Humanisme Pejalan Kaki

Alfred Tuname

 

Setiap manusia adalah pejalan. Berjalan berarti berpindah dari sebuah keadaan. Perpidahaan itu menghasilkan perubahan. Hasilnya, bisa baik, bisa juga buruk tergantung pada jalan yang dipilih.

Perubahan adalah keniscayaan. Segala sesuatu pasti berubah. Dunia ini berubah dan kita pun berubah di dalamnya. Jalan yang dipilih menuntun perubahan itu sendiri. Berubah berarti hidup. Setiap orang ingin memiliki nasib hidup yang baik. Setiap orang ingin selalu mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Ada kemauan, ada jalan. Demikianlah bunyi pepatah yang sudah sering didengar. Kemauan bisa dalam bentuk untuk apa saja; jalan pun bisa dalam bentuk apa saja. Manakala ada kemauan untuk hidup yang lebih baik, mata seseorang akan melihat kesempatan itu. Kesempatan itulah jalan. Pendidikan, agama, karir, kesehatan, status dan lain sebagainya adalah jalan untuk hidup yang lebih baik.

Maka selalu ada jalan bagi manusia yang tidak menutup matanya untuk melihat kesempatan. Tetapi saat membuka matanya, manusia sudah terserap dalam dikotomi dalam realitas hidupnya. Ia sebagai insan soliter dan juga insan sosial. Sebagai insan sosial, manusia memiliki kebutuhan akan pengakuan dan afeksi, berbagi kesenangan dan kegembiraan, dan berkontribusi dalam membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Sebagai insan soliter, manusia berusaha melindungi diri sendiri, memuaskankan keinginan pribadi dan meningkatkan kemampuan atau kepakaran diri. Maka dalam realitas hidup manusia selalu berjalan dalam ketegangan diri sebagai insan yang soliter dan sosial.

Manusia memiliki akal dan budi untuk mengelola ketegangan itu. Dengan akal dan budinya, manusia berusaha menjadi dirinya sendiri sekaligus bagian dari diri sosial. Dengan akal dan budinya, manusia bisa bertoleransi dengan sesama manusia. Ia memperlakukan orang lain sebagaimana yang ia ingin orang perlakukan dirinya. Dengan toleransi, hak-hak dasar manusia dihormati dan dihargai. Lalu, kekerasaan tidak akan ada, hanya solidaritas yang meluas. Dengan itu, setiap perjumpaan manusia semakin menumbuhkan derajat kasih dan cinta sesama. Inilah humanisme.

pejalan-kaki

Bagi seorang pejalan kaki, humanisme hadir dalam setiap perjumpaannya dengan sesama manusia yang lain. Toleransi dan solidaritas bercahaya pada wajah kemanusiaan saat mata saling bertatapan. Maka berjalan kaki merupakan kesempatan untuk melihat dan mengolah diri yang soliter dan sosial.

Wajah orang lain adalah cermin kemanusian yang dijumpai dalam perjalanan. Kegembiraan dan kesedihan selalu tampak pada wajah. Dari situlah empati dan simpati muncul. Dengan begitu, manusia melihat wajah dirinya dalam wajah orang lain. Manusia dapat menemukan dirinya dan makna hidupnya dalam setiap pelibatanya dengan orang lain. Inilah humanisme pejalan kaki.

Pejalan kaki mampu bertolak lebih dalam ke dalam dirinya melalui refleksi. Dalam perjalanan, pikiran bekerja. Filsuf Friedrich Nietzsche menulis, “jangan percaya pada pikiran yang muncul bukan pada saat Anda berjalan kaki”. Bagi Nietzsche, pemikiran besar muncul pada saat berjalan kaki. Boleh jadi, berjalan kaki tidak berarti menenangkan pikiran, melainkan berpikir dengan tenang. Sebab, setiap perjumpaan di perjalanan akan mambantu seseorang untuk merumuskan pikiran mendalam, kreatif dan reflektif.

Kaki adalah roda kreativitas berpikir, sejauh kaki itu terus melangkah atau berjalan. Habitus berjalan akan menghasilkan energi yang menghasilkan pemikiran besar yang humanis. Dan, dengan berjalan kaki, manusia tidak dilindas oleh roda kehidupan yang penuh kepenatan moralitas semu, kedangkalan nilai dan kesenangan murahan.

 

Jogja, 2015

Alfred Tuname

 

 

7 Comments to "Humanisme Pejalan Kaki"

  1. Swan Liong Be  5 July, 2015 at 23:15

    Terus terang aja, kalo saya tergantung dimana jalan kakinya, kalo suru jalan kaki diJakarta, Semarang ya males ah!

  2. Pingkan Djayasupena  5 July, 2015 at 14:09

    Saya suka jalan kaki kadang ketemu orang yng dikenal kadang ketemu orang yng belum kenal lalu ngobrol sebentar jalan lagi…

  3. djasMerahputih  4 July, 2015 at 19:14

    Hidup memang harus terus berjalan… Life must go on…

  4. james  4 July, 2015 at 06:46

    prinsip jalan itu baik adanya, begitu juga jalan kaki itu sehat….setuju mas DJ

  5. Dj. 813  3 July, 2015 at 17:44

    Terimakasih bung Alfred…Semua memang berjalan, dalam kehidupan ini….
    1 detikpun sudah merubah suasana dan hal itu tidak mungkin kembali lagi.
    Berjalan kaki, berarti bergerak dan untuk bergerak, harus ada yang mengerakannya.
    Nah itulah tenaga yang harus kita akui. Tanpa tenaga, tidak ada yang bergerak.
    Jadi semuanya tidaklah sia-sia, sebab dengan adanya tenaga, makan ada pergerakan dan dengan
    adanya pergerakan, akan ada perubahan dan tidak hanya sampai disitu saja.
    Pasti akan ada hasilnya…. Kalau tidak, maka semuanya akan sia-sia…. Hahahahahaha….!!!

    Dj. berjalan kaki 10.000 langkah setiap harinya sudah sangat bersyukur, karena Dia yang telah memberi tenaga sehingga Dj. bisa bergerak.

    Terimakaksih dan salam,

  6. J C  3 July, 2015 at 17:31

    Jalan kaki pun bisa digali dari kacamata filsafat seperti ini…memang Alfred luar biasa!

  7. Itsmi  3 July, 2015 at 16:50

    Alfred, kamu sedang dalam proses perubahan pemikiran ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.