Surat untuk Dahlan Iskan

Imam Dairoby

 

dahlan iskan

 

Kepada

Bapak Dahlan Iskan

Di Tempat

 

Assalamualaikum pak, semoga bapak dalam keadaan yang sangat baik dan dalam kondisi yang terbaik. Sudah lama saya mendengar tentang sosok Bapak, sebagai seorang di group Jawa Pos tentunya. Dengan segala prestasi yang ditorehkan oleh Jawa Pos Group yang dipimpin seorang Dahlan Iskan.

Tetapi Bapak mulai menggelitik pikiran saya menuju keingintahuan, ketika Bapak sakit dan harus berobat ke Singapura. Selanjutnya Bapak menerbitkan buku “Berganti Hati”. Maaf pak dalam pikiran saya hanya konotasi negative yang bergejolak. Saat itu saya yang tak pernah membaca buku “Berganti Hati” karena memang saya tak mampu membelinya dengan harga yang bisa menguras jatah makan saya selama 3 hari, mempunyai sebuah pemikiran: inilah gaya orang kaya yang berobat pun harus ke Singapura sebuah Negara yang jelas-jelas melindungi koruptor bangsa lain.

Maaf Pak sempat juga terpikir bahwa Bapak seperti kebanyakan orang kaya yang penuh dengan kemewahan yang hanya pilek saja harus berobat ke luar negeri. Dan setibanya di Tanah Air membanggakan fasilitas yang didapat di luar negeri dan mengkritisi tanpa ada solusi memperbaiki kondisi fasilitas kesehatan di negeri tempat dia makan dan minum atau mungkin juga berkalang tanah.

Setelah sekian lama dalam konotasi negative tentang bapak, menjadi bertambah setelah Bapak berada di lingkup BUMN. Dan yang harus Bapak tempati adalah posisi Dirut PLN yang selalu saja bermasalah. Sejujurnya bagi masyarakat kebanyakan PLN bukan singkatan dari Perusahaan Listrik Negara tetapi singkatan dari Perusahaan Lilin Negara, karena begitu seringnya Listrik padam tanpa sedikitpun ganti rugi kepada konsumennya.

Pro dan Kontra dari karyawan PLN sendiri atas kepemimpinan bapak pun tak luput dari pengamatan saya, dan mulai sedikit demi sedikit mengikis konotasi negative yang ada di benak saya. Beberapa gebrakan yang Bapak lakukan semisal sejuta sambungan baru adalah contohnya. Dan yang paling konkret adalah betapa saat kepimpinan Bapak, listrik padam mulai diminimalisir. Walaupun sekarang setelah Bapak tak lagi menjabat pemadaman Listrik kembali sering teradi.

Tak dapat dipungkiri pak, betapa kuatnya mafia yang mencengkeram PLN, sehingga selalu saja BUMN ini merugi dan selalu dinyatakan rugi. Bapak hanya seorang diri layaknya perempuan di sarang penyamun.

Tak lama berselang Bapak dilantik menjadi “pembantu” Presiden. Maaf pak, saya memakai istilah Pembantu, bukan Menteri. Bapak memang sekarang sebagai “Pembantu” karena Bapak bertugas membantu tugasnya Presiden. Berbeda mereka yang merasa menjadi “Menteri” yang diperoleh hanya imbalan KOALISI atau apalah. Mereka bertindak tidak membantu Presiden tetapi malah membebani Presiden.

Sebagai Pembantu Presiden, Bapak memang melaksanakan tugasnya sebagai seorang pembantu. Dan saya berpikir pola pikir Bapak adalah Pola Pikir Pembantu yang dapat menyelesaikan masalah yang dimiliki Presiden. Khususnya dalam pengelolaan BUMN yang notabene bisa jadi pemasukan buat kas Negara.

Semakin hari Bapak semakin menggelitik pikiran saya. Maunya apa Pembantu Presiden ini. Mulai tidak mau pakai Jas, ke Istana pakai Ojek, ngamuk di pintu Tol. Aneh, kenapa dia tak seperti para Menteri lain. Yang ke mana saja pun media harus meliput, dengan pakaian mewahnya, dengan mobil mewahnya. Naudzubillah sampai sholat pun harus di’syut oleh media.

Sekarang konotasi negative tentang bapak berangsur hilang. Konotasi tentang seorang Direktur yang berdasi dan berjas, congkak dan muka bertopeng lepas dari diri bapak. Sekarang aku melihat Bapak sebagai seorang Pembantu Presiden yang tak berpakaian mewah, dan tak bermobil mewah tanpa polesan kemunafikan. Bapak apa adanya. Karena Bapak memposisikan diri sebagai “pembantu”.

Melihat sepak terjang bapak, termasuk menyepak dan menerjang kursi di loket tol, menjadikan saya berharap andai saja mereka yang memimpin sebuah institusi bersikap layaknya Bapak. Sikap sederhana yang tak selalu mengedepankan “kemewahan” karena merasa diri menjadi seseorang.

Mungkin terlalu besar saya berharap kepada Bapak untuk sekiranya bisa memperbaiki carut marut negeri ini yang telah melanda di segala lini. Bapak hanyalah seorang diri, sebab baru saja ada gebrakan yang tak lazim, wajah-wajah munafik di parlemen telah memerah. Mereka tak ingin bila Sang Pembantu mengambil simpati rakyat yang katanya milik mereka.

Entahlah pak, ini hanya surat dari seorang yang tak berwawasan dan berpendidikan. Saya bukan sarjana pak tidak seperti para anggota parlemen atau menteri. Mereka mungkin lebih tahu dan lebih rumit dalam berpikir. Sehingga apa yang di lakukan orang lain tapi bila tak menguntungkan golongan dan partai mereka maka pasti akan dicibir.

dahlaniskan

Bapak Dahlan Iskan yang baik dan semoga menjadi terbaik, kesederhanaan bapak mungkin akan menjadikan sebuah momentum besar bagi Negara ini. Momentum yang akan menjadi panutan dan cerminan bagi generasi penerus bangsa.

Dalam kesempatan ini izinkan saya dengan terlebih dahulu memohon maaf pada bapak untuk mengatakan bahwa yang bapak jalankan sekarang adalah manajemen “pembantu” dimana pembantu akan memperjuangkan dan melakukan apa saja demi “Tuannya “ yakni Rakyat Negara Indonesia. Salut kepada mu Bapak dan semoga bapak di beri kesempatan untuk selalu menjadi yang terbaik.

 

Salam,

Samarinda, 28 April 2012

Imam Dairoby

 

 

16 Comments to "Surat untuk Dahlan Iskan"

  1. djasMerahputih  10 July, 2015 at 12:36

    Suatu saat generasi itu akan muncul… cukup dimulai dengan memupuknya pada anak dan keluarga terdekat.
    Biar saja waktu yang mengabarkan kabar baik itu…

  2. Mas Im  10 July, 2015 at 09:53

    setuju ama mas Djas…..Generasi itu belum ada Mas, semua masih bisa diadu domba masalah klise dan gak jelas. Gak ada yang satu kata untuk INDONESIA.
    Generasi yang tak melihat Agama, suku, kepercayaan, dan kepentingan politis .

  3. Linda Cheang  10 July, 2015 at 06:58

    Coba Mas Imam bikin surat lagu buatg Pak DI saat sekarang dia sudah dijadikan tersangka.

  4. J C  10 July, 2015 at 06:13

    Suratnya bagus dan tokohnya salah satu pendobrak di Indonesia…

    Ayooo mana serial lainnya…

  5. djasMerahputih  9 July, 2015 at 21:01

    Orang baik saja tak cukup buat memimpin bangsa. Harus didukung oleh sebuah generasi tangguh yang tak mudah diadu domba…

  6. james  9 July, 2015 at 10:01

    makasih mas DJ dah diabsenin……hadir meski telat dikit

    tidak ada satu orangpun yang tanpa cacat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.