara arogan. Untungnya, media alternatif dengan akses publik luas dalam dunia maya mampu menawarkan perspektif berbeda terhadap sejumlah peristiwa besar di berbagai tempat. Kini kita memiliki pilihan untuk mengambil sikap terhadap sebuah peristiwa. Seseorang tak lagi bisa dipaksa menelan informasi bulat-bulat tanpa diberi kesempatan memperoleh second opinion. Sebuah reality show sudah tak bisa pula mengklaim atau memaksakan kerealistisan dirinya sendiri.

Hal lain yang juga menarik diamati adalah peperangan. Peperangan selalu nampak sebagai sebuah peristiwa alami dan sulit untuk direkayasa. Namun, kemajuan teknologi perfileman dan rekayasa animasi digital dewasa ini telah mencapai taraf pada kemiripan yang hampir 100 persen dengan citra rekaman real time di masa sebelumnya. Sebuah peristiwa terlihat sangat realistis meskipun diproduksi pada waktu dan tempat berbeda dengan kejadian aslinya. Film “Titanic” yang berlatar kisah nyata mungkin bisa jadi gambaran tentang hal ini.

img02. Film Titanic, antara ilusi dan kenyataan

img02. Film Titanic, antara ilusi dan kenyataan

Lantas, apa kaitannya peperangan dengan media pemberitaan? Kecemasan tentang rekayasa visual untuk menyulut peperangan mungkin terlalu mengada-ada. Namun eksploitasi pemberitaan tentang ISIS dan kelompok teroris akhir-akhir ini semakin memuakkan. Blow up media tentang kekejaman eksekusi para tawanan menyebarkan rasa benci dan ketakutan pada semua orang, namun hanya tertuju pada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu. Menyebar teror dan kebencian tentu saja adalah awal paling ideal untuk memicu perang.

Rentetan peristiwa mirip reality show semakin banyak menghiasi pemberitaan di televisi dan media pemberitaan lain. Peristiwa teror “spontan” terlihat sangat alami dan realistis. Namun, ketidaksengajaan yang disengaja sudah menjadi hal lumrah dalam kamus pencitraan. Bisa jadi, suatu saat, peperangan yang brutal dan membinasakan akan terpampang di layar pemberitaan sebagai sebuah Big Reality Show. Sebuah peperangan rekayasa namun terlihat begitu realistis, sehingga tak seorangpun sadar bahwa mereka sebenarnya tengah menyaksikan perang-perangan, namun dengan senjata dan prajurit sungguhan. Tak ada yang percaya bahwa cerita dan skenarionya telah ditetapkan lebih dulu.

Perkembangan media telah sampai pada, bukan saja meliput berita, tapi telah mampu memproduksi berita dan peristiwa itu sendiri. Kecelakaan pesawat, demonstrasi, penangkapan teroris, kematian misterius dan skandal public figure hingga perang antar negara telah menjadi agenda favorit untuk menyedot perhatian publik. Apakah peristiwa-peristiwa di atas mustahil untuk direkayasa? Rasanya, dengan teknologi digital media dan informasi saat ini, reality show dalam bentuk apapun dapat diciptakan semirip mungkin dengan peristiwa alaminya. Kita telah sampai pada batas antara dunia nyata dan dunia buatan. Jika reality show seperti “Ups Salah” dan “Supertrap” saja bisa dengan mudah diproduksi, maka pertunjukan lain hanyalah persoalan skala dan target semata. Selamat datang Big Reality Show…!!

Tetap Eling, Jangan Pangling…

 

Salam Real,

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Big Reality Show"

  1. djasMerahputih  3 July, 2015 at 19:37

    Thanks om DJ.

    Silakan mba Linda, dengan senang hati..

    Thank juga komentarnya om JC. Salut buat semangat juang para pengasuh Balttra.. Sukses selalu..!

  2. J C  3 July, 2015 at 17:10

    Ikutan komentar lagi di sini…

  3. Linda Cheang  29 June, 2015 at 23:19

    Oom Djas, boleh pinjem, yah, ide & isi tulisan ini utk dibawa ke kelas kursus Filsafat Teknologi & Internet, buat makalahku

    Tenang! Sumber dan narasumber, pasti dicatat di Bahan Bacaan

  4. Dj. 813  29 June, 2015 at 22:49

    Hahahahahaha… ini kalau orang jawa, bilangnya jitung umpet…!!!
    Muncul dan tenggelam….
    Salam Sejahtera dari Mainz…

  5. djasMerahputih  28 June, 2015 at 18:13

    Thanks sudah mampiir mba Tri..
    Emosi penonton terutama kaum wanita selalu jadi sasaran pasar tayangan sinetron dan “reality show” yang membonceng para sponsor. Uang kan dipegang sama emak-emak..??

    Masa depan negara ada pada emak2, sebab merekalah yang membentuk putra-putri pertiwi. Beruntung kita punya Kartini..

  6. djasMerahputih  28 June, 2015 at 18:06

    Hadiirr.. Ketemu lagi bang James..
    koment2nya ketinggalan pas pindahan ya min (admin) ??
    Padahal kalo di Baltyra kadang komentnya lebih berbobot malah dari artikelnya sendiri…

  7. triyudani  28 June, 2015 at 08:30

    Pak Djas, saya dulu sempat kebohongan reality show “Termehek-mehek “.Selalu menangis tiap melihat tayangan itu.Eh. belakangan bAru tahu ternyata gak nyata.Alias bohong-bohongan.

  8. james  28 June, 2015 at 08:15

    1……horreeee…….ngabsenin para kenthirs lagi setelah plus minus absen 10 hari…..komen pada kosong lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.