Senyum Sang Koruptor

Yuli Duryat

 

Adzan ashar berkumandang saat Anisa beranjak dari duduknya. Langkahnya cepat menyongsong kepulangan Roso, suaminya yang terlihat lelah.

Malamnya, kala suaminya selesai menunaikan shalat isa, Anisa bertanya. “Bagaimana keadaan Pak Ridwan Mas?”

“Memprihatinkan sekali, Dek. Beliau menghuni ruang tahanan No. 5, memakai seragam warna biru, ketika mas memergoki dia memandang sayu seorang petugas penjaga yang merokok. Mas jadi iba, Dek.”

Ridwan sangat dermawan ketika ia menjabat sebagai bupati di kabupaten tempat Roso dan Anisa tinggal. Roso adalah salah satu staf di kecamatan wilayah kabupaten tersebut.

Semasa menjabat bupati, Ridwan kerap membagikan uang dan rokok pada bawahan atau pun teman-teman dekatnya. Dengan disadari ataupun tidak disadari oleh teman dan stafnya, uang yang dibagikan Ridwan adalah hasil korupsi. Namun, mereka tetap dengan sukarela dan sukacita menerimanya. Bahkan mereka sering memuji kebaikan Ridwan.

Begitulah masyarakat kita sekarang. Korupsi bukan lagi hal yang aneh, bahkan sudah mengakar menjadi sebuah budaya masyarakat masa kini. Tak terpungkiri, Roso adalah salah satu dari teman dekat sang bupati. Ia kerap tertimpa gerimis uang dan rokok dari Ridwan.

“Besok ada seorang petugas KPK yang datang hendak memanggil Syarif dan Bejo. Kabarnya mereka ikut terseret penggelapan dana pembuatan kartu penduduk. Mereka dengan sengaja menaikkan tarif yang telah ditentukan oleh pemerintah, dan menggunakan uang tersebut untuk keperluan pribadi.” Roso menghembuskan kepulan asap rokoknya. Asap itu kemudian membentuk lingkaran berjajar dan memudar tertiup angin malam.

“Mas ikut terlibat?” selidik Anisa cemas.

“Dari dulu, Dek, lebih baik mas kelaparan dari pada harus menafkahi istri dangan uang haram. Uang limaratus perak lebih berharga buat mas daripada uang lima miliar hasil korupsi.”

“Tapi Mas kadang menerima uang dari mereka. Apa bedanya, Mas?” protes Anisa.

“Mas tidak enak untuk menolak, Dek. Beliau sahabat mas. Di kala susah, beliau yang kadang meminjamkan uang pada mas. Mas hanya menggunakan uang pemberian tersebut untuk membeli rokok atau makan-makan bersama teman-teman mas,” ungkap Roso panjang lebar.

“Itu sama saja, Mas. Mas menggunakannya untuk membeli makanan di restoran. Mas dan teman-teman Mas memakannya, dan makanan dari uang haram tersebut masuk ke tubuh Mas, dicerna dan mengalir melalui darah. Itu dapat mempengarui hati dan pikiran, Mas. Apa Mas tidak sadar bahwa sesuatu yang dihasilkan dari hal yang tidak baik akan membuahkan hal yang buruk pula.” Volume suara Anisa meninggi karena emosi.

“Entahlah, Dek. Setidaknya, itu lebih baik menurut mas.”

Hembusan nafas panjang mengiringi Roso beranjak dari teras rumahnya, diikuti Anisa yang berjalan masuk rumah.

Ketika suatu hal buruk yang dekat dengan seseorang, dan jalinan persahabatan memaksa hati agar tidak dijauhi oleh orang sekeliling, itu adalah ujian terberat yang sering meruntuhkan tanggung jawab sebagai abdi negara. Untuk tetap diam meski sesungguhnya bukti ada di tangan. Pahit kenyataan memang, tetapi itulah yang terjadi dan tak dapat dipungkiri.

Entah kapan waktu itu datang, mengetuk pintu hati mereka agar mereka tetap berdiri tegak di jalan yang benar, tanpa memperdulikan walau yang berbuat adalah sahabat atau bahkan keluarga sendiri. Ketika perbuatan nista telah menjadi budaya, yang terzalimi hanya dapat menjerit dengan keringat dan derita menimbulkan penyakit. Mereka, para pelaku kejahatan itu, takkan pernah mau mendengar meski jeritan menggelegar.

Pintu hati mereka telah tertutup, dan ketika borok itu terungkap, dengan kesengajaan mereka akan saling melempar kesalahan.

Tentu saja sangat berat hari-hari yang dilalui Ridwan di penjara. Dia yang biasa dengan kemudahan, kini harus menjadi santapan nyamuk-nyamuk nakal. Belum lagi ditambah perlakuan napi lain yang rata-rata di penjara hanya karena menjadi maling ayam. Ayam yang harganya tak seberapa bila dibandingkan dengan uang miliaran yang dikorupsi Ridwan.

Dia enggan memakan jatah makan yang diberikan. Matanya menghitam membentuk lubang menjorok dalam, karena dia selalu saja tak bisa tidur. Dia yang terbiasa tidur di atas dipan mahal berkasur jutaan, kini harus akrab dengan satu bantal kumal dan selembar tikar dilantai tanpa ranjang.

Makan dilayani, dan selalu berpenampilan necis dan wangi, kini dihardik pandang sinis tanpa simpati.

“Mas tahu, mengapa Mas tidak mau bersaksi?” Anisa mulai menangis, ketika suaminya menjelaskan sidang kawannya Bejo dan Syarif.

“Dek, mas tidak bisa, mereka sahabat mas.” Lantang suara Roso disambut tangisan Anisa yang semakin menjadi.

“Mas,” pekik Anisa tertahan.

Roso mendekat, memeluk tubuh istrinya. Dia sangat paham akan tuntutan istrinya. Dia pun ingin sekali menjalankan perbuatan mulia tersebut. Tapi, dia laki-laki pengecut, takut dimusuhi oleh teman-teman sekantornya yang rata-rata juga tahu akan apa yang diperbuat oleh Bejo dan Syarif. Namun, kebanyakan dari mereka memilih bungkam karena tidak ingin ditendang dari persahabatan, atau dipecat dengan alasan yang dibuat-buat, atau bahkan ditembak mati dengan strategi yang telah tersusun rapi sehingga takkan ada yang curiga bahwa yang menembak adalah dari kalangan sendiri.

“Kabarnya Pak Ridwan akan dikirim ke penjara tempat para penjahat kelas kakap.” Anisa yang sedang membeli bawang di pasar, mendengar perbincangan para pedagang.

“Bagus kalau begitu, biar dia digebugi dan tau rasa dia di sana. Dia tidak pernah memikirkan kita yang banting tulang mencari uang. Dia yang sudah diberikan kemudahan dengan gaji yang tinggi, tapi masih saja serakah makan uang rakyat. Rasakan buah dari hasil ia menanam,” jawab yang lain antusias.

Terbayang oleh Anisa sebuah penjara di kepulauan terpencil. Dia pernah melewati jalan sebelah bangunan pejara tersebut pada waktu yang lampau.”Lengang,” gumam Anisa dalam hati membayangkan pengalaman yang telah lama berlalu itu.”Apa di sana mendekam para penjahat dengan muka garang,” tanya Anisa pada diri sendiri.

Masih ingat di benak Anisa saat ia menaiki sebuah perahu kecil bermuatan lima orang, melaju membelah sungai dalam yang terpagar rawa berhunikan biawak, spesies serupa buaya bertubuh kecil yang menjadi buronan para nelayan di kampung sekitar. Dia duduk berjongkok di atas perahu, dengan cemas berharap agar perahunya cepat sampai, tidak tenggelam di sungai yang bermuara di pantai selatan tersebut.

Di sepanjang tepi sungai terpagar pohon cancang dengan tinggi dua meter dari permukaan air. Akar-akarnya yang memanjang kuat mencengkeram bumi. Ketika air surut, para nelayan akan mencari kerang di bawah pohon cancang. Anisa harus bermandikan keringat mendaki dan menuruni bukit, sebelum rasa letih meghilang di kala tatap mata menangkap hamparan laut dan langit yang biru. Indah memang pemandangan pantai laut selatan. Tetapi setelah gelombang tsunami menerjang sebagian kota tempat ia tinggal, tak ada nyalinya untuk mengunjungi pantai indah tersebut.

Di sini nasib baik berpihak pada orang besar. Kenyataan memang membuktikan Ridwan bersalah. Namun, pamor kebaikan yang ia dapatkan hanya dengan bekal uang dan rokok hasil korupsi lebih berjaya saat ini. Kemiskinan yang melanda telah membutakan masyarakat.

Bukan bogem mentah yang ia terima di sel barunya setelah para penghuni sel tau bahwa dia orang besar. Justru sambutan hangat yang ia dapatkan. Perlakuan garang hanya di terima oleh narapidana dengan kesalahan yang lebih kecil.

Kenyataan memilukan bagi rakyat jelata dengan hukum yang tidak adil. Yang dijadikan pihak berwajib sebagai bahan pelarian akan kecaman masyarakat pada lemahnya hukum yang berlaku.Yang justru mencoreng-moreng citra mereka sebagai penegak hukum itu sendiri. Dan kebal hukum sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan masyarakat berekonomi tinggi.

***

“Apa perasaan Anda setelah keluar dari penjara yang banyak ditakuti ini?” Wartawan yang berjejalan berebut untuk bertanya kepada Ridwan yang telah terbebas dari hukuman tidak setimpal yang telah ia jalani.

Anisa yang menyaksikan itu di televisi tersenyum kecut, melihat senyuman sang koruptor mengembang tanpa penyesalan.

Roso hanya tertunduk malu menerima tatap tajam Anisa yang terjuju padanya.

“Tolong ceraikan adek, Mas,” pinta Anisa.

~*~

Telah dimuat di Koran BI Hong Kong Mei 2010

 

 

9 Comments to "Senyum Sang Koruptor"

  1. Alvina VB  15 July, 2015 at 17:04

    Bacan6ya besok ya…

  2. J C  15 July, 2015 at 05:41

    Yang sedang rame dan jadi trending topic adalah pengacara kondang OC Kaligis jadi tersangka…

  3. donald  13 July, 2015 at 16:49

    Ya, bagaimanapun juga… Korupsi tak baik…. -_-

  4. djasMerahputih  13 July, 2015 at 14:24

    Hadiir…
    Korupsi is the way of life… Koruptor pada ditangkapi, ekonomi jadi lesu.
    Korupsi ternyata juga telah menjadi penopang ekonomi. Kalo sudah begini, mungkin rencana Tuhan sudah dekat…!! waspadalah…!!!

  5. awesome  13 July, 2015 at 14:06

    kalau semua istri koruptor seperti Anisa, jumlah koruptor akan berkurang, setidaknya …

  6. Dj. 813  13 July, 2015 at 13:44

    Hallo Yuli…
    Terimakasih untuk sharingnya….

    Apakah mereka tidak beriman, kok korupsi…???
    Pasti akan mereka jawab… Jelas beriman….!!!
    Bukan salah mereka juga kan, mengapa mau dikorupsi….???

    Berati rakyatnya masih sangat naif, mau ditipu….
    Dan Dj. rasa tidak hanya di Indonesia saja….
    Hanya, contohnya, kalau di China, mereka dihukummati di Dooor….!!!
    Di Indonesia, masih dimanjakan….

    Okay… sekali lagi terimakasih dan salam.

  7. Lani  13 July, 2015 at 10:17

    JAMES : mahalo absenannya……..

    Benar pendptmu, jd koruptor sll tersenyum atau sampai ngakak2 apalagi klu koruptornya di Indonesia. Krn biar di bui, tp fasilitasnya bak hotel berbintang

  8. james  13 July, 2015 at 09:57

    para Koruptor tidak pernah ada satu juga yang Mesem atau Susah…..semuanya Senang kok…..meski di Hukum Bui juga tetap Nyengir Kuda Menantang

    absenin yang pada belum hadir

  9. Handoko Widagdo  13 July, 2015 at 09:45

    Beginilah memang kondisi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.