Naik Haji di Masa Silam (Jilid 1)

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Naik Haji di Masa Silam – Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji (1482 – 1964); Jilid I (1482 – 1890).

Penulis: Henri Chambert-Loir

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal: vi + 470 halaman

ISBN: 978-979-91-0656-8

 

naik haji masa silam

Melaksanakan ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Kelima rukun Islam tersebut adalah: (1) membaca kalimat sahadat, (2) menegakkan shalat, (3) melaksanakan puasa pada Bulan Ramadhan, (4) membayar zakat, dan (5) jika mempunyai kemampuan yang cukup, menunaikan ibadah haji. Jika keempat rukun Islam wajib dilaksanakan tanpa prasyarat, rukun kelima ini, yakni melaksanakan ibadah haji, hanya diwajibkan kepada mereka yang ‘mampu’.

Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke 7M. Khalifah Ustman bin Aflan mengirimkan utusan ke Kerajaan Kalingga (Jepara) pada tahun 674 M. Salah satu putra Ratu Kalingga (Ratu Shima) dikhabarkan masuk Islam. Pada abad ke 13M, Agama Islam semakin instensif berkembang di Nusantara bersama dengan kedatangan para pedagang dari Pesia dan Gujarat (India). Meski Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke tujuh, namun catatan orang Nusantara yang naik haji baru diketahui sejak abad 15M (tahun 1482M).

Meski bukan berarti bahwa tidak ada orang Nusantara yang menunaikan ibadah haji sebelum tahun 1482M, namun jelas bahwa berhaji belum menjadi ibadah yang diutamakan oleh orang-orang di Nusantara. Hal ini bisa disebabkan karena transportasi yang belum memungkinkan orang Nusantara naik haji, juga bisa disebabkan bahwa berhaji hanya disyaratkan kepada mereka yang ‘mampu’.

Adalah Hang Tuah, seorang laksamana dari Melaka yang dalam pelayarannya ke Istambul untuk membeli meriam. Saat kapalnya berlabuh di Jedah, Hang Tuah diajak oleh Malik Razal (Syahbandar Jedah) untuk menunaikan ibadah haji. Namun apakah benar bahwa Hang Tuah yang naik haji pada tahun 1482M, tepatnya tanggal 29 Januari 1482, atau ada orang lain yang naik haji dan membuat catatan kemudian dimasukkan dalam Hikayat Hang Tuah, beberapa ahli meragukannya. Namun teks ini menunjukkan bahwa siapapun dia, sudah ada orang Melaka yang berangkat haji pada tahun 1482.

Tulisan kedua tentang orang Nusantara naik haji berasal dari Sejarah Banten Rante-Rante. Teks ini menceritakan Sunan Gunung Jati naik haji. Sunan Gunung Jati adalah seorang keramat, yang bapaknya berasal dari Yamani dan ibunya dari Banisrail –seorang Yahudi (p158). Sebagai seorang anak saudagar di Pasai, Sunan Gunung Jati pergi ke Mekah untuk belajar. Sunan Gunung Jati memtusukan untuk kembali ke Nusantara (Jepara) karena beliau bemimpi bertemu dengan Nabi Muhammad. Sunan Gunung Jati diminta untuk kembali ke Jawa dan mengislamkan orang Jawa (p161). Selain dari Sunan Gunung Jati, perjalanan haji yang fenomenal dilakukan oleh Syekh Yusuf al-Makasari (1650). Selain perjalanan fisik, kisah haji Syekh Yusuf al-Makasari dipenuhi dengan kisah perjalanan spiritual bertemu dengan berbagai nabi.

Berturut-turut buku ini menyajikan kisah Jamaluddin Ibn al-Jawi (awal abad ke-18), Raja Ahmad dari Riau (1828), Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1854) dan Sultan Abdul Kahar dari Pontianak (1880). Selain itu buku ini juga memuat beberapa petunjuk berhaji, seperti: Sirat al-Mutaqim (Karya Nurudin ar Raniri -1634), Syair Rukun Haji (1841), Buku Wulang Haji (1873), dan beberapa buku petunjuk berhaji yang terbit dari tahun 1880-1990.

Pada abad ke-17 Mekah adalah pusat Agama Islam sekaligus pusat kekuatan politik. Itulah sebabnya banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara membangun jaringan dengan Mekah. Selain dengan mengirimkan utusan untuk belajar agama, ada juga beberapa kerajaan di Nusantara yang mengundang para syekh untuk mengajar agama di kerajaannya.

Salah satu kisah upaya membangun jaringan dengan Mekah yang dimuat dalam buku ini adalah tentang Sultan Agung Raja Mataram. Dikisahkan bahwa Sultan Agung selalu shalat Jumat di Masjid Mekah. Sultan meminta supaya bisa membangun makam di samping makam Nabi Muhammad. Namun permintaan ini ditolak oleh Imam Syafi’i. Sultan Agung marah atas penolakan ini dan melaporkannya kepada istrinya Ratu Kidul. Maka Ratu Kidul mengirimkan wabah penyakit ke Mekah. Akhirnya, Sunan Kalijaga meredakan wabah tersebut dan membawa segenggam tanah dari makam Nabi untuk disebarkan di Jawa. Lahan tempat disebarkannya tanah dari makam Nabi kemudian menjadi makam para raja Jawa (Imogiri). Kisah ini, disamping legenda supranaturalnya, menunjukkan bahwa hubungan dengan Mekah adalah sangat penting untuk meningkatkan legitimasi kerajaan-kerajaan di Nusantara.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

27 Comments to "Naik Haji di Masa Silam (Jilid 1)"

  1. Handoko Widagdo  6 July, 2015 at 18:03

    Halo Widya Ahmad, saya sendiri tidak tahu pasti sejak kapan orang Nusantara memakai haji/hajjah sebagai gelar. Mungkin ada pembaca lain yang tahu?

  2. Widya Achmad  6 July, 2015 at 14:29

    Maaf pak, mau bertanya… sejak kapan gelar Haji atau Hajja itu digunakan? soalnya yang saya paham gelar ini hanya ada di Indonesia, dituliskan-ditambahkan pada nama seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji ini.

  3. Handoko Widagdo  6 July, 2015 at 11:37

    Djas, tepatnya raja-raja dai timur (Majuzi) membawa emas, mur dan kemenyan. Tapi saya belum pernah dapat penjelasan atau tafsir bahwa mereka adalah raja-raja tersebut adalah dari Nusantara. Meski harus diakui bahwa satu-satunya penyuplai kemenyan adalah dari Kerajaan Barus di Sumatra.

  4. djasMerahputih  5 July, 2015 at 21:27

    Belum lagi kisah raja-raja dari Timur yg datang menemui Yesus dengan membawa emas, tombak dan kemenyan, sesuatu yang sangat identik dengan nusantara…

  5. Handoko Widagdo  5 July, 2015 at 07:43

    DJAS, memang harus digali informasinya. Saat saya ke Gayo – Aceh, mereka menyatakan bahwa Kerajaan Barus sudah berhubungan dengan Mesir jaman Firaun. Buktinya mereka menyebut kopi dengan kata kahwa.

  6. Handoko Widagdo  5 July, 2015 at 07:42

    Mas Iwan, memang benar masih perlu banyak kajian tentang masa-masa awal Islam dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

    Saya lebih setuju dengan kalimat awal Mas Iwan yang menyatakan HARUS MEMILIKI buku ini. Bukan kalimat terakhir: “Mas Han saya PINJAM bukunya.” Sebab sayapun pinjam buku ini dari perpustakaan kantor.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.