Risalah Asyidda

Chandra Sasadara

 

Yth: Saudaraku Umarmadi

Surat terakhir yang kau kirim membuatku miris. Apakah sudah demikian parah kehidupan keagamaan di kampung kita. Apa hanya karena perbedaan paham dan mazhab sesama saudara di kampung menjadi saling menyerang dan mengkafirkan.

Ingin sekali aku bisa pulang ke kampung. Ingin aku ikut mendamaikan mereka dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki. Namun, jarak dan kesempatan yang aku miliki tidak memungkinkan untuk pulang ke kampung, lagi pula mendamaikan perselisihan seperti itu perlu pendekatan khusus dan waktu yang tidak sebentar. Itu mengapa aku harus menulis surat ini. Tanpa bermaksud mengguruimu, aku ingin menjelaskan Surah Al-Fath ayat 29 tentang asyidda’ ala al kuffar, sikap keras kepada orang-orang kafir yang sedang ramai digunakan oleh saudara di kampung untuk menghujat dan mengkafirkan saudara lainnya.

Imam Ali R.A, seperti dikutib oleh Ibnu Jharir al Thabari dalam Tarikh al Umam wa al Muluk mengatakan bahwa “Al-Qur’an sesungguhnya adalah tulisan di antara dua pinggir bingkai, ia tidak berbicara apa-apa, kehendak manusialah yang memaknainya”. Aku bermaksud menggunakan kalimat Imam Ali ini untuk menjelaskan bahwa asyidda’ itu bisa bermakna al-‘unf (kekerasan), qital (membunuh), harb (perang) atau tsabat al-qalb (keteguhan hati) bergantung siapa yang memaknai dan untuk kepentingan apa.

Dalam kamus Lisan Al-‘arab Ibnu Mandzur, kata asyidda’ merupakan bentuk plural dari syadid. Kata asyidda’ memiliki banyak arti di antaranya adalah al-shalabah (keras/tegas), al-quwwah (kuat), al-adawah (permusuhan), an nadjah (keberanian), tsabat al-qalb (keteguhan hati) dan lain-lain. Tidak satupun dalam kamus itu yang menyebut bahwa asyidda’ diartikan sebagai al-‘unf (kekerasan), qital (membunuh) dan harb (perang). Bahkan Thahir ibnu ‘Asyur dalam Tafsir al-Tahrir wa Al-tanwir mengatakan bahwa assyidda’ dapat artikan sebagai kekuatan maknawi, kekuatan jiwa dan sikap tegas dalam menghadapi siapapun termasuk pada musuh.

Dari Ibnu Abbas, Imam Al-Qhurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an mengataan bahwa Surah Al-Fath ayat 29 tentang asyidda’ ala al kuffar turun untuk memuji penduduk Hudaibiyyah yang memiliki keberanian dan keteguhan hati dalam memberikan perlawanan kepada musuh. Ini adalah salah satu ayat yang turun di Madinah pada era perang, termasuk ayat mutasyabihat. Teks-teks ayat seperti ini berlaku untuk kasus dan kondisi yang khusus, karena itu ayat-ayat seperti ini disebut dengan ayat-ayat juz’iyyat (partikuler).

Itu artinya kita tidak bisa menggunakan ayat tersebut secara semena-mena untuk membenarkan cara-cara kekerasan dan perang kepada orang lain yang kita sebut sebagi kuffar. Di samping kata asyidda’ tidak memiliki arti membunuh, melakukan kekerasan dan perang. Ayat tersebut juga turun pada sebab khusus. Lagi pula tidak mudah menyebut orang atau kelompok orang sebagai kafir/kuffar.

Al-Qur’an sendiri menggunakan kata kafir/kuffar dalam dua arti, yaitu arti yang positif dan arti yang negatif. Surah Al-hadid ayat 20 menyebut petani dengan sebutan kuffar dan kata kafir (ya’fur) juga digunakan untuk mereka yang membenci tiran seperti terdapat dalam Surah Al-Baqhara ayat 256. Apakah mereka akan memerangi, melakukan kekerasan dan membunuh para kafir yang disebut dalam dua ayat tersebut, tentu tidak.

Al-kuffar merupakan bentuk plural dari kafir. Dalam kamus arab Al-munjid kafir berasal dari kata ka-fa-ra yang artinya menutupi, karena itu petani yang mengola tanah dengan membalik dan menutup tanah disebut kuffar. Orang-orang yang menolak setia pada tiran juga disebut dengan akar kata ka-fa-ra. Dalam kamus Lisan Al-‘arab kata tersebut memiliki banyak arti antara lain naqhid al-iman (tidak percaya pada Tuhan YME), naqhid al-syukr (tidak bersyukur), al-juhud wa al-satr (menutupi hati).

Iman, sebagai antithesis dari kafir selain terkait dengan kepercayaan kepada Allah SAW juga terkait dengan moral social seperti bunyi dua hadist yang terkenal berikut. Pertama, “tidak termasuk orang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. Kedua, “tidak beriman di antara kalian hingga kalian menghendaki kebaikan bagi saudaranya seperti kalian menghendaki kebaikan pada diri sendiri”.

Syukur juga lawan dari kafir seperti yang disebut dalam Surah Ibrahim ayat 7 “sesungguhnya jika kamu bersyukur aku akan menambahkan nikmatku, namun jika kamu kuffur siksaku amat pedih”. Begitu juga menutup hati dari kebenaran juga termasuk kekafiran seperti terdapat dalam Surah Al-insan ayat 3, “ sesungguhnya kami telah menunjukkan jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan pula yang kuffur”.

Asghar Ali Engineer dalam Islam Pembebasan menyebutkan bahwa kafir tidak hanya berkaitan dengan kepecayaan relijius seperti yang diyakini teologi-teologi tradisional tapi juga melakukan penentangan terhadap tatanan masyarakat yang adil dan egaliter serta bebas dari segela bentuk ekspoitasi dan penindasan. Menurutnya, kafir itu mereka yang menentang usaha jujur untuk menghapus penumpukan kekayaan, penindasan, eksploitasi dan bentuk ketidakadilan.

Mengikuti pengertian Asghar Ali, Surah Al-Fath ayat 29 tentang asyidda’ ala al kuffar, keras dan tegas kepada orang kafir seharusnya diarahkan untuk menghapus penumpukan kekayaan, penindasan, eksploitasi dan bentuk ketidakadilan bukan digunakan untuk memusuhi dan melakukan kekerasan terhadap mereka yang bedah pemikiran, bedah madzab dan bedah agama.

Lalu bagaimana dengan non Muslim? Nah lho, bukankan mereka adalah kafir? Tunggu dulu saudaraku. Terkait dengan hal ini ada dua hal yang perlu jelaskan. Pertama, apakah semua non Islam itu kuffur. Kedua, kepercayaan apa yang disebut Islam dalam Al-qur’an.

Surah Ali Imran ayat 110 dan 113-114 mengatakan bahwa di antara ahli kitab itu ada yang beriman, ada golongan yang jujur, membaca ayat-ayat Allah di malam hari, mereka juga sujud, mereka beriman pada hari akhir, mencegah mungkar dan melakukan kesalehan. Pertanyaanya siapa yang dimaksud sebagai ahli kitab? Mereka adalah yang mangimani kitab-kitab yang diturunkan sebelum kenabian Muhammad SAW. Ayat-ayat ini jelas menginformasikan bahwa tidak semua non Muslim itu kafir, jahat dan ingkar.

Al-qur’an sendiri menyebut mereka dengan Nashara (Kristian), Yahudhu (Yahudi), Majusi dan Sabi’in (kepercayaan lain selain ahli kitab) bukan dengan sebutan kafir. Bahkan Surah Al baqarah ayat 62, Surah Al-maidah ayat 5, Surah Ali Imran ayat 115 dan Surah Al hajj ayat 17 menyebut bahwa amal baik mereka akan mendapat pahala dari Allah. Tiga surah pertama secara tegas menyebutkan bahwa orang beriman, Yahudi, Kristen dan Sabiin amal baiknya tidak akan diabaikan oleh Allah. Sedangkan surah terakhir menyebutkan bahwa amal mereka akan diperhitungkan, amal buruk mendapat azab yang baik dapat pahala.

Kalau tidak semua dari non Muslim adalah kafir dan amal baik mereka juga dibalas pahala oleh Allah, atas dasar apa kita memusuhi mereka? Ayat-ayat di atas juga menunjukkan bahwa tidak mudah menunjuk siapa kafir siapa tidak, bahkan kepada non Muslim sekalipun.

Tentang siapa yang disebut Muslim, menurutku kita perlu membaca Surah Ali Imran ayat 84 dan 85 secara hati-hati. Ayat 84 mengatakan bahwa “..kami beriman pada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka”. Ayat 85 menyebutkan bahwa “barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima”.

Saudara-saudara kita sering menggunakan Ali Imran 85 untuk mengatakan bahwa selain Islam adalah Kafir karena agama selain Islam tidak diterima oleh Allah. Pandangan itu bisa dipahami, sebab mereka hanya menggunakan ayat 85, namun cobalah kaitkan ayat 85 dengan ayat 84. Maka akan ditemukan bahwa ayat 85 bersifat konklusif. Islam adalah apa yang dibawa oleh oleh Muhammad, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Ayat 84-85 dalam Surah Ali Imran tersebut menjadi pelengkap dari 110 dan 113-114 yang disebut sebelumnya.

Saudaraku Umarmadi

Menggunakan ayat asyidda’ ala kuffar harus hati-hati apalagi hanya untuk memenuhi nafsu memusuhi dan menyakiti sesama manusia. Asyidda’ (tegas/keras) harus disandingkan dengan ruhama’ (santun dan mengasihi) sebab kita mewarisi agama rahmah (kasih/sayang). Jangan mudah mengkafirkan orang lain, Nabi melarang keras mengkafirkan orang lain. Ingat pesan Nabi yang ini “Muslim adalah mereka yang kehadirannya membuat orang lain selamat dari lisan dan tindakannya”.

Demikian yang bisa aku jelaskan saudaraku, salam hormat untuk keluarga di Kampung. Wallahumuwafiq ila aq’wamitariq

 

Saudaramu di Rantau

Thoriq Al-Huda

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

48 Comments to "Risalah Asyidda"

  1. djasMerahputih  14 July, 2015 at 19:44

    Mohon maaf om DJ,
    djas belum paham tentang tugas kerasulan Isa (Yesus) dengan kitab Injil sebagai penerus kitab Taurat sebelumnya. Terutama pada Matheus 15:24 dan 10:6. Mohon pencerahannya. (Via email [email protected])

  2. Chandra Sasadara  14 July, 2015 at 09:32

    Amin Pak DJ, Hatur Nuhun Atas Doa’nya

  3. Dj. 813  13 July, 2015 at 22:37

    Terimakasih bung Chandra….
    Tuhan memberkati anda . . .
    Salam Damai…

  4. Chandra Sasadara  12 July, 2015 at 08:34

    Pak DJ : ayat-ayat yg saya kutip dari Injil, tak ada sedikitkupn ingin mengatakan bahwa Jesus diutus untuk kaum Israel saja, sebab saya juga membaca perjanjian lama dan perjanjian baru secara utuh. memang benar seperti yang Pak DJ kutip bahwa Jesus datang utuk umat manusia, sama dengan keyakinan umat Islam bahwa Jesus datang untuk umat manusia.

    di dalam keyakinan Umat Islam, Muhammad juga diutus untuk umat manusia. ada ayat yg sangat terkenal digunakan oleh para pendukung perdamaian : “wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” = bahwa sesunggunya aku tidak diutus kecuali untuk memberikan kasih/rahma kepada seluruh alam” . demikian Pak DJ.. Tabik

  5. Chandra Sasadara  12 July, 2015 at 08:16

    Maaaf Itsmi saya telat merespon balasan kamu : berlainan/beredah pengerian atau cara baca bagi aku tidak akan menjadi maslah yang penting aapa yang kamu khawatirkan “keluar group” itu tidak terjadi. satu hal lagi, sepajang aku merspon tanggapan anda, tak ada aku tulis kata ateis atau teis, bagiku keyakinan macam itu tak peenting, berdamai dan mau menerima perbedaan jauh lebih dibutuhkan Indonsia saat ini dari paada berdebat tentaang “apa keyakinan kamu dan apa keyakinanku”.. Tabik

  6. Dj. 813  7 July, 2015 at 19:29

    Maaaaf…
    Diatas, yang Dj. maksud Matheus 28 : 20 dan bukan 220,mana ada ya ayat 220… Hahahahaha….!!!
    Sekali lagi, Maaaaaf.

  7. Dj. 813  7 July, 2015 at 19:28

    Chandra Sasadara 6 July, 2015 at 09:20

    Pak JD : masuk akan sekali, harusnya klo mengacu pada ayat itu bahwa Muhammad SAW hanya diutus untuk memperbaiki perilaku sosial masyarakat arab. namun di banyak ayat ternyata Nabi juga diutus untuk umat manusia yg beriman atau tidak, buktinya banyak ayat yg diumulai dengan “ayyuhanass=wahai manusia”, “yaaa ayuha ammanu=hai org-org beriman” dll.
    —————————————————————————–

    Ya syukurlah bila demikian…
    Kan anda menulis bukan soal agama Kristen, tapi tentang agama islam….
    Jadi mengenai ayat-ayat dalam injil, tidak ada hubungannya dengan artikel diatas.
    Bila ada…
    Maka jelas Dj. tahu, karena ayat yang anda ambil dari Injil, hanya sepenggal saja.
    Masih ada di Matheus 28 : 18, 19 dan 220 yang berbunyi…
    ayat 18 :
    KEPADAKU TELAH DIBERIKAN SEGALA KUASA DI SORGA DAN DIBUMI.

    ayat 19 :
    KARENA ITU PERGILAAH , JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURIKU DAN
    BABTISLAH MEREKA DALAM NAMA BAPA DAN ANAK DAN ROH KUDUS

    ayat 20 :
    DAN AJARKANLAH MEREKA MELAKUKAN SEGALA SESUATU YANG TELAH AKU PERINTAHKAN KEPADAMU. DAN KETAHUHILAH, AKU MENYERTAI KAMU SENANTIASA SAMPAI KEPADA AKHIR JAMAN.

    Maaf bung Chandra, karena anda yang telah mengutip ayat dari kitab Injil, maka ini Dj. hanya menambahkannya saja
    Bahwa Yesus jelas, mengutus para rasul untuk pergi semua bangsa dan tidak hanya di israel saja.
    Dan kuasa ada didalam tangannya, indah bukan…???

    Salam Damai dari Mainz.

  8. Itsmi  7 July, 2015 at 12:34

    Chandra, kesimpulan sebenarnya cara membaca dan pengertian antara saya dan kamu sangat berlainan…, dan ini tdk ada berkaitan ateis atau teis…, tp ok lah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *