Hari Bumi 1997 dan Istighatsah Bersama Cak Nun

Dwi Klik Santosa

 

April 1997 adalah masa-masa sulit, karena waktu itu seingat saya negeri kita terlindas krisis moneter. Tapi oleh Mas Edi Haryono, Bela Studio, kelompok kami, waktu itu tetap nekad ingin menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk meruwat “Indonesia” dalam kaitannya untuk memeringati “Hari Bumi” sedunia.

Begitulah, waktu itu saya sedang runtang runtung dengan kawan saya dari Belanda namanya Jeanet Mosselman. Ia mahasiswi yang sedang riset dan menjadikan kelompok kami obyek Thesisnya. Kesana kemari kami berdua diutus sama Mas Edi untuk nyari dana. Hingga ke perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, tapi ternyata nihil besar. Hingga pada akhirnya, surat yang disampaikan Jeanet dan dibantu Sandra, teman kami yang mahasiswi dari Belanda juga ke teman-temannya di Belanda, mendapat respon yang luar biasa.

Dari galangan dana teman-teman di Belanda itu, pada akhirnya serangkaian kegiatan yang dilakukan selama seminggu itu, dari Happening Artnya Jeanet bersama 20 bajaj, Pentas Puisi, Pentas Monolog, Pentas Musik, Pameran Lukisan, Display Layang-layang Le Gong, Lomba Lukis Pakai Arang, Bersih Desa, Lomba Memasak dengan Bahan dasar Hasil Bumi kita, hingga sampai pada acara pamungkas yaitu Shalat Istighatsah, yaitu Shalat Berjamaah di Lapangan Tengah Malam, tepat jam 00, yang dipimpin Kyai Mbeling Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab kami panggil Cak Nun.

Mendatangkan Kyai kondang macam Cak Nun ini mudah-mudah susah. Apalagi waktu itu sedang booming Tabloid. Bisa dikatakan, tulisan Cak Nun itu selalu ada di lembar kolom sehalaman penuh Tabloid-tabloid itu. Kebayang sibuknya. Tapi ketika saya telpon beliau untuk meminta beliau mengisi acara ini, beliau langsung bilang. “Yoh, aku teka.”

Begitulah, memang menyenangkan kemudian beliau datang, pakai kopiah, hadir sendirian naik taksi. Waktu itu beliau tinggal di Kelapa Gading, kalau ke Rawamangun, tempat kegiatan kami, kira-kira butuh waktu kurang setengah jam kalau tidak macet. Menjadi suprise bagi masyarakat Rawamangun. Karena barangkali baru sekali ini Shalat Istighatsah atau shalat tengah malam dilakukan di lapangan.

Dan sepenuh itu lapangan banjir oleh perhatian publik. Karena memang sikon Indonesia waktu itu demikian genting, maka partisipasi aktif warga dalam doa bersama supaya keluar dari kerumitan itu serasa penting dan masyuk ke dalam kalbu masyarakat kampung kami. Setelah shalat, kami pun berdiskusi, selain tepatnya mendengarkan Cak Nun memberi semacam ceramah kebudayaan.

cak nun

Sebelum jam 3 pagi, Cak Nun pun pingin pulang. Saya antar ke depan (jalan raya) dan mencarikan taksi. Ketika beliau mau masuk taksi, saya sodorkan buku hard cover bergambar “Sangkuriang” karya Mas Edi Haryono. Tapi refleks tangan beliau, membuka halaman depannya, dan menemukan amplop. “Iki Opo?” tanya beliau. “Sekedar untuk ongkos ganti taksi, Cak,” jawab saya. … “Moh! Aku moh nampa. Atiku seneng isoh teka mrene. Aku emoh teka, yen mbok wenehi amplop ngene meneh.” (Ndak mau! Saya tidak mau menerima. Hatiku senang karena bisa datang kesini. Aku tidak mau datang, kalau kau beri amplop lagi).

 

 

7 Comments to "Hari Bumi 1997 dan Istighatsah Bersama Cak Nun"

  1. J C  10 July, 2015 at 06:07

    Semakin langka saja yang seperti Cak Nun ini di Indonesia…

  2. djasMerahputih  9 July, 2015 at 21:38

    Like this..

    Cak Nun, berdakwah di luar jalur main stream. Bebas pencitraan..
    Fokus pada nilai, bukan pada tarif dan harga.

  3. Handoko Widagdo  8 July, 2015 at 14:53

    Beliau adalah salah satu tokoh yang saya panuti.

  4. james  8 July, 2015 at 10:57

    hadir namun lambat

  5. Dewi Aichi  8 July, 2015 at 05:27

    Cak Nun memang hebat dan mengagumkan….aku suka sekali gaya berdakwahnya.

  6. Lani  8 July, 2015 at 02:00

    MAS DJ : mahal absenannya………salah satu kenthir sdh bangun sejak pagi banget

  7. Dj. 813  7 July, 2015 at 18:48

    1.
    Trio kwnthir masih pada bobo….

    Semoga bumi semakin baik…
    Terimakasih dan salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.