Celengan Semar

Wesiati Setyaningsih

 

Tiba-tiba saya bertanya-tanya kenapa Kahlil Gibran mengatakan, “Anakmu bukanlah anakmu?”

Apakah kalimat itu muncul karena dia capek diatur-atur orang tuanya? Atau justru karena dia kesal anaknya tidak mau diatur? Saya nggak tahu dia punya anak apa enggak, yang jelas saya sungguh heran bagaimana bisa dia mengatakan ini dan sampai sekarang masih diingat banyak orang tapi sebagian besar hanya sebatas mengingat saja. Tak ada korelasi apa-apa dalam perubahan tindakan mereka.

Ketika saya nonton film The Odd Life of Timothy Green, awalnya saya senang karena ceritanya tentang seorang anak bernama Timothy ini. Saya selalu suka cerita di mana tokohnya anak-anak, karena asal bukan horor, biasanya menyenangkan. Tapi ketika saya ikuti sampai akhir, justru saya pikir ini sebenarnya film buat orang tua, bukan untuk anak-anak meski tokohnya anak kecil.

Ringkasan film ini saya ceritakan. Bermula dari sebuah dialog antara sepasang suami istri, Jim dan Cindy, yang diwawancara oleh dua orang staf, kalau melihat cara mereka berbicara dan kisah yang ditata di dalamnya, dari awal saya menduga ini wawancara dalam proses adopsi.

kahlil gibran

Pasangan ini divonis tidak bisa punya anak. Si suami yang tidak tega melihat istrinya menangis terus, mengajak untuk membuat mimpi mereka tentang seorang anak. Andai punya anak, dia akan seperti apa? Begitu kira-kira pertanyaannya. Maka mulailah mereka menulis keinginan mereka dalam pada secarik kertas untuk tiap keinginan, lalu mereka letakkan dalam sebuah kotak dan kotak tersebut  dikubur. Mereka tulis antara lain, anak itu bisa membuat gol, main musik rock, mencintai dan dicintai, lainnya saya lupa.

Malam itu Jim dan Cindy Green tidur saat hujan lebat tiba-tiba datang disertai petir menyambar. Keajaiban datang, ketika tiba-tiba anak anak lelaki kecil di kamar yang sedianya disiapkan untuk anak mereka. Tubuhnya kotor luar biasa dan anehnya, ada beberapa daun yang tumpung di kakinya. Singkat kata, anak yang memperkenalkan diri dengan nama Timothy ini langsung jadi anak mereka karena anak itu sendiri yang tiba-tiba memanggil Cindy dan Jim dengan Mom dan Dad.

Dari tidak pernah mengasuh anak sama sekali, Jim dan Cindy mendapatkan Tim yang sangat baik hati, jujur, suka menolong orang, dan sifat-sifat kanak-kanak asli yang belum terjamah ‘kejahatan’ sedikitpun. Satu demi satu keinginan Jim dan Cindy yang pernah ditulis di kertas terwujud. Mereka tersadar akan hal itu dan sangat bahagia.

Namun demikian tidak semua keinginan berjalan sempurna. Ketika Tim membuat gol, dia tidak membuat gol di gawang lawan tapi di gawang sendiri. Ini membuat keluarga mereka mendapat hinaan terus menerus hingga Jim dan Cindy harus mampu menghadapinya. Karena Jim sudah berjanji akan menjadi ayah yang baik yang tidak pernah dia dapatkan, dan Cindy berjanji membuat anaknya normal seperti anak-anak lain, maka mereka mempererat pegangan tangan agar bisa melindungi Tim dari apapun.

“Kami terus menerus melakukan kesalahan. Tapi bukankah demikian itu orang tua? Untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya?” kata mereka.

Sayangnya tak semua orang tua mau mengakui kesalahan mereka.

Satu hal yang Jim dan Cindy tidak tahu, ketika tiap keinginan mereka terwujud, satu daun di kaki Tim gugur. Nantinya, saat semua daun gugur, Tim harus menghilang dari kehidupan mereka.

***

Hati saya mulai tergedor-gedor (bukan terketuk lagi) ketika Jim dengan mati-matian berteriak agar Tim bisa masuk tim sepak bola hanya karena ada ayahnya hadir di situ. Seumur hidupnya dia ingin agar Ayahnya bangga padanya, tapi selalu gagal. Ayah ini, dipanggil Big Jim, tak pernah memperlakukan dia dengan baik. Kali ini, ketika ada Tim, dia ingin Ayahnya melihat bahwa dia bisa menjadi Ayah yang baik dengan membuat Tim berhasil menjadi pemain sepak bola andalan, tidak seperti Ayahnya dulu. Jim dulu duduk di bangku cadangan dan Ayahnya tidak melakukan apapun untuk membantu dia. Maka dia melakukan berbagai cara ketika Tim duduk di bangku cadangan, sementara Tim sendiri tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.

Saya jadi ngat bagaimana saya memaksa si sulung untuk masuk klub debat yang saya asuh di sekolah (karena dia bersekolah di tempat saya mengajar karena permintaan dia sendiri). Dengan kemampuan bahasa Inggris yang dia punya, saya yakin dia bisa jadi debater yang handal. Jadi saya paksa dia sedemikian rupa untuk aktif di sini. Saya lupa bahwa selama ini saya mendidik dia untuk mengikuti kata hati dia. Alhasil, hanya dua kali kompetisi yang dia ikuti lalu dia mundur karena dia tidak suka. Entah karena paksaan saya jadi dia mengalami tekanan, atau memang dia tidak suka beneran.

Tiap kali di kompetisi besar, saya menangis dalam hati membayangkan harusnya dia ikut bersama saya menjadi anggota salah satu tim. Perasaan ini saya pupus perlahan karena ini tentang dia, bukan tentang saya yang mungkin dalam hati juga penasaran pengen ikut lomba debat. Saya dulu juga jago dalam bahasa Inggris, tapi lomba begini belum ada.

Ketika dia mulai kuliah pun saya masih mendorong dia untuk masuk klub debat universitas, tapi dia tidak mau. Meski (lagi-lagi) saya kecewa, tapi saya sadar bahwa ini hidup dia, bukan saya. Jadi saya biarkan saja dia memilih apa yang menjadi keinginannya. Lucunya, beberapa waktu lalu malah dia ikut lomba debat tingkat universitas atas keputusannya sendiri.

Saya jadi sadar, selama ini saya terlalu memaksa. Semua yang dipaksakan pasti bakal macet. Mandek. Membuat orang malas bergerak. Ketika direlakan, dilepaskan, dibebaskan, tak jarang apa yang tadi dipaksakan malah dilakukan. Padahal fenomena ini juga sudah saya ketahui, tapi kok ya masih terbawa emosi saja.

Anakmu bukanlah anakmu, kata Kahlil Gibran. Mudah diucapkan, mudah diingat, tak mudah dilakukan. Orang tua sering menuangkan apa keinginan mereka saat kecil pada anak-anaknya, tak peduli apakah anak suka atau tidak. Tak jarang anak dijadikan ‘tabungan’ agar saatnya nanti orang tua bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya dari mereka. Orang Jawa mengenal istilah ‘celengan Semar’. Maksudnya anak-anak adalah tabungan.

Sehingga mereka percaya ‘banyak anak banyak rejeki’ karena masing-masing anak membawa rejeki dan bisa dijadikan ‘tabungan’. Tak heran kalau sejak kecil anak-anak dipaksa untuk menjadi ‘unggulan’ agar nanti mereka bisa bekerja dengan gaji besar dan orang tua bisa ikut nyaman. Atau minimal, kalau anak sudah ‘jadi orang’, mereka bisa mengatakan dengan bangga pada orang-orang. Saya pernah mendengar begini, “apa sih yang bakal kamu ceritain ke orang-orang? Bukan rumah besar dan mobil berapa yang kamu punya. Tapi, anakmu jadi apa?”

Dialog Cindy dan kakak perempuan yang selama ini ingin dia kalahkan, Brenda menyindir hal ini. Brenda yang sudah punya dua anak selalu menceritakan kehebatan anaknya dan apa yang sudah melakukan untuk anak mereka seperti menyekolahkan di sekolah yang selalu menggali bakat anak.

“Apa bakat Tim?” tanya Brenda.

“Belum keliatan, tapi dia jelas anak yang baik hati. Dia selalu ingin membahagiakan orang lain.”

Saat yang sama Tim sedang mengambilkan minum untuk ‘kakeknya’, Big Jim yang berdiri di pinggir lapangan dengan sinis, seolah ingin menyaksikan bagaimana Tim tak pernah masuk dalam tim sepak bola dan itu satu kelemahan Jim, anaknya. Cindy memandang dengan bahagia.

“Memangnya itu bisa bikin dia masuk universitas?” cetus Brenda menohok.

Cindy menatap dengan penuh tanya ke arah Brenda, tak bisa memahami pikiran Kakaknya. Bukankah kita juga jarang mendengar ‘kebaikan hati’ menjadi pembicaraan yang dibanggakan orang tua ke orang lain? Menang lomba ini, juara lomba itu, ranking satu dan seterusnya, itulah topik yang selalu menarik. Bukan bagaimana anak dengan tertib kalau antri.

***

Usai film ini saya jadi terus berpikir, apa sih yang mestinya kita lakukan untuk anak-anak? Tak jarang orang tua mengarahkan anaknya dengan alasan kebaikan bagi mereka, padahal sebenarnya itu manifestasi keinginan mereka di masa lalu. Mereka ajak anak-anak makan fast food, karena sejak kecil mereka ingin ke sana tapi baru kesampaian setelah bekerja dan punya uang sendiri. Padahal makanan mereka di masa kecil, buah dan sayur, malah jauh lebih sehat.

Orang tua membelikan anak-anaknya ini dan itu karena alasan, “Mama/Papa dulu pengen beli ini tapi enggak kesampaian.”  Masih banyak lagi alasan yang kurang lebih sama, tapi agak sulit untuk ditengarai karena ego memang begitu tersembunyi dan sulit disadari. Maka jadi agak susah membedakan apakah itu ‘demi kebaikan anak’ atau ‘demi ego orang tua’, saat anak-anak mulai memilih jurusan di SMA atau di kuliah, juga mungkin saat memilih pekerjaan atau bahkan pasangan hidup. Apalagi kalau orang tuanya tak pernah mau menyadari dan selalu mencari alibi “orang tua tahu yang terbaik.”

Akhirnya, para orang tua silakan merenungi sendiri apakah yang kita lakukan selama ini memang demi anak atau demi kita sendiri. Saya sendiri sepertinya masih harus terus introspeksi agar ego saya tidak muncul lagi dan saya mampu menjalankan pesan Kahlil Gibran, “Anakmu bukanlah anakmu.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Celengan Semar"

  1. wesiati  15 July, 2015 at 08:20

    aku sih nggak ada cita-cita yang belum tercapai. kalo ada, ya aku raih sendiri. (cieeh… cuma misal kaya izza aku saranin les gitar, karena aku liat, kok keren ya? atau dila aku suruh ikutan ngegym atau yoga karena memang dia harus belajar membentuk badan dia sendiri.
    anakku sih bebas mau apa aja. aku saranin, kalo mereka mau, bagus, enggak mau ya nggak papa… yang jelas di hari tua nanti aku sudah siap-siap untuk melepas mereka. aku cuma ‘lantaran’, bukan pemilik mereka…

  2. J C  15 July, 2015 at 05:49

    Yang heran adalah: aku tidak pernah mengarahkan anakku untuk meneruskan atau “membayar” cita-cita atau keinginanku masa kecil. Tapi mungkin karena manifestasi keinginan yang mungkin tersampaikan ke sanubari anak mbarep, eeeehhh…dia sekarang berkeinginan sendiri untuk ambil jurusan tertentu yang dulu aku tidak kesampaian… )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *