Tradisi Mudik Lebaran

Amstrong Sembiring

 

Mudik Lebaran semakin dekat dimana mudik Lebaran merupakan tradisi inklusif, yang di dalamnya mengandung benih ikatan-batiniah sangat dalam kekeluargaan yang luhur. Tradisi mudik dilakukan setiap tahun sekali ini, adalah merupakan proses dari suatu dialektika-budaya yang sudah berjalan sangat lama hingga sekarang. Tradisi yang telah menyatu tanpa batas dengan uniknya dalam masyarakat kita, di dalamnya tertampil suatulukisan kehidupan yang nyata (riil) dari dinamika budaya Indonesia sangat menawan.

Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.

artikel mudik

Tradisi mudik hanya ada di Indonesia (www.id.wikipedia.org). Orang udik itu dulunya adalah sebutan orang Betawi untuk pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa (sebelah timur Jakarta). Biasanya kaum pendatang yang kebanyakan dari Jawa itu selalu pulang ke kampung halamannya saat hari raya, bila ada keperluan penting, atau karena pekerjaannya di Jakarta sudah selesai.

Dan para pendatang itu menyebut dengan istilah pulang kampung. Jadi itulah yang mungkin menyebabkan ada istilah orang kampung disebut sebagai orang udik. Yaitu karena mereka pergi ke kampung halamannya yang ada di timur (udik). Sampai sekarang istilah Mudik (menuju ke udik) sering dipakai untuk orang-orang yang pulang ke kampung halamannya. Dan istilah mudik sekarang tidak terbatas hanya untuk orang yang berasal dari Jawa saja, tapi juga orang-orang yang berasal dari daerah lain (Prast, 2008, www.id.answer.yahoo.com). Mudik artinya hulu kalau di sungai, yaitu daerah di sekitar mata air tempat darimana sungai itu berawal. jadi kalau orang mudik bisa diartikan kembali ke tempat darimana dia berasal. Karena banyak orang kota yang asalnya dari desa, maka kalau kembali ke desa disebut mudik (Chiprut, 2008, www.id.answer.yahoo.com)

Dalam lukisan kehidupan yang nyata itu, dinamikasisasi tradisi mudik penuh dengan pesona kemanusiaan. (Alm) Nurcholis Madjid pernah mengemukakan, Lebaran adalah hari raya kemanusiaan. Karena itu wajar, jika setiap 1 Syawal seluruh umat Islam saling maaf-memaafkan dan saling mengunjungi, sebab sikap seperti itu memang yang dianjurkan agama. Setiap umat islam pada hari Raya tersebut, sepatutnya tampil sebagai manusia dengan nilai-nilai yang setiap setahun.

Tradisi mudik Lebaran yang setiap setahun sekali diiringi dengan tradisi minal aidin walfaidzin penuh kemulian mempunyai gravitasi (gaya tarik), hingga membuat anggota masyarakat di dalam komunitasnya tercerai berai oleh karena “gerak-rotasi” pencarian nafkah hidup, yang selalu memendam rasa romantika rindu ingin membangun kembali tali-silaturahmi terhadap orang tua, kakak, abang, adik, sanak keluarga atau teman sejawat yang sudagh lama ditinggalkan. Dalam lintasan waktu tradisi mudik bagi orang tertentu yang telah lama di tanah rantau ternyata juga mampu merangkum beragam bentuk potensial sosial religiusitas yang cukup dalam, selain juga merangkum emosi atau pengukuhan mitos – yang lebih luas. Di dalam tradisi mudik juga harus diakui banyak terakumulasi kesadaran doctrinal, yang mungkin irrasional, yang mungkin menjadi karakter kepribadian setiap manusia, yang mempertaruhkan kehidupannya di Jakarta.

mudik-lebaran

Jika meminjam pemikiran Maslow, orang mudik Lebaran tak lepas secara psiko-sosial karena mereka ingin juga diakui eksistensi-Nya. Pada kenyataan bahwa pengakuan itu memang mahal. Kepada tetangga, para orang tua mereka dikampung halaman bisa berbangga lihat aku punya anak pulang. Terlebih ia bisa menunjukkan, lihat aku suskses di Jakarta.

Dan hal itu sebagaimana teori hierarki kebutuhan Maslow adalah teori yang  beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.

Dan itu merupakan salah satu tingkatan terakhir dari hierarki kebutuhan Maslow, yaitu kebutuhan akan aktualisasi, kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan, tetapi melibatkan keinginan yang terus menerus untuk memenuhi potensi. Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Awalnya Maslow berasumsi bahwa kebutuhan untuk aktualisasi diri langsung muncul setelah kebutuhan untuk dihargai terpenuhi. Akan tetapi selama tahun 1960-an, ia menyadari bahwa banyak anak muda di Brandeis memiliki pemenuhan yang cukup terhadap kebutuhan-kebutuhan lebih rendah seperti reputasi dan harga diri, tetapi mereka belum juga bisa mencapai aktualisasi diri.

Ambil contoh lain, tradisi mudik di salah satu tampat di Nusantara, dimana para perantau yang mudik dari kalangan tergolong sukses hidupnya selama di perantauan. Bercerita tentang sebuah kesuksesan yang diraih para perantau itu, terkadang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga desa lainnya, terutama di kalangan generasi muda, baik lelaki dan perempuan selalu ingin mengadu nasib di kota. Ada seorang tokoh agama mengatakan mudik seperti merupakan semacam ritus keagamaan orang naik haji yang seolah menyatakan “Ya Tuhan, lihat aku datang”. Tapi itulah manusia. Mudik juga manusiawi.

Dengan demikian, suatu hal wajar bilamana libido masyarakat tinggi untuk bisa mudik sehingga mudik Lebaran merupakan gerak eksodus yang ter-kalkulasi dan inspiratif, acapkali berubah menjadi sebuah gerak percepatan eksodus tak beraturan, terkesan tak rasionil oleh apa yang dilakukan masyarakat kita yang pulang ke kampung halamannya.

Jika mendekati saat menjelang Lebaran Idul Fitri. Relatif banyak cerita tentang barang berharga milik mereka yang telah ia atau gadaikan untuk bisa pulang mudik. Sementara ada juga menghutang pada tetangga , teman, saudara atau rentenir kecil atau kelas menengah yang berada ditempat tinggalnya.

Oleh karena itu, seolah dalam keadaan seperti itu maka resiko apapun akan ditempuh agar bisa mudik Lebaran tepat waktunya. Bagi mereka tak ada kata segan-segan mengupayakan berbagai cara melalui percepatan eksodus untuk bisa tiba di kampong halaman-Nya.

Kita bisa menyaksikan bagaimana gelombang manusia yang ada di stasiun kereta api atau terminal bus antar kota berlomba-lomba “berjubel-jubel” untuk mendapatkan angkutan kendaraan umum agar bisa mudik serta Lebaran di kampung halaman, meski terkadang kerap juga diperlakukan tidak manusiawi sebagai konsumen angkutan umum, serta dijadikan objek. Seperti hal adanya praktik pencaloan, konsumen tidak mendapat informasi yang benar dan jelas, masalah keamanan dan kenyamanan serta keterlambatan jadwal keberangkatan.

Di antara mereka tak sedikit mengalami kesulitan mendapat karcis karena kereta api dan bus, kesulitan harus berdiri atau duduk antre selama berjam-jam, kesulitan mendapatkan karcis dengan harga yang wajar karena dinaikan secara berlebihan oleh para awak angkutan umum, yang tidak mengindahkan ketentuan yang berlaku, kesulitan mendapatkan tempat duduk meski sudah membeli karcis.

Bahkan mereka yang banyak memakai angkutan umum jasa kereta api, banyak yang kecewa, mengeluh atau marah-marah kepada petugas kereta api yang dinilai kurang professional, mungkin karena arahan dari pimpinannya juga kurang. Akibat pengaturan perjalanan yang ketat untuk mengejar layanan berdasarkan kuantitas, hal-hal kecil malah tidak diperhatikan hingga menurunkan kualitas pelayanan.

Pertanyaan kenapa hal-hal momentum teristimewa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat amat sangat penting dan membahagiakan hanya setahun sekali terjadi, bukan menjadi kebiasaan buruk menyedihkan? Seharusnya bukan menjadi repetisi (berulang-ulang) persoalan yang sama? Sebenarnya hal itu perlu disadari oleh semua pihak,  dengan demikian hingga dalam kehidupan mereka belum tentu bisa mengecap kesenangan seperti di hari-hari mudik Lebaran seperti ini bisa terwujud.

 

 

8 Comments to "Tradisi Mudik Lebaran"

  1. J C  15 July, 2015 at 05:32

    Hanya di Indonesia tradisi seperti ini berlangsung saat Lebaran… Tapi memang di negara lain dan tempat lain tradisi mudik berlangsung: Chinese New Year, Thanksgiving, Natal, dsb. Yang lebih unik adalah di Medan, yang tradisi mudiknya di saat Ceng Beng (5 April).

  2. Lani  14 July, 2015 at 07:42

    KANG DJAS : haha… pepatahmu kwalik….

  3. Swan Liong Be  13 July, 2015 at 16:48

    @Sumonggo: Kalo dijerman sekitar natalan juga ada tradisi:
    Dua minggu sebelum natal toko2penuh, orang pada cari hadiah natal,
    dua minggu setelah natal toko2 penuh, orang pada tukar barang karena hadiah natalnya gak cocok.

  4. Dj. 813  10 July, 2015 at 23:36

    Jadi ingat permintaan kaka…
    Mbok kamu pulang, saat lebaran….
    Nah ini memang sangat sulit, karena kami hanya bisa mudik kalau liburan saja.
    Dilain itu ya bisa, tapi mungkin hanya 1 – 2 Minggu saja.

    Terimakasih untuk ceritana dan salam,

  5. Handoko Widagdo  10 July, 2015 at 20:15

    Akankah tardisi ini bertahan pada generasi berikutnya yang sudah tidak kenal kampung?

  6. Sumonggo  10 July, 2015 at 17:11

    Tradisi yang kerap terjadi saat bulan puasa:
    Minggu pertama, mesjid penuh
    Minggu kedua, mal dan pasar penuh
    Minggu ketiga, stasiun dan terminal penuh

  7. djasMerahputih  10 July, 2015 at 12:23

    Doea: hadir bang JAMES…
    Tempat ternyaman adalah kampung halaman…
    ada pepatah: lebih baik hujan emas di kampung sendiri daripada hujan batu di negeri orang…

  8. james  10 July, 2015 at 10:37

    1……mudik absenkan para Kenthirs

    masalah Mudik ini asyik tapi rumit sekali karena angkutannya tidak pernah mencukupi sehingga selalu berebutan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.