Dari Jalanan Menjadi Legenda

Kang Putu

 

Empat puluh tahun lalu, seorang bocah berusia 13 tahun ngamen di Bandung. Siswa SMP itu belajar main gitar dari teman nongkrong. Tak bisa memainkan lagu Rolling Stones, dia pun menciptakan lagu dengan lirik lucu, humor, yang membikin orang tertawa.

Lalu dia pun mencari lebih banyak pendengar. Dia mendatangi setiap hajat, kawinan atau sunatan. Dan dia punya “manajer”: Engkos, tukang di bengkel sepeda motor, yang selalu tahu ada orang punya hajat.

Namun, kini, dia bukan lagi bocah ingusan yang ngamen dari rumah ke rumah dari satu hajatan ke hajatan lain. Kini, dia tak cuma punya ribuan penggemar, melainkan mungkin jutaan pengikut. Hampir di setiap kota di negeri ini ada perkumpulan, paguyuban, atau yayasan yang menjadi pengikut “ideologis” dia: Orang Indonesia (OI). Ya, itulah “pemuja” sang legenda hidup: Iwan Fals!

Tanyakan pada mereka lagu apa saja yang mereka hafal, Anda bakal memperoleh kenyataan: mereka hafal semua lagu Iwan. “Umar Bakri”, “Mata Indah Bola Pingpong”, “Bongkar”, atau apa saja.

Riwayat sama, dari pengamen jalanan jadi penyanyi tersohor, pula yang dialami Gombloh dan Didi Kempot – untuk menyebut sedikit nama. Wiji Thukul rada berbeda. Dia lebih dikenal sebagai penyair. Pada masa puncak pergolakan dan perlawanan terhadap rezim Orde Baru, pastilah setiap demonstran kenal semboyan “hanya satu kata: lawan!”. Itulah penggalan sajak Wiji Thukul, yang diculik mendekati akhir kekuasaan Jenderal Besar Soeharto dan tak keruan rimbanya sampai sekarang.

Wiji Thukul ngamen puisi dari jalan ke jalan, dari satu kota ke kota lain. Itu dia mulai awal 1980-an, setelah “ditemukan” dan digembleng Lawu Warta, eksponen Bengkel Teater Rendra – ketika masih bermarkas di Jogja. Kang Lawu, begitulah sapaan akrabnya, mengenalkan dunia seni peran, dunia kepenyairan, kepada Wiji Thukul – yang kelak membuat lelaki cedal itu dikenal tak cuma di negeri sendiri, tetapi juga di negeri-negeri seberang. Dia, misalnya, memperoleh penghargaan Wertheim dari Belanda, lantaran istikamah, konsisten, menyuarakan aspirasi kaum papa yang tersingkirkan melalui sajak-sajaknya.

Dan, sekarang, masih bermunculankah calon pengganti Iwan Fals, Gombloh, Didi Kempot, Wiji Thukul? Dari jalanan, dari hajatan ke hajatan? Dengan elan vital dan etos kerja tak main-main pula?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun setidaknya dari Blora, kota kecil yang dikelilingi hutan jati, ada Ujang Kecapi. Lelaki bernama lengkap Jajang Hendro Safari, yang berasal dari Bandung dan setelah menikah tinggal di kota asal sang istri itu, kini masih dan terus ngamen. Berbekal kecapi sunda, dia menembang, dia mbarang. Dia pun menciptakan tembang. Simaklah lirik satu di antara tembang-tembang dia, “Bubrahe Trah Jawa”.

Sirah mumet kaya diremet
Nonton jaman kok saya ruwet
Wong omongan sangsaya mbulet
Pantes mbulet sing ngomong bathuke anget

Iki jare jaman komputer
Akeh wong lan bocah padha pinter
Naming eman pintere ya ora pener
Merga benere kanggo wong minger

Subasita wis ameh ilang
Tanah Jawa rasane cemplang
Akeh santri lan siswa lulus kepalang
Budayane adhuh, dhik, dipek wong sebrang

kang ujang

Di Jogja, ada Sujud Kendang. Meski tak lagi kuat berjalan jauh, dia masih terus ngamen berbekal kendang. Dia hadir dan terus menghibur siapa saja. Dan jika ke Solo, jangan lupa menikmati ketoprak ngampung yang mbarang di mana saja: dari kampung ke kampung sampai ke jalan raya. Mereka ngamen sepenuh hati, mereka mbarang sepenuh jiwa. Dan, siapa tahu kelak mereka pun menjadi legenda.

 

 

5 Comments to "Dari Jalanan Menjadi Legenda"

  1. J C  10 July, 2015 at 06:13

    Ikut menyimak…

  2. djasMerahputih  9 July, 2015 at 21:13

    Hadir.. thanks om DJ…
    Prestasi dari hasil kerja keras lebih awet bahkan melegenda. Yang karbitan akan segera hilang ditelan waktu..

  3. james  9 July, 2015 at 10:04

    hadir mas DJ…..yang lain masih pada bobo rupanya

  4. Handoko Widagdo  8 July, 2015 at 21:49

    Jalan salib yang mereka lalui.

  5. Dj. 813  8 July, 2015 at 17:49

    1.
    Absenin trio kenthir…
    Bacanya nanti setelah makan siang…
    Terimakasih dan salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.