Anakku adalah Guruku

Dewi Aichi – Brazil

 

Children see, children do, begitu biasanya yang terjadi. Orang tua sendiri merupakan cerminan yang bisa membentuk karakter anak kelak ketika dewasa. Ketika lahir bayi, lahirlah orang tua. Dimana untuk menjadi orang tua itu tidak ada buku panduan, tidak ada manual. Tidak ada sekolah untuk para orang tua yang mengajarkan bagaimana cara mendidik anak dengan baik.

Maka, untuk menjadi orang tua bagi anak-anak, harus bisa belajar dari kehidupan dan lingkungan.Menurut saya, untuk mencetak generasi hebat seperti di Jepang yang bisa membentuk SDM luar biasa tertip dan disiplin, sekolah berperan sangat besar. Dari sekolah anak-anak sudah mulai dilatih sejak dini, bukan teori dan kata-kata, tetapi perbuatan nyata yang harus dilakukan sehari-hari.

Di Indonesia sebaliknya, banyak yang berpendapat bahwa sekolah hanya kecil saja terlibat dalam pendidikan anak. Sekolah hanya memberikan pendidikan di bidang ilmu akademik, bukan karakter. Yang paling penting adalah peran orang tua di rumah. Orang tua memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak.  Dari sini akan tampak perbedaan besar dari sistem pendidikan formal di Jepang dan Indonesia.

Di Jepang itu mendidik anak-anak masih sangat tradisional, atau kuno kali ya, ngga usah canggih-canggih dan muluk-muluk, tapi hasilnya: SDM yang luar biasa. biaya sekolah juga murah bingit, atau gratis ya, lupa saya, kayaknya sih ngga mbayar hehe…malah dapat tunjangan dari pemerintah, ngga peduli itu warga Jepang atau warga asing, semua mendapat tunjangan yang sama.

Sekolahnya juga ngga bisa milih-milih kayak di Indonesia, yang kaya sekolahnya keren, gedungnya bagus, favorit, yang ngga punya duit sekolahnya ya yang biasa saja. di Jepang, sekolah ya daftarnya di balai kota, lalu ditentukan sesuai tempat tinggalnya. Anak SD sampai kelas dua paling materi belajarnya hanya bahasa Jepang, wajib baca tulis, matematika paling sederhana, kali tambah kurang bagi. itu saja dengan angka sangat sederhana.

Karena ini dilakukan serempak seluruh wilayah Jepang, maka tidak heran jika Jepang mempunyai generasi penerus yang hebat. Bukankah jika setiap individu itu baik, maka otomatis akan mewujudkan kebaikan secara masal? Begitulah sistem pendidikan di Jepang yang mencetak generasi penerus yang hebat. Dimulai sejak dini.

Cara serempak yang dilakukan oleh seluruh sekolah di Jepang, saya kira sangat efektif, cepat terwujud dibanding jika dilakukan oleh orang tua masing-masing. Maksud saya, bukan berarti orang tua menyerahkan segala-galanya pendidikan anaknya di sekolah, bukan itu ya, tetapi sekolah menganjurkan anak-anak praktek langsung dalam sehari-hari.

Misalnya, biarkan anak-anak jalan kaki bareng-bareng temannya. Biarkan anak-anak disuruh nyapu dan ngepel di sekolah. Jangan karena di rumah selalu pembantu yang melakukannya, lantas anak-anak dilarang belajar melakukan pekerjaan domestik. Kan bagus ya kalau anak-anak bisa melakukan pekerjaan domestik dari sejak dini?.

Nah sekarang guru-gurunya, bagaimana jika gurunya juga memberikan contoh, menyambut kedatangan anak-anak dengan salam dan sapaan tepat di pintu gerbang sekolah. Guru-guru berjejer rapi, sambil menyambut anak-anak berdatangan. Begitupun saat pulang sekolah, guru-guru kembali berbaris mengantar anak-anak keluar pintu gerbang sambil mengucapkan hati-hati, sampai ketemu lagi dan ucapan salam lainnya. Hal yang tampak mudah, tapi masih sulit dipraktekkan di Indonesia.

Bersih-bersih kelas dan lingkungan? Yah harus dilakukan oleh guru-guru dan anak-anak didik. Pihak sekolah juga melarang antar jemput pakai motor maupun mobil, maka sekolah sudah berperan besar dalam mengurangi jumlah kendaraan pada jam masuk dan pulang sekolah. Sekolah sudah berperan dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan pemborosan bahan bakar. Sekolah telah mengajarkan cara hidup sehat. Jika justru orang tua protes dan tidak mau hidup seperti itu, maka artinya orang tualah yang justru harus sekolah, biar lebih pinter.

Saya tau sih. Sulit diterapkan di Indonesia sebab di Indonesia tidak ada rayonisasi sekolah. Terlalu banyak sekolah swasta yang berlomba menawarkan kualitas sekolah masing-masing. Sedangkan di Jepang, selain sistem rayonisasi standar kualitas juga sama. Jadi orang tua tidak bisa memilih sekolah untuk anaknya. Dengan tidak adanya rayonisasi wilayah di Indonesia, maka setiap orang tua akan menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dikehendaki, tidak memikirkan jarak antara sekolah dan rumah.

Akibatnya, kegiatan antar jemput akan menyertai jam masuk dan pulang sekolah. Bayangkan berapa ribu kendaraan setiap hari hanya untuk urusan sekolah ini. Berapa bahan bakar yang digunakan untuk ini. Berapa besar pemborosan dan pencemaran lingkungan akibat hal ini? Ini hanya untuk satu bidang saja, yaitu sekolah.

Dari satu contoh itu saja, bisa menjadi uraian yang saling berkaitan di banyak hal.  Sekolah di Jepang menerapkan sejak dini anak-anak jalan kaki untuk ke sekolah. Satu nilai tambah untuk mencetak generasi penerus yang hebat dari peran sekolah.

Sekarang, bagaimana dengan para orang tua sendiri? Orang tua kadang terlalu menuntut anak untuk bisa ini itu. Orang tua meminta anaknya agar mengerti apa yang dimaui orang tua. Tetapi apakah orang tua mau memahami pikiran anak-anak? Saya yakin, orang tua hanya ingin mencintai anaknya, orang tua hanya ingin agar anak-anaknya punya masa depan yang baik. Hanya saja kadang cara mencintai anaknya itu yang salah yang tidak disadarinya.

Ada contoh dari cerita Wesiati, jika dalam salah satu rapat komite, ada orang tua yang komplain sama kepala sekolahnya karena anak-anak setiap hari Sabtu ada tugas ngepel di kelas masing-masing. Alasannya kasihan, wong masih SD kok disuruh ngepel. Waduh…bagaimana dengan orang tua tipe seperti ini? Inikah bentuk rasa cinta kepada anaknya?

Bagaimana jika anaknya disekolahkan di Jepang, yang tiap hari ada tugas nyapu dan ngepel? Lebih payah lagi jika anak-anak karena terbiasa dilayani pembantu, lantas di sekolah tidak boleh mengerjakan ini itu yang berkaitan dengan kerjasama seperti bersih-bersih.  Inilah yang saya maksud sekolah untuk para orang tua.

Kan ada ya orang tua tidak memperbolehkan melarang anak kecil yang melanggar atau salah, katanya,” biarin saja, namanya juga anak-anak!” Nah seperti  ini lho yang tak bisa dibiarkan. Justru masih kecil itu perlu diarahkan mumpung masih mudah diarahkan. Nanti kalau sudah dewasa susah dibenerin.

Ada beberapa hal yang kadang dibutuhkan sikap seperti anak-anak daripada sikap dewasa. Seperti Lida Ufa bilang kepadaku dalam menanggapi soal rasa benci. Benci kepada seseorang, akan membuat apa saja yang dilakukan orang yang dibencinya itu salah, tak ada baiknya di mata si pembenci. Itu memang benar. Ketika saya bilang bahwa untuk itu dibutuhkan sikap yang dewasa, tapi tidak menurut Lida justru dibutuhkan sikap anak-anak. Tersentak sejenak saya dengan jawaban Lida, namun saya setuju bahwa anak-anak tidak akan seperti orang tua untuk menyikapi soal benci itu tadi. Anak-anak biasanya akan lebih objektif.

Adakalanya anak-anak adalah sebagai guru bagi para orang tua.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

17 Comments to "Anakku adalah Guruku"

  1. J C  15 July, 2015 at 05:34

    Hahahaha..ngakak baca komentar mas Sumonggo. Bener juga sih, kasihan gurunya kalau muridnya seperti Dewi Aichi…

    Memang benar sekali. Nilai-nilai kehidupan, budi pekerti dan keteladanan moral sudah semakin jauh menghilang di dalam pendidikan di Indonesia. Lebih banyak bertolok ukur nilai akademis dan kesuksesan materi…

  2. Lani  12 July, 2015 at 10:58

    Lani, ya makanya itu harusnya orang tua yang memberikan contoh bagaimana anak-anak bisa lebih mandiri, disiplin dan tidak manja, salah satunya, jangan diantar jemput hehe…dulu jamanku tk, sd, boro-boro antar jemput…sekolah bareng2, jalan bersama, hujan panas, ayo aja….
    +++++++++++++++

    DA : maunya jalan kaki, tp krn sekolahannya jauuuuuuh, jd diantar jemput naik sepeda, klu tdk ada yg antar/jemput, naik becak.

    Itu ktk di SD, kmd SMP numpak pit krn sdh dibelikan sepeda, kmd SMA numpak pit, diseling dgn speda motor krn sdh bs naik speda motor.

    Pd zamanku belum lumrah naik mobil, klu antar jemput mobil ada tp bbrp saja.

    Aku japri sdh dibaca?

  3. Chandra Sasadara  12 July, 2015 at 08:45

    bagus juga klo ada guru yang memperlakukan anak2 seperti pegawai Bank : membukakan pintu, meyapa satu persatu, tidak membuat stress dan menyenangkan. kalau itu yg dikukan guru, anak2 juga akan membawa senyum saat meninggalkan sekolah seperti org-org keluar dari bank yg keluar dengan membawa sekantung rupiah

  4. Linda Cheang  11 July, 2015 at 09:26

    Wik, kapan, ya, bisa ada sekolah singkat atau kursus menjadi orangtua yang efektif? maka anak-anaknya akan ledbih bahagia.

  5. Dewi Aichi  11 July, 2015 at 01:42

    pak DJ haha…itu tetanggaku sudah tak suruh pindah ke Gunung Kidul, mosok ama tetangga dibilang kenthir.

    Tapi setuju pak DJ, sebab waktu lebih banyak bersama keluarga, sehingga anak pasti lebih banyak melihat apa yang terjadi dalam rumah, interaksi antara bapak, ibu dan anak, inilah momen terbaik untuk anak bisa mencontoh orang tua, dan pasti ada nilai-nilai dimana setiap peristiwa, anak merupakan guru dari orang tua juga.

  6. Dewi Aichi  11 July, 2015 at 01:39

    pak Handoko, iya itu maksud saya, teladan itu paling penting, kalau di Indonesia teladan di dalam rumah, sebab peran sekolah masih sebatas pendidikan akademik. Kebone wis nusu sapi haha…

  7. Dewi Aichi  11 July, 2015 at 01:38

    mas Sumonggo tak pecat jadi tetanggaku……………sana pindah ke Gunung Kidul..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *