[Mangole] Epilog – Senja di Falabisahaya

Imam Dairoby

 

Pertengahan Tahun 2012

Tayangan film 2012 sedang berputar di laptopku, film fiksi yang menghebohkan dunia tentang ramalan suku Maya akan sebuah akhir dari kehidupan di planet bumi.

“Mas sudah sampai.”

Sebuah teguran halus membuyarkan nikmatnya menikmati sebuah tontonan. Memang benar dermaga pelabuhan Desa Falabisahaya telah terlihat. Akhirnya setelah satu dasawarsa lebih aku menginjakan kaki ku lagi di desa ini, di Pulau ini.

Bau segar laut di pagi hari menusuk hidungku, ah…..segarnya. Kapal merapat pada sebuah dermaga yang baru selesai dibangun. Masih terlihat beberapa bagian yang belum sempurna.

Aku bersama dengan temanku yang dahulu kost di rumah ibu. Dia seorang pemain musik dan saat dia mendapat sebuah undangan untuk mengisi acara perhelatan untuk seorang penguasa di kabupaten ini dia mengajakku untuk ikut ke Pulau Mangole. Kesempatan yang tentunya tak ingin ku sia-siakan untuk sekedar menengok kembali Pulau yang pernah menjadi episode dalam kehidupanku.

Sedikit ada protes dari kedua anakku yang telah beranjak remaja untuk ikut bersamaku. Tetapi mereka tak bisa karena saat ini bukan saat libur sehingga hanya muka masam dan gerutu yang terlihat. Aku hanya tersenyum sambil menjanjikan waktu yang lain untuk bepergian bersama mereka.

Sesaat kemudian rombongan kami diantar ke sebuah penginapan yang lumayan bagus. Sementara temanku beserta timnya melakukan cek sound di tempat yang nantinya akan digunakan sebagai tempat mereka tampil aku menyempatkan diri untuk berkeliling Desa Falabisahaya.

Dengan menyewa sebuah sepeda motor aku memulai dengan keinginan memasuki kawasan industrinya. Kebetulan saat itu aku mengenal satpam penjaga pintu masuk kawasan. Sedikit berbasa basi saling menanyakan kabar akhirnya dia memberi ijin padaku untuk masuk ke dalam.

Ku telusuri jalan dimana aku dulu pernah menapakinya, satu persatu gedung ku datangi. Mulai dengan rumah sakit yang sekarang kondisinya sudah tidak terawat lagi, banyak belukar melingkari bangunan yang dulunya megah.

Kantor TIS tempat seluruh aktifitas manajemen sekarang teronggok seakan sebuah saksi bisu bagaimana sebuah kejayaan yang dahulu menjadi nadi kehidupan di pulau ini. Aku tak bisa memasuki kawasan pabrik karena terpampang jelas sebuah pengumuman yang menyatakan selain karyawan dilarang masuk.

Bangunan-bangunan yang dulu megah dan kokoh sekarang berganti menjadi bangunan yang penuh belukar, lusuh dan rapuh. Kondisinya menjadi tak terawat dan angker. Jalanan yang dahulu dilalui lalu lalang kendaraan dan karyawan sekarang sepi, lengang dan panas.

Aku memutuskan untuk keluar dan kembali ke perkampungan. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada temanku yang menjaga pintu masuk kawasan. Suasana di luar kawasan pabrik malah lebih semarak. Masih sama seperti dulu keramaiannya, lalu lalang sepeda motor dan becak mewarnai jalanan.

Aku menelusuri ke arah kilometer setengah menuju ke lapangan udara yang sampai sekarang masih digunakan untuk penerbangan pesawat perintis. Hembusan angin dari laut membuatku tak merasakan hunjaman panas matahari yang menimpa tubuhku.

Aku menuju ke telaga goi sebuah pantai yang dahulunya ramai dikunjungi saat karyawan karyawati libur. Ku parkir sepeda motorku di bawah rimbunnya pohon ketapang. Semilir angin membuat mataku ingin terkatup.

Gulungan ombak kecil memecah pantai yang berpasir putih. Ku benamkan kakiku di pecahan ombak itu. Rasa segar menyusup ke seluruh tubuh melalui jemari kaki.

Ku tengadahkan wajahku ke arah luasnya laut membentang, ku pasang earphon dan sebuah lagu terdengar dari blackberryku

Pasir ombak bergulung menderu

Sejauh kaki melangkah tak lepas memandang

Ramainya orang bersuka

Jaka dara tua muda

Melepas lelah sehari dan menghibur diri

Tak kau lihatkah itu semua

Tanah pusaka milik kita

Ketika ternoda ulah manusia

Kita lalai dan pantai berduka

Lagu yang sama tetapi pada masa yang sama sekali tak sama. Tetapi bagaimanapun juga tanah ini telah menorehkan episode yang indah yang layak untuk ku kenang.

Sebuah perjuangan yang di dalamnya terekam sebuah pelajaran dan kearifan yang suatu saat nanti bisa ku ajarkan kembali untuk anak cucuku.

Seekor camar terbang menukik kesana kemari di atas lautan , layaknya kehidupan dia akan meliuk, menukik dan kadang terhempas.

Senja telah datang, warna jingga terlihat samar di horison dan angin mulai menusuk dingin. Ku tatap kembali birunya laut, sama dengan birunya langit. Dan di keduanya kulihat senyum dan takdir Tuhan yang masih akan selalu menyelimuti hidupku.

Senja indah hari ini semoga menjadikan indah juga di usia senjaku sekarang.

 

Tamat

 

 

3 Comments to "[Mangole] Epilog – Senja di Falabisahaya"

  1. falabisahaya  18 May, 2018 at 20:01

    sangat sedih dan teharu, terima kasih karena telah membagi kisah menarik. Sebagai generasi muda falabisahaya (yang lahir pada sekitaran reformasi) kami merasa sangat iba dan terharu dengan kisah hidup bapak sejak kecil di tanah jawa sampai meraih kesuksesan di tanah falabisahaya. Dan juga merasa iba atas kejayaan yang luar biasa yang telah diraih barito mangole di tanah falabisaya, yang telah bapak ceritakan secara spesifik dari sudut pandang karyawan, bagian yang hilang dari cerita kisah orang tua kami dulu pada saat masa kejayaan barito mangole Hal ini juga sebagai motivasi untuk kami generasi muda agar selalu berusaha dan bekerja keras demi mengembalikan kejayaan barito mangole dalam falabisahaya. Semoga kita semua selalu ada dalam naungan kasih yang Tuhan Yang Maha Esa.
    Ngomong-ngomong bapak boleh bilang disini urutkan yang benar artikel dalam blog bapak tentang mangole tak? supaya bisa dibaca sesuai urutan, soalnya tadi saya bacanya acak, walau saya mampu mengurutkan secara pribadi, tapi mungkin yang lain tidak hehehe

  2. djasMerahputih  4 July, 2015 at 20:01

    Huaadiiirrrr……!!!
    Pindahannya paling serius… sampe banyak koment yang ketinggalan… he he he…
    waah.. ceritanya sudah tamat yaahh….

    Great ending…!!

  3. james  28 June, 2015 at 08:17

    1……10 hari kaga absenin para Kenthirs jadi kangen deh……hayo pada keluar dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.