Padamnya Sanggar Cerita

Djenar Lonthang Sumirang

 

Maka jangan heran jika anak-anak sudah mengenal kekerasan. Sebab, sudah tak ada tayangan yang cocok bagi usia mereka.

Siapa tak kenal Tutur Tinular? Saur Sepuh? Sandiwara-sandiwara tersohor di tahun 1980-an. Lalu juga S. Tidjab, atau Niki Kosasih. Penulis-penulis naskah sandiwara radio, yang selalu bisa mengaduk-aduk imajinasi pendengar radio. Keduanya, adalah salah satu dari sekian ratus anak didik Pastor Welbert Daniel S.J atau Handojo Soenjoto, pendiri yayasan Sanggar Prathivi.

Mulanya, pater Dan -panggilan akrab Welbert Daniel- menyempatkan diri melanglang diri belajar pemrograman radio hingga Jepang, Belanda dan Jerman. Ia melakukannya karena diutus pihak gereja Katholik Indonesia, sekira tahun 1960-an, untuk mendirikan stasiun radio yang representatif.

Semula, Daniel ini dikenal dekat dengan kalangan mahasiswa pada tahun 1960-an. Ia sering memberi bimbingan rohani kepada para mahasiswa, yang saat itu sedang gencar-gencarnya mencoba menggulingkan Sukarno sebagai ikon Orde Lama. Bukan hanya dengan demontrasi di jalanan, siaran-siaran partikelir juga memberitakan keburukan Sukarno. Pokoknya, menyerang Sukarno dari setiap sudut, hingga ia tersudut.

Tak bisa dipungkiri, radio turut melegitimasi Soeharto ke tampuk Orde Baru pada tahun 1966. Di rumah-rumah muncul stasiun radio kecil -cikal-bakal radio swasta- sebagai reaksi kontra RRI yang dipandang kala itu pro Sukarno. Seperti Radio Ampera, yang berada di rumah Mashuri jalan Agus Salim dan dikelola mahasiswa ITB, yang nyata mendukung Soeharto.

Tahun 1966, Daniel berhasil mendirikan studio rekaman, yang kemudian dinamai sanggar Prathivi, kependekan dari penggemar radio dan tivi. Studio tersebut menjadi yang paling modern di jamannya. Bagaimana tidak, ruangan kedap udara; ber-AC; dan dilengkapi ruang kontrol dan ruang perekaman. Daniel pun menjabat sebagai direktur pertama sampai 9 tahun berikutnya.

Meski disokong kalangan Katholik, sanggar Prathivi memiliki program-program yang melulu bicara agama. Produk rekamannya justru berisi pendidikan sosial dan pembinaan akhlak manusia secara umum. Dan tak lupa, program siaran untuk anak-anak, yang kemudian dinamakan sanggar cerita.

“Untuk TVRI adalah program Mimbar dan drama Fragmen, yang juga diproduksi oleh sanggar Prathivi,” ujar Carolus Ispriyono, mantan sutradara sandiwara radio ‘Tutur Tinular’.

Kemudian, bagaimana pater Dan merekrut karyawan? Ternyata ia mengontak kembali orang-orang yang sudah ia kenal sejak lama, atau bekas mahasiswanya untuk bergabung.

Bukan hanya itu, ia juga membuat kelas kursus pemrograman radio. Lalu merembet ke kursus seni drama radio dan kursus penulisan naskah. Dari sini, mata rantai regenerasi tak hilang. Siswa yang berbakat, akan direkrut masuk sanggar Prathivi, dan seterusnya ia akan di-plot sebagai pengajar kursus.

Saat kursus penulisan naskah drama, pater Dan selalu menekankan untuk memperbanyak kisah drama anak-anak. Inspirasi cerita bisa dari saduran karya internasional, pengembangan cerita lokal, atau bahkan fantasi si penulis sendiri.

sanggar cerita

Alhasil, satu naskah cerita anak-anak pertama yang berhasil diproduksi menjadi kaset adalah Samurai Hidosato – Awan Putih Beranak di Fujiyama. Kaset ini direkam dan diproduksi sekira tahun 1974, di bawah naungan PT Swadaya Prathivi yang juga berdiri di tahun itu.

Dari sini, cerita-cerita produksi sanggar cerita menjadi hal yang ditunggu anak-anak kala itu. Hingga sekira tahun 1990-an, sanggar cerita sudah memproduksi sekira 200 lebih judul sandiwara anak. Nama seperti S. Tidjab lalu Niki Kosasih, kemudian Maria Oentoe, juga meniti karier dari sanggar cerita.

Tahun 1990, menjadi titik balik kejayaan media audio: radio dan kaset. Televisi mulai memikat masyarakat. Kegiatan Sanggar Prativi juga turut surut ketika bermunculan tivi swasta, dan bisnis sinetron mengalami booming.

Setelah pergantian pucuk pimpinan yayasan sanggar Prathivi, banyak tenaga handal yang keluar. Mereka kemudian banyak berperan dalam perkembangan rumah produksi yang bermunculan.

Demikian pula dengan nasib sanggar cerita. Kisahnya terhenti. Dan anak-anak, limbung, sebab dunianya terenggut dengan maraknya tayangan-tayangan yang belum waktunya mereka nikmati.*

 

 

8 Comments to "Padamnya Sanggar Cerita"

  1. Lephen P  6 November, 2018 at 01:47

    Info yang menarik dsn jadi pelajaran bermakna buat kita semua mendidik anak dengan dongengan

  2. djasMerahputih  4 July, 2015 at 18:45

    Hadiirrr… thanks Tji Lani…

    Saat negara alpa mengurus kebutuhan tontonan layak bagi anak dan remajanya maka mereka akan menjadi lahan garapan empuk ideologi asing melalui tayangan hiburan dan sinetron di layar kaca.

  3. probo  3 July, 2015 at 20:49

    ingat Maria Oentoe, Ivone Rose, Fery Fadli, Elsa Syarif dll

  4. J C  3 July, 2015 at 17:23

    Sanggar cerita sangat membekas di sanubariku. Sanggar cerita menemani masa kecilku dan menemaniku belajar banyak hal…

  5. Dj. 813  30 June, 2015 at 16:36

    Kalau diawal tahun 70 an, di Jakarta Dj. lebih suka, setiap malam dengarin radio.
    Dengerin cerita nya si Jaid ( Jait ) yang serem dan luca.
    Bisa tertawa didepan radio…. Hahahahahaha….!!!
    Salam,

  6. james  30 June, 2015 at 09:20

    hadir lagi Ci Lani….terima kasih

    cerita si Unyil aja deh sama pak Raden bu Raden nya

  7. Lani  30 June, 2015 at 06:39

    Aku msh ingat semua crita2 yg disebutkan di artikel ini, bahkan sgt menyukainya…….menggandrunginya……..sll menantikan serialnya diradio. Zaman telah berubah……sanggar cerita telah ditinggalkan

  8. Lani  30 June, 2015 at 06:12

    Absenin trio kenthir yg lagi pd tidur

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.