Karena Aku Orang Biasa

Dwi Isti

 

“kelas 2 SD sudah dilalap… loo, saya jg gak ngerti kok bisa hebat gitu yaaa”

Jenk Menil : “kalo ini masih 4 tahun, tapi sudah minta novel-novel bahasa rusia …..keturunan dari papanya…emang rada jenius siiih”( ** kayaknya terlalu lebay ya…hehehe)

Jenk Menol : ” kalo anak saya, biasa aja…..hehehe….saya juga orang biasa, jadi wajar aja kalo anak saya juga biasa …..alhamdulillah”

Sering dengar 2 percakapan seperti di atas kan? Kalo yang ketiga sebenarnya nyaris gak pernah dengar ( ** hanya imajinasi saya saja…supaya ada, saya melatih diri saya sendiri menjawab seperti kalimat ke 3).

Adalah hal yang jamak, kalo ibu-ibu ngumpul, yang dibahas adalah anak…(saya juga sering dengar bapak-bapak seperti ini…). Bila ada seorang ibu menceritakan dengan bangga perihal kelebihan-kelebihan putra-putrinya, biasanya akan disambut dengan cerita dari ibu yang lain untuk mengungguli minimal menyamai….
Ya lumrah lah, kalo bukan orang tuanya yang membanggakan anaknya, terus siapa lagi..begitu dalil nya.

Monggo saja dan silahkan membanggakan putra-putri sendiri, tapi sebaiknya porsinya jangan terlalu berlebihan. Segala sesuatu yang terlalu melampaui “takaran” pasti punya efek kurang baik, bagaimanapun ada efek negatif bila terlalu “bangga” pada anak. Beberapa efek negatif tersebut antara lain :

1. Mental membanding-bandingkan
Apakah membandingkan itu berbahaya ? Ya, sebab orang tua yang biasa membandingkan, fokusnya akan beralih, dari memperhatikan perkembangan anaknya menjadi memperhatikan anak orang lain. Dan bila fokusnya berubah, maka perhatian pada anak juga menjadi tidak optimal.

 

2. Mental kompetisi
Biasanya, orang tua yang membanding-bandingkan anaknya dalam rangka berlomba akan keunggulan. Jika anak terbiasa dibandingkan untuk berlomba saling mengungguli, maka mental ini akan menular pula ke anak. Berkompetisi itu tidak ada salahnya, tetapi mental kompetitif dapat membebani anak. Selain itu, anak akan hidup dalam atmosfir persaingan, bukan persahabatan.

 

3.Cara pandang bertingkat
Orang tua yang terbiasa membanggakan dan membandingkan anak, maka orang tua tersebut akan melihat anak dengan cara pandang stratifikasi atau bertingkat. Anak akan dinilai, lalu akan dibedakan satu dengan lainnya. Seorang anak akan dinilai lebih dibanding lainnya, padahal setiap anak itu unik, berada dalam kondisi yang bervariasi, bukan bertingkat.

Contoh, bila seorang anak lahir dari keluarga ilmuwan, profesor, atau keluarga dengan pendidikan tinggi atau tinggi sekali…wajar saja bila sang anak juga berprestasi di bidang keilmuan atau akademik…baru akan menjadi hebat dan luar biasa, bila anak seorang pemulung, berhasil mencapai prestasi itu…demikian juga anak seorang musisi kawakan, wajar saja kalo akhirnya dia menjadi seorang musisi muda yang berbakat …..ini proporsional …justru adalah hal yang lebay…kalo bapak ibunya profesor masih pamer banget …kalo anaknya meraih Doktor….gak usah dipamerkan…toh sudah jamak dan lumrah kalo hal itu terjadi….

 

4.Mental Tinggi Hati
Dan yang perlu kita pahami pula, bila anak terbiasa mendengar pujian-pujian yang terlontar dari orang tuanya, maka yang perlu diwaspadai adalah munculnya “kesombongan” pada si anak. Dia selalu menganggap dirinya adalah yang terbaik, dan bisa lebih parah lagi menganggap orang lain selalu di bawahnya.

Bahwa bersyukur atas kecerdasan atau bakat yang dikaruniakan Allah kepada anak kita, itu harus. Namun membangga-banggakannya kepada orang lain, ini yang harus dikoreksi. Bangganya kita, orangtua. Sampai-sampai pada setiap orang yang ditemui kita bercerita. Betapa cerdas pikirannya, betapa bagus akhlaknya.

ordinary people

Tapi kita lupa…

Tak semua orangtua seberuntung kita. Bahkan, tidak semua orang berkesempatan menjadi orangtua.

Betapa menggebunya kita menceritakan kelakuan lucu anak kita di hadapan mereka yang masih (dan masih) berharap dikarunia seorang anak…

 

 

About Dwi Isti

Seorang penulis lepas yang berasal dari Surabaya dan sekarang tinggal di Jogja.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Karena Aku Orang Biasa"

  1. djasMerahputih  4 July, 2015 at 19:59

    Hadiir…
    Bangga itu manusiawi, cuman di Indonesia kadang perlu lihat sikon sekedar untuk menghargai lawan bicara..

  2. Linda Cheang  29 June, 2015 at 23:23

    Memangnya penting, gitu, sekian mental yg dibahas ini?

  3. Itsmi  29 June, 2015 at 17:42

    Dwi Isti: Tak semua orangtua seberuntung kita. Bahkan, tidak semua orang berkesempatan menjadi orangtua.
    Betapa menggebunya kita menceritakan kelakuan lucu anak kita di hadapan mereka yang masih (dan masih) berharap dikarunia seorang anak…

    Dwi, mengenai hal ini, saya hanya bisa sampaikan ke kamu “grow up” problemnya bukan pada yang memamerkan tapi pada kamu sendiri… kalau kamu tidak bisa mendengarnya, jangan dengar….

  4. james  28 June, 2015 at 08:16

    1……biasa absenin para kenthirs kembali…..dengan server baru euy…..rupanya komen lebih speedy responsnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.