Kalisuci Tubing Cave

Handoko Widagdo – Solo

 

Jalan setapak berlantai semen membawa kami turun menuju pintu gua. Cukup terjal juga punggung bukit yang harus kami turuni. Ada 102 anak tangga totalnya, sebelum kami menyentuh aliran sungai. Pohon-pohon kaliandra menemani kami menuju aliran sungai nan jernih.

kalisuci tubing cave (1) kalisuci tubing cave (2)

Di mulut gua kami mendapat briefing tentang bagaimana kami secara aman melintasi dua gua. “Duduklah di atas tali. Jangan sampai pantat merosot ya. Nanti bisa-bisa terkena batu. Kaki rileks saja. Jangan dijulurkan, tekuk sedikit saja dan hindari batu-batu. Tangan harus selalu berada di dalam ban supaya tidak kena batu,” begitulah sebagian penjelasan dari pemandu kami. Dengan pelampung, helm, pelindung lutut dan siku, kami bersiap memasuki gua pertama.

kalisuci tubing cave (3) kalisuci tubing cave (4)

“Yang berani bisa langsung lompat. Yang tidak berani bisa turun lewat tali,” sambung pemandu kami, saat kami semua sudah siap. Keponakan-keponakan saya yang sudah SMA segera saja terjun dari atas batu. Sementara saya mengawal keponakan lain yang masih kecil-kecil turun melalui tali.

kalisuci tubing cave (5)

Baru saja masuk pintu gua, kami sudah disuguhi jeram kecil. Aliran air menderas melewati dua dinding batu. Peningkatan arus ini disebabkan penyempitan sungai akibat dari dua dinding batu yang menonjol di mulut gua. Selanjutnya perjalanan dalam gua pertama berjalan lancar. Kekelawar bergelantungan di dinding atas gua. Sementara berbagai jenis ikan ikut berenang bersama kami. Lorong gua pertama berjarak sekitar 150m. Jadi saat sudah berada di dalamnya, kita bisa menikmati kegelapan gua yang dingin. Senter yang dibawa oleh pemandu, membantu kami untuk melihat kelelawar dan ikan-ikan. Dinding dan atap gua dipenuhi dengan stalaktit dan stalakmit yang tidak telalu runcing.

Tepat di mulut gua, kami disambut oleh Batu Gajah. Batu Gajah adalah stalaktit yang jatuh dari atap gua. Entah sudah berapa ratus tahun Batu Gajah (yang ukurannya lebih besar dari gajah) ini jatuh. Tepat di depan Batu Gajah sungai melebar dan dalam. Kami segera melepaskan diri dari ban dan berenang ria di sungai yang sedikit arusnya tersebut. Kami membuat berbagai formasi untuk menghasilkan foto-foto yang cantik. Pemandu kami naik ke atas tebing supaya bisa mengambil gambar kami.

kalisuci tubing cave (6) kalisuci tubing cave (7) kalisuci tubing cave (8) kalisuci tubing cave (9) kalisuci tubing cave (10)

Setelah puas menikmati dinginnya air di depan Batu Gajah, kami melanjutkan perjalanan. Pemandu kami mengingatkan bahwa di gua kedua kami akan menemui beberapa jeram. “Kalau gua pertama adalah gua horisontal, yang kedua ini bisa disebut gua vertikal. Sebab ada beberapa jeram yang akan kita lewati,” demikian penjelasan dari pemandu kami. Betul saja. Tak lebih dari 10 meter setelah masuk dari mulut gua kedua, kami sudah harus melewati jeram yang cukup terjal. Kami harus melewatinya satu per satu. Salah satu pemandu mengatur ban kami supaya bisa melewati jeram dengan arus yang sangat deras dengan aman. Sedangkan satu pemandu menunggu di bawah untuk “menangkap” kami. Setidaknya ada tiga jeram terjal di dalam gua kedua ini. Gua kedua tidak sepanjang gua pertama. Mungkin hanya 80 meter saja. Kami masih bisa melihat cahaya dari ujung gua.

kalisuci tubing cave (11) kalisuci tubing cave (12) kalisuci tubing cave (13)

Setelah keluar dari gua kedua, kami berhenti. Di depan masih ada satu gua lagi. Namun gua tersebut tidak bisa dilewati karena airnya hilang di telan bumi tepat di tengah-tengah gua. Air baru muncul lagi menjadi sungai di Pantai Baron. Tempat perhentian kami ini bagai sumur raksasa jika dilihat dari atas. Perjalanan pulang merayapi dinding sumur jauh lebih melelahkan daripada saat turun. Namun keindahan gua yang masih memenuhi benak kami membuat semangat kami terus membara untuk mencapai bibir atas sumur.

kalisuci tubing cave (14) kalisuci tubing cave (15)

Gua indah ini terletak di Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya di Kecamatan Semanu. Harga tiket hanya Rp 70.000 per orang. Harga tiket ini sudah termasuk air mineral, teh panas dan semangkok indomie yang bisa kita nikmati setelah menyelesaikan petualangan gua.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Kalisuci Tubing Cave"

  1. Handoko Widagdo  25 July, 2015 at 17:47

    Terima kasih Om Swan Liong Bie. Mari kita promosikan keindahan Indonesia.

  2. Swan Liong Be  25 July, 2015 at 17:42

    Ini kekurangan promosi pariwisata indonesia, tempat² seperti ini kan patut dipromosikan juga disamping lokasi² yang boleh dibilang sudah terkenal. Ternyata indonesia masih memiliki banyak “highlights” yang “tersembunyi” Cave in belum pernah aku denger sebelumnya. Thanks “Baltyra” (aku juga bisa memuji lho!) aku diperkenalkan dengan highlight ini!

  3. Handoko Widagdo  25 July, 2015 at 17:31

    Linda, ayo dicoba sambil membawa nasi campur.

  4. Linda Cheang  25 July, 2015 at 16:45

    seru, euy…

  5. Handoko Widagdo  24 July, 2015 at 06:48

    Kang JC, pemberitahuan tidak telat. Kunjungan ke Kalisuci menunggi si kecil sudah cukup besar untuk berenang di gua.

  6. J C  24 July, 2015 at 05:48

    Pak Hand, telat kasih tahu’nya… khan kami sekeluarga baru jalan-jalan touring ke Jawa Tengah akhir bulan lalu…

  7. Handoko Widagdo  23 July, 2015 at 10:33

    Semoga demikian Kangmas Djoko. Pangestu panjenengan akan mendukung kerukunan keluarga saya.

  8. Dj. 813  22 July, 2015 at 22:00

    Dj. senang bila melihat keluarga yang rukun bersama.
    Karena untuk Dj. keluarga yang nomor 2 setelah TUHAN . . .
    Jadi keluarga sangatlah penting . . .
    Semoga nanti, sampai anak-anak dan cucu-cucu mas handoko, selalu rukun bersama.
    Syaloooom . . . ! ! !

  9. Handoko Widagdo  21 July, 2015 at 08:24

    Avy, Lani gak berani masuk air. Beraninya naik kuda di dapur.

  10. Lani  20 July, 2015 at 22:50

    HAND : salah kayaknya bukan numpak dingklik, akan ttp nunggang jaran wae, lebih nyaman hahaha………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.