Penulis dan Film Denzel Washington

Bamby Cahyadi

 

Hobi saya nonton film. Profesi saya, sesuai KTP: Penulis.

Usai membeli setangkup burger dan kentang goreng tanpa minuman bersoda di restoran cepat saji, saya menuju gedung bioskop. Mengantre untuk membeli selembar tiket. Film yang saya pilih sebagai tontonan di akhir pekan yang membahagiakan ini, The Equalizer. Pemeran utama film ini ialah Denzel Washington. Saya memang penggemar berat Denzel dan jatuh cinta padanya, sejak saya menonton akting aktor berkulit hitam itu dalam film Training Day 14 tahun silam.

Saya memasuki studio XXI gerai bioskop yang megah dan dingin akibat penyejuk udara yang berfungsi optimal. Saya sengaja memilih tempat duduk pada deretan kursi penonton paling atas atau paling belakang seperti tertera pada lembar tiket, nomor kursi A-12. Agar saya lebih leluasa merasakan aura nonton bioskop dengan sistem audio visual berteknologi THX, itu alasan saya. Sensasi nonton film yang menggetarkan. Dinding bioskop akan bergetar-getar ketika suara yang dihasilkan film menggelegar.

The_Equalizer

Di dalam bioskop dengan tenang saya menduduki sofa empuk berwarna merah. Tempat duduk di kanan-kiri saya kosong, mungkin tidak banyak pasangan kencan yang nonton film ini, pikir saya. Lantas saya mengeluarkan burger dari ransel, berikut minuman dalam kemasan botol yang berisi air mineral. Sebuah burger besar itu bernama Whopper dengan ekstra keju. Burger ini rasanya enak sekali. Tentu saja, apabila saya tidak memasukkan makanan itu ke dalam ransel ini, burger kegemaran saya ini akan disita oleh petugas keamanan penjaga pintu bioskop.

Saya menatap layar besar warna putih yang terbentang megah di depan saya dengan saksama dan penuh perhatian. Dengan senang hati pula saya melihat tayangan film ekstra yang sedang diputar di bioskop ini sebagai suplemen dan iklan sambil melahap burger. Film-film ekstra itu beberapa pekan ke depan akan diputar di gerai bioskop ini.

Lima belas menit berlalu, lampu bioskop makin temaram dan akhirnya dipadamkan, film the Equalizer pun dimulai. Betapa saya sangat terpesona dengan pembuka film yang muram dan lambat itu. Betapa saya sangat menikmati akting Denzel sebagai Robert McCall yang datar dan monoton. Saya suka, sangat suka. Apalagi sang tokoh dalam film itu gemar membaca buku sastra di kedai kopi yang buka hingga larut malam. Saat itu saya berpikir, ada juga sutradara Hollywood yang membuat film dengan tokoh unik yang menyukai bacaan sastra, macam buku karya Ernest Hemingway, “The Old Man and the Sea” – Lelaki Tua dan Laut.

Sayangnya saya tak dapat mengetahui ending film itu, bahkan saya tak akan pernah tahu, siapa sebenarnya karakter Denzel yang memerankan McCall dalam film itu. Karena saya tiba-tiba merasa sesak napas ketika kunyahan burger terakhir saya telan masuk ke kerongkongan. Saya merasa seperti tercekik. Tersedak. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh dan wajah saya. Penyejuk udara yang dinginnya menusuk kulit minta ampun, justru menambah lebat butiran keringat yang keluar dari pori-pori kulit saya. Lidah saya kelu, saya tak bisa mengeluarkan suara untuk sekadar minta tolong kepada penonton lain yang paling dekat dengan saya. Seluruh bagian tubuh saya seperti lumpuh, akhirnya saya benar-benar kehabisan napas. Tubuh saya berkelojotan. Nyawa saya pun lepas dari raga. Saya mati. Begitu saja, begitu sederhana cara mati saya, kepala saya terkulai ke kanan setelah itu. Saya diam menatap nanar pada diri saya sendiri. Setelah itu muncul keheningan panjang.

Film pun usai, para penonton melihat saya dengan pandangan lucu dan menggelikan. Karena posisi mayat saya serupa orang yang sedang tertidur nyenyak. Ya, kenyataannya saya sudah mati. Malaikat maut yang ikut nonton dengan saya sudah keburu mengajak saya ke alam akhirat. Saya tidak jadi nonton film Denzel, malah nonton diri saya yang mati.

Beberapa penonton yang duduk sebaris tetapi agak jauh dengan saya berbisik-bisik sambil terkikik-kikik menahan geli. Meski begitu, mereka pun berkomentar dengan temannya sembari bersuara pelan dan menunjuk diri saya, maksud saya, mereka menunjuk jasad saya.

“Duh, kasihan amat Pak Tua itu, nonton kok tertidur.”

“Kalau mau tidur, di rumah saja.”

“Lagian sudah tua nontonnya jangan film action, film drama yang cocok.”

Ketika semua penonton sudah keluar dari studio bioskop itu, jasad saya masih terkulai di tempat duduk bernomor A-12. Petugas kebersihan bioskop mendekati saya untuk membangunkan saya yang dikiranya tertidur itu. Tentu saja saya tak akan pernah bangun, karena saya sudah mengembuskan napas terakhir saat McCall sedang berbicara dengan Teri mengenai novel yang dibaca oleh Denzel Washington di film itu. Roh saya telah dicabut oleh Izrail yang kini menemani saya melihat semuanya. Saya pergi begitu saja meninggalkan jasad saya yang memang ringkih dan ransel saya yang butut di dalam bioskop yang bikin menggigil ini.

“Hei, orang tua ini telah mati!” seru petugas kebersihan bioskop dengan gusar.

Maka peristiwa berikutnya adalah kegaduhan dan kehebohan para petugas bioskop XXI yang bekerja malam itu. Kegaduhan dan kehebohan itu apabila saya ceritakan secara rinci sebagai berikut:

  1. Petugas kebersihan meminta bantuan petugas keamanan untuk memeriksa apakah saya hanya tertidur belaka atau benar-benar telah mati.
  2. Petugas keamanan memastikannya dengan memegang urat nadi pada lengan saya dan pada batang leher saya. Masih kurang puas, petugas keamanan menempelkan kupingnya pada dada saya. Petugas keamanan menggeleng, petanda seorang penonton mereka telah wafat.
  3. Petugas penyobek tiket diperintahkan untuk memanggil manajer bioskop yang bertugas. Petugas tiket seorang perempuan tinggi semampai dan memakai pakaian hitam-hitam ketat itu melalui telepon yang tergantung di depan pintu masuk menelepon manajer yang bertugas agar datang ke studio 5 tempat film The Equalizer dihelat.
  4. Manajer yang bertugas datang tergopoh-gopoh dengan dasi melambai-lambai itu masuk ke dalam studio bioskop, lantas meminta petugas keamanan untuk menelepon Polsek terdekat dan menelepon ambulans dari rumah sakit terdekat. Tentu saja ia pun berkoordinasi dengan petugas lain dengan handy talky.
  5. Beberapa saat kemudian polisi dan petugas medis dari rumah sakit datang. Polisi mengamankan TKP. Memeriksa isi ransel saya, memeriksa dompet saya dan dari dompet itu polisi memperoleh identitas saya yang telah mati dengan tenang. Ransel dan dompet diamankan. Pun polisi mengamankan kertas bungkusan makanan dari restoran cepat saji yang sering didemo oleh kelompok anti Amerika.
  6. Petugas medis dipersilakan untuk mengangkut jasad saya, mereka memasukkannya ke dalam kantung mayat berwarna kuning dan membawanya ke RSCM dengan ambulans untuk diotopsi.
  7. Rupanya wartawan tak kalah gesitnya, di luar bioskop mereka telah berkerumun. Entah dari mana mereka tahu kabar kematian saya di bioskop itu (mungkin ada petugas yang iseng mengambil foto saya yang telah wafat di bioskop ke jejaring sosialnya). Kerumunan buyar saat kantung mayat yang berisi tubuh saya diangkut oleh petugas medis dimasukkan ke dalam ambulans. Sirene ambulans meraung-raung pilu.
  8. Beberapa stasiun televisi khusus berita, saat itu juga menayangkan langsung berita tentang saya yang meninggal dunia di dalam bioskop ketika menonton film The Equalizer-nya Denzel Washington.
  9. Denzel Washington mengucapkan belasungkawa, beberapa hari setelah saya tewas di dalam bioskop. (Mengenai hal ini perlu klarifikasi lebih lanjut karena berpotensi sebagai hoax atau pencitraan saja. Tersebab, berita tentang ungkapan duka cita Denzel datangnya dari portal berita online abal-abal semasa kampanye dan pemilihan presiden beberapa waktu lalu).

 

Ketika polisi membuka dompet saya, mereka menemukan selembar kartu identitas berupa KTP, potongan tiket dan sejumlah kertas lusuh seperti bon atau nota pembelian ada juga kwitansi. Duh, bikin malu saja! KTP saya itu selayaknya KTP warga Jakarta yang lain sebagai berikut:

 

PROVINSI DKI JAKARTA

JAKARTA SELATAN

NIK : 3174013009194600009

Nama : Gestapu Sosiawan

Tempat/Tgl lahir : Sidoarjo, 30 September 1946

Jenis Kelamin : LAKI-LAKI  Gol Darah: A

Alamat : Jl. H. Ramli

RT/RW : 001/003

Kel/Desa: Menteng Dalam

Kecamatan: Tebet

Agama: Islam

Status Perkawinan: Kawin

Pekerjaan: Penulis

Kewarganegaraan: WNI

Berlaku Hingga: Seumur Hidup

 

Di dalam ransel, polisi juga menemukan kentang goreng dari restoran cepat saji yang belum sempat saya santap dan beberapa lembar kertas naskah sebuah cerita pendek karya saya.

Polisi penyidik pun menyimpan naskah cerpen itu dalam wadah plastik barang bukti. Mungkin, atau barangkali saja mereka mendapat informasi tambahan penyebab saya meninggal dunia di dalam bioskop itu melalui kertas naskah itu, sembari menunggu hasil otopsi dan tes laboratorium atas sisa makanan dan minuman dalam kemasan yang ditemukan.

Maklumlah, saya sudah lama tidak menulis untuk koran dan majalah atau menerbitkan buku di masa kini, sehingga para polisi yang usianya masih belia itu tidak pernah tahu bahwasannya saya adalah seorang sastrawan yang cukup berpengaruh dan terkenal di masa lalu, di masa kejayaan saya. Jangankan polisi, hal yang paling menyedihkan, mahasiswa jurusan sastra pun banyak yang tak mengetahui nama-nama sastrawan masa kini.

Sesampai di kantor polisi, salah satu polisi penyidik mengeluarkan naskah cerpen saya dan memberitahukan teman-temannya.

“Lelaki yang Menonton Kematiannya Sendiri.”

“Apa itu?” tanya beberapa polisi yang lain serempak.

“Judul cerpen lelaki malang itu.”

Para polisi penyidik saling bertatapan dan buru-buru ingin mengetahui isi cerita saya, penulis yang mati di dalam bioskop ketika nonton filmnya Denzel Washington.

***

Beberapa pekan kemudian.

Saya berdiri kaku sebagai hantu, dengan ransel tergantung pada bahu kanan menatap takjub pada kerumunan orang yang sedang membaca koran. Hari ini hari Minggu.

“Bagus sekali cerpen ini. Tidak ada cerpen yang lebih saya sukai kecuali cerpen ini,” ucap seseorang.

artikel koran

Itu cerpen saya. Seseorang telah mengirimkannya pada media. Mungkin para polisi penyidik yang mengirimkan cerpen itu ke koran. Cerpen yang tengah Anda baca sekarang.***

 

Sevel, Kartika Chandra , 16 Oktober 2014

 

 

8 Comments to "Penulis dan Film Denzel Washington"

  1. J C  10 July, 2015 at 05:59

    Cerpen ini asli keren banget pengambilan sudut pandang penokohannya…

  2. djasMerahputih  9 July, 2015 at 23:43

    Hadir telat bang James… thanks absenannya…
    Cerita dan film yang keren….

  3. Bamby Cahyadi  7 July, 2015 at 14:36

    Lagi pengen jadi Hantu hehehe

  4. Sumonggo  7 July, 2015 at 03:58

    Jangan mau diusut sama Polsek, harus diusut Bareskrim, siapa tahu ada hubungannya dengan pemalsuan dokumen atau saksi palsu.
    Ngomong-ngomong, saya juga suka film-film-nya Denzel Washington, cuma setingkat di bawah Benyamin S.

  5. Dj. 813  7 July, 2015 at 00:43

    Terimakasih untuk sharingnya…
    Salam,

  6. Lani  7 July, 2015 at 00:38

    JAMES : mahalo absenannya

  7. james  6 July, 2015 at 16:31

    hadir lagi sekalian absenin para Kenthirs

  8. Handoko Widagdo  6 July, 2015 at 15:31

    Wah cara berkisah yang sangat hebat. Terima kasih Kak Bamby Cahyadi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.