Pendidikan Anak, di Tangan Siapa?

Wesiati Setyaningsih

 

“Ma, katanya orang kalo bohong nanti di neraka lidahnya dipotong, ya?”

“Kata siapa?”

“Guruku agama.”

Anak bungsu saya yang selalu menceritakan apapun yang dia dapatkan di sekolah tiap pulang sekolah. Bagusnya, saya bisa meluruskan dari apa yang dia dapat di sekolah dengan versi saya. Seperti kali ini, masalah lidah yang dipotong itu juga saya baca di komik waktu saya kecil. Tapi saya tak ingin mendidik anak saya dengan cara menakut-nakuti mereka seperti itu lagi. Saya ingin mereka melakukan sesuatu dengan kesadaran tentang resiko dan konsekuensi.

Jadi saya jelaskan bahwa bohong itu bukan masalah lidah yang bakal dipotong. Saya jelaskan bahwa berbohong akan menimbulkan beberapa konsekuensi seperti hilangnya kepercayaan pada kita. Belum lagi kalau itu menghalangi orang lain mendapatkan kebenaran dan bisa jadi itu mengacaukan hidup mereka. Dan yang jelas hati bakal tidak tenang.

Di saat lain dia pulang dan bilang, “Ma, besok aku minta uang lima ribu.”

Saya tanya, “Buat apa?”

Soalnya biasanya tiap hari dia membawa uang saku tiga ribu dan itu cukup untuknya yang waktu itu kelas 5 SD. Katanya uang itu untuk amal. Jadi di hari-hari tertentu anak-anak diminta untuk mengumpulkan uang amal untuk kemudian disumbangkan entah ke mana karena sebagai orang tua tidak ada laporan tertulis. Tapi saya percaya saja bahwa uang amal ini disalurkan ke jalan yang benar.

Biasanya dia memberikan amal dari uang sisa jajan dia. Kalau dia membawa tiga ribu, dua ribu untuk jajan dan seribu untuk amal. Saya pikir sebagai latihan beramal, berapapun yang disumbangkan itu cukup. Ternyata di kemudian hari tidak seperti itu lagi.

Uang amal yang dikumpulkan dari tiap kelas diumumkan di forum guru. Kelas yang mengumpulkan uang paling banyak mendapat pujian dari Kepala Sekolah. Karena kelas anak saya jarang menjadi kelas paling banyak uang amalnya, wali kelasnya malu dan ingin kelas mereka jadi ‘juara’.

Hal seperti ini berlawanan dengan paham saya. Buat saya beramal itu semata-mata masalah keikhlasan, bukan agar lebih banyak dari yang lain dan jadi ‘juara’. Berapapun jumlahnya terserah si pemberi dan jangan pernah menilai dari jumlahnya. Apalagi di kelas anak saya banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sering kali bahkan tidak membawa uang jajan. Saya pikir kalau saya memberi uang seperti yang diminta anak saya, saya jadi mengikuti ego wali kelasnya. Jadi saya jelaskan saja bahwa berapapun jumlah uang amal di kelas dia, tidak masalah. Sudah mau beramal itu sudah baik. Toh dia selalu beramal meski ketika dikumpulkan satu kelas jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan wali kelasnya.

Sebagai orang tua, saya sudah menetapkan pola pendidikan macam apa yang harus saya berikan pada anak saya. Ketika apa yang mereka dapat di sekolah tidak selaras dengan konsep ‘blue print’ yang sudah saya canangkan secara tidak tertulis,  saya tarik lagi mereka ke garis yang sudah saya tetapkan. Pendidikan anak saya adalah tanggung jawab dan hak saya sebagai orang tua. Bukan tanggung jawab ataupun hak orang lain seperti orang tua saya, atau juga sekolah.

I’m the one in charge! Demikian menurut saya.

***

Sebagai guru, tiap kali menatap wajah polos murid-murid saya, terlintas dalam benak saya: buat apa sih mereka ke sekolah?

Di sekolah yang mendidik sekian banyak anak dengan satu cara, keunikan mereka diabaikan. Jelas tuntutan untuk tidak hanya mengajar tapi mendidik itu sudah selalu saya dengar dan kami pun melakukannya. Tapi tidak cukup waktu untuk mengurus anak-anak yang berbeda. Bahkan beberapa guru tidak memiliki energi dan kelonggaran hati untuk mendengar perbedaan yang mereka punya.

Berapa persen guru SD yang mau mendengar celoteh muridnya? Saya pikir tak banyak. Sebagian besar pasti meminta mereka diam agar materi bisa diberikan dengan baikBerapa banyak guru yang mau menyesuaikan dengan keinginan beberapa gelintir anak yang butuh perhatian berbeda karena tipe belajar mereka yang berbeda? Pasti juga tidak banyak.

Alhasil, di kemudian hari mereka jadi anak yang sama.

Saya pernah tersentil waktu kuliah. Ceritanya ada volunteer dari Amerika mengajar mata kuliah Discourse Analysis. Tiap kali dia memberikan jeda dengan bertanya, “Any question?”

Dan tipikal, murid dan mahasiswa ternyata sama, reaksi yang muncul adalah diam, menatap tanpa emosi atau respon apapun sehingga yang bertanya tidak bisa menyimpulkan apakah yang ditanya sudah paham atau belum. Kesal dengan respon yang berulang-ulang si Mr. American ini suatu ketika bertanya, “Any question?” dan dia segera melanjutkan “Of course not”.

Teman-teman di ruangan itu tertawa kecil tersindir karena kami memang tak pernah bertanya. Tapi hal ini justru menggangu pikiran saya hingga kini. Pendidikan macam apa sebenarnya yang dihasilkan oleh negeri ini?

Kita jadi orang yang tidak bisa berpikir berbeda karena sejak kecil sudah digiring untuk masuk kotak yang sama. Hanya sebagian kecil yang bisa berpikir di luar kotak, baik karena memang berani atau karena mampu. Banyak di antara kita yang tidak berani berpikir di luar kotak karena banyak alasan seperti : takut dihujat, takut tak ada teman, atau bahkan takut dosa. Sementara beberapa yang lain memang tidak mampu untuk berpikir ke sana.

Menatap wajah-wajah lugu murid saya, yang lebih membuat perih hati adalah sikap beberapa guru yang justru membuat mereka jadi orang-orang yang tidak percaya diri. Guru tipe ini bukanlah orang yang dengan bijak memberikan materi sebagaimana mestinya, tapi  justru pembunuh karakter siswa. Mereka ini suka marah dengan tidak proporsional. Satu kesalahan yang mestinya bisa dicarikan solusi agar tidak terjadi lagi dan segera dimaafkan, jadi berpanjang-panjang dan membuat murid putus asa. Secara mental murid sudah teraniaya.

Bisa dibayangkan kalau hal ini terjadi di SD. Bukan motivasi yang didapat untuk meraih masa depan yang cerah, tapi justru hujatan terhadap diri sendiri yang terus menerus menghantui dari alam bawah sadar mereka.

Kalau yang terjadi hal seperti ini, lantas siapa yang harus memperbaiki? Orang tua! Bagaimanapun orang tua harusnya meluangkan waktu untuk merevisi hal-hal yang tidak sesuai dengan pola didik dalam keluarga. Dan lagi, kalau anak-anak teraniaya di sekolah, orang tua harus jadi tangan yang mengobatinya.

Itulah kenapa saya selalu berpikir bahwa harusnya orang tua menjadi satu-satunya orang yang mengambil tanggung jawab dalam pendidikan anak-anaknya dan bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada gurunya di sekolah.

Kita tidak tahu apakah seorang guru sedang sehat secara mental atau tidak, atau apakah mereka memang kompeten dalam ilmu yang mereka bidangi atau tidak. Di SD anak-anak saya pernah memiliki guru-guru yang suka marah tanpa alasan jelas, juga ada guru yang salah saat menjelaskan materi. Guru macam ini selalu ada di level manapun, di SMP maupun SMA.

Bukan salah mereka sepenuhnya. Tidak ada tes atau uji kompetensi yang andal hingga saat ini untuk menguji dua hal tersebut. Pemerintah masih mencari-cari cara yang tepat agar dua hal tersebut bisa diukur secara ‘reliable’.

Nah, dengan gambaran seperti ini, buat apa sih sebenarnya sekolah itu? Coba kita runut resiko ‘destructive’ yang mungkin terjadi karena sekolah. Kontak di dengan teman-temannya satu kelas, itu sebuah tantangan yang cukup besar juga. Banyak terjadi anak-anak yang ketika masih belum sekolah baik-baik saja, begitu sekolah mereka mengadopsi kosa kata jelek. Orang tua kaget mereka mendapatkan dari mana karena di rumah tidak pernah ada yang mengucapkan kata seperti itu. Ternyata dia mendengar dari temannya. Tugas orang tualah untuk memberi tahu karena biasanya bahkan di TK pun, yang gurunya sangat perhatian, hal seperti ini bisa luput dari pengamatan.

Belum lagi kalau ada guru yang mengerdilkan mental mereka, lalu cara belajar klasikal yang membuat keunikan mereka hilang, rasanya sekolah justru harus diwaspadai sebagai tempat yang bisa memberikan pengaruh buruk bagi anak pada mental anak. Itulah kenapa saya salut kalau ada orang tua yang ingin memurnikan anak-anak mereka dengan home schooling.

Meski begitu (saya membuat ‘excuse’) tetap saja sekolah adalah hal yang didambakan semua anak. Justru dengan begitu banyaknya resiko yang didapat di sekolah, hingga bagaikan medan perang, tiap orang akan bangga ketika mereka keluar dari medan perang ini dalam keadaan selamat. Kebanggaan ini tak bisa terbayar oleh materi.

Jadi karena memang sekolah tetap dianggap sebagai tempat idaman, saya tetap menyekolahkan anak-anak saya di sekolah umum. Namun sebagai orang tua yang tahu benar bagaimana situasi sekolah, justru saya berkeras bahwa sayalah yang harus mendominasi pendidikan anak saya. Bukan sekolah atau gurunya.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Pendidikan Anak, di Tangan Siapa?"

  1. wesiati  18 July, 2015 at 18:56

    alvina : kalau gurunya jauh lebih banyak dari negara lain kenapa bisa begitu ya? sistim pendidikannya gimana? banyak faktornya pasti.

    yang jelas, nilai-nilai yang ditetapkan keluarga kan yang bikin keluarga itu sendiri (dalam hal ini bapak dan ibunya). nah, gurunya mana bisa tau? menurutku sih gitu.

  2. Swan Liong Be  15 July, 2015 at 22:54

    Saya sependapat dengan J.C.; yang dipentingkan oleh orangtua diIndonesia hanya matematika dan eksakta; juga adanya ranking²an barang itu buat apa sih, dulu waktu jamanku ya gak ada gitu²an. Dijerman banyak murid² cukup kalo mereka naik kelas aja, soal siapa juara kelas samasekali tidak dipedulikan, baru kelak kalo ujian terachir (dijerman namanya “Abitur” mereka lebih tekun , tapi bukan karena mau jadi juara melainkan nilai ijazah mereka penting unutk bisa kuliah , karena banyak jurusan² seperti kedokteran menuntut angka minimal tertentu. dinamakan juga “numerus clausus” untuk membatasi jumlah mahasiswa dalam vak2 tertentu.

  3. Alvina VB  15 July, 2015 at 21:24

    Lanjut komen ttg tanggung jawab dlm mendidik anak. Saya baru kongkow2 dgn temen di sini yg baru aja liat laporan di Eropa, jumlah guru yg cukup tinggi di mana aja saat ini…. ternyata Greece/Yunani (yg sedang dlm krisis ekonomi berat saat ini), jumlah gurunya 4x lebih banyak dari negara2 Eropa lainnya, ttp jumlah lulusannya paling rendah di negara2 Eropa, lah….salah di mana ya??? gurunya yg gak mutu atau org tuanya yg gak perhatian ke anak2nya atau kombinasi keduanya?

  4. Alvina VB  15 July, 2015 at 17:03

    Tetep di tangan or-tu kl anak itu di bawah umur; di tangan guru cuman 10-25% aja. Saya gak akan percaya penuh dgn guru2 jaman sekarang, ttp syukur kl masih ada guru yg berdedikasi spt Bu Wes.

  5. wesiati  15 July, 2015 at 08:16

    mbak lani, benar. kadang guru ditanya nggak suka. lha kualitasnya nggak mutu. jadi nggak bisa jelasin dengan cara yang berbeda. padahal jadi guru sudah lama. piye jal? muridku curhat, katanya kalo sama guru fisika A tiap kali minta dijelasin lagi, dia bilang, “ya kaya gitu tadi…”

    nek aku yo ganti cara. mungkin pake contoh, atau pengibaratan, atau apa lah. yang jelas enggak ngulang2 jelasin dengan cara yang sama yang jelas belum bisa bikin mudeng.

    JC : Iyo. kadang wong tuwane mbiyen rak iso masuk ranking, njur anake dikon ranking. not fair to yo… hahaha…

  6. J C  15 July, 2015 at 05:37

    Sekarang masih banyak pemahaman orangtua nilai pelajaran matematika, dan eksakta lebih “keren” dibanding dengan pelajaran lain. Orangtua umumnya merasa malu, risih, tidak enak hati jika nilai eksakta jelek, padahal nilai di bidang lain misalnya olahraga, kesenian sangat tinggi. Untuk kebanyakan orangtua lebih “bangga” jika nilai matematika anaknya 9, kesenian atau olahraga 6 atau 7. Dan merasa “malu” kalau nilai matematika 6 atau bahkan 5, tapi nilai kesenian atau olahraga 9…

  7. Lani  12 July, 2015 at 10:54

    WESIATI : Baru tau, klu beramal diperlombakan? Ini namanya sdh keblinger! Krn amal artinya seikhlas yg memberi. Klu tdk ikhlas tdk usah memberi.

    Entah akan sampai kapan pendidikan dinegeri ini akan menjadi baik/maju?

    Menurut pengalamanku, klu murid banyak bertanya, gurunya jg kurang senang/tdk senang, entah krn si guru tdk siap utk ditanya, atau mmg guru menganggap dirinya paling pinter, dan murid hrs diam saja?

    Jelas beda dgn bu guru Wesiati, klu guru yg satu ini mmg bener2 guru yg ingin muridnya maju dan pinter

  8. wesiati  11 July, 2015 at 19:41

    kalo saya, intinya saya pembuat garis besar pendidikan anak saya mau ke mana. guru mengisi materi sesuai level mereka. penanggung jawab jelas saya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.