Jadilah Kanal Kebaikan

Asrida Ulinnuha

 

Seringkali Tuhan menegur manusia dengan cara yang tidak terduga, bahkan terkadang menampar perasaan dengan cukup telak. Berawal dari seorang kawan, yang bekerja di Taiwan sana, menitipkan sejumlah uang. Katanya untuk disedekahkan di manapun saya biasa sedekah. Saya tahu kebutuhan teman saya ini tidaklah sedikit, di antara kebutuhan hidup yang cukup tinggi dan kewajiban menanggung keluarga, ia rutin menitipkan sedekahnya di bulan-bulan selanjutnya dalam jumlah yang juga tidak sedikit tiap kali.

good-deeds

Saya yakin bisa saja dia bersedekah sendiri di lokasi terdekat sana, atau kirim ke rumahnya, titip pada kerabatnya, titip lewat teman lain, atau bahkan paling praktis tinggal transfer ke lembaga zakat yang sudah terpercaya secara nasional. Selanjutnya ada teman lain yang juga titip lewat saya, hah…lagi? Juga ada teman di Jakarta yang tanpa ragu menitipkan 50 pcs tas sekolah agar saya salurkan pada yang membutuhkan, duhh lagi? Atau ada juga satu-dua orang yang titip sesekali dengan alasan “untuk anak-anak ya…” Ini saya pahami bukan anak saya.

Buat saya ini cukup menohok. Setiap bulan saya tetap menunaikan zakat penghasilan, namun dalam hitungan yang disarankan 2,5% yang artinya batas minimum, sedekah sih sesekali. Sementara kalau ada sisa belanja saya beli baju atau sepatu atau jeng-jeng atau ke salon atau….nah lho…hahahaha, jajan terus. Sementara mereka masih menyisihkan uangnya bukan untuk zakat wajib tapi juga sedekah, yang jumlahnya tidak sedikit. Saya yang semula merasa have fun is oke, tiba-tiba jadi merasa guilty. Oh Tuhan maafkan hambamu ini ya, dan saya masih boleh nyalon kan, Tuhan?

Di desa tempat orang tua saya tinggal, sebuah kampung nelayan miskin dan terpencil, ada sebuah madrasah dimana muridnya tidak banyak yang belajar purna hingga lulus karena tidak mampu membayar uang sekolah. FYI, madrasah ini adalah sekolah non pemerintah yang pertama tidak lama setelah sekolah dasar negeri yang pertama dibangun oleh pemerintah di tempat tersebut. Usianya sudah lebih dari 30 tahun, jatuh bangun mencetak akhlak dan pengetahuan anak-anak di sana. Mulai dari kehilangan guru karena terdesak kebutuhan ekonomi, gedung yang ambruk, hingga kurangnya sarana belajar.

Sampai suatu ketika saat ada acara keluarga, dari rasan-rasan kerabat saya mendengar cerita dari pengurus madrasah ini, bahwa setiap guru hanya dibayar Rp 50.000 per bulan. What? ini jaman modern, dimana pesan dikirim dalam hitungan detik bukan lagi dengan telegram. Di kota orang pergi memandang manekin di mall lalu makan-makan bersama keluarga sementara di sekolah ini para orang tua anak-anak ini menahan diri (dan anak mereka) pada saat uang tidak lagi cukup untuk makan apalagi membayar guru mengaji. Nanti, kalau bapak mereka sudah dapat uang dari melaut, barulah mereka sekolah lagi. Akan tetapi sejumlah anak malah kehilangan mood untuk sekolah karena terlanjur berhenti lalu asyik ikut bapak melaut serta mendapatkan uang sendiri. Ilmu yang mereka punya nanggung, tidak cukup tapi merasa bisa, blaiss…

Dengan 2 kenyataan yang ada, satu tempat kekurangan dan saya mendapat amanah untuk menyalurkan bantuan, maka klop lah. Daripada membantu satu persatu anak, pasti berat, akhirnya diputuskan untuk membantu gajian para gurunya. Madrasah Awaliah (Sekolah agama setingkat SD) ini bernama “Al Islamiyah”, kini memiliki 4 guru. Berada di Desa Pengaradan – Kecamatan Tanjung – Kabupaten Brebes. Sudah setahun dana tersalur ke sekolah ini.

Bila murid ada yang keluar, masih ada yang akan masuk karena setiap hari pasti ada bayi lahir. Tapi kalau guru berhenti mengajar, sulit cari ganti. Anak-anak tanpa ilmu adalah orang dewasa yang tidak jelas masa depannya. Mohon doanya untuk siswa di sekolah ini agar dapat terus belajar. Ngomong-ngomong, selain madrasah ini, ada sekolah lain yang juga mendapat bantuan dari dana yang terkumpul.

Beserta tulisan ini, saya ingin meminta bantuan, bukan uang akan tetapi buku anak-anak. Saya dan adik berencana turut membantu Desa ini agar memiliki perpustakaan. Mohon bantuan dari Bapak – Ibu, Kakak – Adik sekalian untuk dapat turut membantu menyumbang buku, bekas saja tidak apa. Buku dapat dikirimkan ke rumah saya atau kami yang akan jemput buku anda bila masih di wilayah Semarang.

Jangan lupa doanya semoga program perpustakaan anak sukses berjalan. Saya menunggu inbox anda untuk bantuan bukunya. Bertanya-tanya dulu juga tidak mengapa. Salam.

 

 

7 Comments to "Jadilah Kanal Kebaikan"

  1. Ulin  27 July, 2015 at 12:05

    hi everyone, thanks a lot for your presence here. It’s such a great support for us.

    Untuk Mas Anton, saya pm yaa

  2. Anthony Lim  24 July, 2015 at 11:21

    Salam kenal Bu Astrid, saya juga domisili di Semarang. Saya seorang guru privat sekaligus Staf pengajar di salah 1 Bimbel di kota Semarang. Bisakah saya minta alamat ibu? mungikn kita bisa diskusi tentang bebearp buku atau barang2 lain yg bisa didonasikan ke Sekolah atau Yayasan yang ibu sering bantu.

  3. J C  24 July, 2015 at 05:42

    Menjadi kanal kebaikan bisa di mana saja…

  4. Dj. 813  20 July, 2015 at 01:08

    Mbak Asrida….
    Matur Nuwun mbak . . . .
    Mengenai sedekah, si sebenarnya satu hal yang bersifat suka rela . . .
    Bukan soal jumpahnya, lebih baik kecil, tapi dengan senang hati,daripada banyak dengan bersungut-sungut.
    Hahahahahahahahaha…..!!!

    Didalam iman Kristiani, TUHAN memberi contoh yang sangat bagus . . .
    Seorang janda yang memberikan 1 picis dan seorang saudagar yang memberikan kalau sekarang mungkin 1 jt picis.
    Tapi janda tersebut, yang memberi 1 picis, itu dari seluruh miliknya, sedang saidagar memberikan, mungkin hanya 1% dari kekayaannya.
    maka TUHAN memperhitungkan pemberian janda tersebut jauh lebih besar dari si saudagar.

    Dj. jujur, juga lebih sreg kalau titip orang lain, daripada saudara . . .
    Bukan tidak percaya, tapi kalau orang lain, lebih bertanggung jawab, sedang saudara,
    kadang menyepelekan dan kurang serius menanganinya.

    Salam manis dari Mainz.

  5. James  16 July, 2015 at 16:28

    hadir juga mbak Lani kamsia yah

  6. djasMerahputih  16 July, 2015 at 12:39

    Hadir… Thanks Tji Lani…
    Good Deeds…..!!

  7. Lani  16 July, 2015 at 09:35

    hadir sambil absenin trio kenthir yg lagi pd tidur

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *