Surat Jamilah

Yuli Duryat

 

Sebuah monolog

monolog

Seorang wanita tua duduk di atas kursi. Memakai jarik dan kebaya, memegang sebuah kotak kinang. Tangannya memegang segumpal tembakau yang ditempelkan di bibir. Suaranya bergetar ditelan kerentaan serta tubuh yang sakit-sakitan.

Aku ini biyunge Jamilah, baru saja dapat surat dari Jamilah di Hongkong. Nah, ini nih suratnya si Jamilah.

Memperhatikan surat yang dipegang dengan tangan kanan serta mbako di tangan kiri bergaintian.

Aduh, mbakonya ndak enak, bukan mbako mbali. Tapi gak papa, dari pada gak ada. Baca dulu ya, satu-satu. Aku ini bisa baca tapi cuma sedikit, kalau disuruh nulis aku ndak bisa, ini dekat begini bacanya, maklum mataku sudah rabun.

Mendekatkan lembar kertas tepat di depan muka.

“Assalamualaikum…, waalaikumsalam…. Bagaimana kabarnya, Yung. Anakmu ini alhamdulilah dipun paringi waras slamet.” Alhamdulilah, biyung juga slamet, meskipun batuk-batuk sama encok, maklum penyakit tua. Waduh, terusannya kayak semut. Mbacanya nanti lagi saja ya, panjang soalnya.

Mengucek-ngucek mata dengan punggung tangan.

Ualah, tanganku ini pada pecah-pecah. Kemarin habis nyangkul di tegalan yang pada berlubang. Sekarang lagi musim kemarau, sawah dan tegalan kering krontang. Rencananya aku ini mau mbedul singkong di tegalan buat bikin gaplek sama oyek atau tiwul. Buat campuran nasi, maklum saja sudah ndak punya padi untuk digiling jadi beras. Kemarau panjang ndak rampung-rampung, semua ladang pada mlekah berlubang di mana-mana.

Sudah lama sekali Jamilah pergi. Apa dia nggak kasihan sama si Kentung, anaknya yang sekarang sudah masuk SD. Sangat nakal dan bandel. Ya begitulah si Kentung cucu laki-lakiku anaknya Jamilah itu, kadang lucu tapi kadang juga bikin jengkel. Aku ini sudah tua, sudah tidak kuat tenaga untuk mengikuti si Kentung pergi bermain. Padahal, sebenarnya aku takut dia kecemplung kalen, tapi mau bagaimana lagi, lah wong rumah kami memang di sebelah sungai pas.

Ia mendesah dan bangkit dari duduk, berjalan tertatih dengan punggung terbungkuk. Terbatuk-batuk.

Kemarin habis kena cacar, mukanya merah-merah semua. Jamilah telpon, tapi aku moh ngomong takut dia sedih. Kasihan dia kerja untuk menghidupiku yang tua renta sama si Kentung. Kalau malam si Kentung suka tanya, “Kapan sih Mbah mbok Kentung pulang?” Aku nggak bisa njawab, soalnya si Jamilah kalau ditanya katanya takut di rumah gak ada kerjaan. “Nanti si Mbok kalau ke dokter pakai apa biayanya, si Kentung juga beli bukunya pakai apa, cari kerja di kampung itu susah, Mbok.” Begitu katanya. Aku gak bisa ngelawan, lah kepriben maning, aku ini sudah tua renta begini, wis ora kuat kerja.

Suami Jamilah gak pernah pulang, kemarin aku dengar dia nikah lagi. Ya wis mungkin bukan jodohnya Jamilah. Sebenarnya aku sangat sedih, punya anak satu-satunya harus pergi ke Hong Kong cari uang, tapi mau bagaimana lagi.

Duduk kembali di atas kursi, hampir terjatuh karena tubuhnya yang gemetar.

Waktu itu Kentung habis tes di sekolah. Dia pulang lari-lari numbruk aku, hampir saja aku kejungkal, tenagaku kalah kuat dibanding dia. Ngamuk minta jajan, tapi aku ora due duit. Kiriman Jamilah sudah habis untuk nempur beras. Tahu sendiri, beras sekarang harganya mahal. Kalau aku beli beras raskin kasihan si Kentung, nanti gak dapat gizi dia makan beras yang bau apek begitu. Yang terpenting kan si Kentung bisa makan yang ada gizinya, biar bisa kerja pakai seragam kalau dia sudah besar nanti. Aku ndak tahu kenapa, jantungku ini bergetar kalau lihat orang-orang bersegagam pergi kerja. Kalau saja anakku Jamilah bisa seperti mereka, pastilah seneng hati ini rasanya. Aku moh Kentung cucuku pergi ke luar negeri kayak si Jamilah.

Harapanku si Kentung bisa sekolah tinggi, pinter bisa bangun lapangan kerja sendiri, jadi kalaupun dia gak kerja pakai seragam, ya paling tidak bisa buka wirausaha. Jualan pecel atau bakso gak masalah yang penting halal. Soalnya jaman sekarang cari kerja yang pakai seragam itu katanya susah. Itu kata pakdenya si Jamilah yang kerja di kabupaten, katanya itu harus punya uang banyak baru bisa diangkat kerja.

Menyelipkan tembakau ke bibir di antara gigi. Lalu bicara kembali dengan suara seperti orang mengulum permen.

Jamilah, sejak kecil hidupnya sudah susah. Tapi alhamdulilah, meskipun ditinggal bapaknya sejak masih kecil, Jamilah anaknya nurut gak nuntut macam-macam. Dulu sebelum pergi ke luar negeri, Jamilah getol mbantuin aku kerja di sawah. Tandur, matun, manen pari. Makanan kesukaan Jamilah itu cimplung sama urap lembayung, lauknya tempe tahu bacem. Wis gayeng sambil mirengna lagune Waljinah, si Jamilah suka merem melek keenakan makan urap. Tapi ya itu, aku yang nembang sebagai ganti Waljinah, soalnya radio butuk satu-satunya milik kami dicuri maling. Aku sendiri bingung, kok kebangeten sih pencuri itu radio butuk ae kok doyan. Tapi setelah aku tahu pencurinya ketangkep terus digebukin, aku jadi kasihan. Ternyata dia itu tetanggaku sendiri, katanya nyuri radio buat dijual utuk beli buku dan pencil buat anaknya sekolah. Sekarang sudah insaf, buka usaha di perempatan dekat stasiun, tadinya cumin sate lesehan, sekarang sudah jadi rumah makan. Ya itu aku tahu sendiri, karena dia ulet makanya sukses. Aku kepengin Jamilah kayak dia buka lapangan usaha sendiri jangan mbabu kesel kasihan.

Syukur, Jamilah dapat bos yang baik. Jadi aku nggak khawatir, cuman aku khawatir dia itu terlena, karena terbiasa kerja dapat gaji jadi enggan pulang. Kasihan anaknya. Dia bilang mau ngumpulin modal sambil belajar kalau hari libur. Aku terkadang heran, belajarnya itu di mana, kok kerja boleh libur untuk belajar segala.

Wingi, Jamilah telpon jerene ikutan sastra. Aku tambah bingung, sastra kie apa sih. Apa Pak Sastra, lah kepriben kok ikut Pak Sastra segala. Jangan-jangan si Jamilah jadi korban trapiking kayak kata pakdenya Jamilah di koran banyak berita korban trapiking, waduh kepriben nek kaya kue.

Mengusap-usap dadanya, wajahnya khawatir dan takut terjadi apa-apa pada Jamilah. Berkali-kali mengeluh panjang.

Tapi katanya, aku disuruh tenang, gak usah khawatir. “Maksudnya ikut para pecinta sastra namanya Forum Lingkar Pena, bukan Pak Sastra, Yung. Biyung jangan aneh-aneh, aku ini nggak jadi korban trafiking.” Gitu dia bilang, tapi aku tetep aja ndak mudeng. Aku juga ndak ngerti, ia menjelaskan, Forum Lingkar Pena itu kumpulan teman-teman yang suka nulis. Lah nulis itu, apa ya kayak nulis surat begini, atau kayak si Kentung itu, lah maklum aku ini nggak begitu bisa baca tulis. Aku baru paham, saat Jamilah bilang nulisnya itu ternyata kayak nulis di koran, koran yang sering dibaca pakdenya si Jamilah. Kalau begitu, berarti orang yang suka nulis itu hebat ya, bisa terkenal. Kata Jamilah, bukannya bisa hebat sama terkenal, tapi bisa untuk dakwah, dapat pahala, karena menyampaikan pesan melalui tulisan, begitu.

Manggut-manggut. Terperanjat kaget mendengar hp berdering.

Oh ada telpon. Siapa ya pagi-pagi begini sudah telpon.

Mengambil telpon dengan tangan gemetar dan mendengarkan dengan raut muka bahagia. Lalu pura-pura menyuruh penonton diam dengan menempelkan ibu jari ke mulut.

Ssssst, Jamilah. Mendengarkan. Iya Nduk suratmu sudah sampai. Alhamdulilah Kentung dan biyung baik. Mendengarkan. Hu’um iya, sedang apa, Nduk. Oh, jadi hari ini Genduk sedang ada acara. Mendengarkan. Oh, acara apa Nduk? Oh Festipal iku opo? Oh Festipal sastra migrant dua. Mendengarkan. Oh jadi ini yang ke dua begitu. Oh, jadi Pak Sastra yang kamu ikuti itu sekarang sedang mengadakan acara begitu? Mendengarkan. Oh, bukan Pak Sastra, tapi Forum Lingkar Pena sedang mengadakan acara festipal sastra migrant dua begitu. Mendengarkan sambil manggut-manggut. Oh, yo wis kalau begitu. Mendengarkan. Hu’um, waalaikumsalam.

Yo wis aku mau masak buat si Kentung biar pinter kayak ibunya bisa ikutan Pak Sastra.

 

 

4 Comments to "Surat Jamilah"

  1. djasMerahputih  4 July, 2015 at 19:17

    Hadir bang James… ini lagi asyik ngobrol ame Jamilah… he he he….

  2. james  4 July, 2015 at 06:47

    pada kemana Kenthirs lainnya nih

  3. Dj. 813  3 July, 2015 at 22:17

    Baca Jamilah kok ingat lagu main-mainan…
    Ooooo.. jamilah…. Jamilah… Jalmilahh…
    Jamliha nggak jadi gila… jamilah gagal gila….
    Jangan marah…. masih ada saya…..
    Hahahahahahahahahaha….!!!

    Sorry pek sorry….
    Salam,

  4. J C  3 July, 2015 at 17:30

    Jarang-jarang ada monolog seperti ini…apik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.