Karya yang Terlupakan Mimpi, Harapan dan Cita-Cita Seorang Anak Desa

Ratman Aspari

 

Pengantar:

AKU – Tidak menyangka, ternyata diam diam putriku yang nomor dua Nur Shabrina Rufaidah yang biasa disapa dengan nama pendeknya ‘Rina’ mengikuti jejakku, gemar membaca dan suka menulis. Kemampuannya untuk membuat tulisan yang runut, naratif, melalui daya cipta dan imajinasinya ternyata cukup lumayan, untuk ukuran anak seusianya.

Awalnya ketika saya bawakan sebuah koran harian yang ada pengumuman tentang lomba menulis, ‘Letter Writing Competition 2015’ dengan tema ‘Budayaku Identitasku’. Setelah aku sodorkan koran harian tersebut, seperti biasa, dia selalu dengan gesit membuka halaman demi halaman, melihat gambar dan membacanya, sampai ia menemukan pengumuman lomba tersebut.

Setelah itu, dia terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan, tentang apa dan bagaimana untuk bisa mengikuti lomba tersebut, setelah saya jelaskan dengan panjang lebar, sembari saya sodorkan laptopku, lantas dia terus berkutat dengan laptopnya terus mengetik, sampai menjadi sebuah naskah sebagaimana di bawah ini. Pada waktu itu, putriku masih kelas enam sekolah dasar, tinggal menunggu kelulusannya, padahal syarat untuk mengikuti lomba tersebut, minimal SMP, (saat ini sudah lulus dari sekolah dasar dengan predikat ranking satu, dan sudah diterima di salah satu SMP N di kotaku).

Bersama Ibunya Nur Shabrina Rufaidah (Rina)

Tidak begitu lama, kira-kira dalam hitungan kurang dari satu jam, dia memanggil saya, mengatakan bahwa tulisannya sudah selesai, tinggal mengirim saja. Dan mendesak saya, untuk mengirimkannya. Lantas saya baca dengan keras, di depan ibunya, ibunya tertawa, mendengarnya. Dia, mengatakan bahwa tulisanya belum ada judulnya, saya disuruh memberi judulnya.

Mengikuti Kelas Memasak2 Mengikuti Kelas Memasak1

Karena berbagai kesibukan, dan saya harus berangkat ke Jakarta, sampai penutupan lomba, tulisan tersebut urung diposkan, masih tersimpan di laptopku. Rupanya putriku tidak kecewa juga, ia terus bersemangat untuk membuat tulisan yang lainnya, walaupun di tengah jalan terkadang masih belum selesai.

Salah Satu Karya Nur Shabrina Rufaidah

Berikut karya putriku, yang sedianya akan dikirim, untuk ikut lomba tersebut :

Kebumen, 25 April 2015

 

Kepada,

PANITIA LOMBA

LETTER WRITING

Di Jakarta

Assalamu`alaikum wr.wb.

Perkenalkan namaku Nur Shabrina Rufaidah aku tinggal di Desa Banjareja RT 01 RW 05 nomor rumah 58 kode pos 54366, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Aku telah membuat suatu karangan yang menarik untuk diikutsertakan dalam lomba LETTER WRITING, inilah hasil karanganku yang berjudul

Judul………………………………….

Aku tinggal di sebuah desa terpencil. Aku adalah anak seorang petani desa di sana, biarpun aku hanya anak seorang petani desa tapi aku memiliki impian yang sangat besar yaitu memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke mancanegara.

Aku sangat senang sekali jika ada pertunjukan-pertunjukan tradisional seperti wayang kulit, kuda lumping, kethoprak, dll. Jika ada pertunjukan tradisional aku pasti selalu menyempatkan untuk menontonnya, karena sebelum aku memperkenalkan budaya-budaya Indonesia aku harus tahu dulu budaya-budaya Indonesia.

Aku pernah mengikuti kursus tari tradisional, tapi sekarang aku sudah keluar dari tempat kursus itu karena ibuku melarangnya, ia berfikir jika kegiatan itu hanya membuang-buang waktu saja. Walaupun aku baru sebentar mengikuti kursus tari itu, tapi aku sudah mahir melakukan gerakan-gerakan tarian dengan anggun, teman-temankupun sering memujiku karena gerakan tarianku yang anggun.

Bahkan aku pernah ditawarkan untuk mengikuti lomba tarian tradisional sedesa akupun memenangkan perlombaan itu aku menjadi juara harapan 1. Orangtuaku sangat bangga denganku, bahkan ibuku yang tadinya tidak mendukungku kali ini mendukungku.

Lalu karena aku menjadi juara harapan 1, aku diikutsertakan dalam perlombaan tarian tradisional sekecamatan, tapi kali ini aku menjadi juara harapan 2 karena kali ini kesehatanku kurang baik dan ada seseorang yang menari sangat anggun, tapi walaupun aku tidak menjadi juara harapan 1 aku tetap berusaha dan selalu menjaga kesehatanku.

Apalagi dengan dukungan-dukungan dari teman-teman dan orangtuaku, aku jadi lebih bersemangat untuk berlatih dan terus berlatih. Akupun mengikuti kursus menari lagi dari uang yang aku dapatkan dari perlombaan-perlombaan yang aku menangkan, sehingga aku lebih mahir dalam menari.

Saat itu aku diikut sertakan lagi dalam perlombaan yang sama tapi kali ini tingkat kabupaten, dan kali ini aku mendapatkan juara harapan 1, dan rencananya aku akan diikutsertakan lagi ketingkat yang lebih tinggi. Akupun sangat giat berlatih dan selalu menjaga kesehatanku agar tidak terjadi apa-apa lagi yang merugikan bagiku. Saat aku mengikuti perlombaan aku mendapatkan nomor urut ke 15, jadi aku harus menunggu agak lama sampai aku dipanggil dan akan pentas nanti.

Di sana banyak sekali anak-anak seumuranku yang mengikuti perlombaan ada yang berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Bali, dan masih banyak sekali. Aku senang sekali di sana karena sebelum giliranku dipanggil aku berkenalan dengan anak-anak dari provinsi lain mereka semua sangatlah ramah-ramah dan murah senyum. Sampai akhirnya aku dipanggil untuk pentas aku merasakan sedikit grogi namun setelah aku menahan rasa grogiku aku sudah tidak lagi grogi justru aku senang melihat juri-jurinya yang tersenyum kepadaku begitu pula penonton-penonton di sana yang sangat meriah mendukungku, akupun memulai tarianku dengan memberikan hormat kepada para penonton dan para jurinya diselingi dengan senyuman.

Setelah semua selesai akhirnya pengumuman pemenang saat itu aku sangat deg-degan sekali dan setelah diumumkan aku ternyata menjadi juara harapan 1 lagi, rasa deg-degan di hatiku berubah menjadi bahagia, akupun diberikan piala, mendali, sejumlah uang yang nilainya cukup besar, bahkan baju hangat karena katanya di sana akan sedikit dingin, walaupun begitu aku tidak berperilaku sombong aku tetap akan seperti diriku yang dulu dan rencananya aku akan diikut sertakan dalam lomba menari di mancanegara katanya akan diselenggarakan di kota Paris, Perancis akupun sangat senang sekali karena dalam hidupku aku belum pernah berpegian ke luar negri dan katanya aku boleh mengajak orangtuaku, akhirnya mimpiku akan menjadi kenyataan.

Akupun akan sangat giat sekali berlatih dan menjaga kesehatanku, dan di tempat kursus itu aku mendapat gerakan-gerakan tarian baru yang sangat indah dan anggun sehingga gerakan dalam tarian yang akan aku bawakan akan lebih banyak dan lama dan aku akan membawakan tarinnya dengan sebuah nyanyian yang akan diiringi dengan musik, jadi aku harus giat berlatih untuk menghafal semua gerakan yang akan aku bawakan juga menghafal lirik yang akan aku bawakan.

Akhirnya waktunya akan tiba 2 hari sebelum perlombaan akan dimulai aku pergi ke Paris, Perancis dengan naik pesawat, pesawatnya sangatlah besar dan di dalamnya sangat nyaman aku sangat takjub sekali ketika pesawat akan terbang karena aku belum pernah merasakan naik pesawat sebelumnya jadi aku sangat senang sekali.

Setelah sampai di sana aku merasa kedinginan karena di sana hawanya agak sedikit dingin, untung sebelumnya aku dan orangtuaku diberikan baju hangat dari perlombaan sebelumnya. di sana aku menginap di salah satu hotel terkenal di sana, aku senang sekali di sana, apalagi ketika aku naik lift itu adalah pertama kalinya aku naik lift, lift itu adalah sebuah ruangan agak sempit yang berguna bagi orang untuk pindah dari lantai satu ke lantai lain, dan kamarnya sangatlah menakjubkan ada sebuah TV yang agak besar di depan tempat tidur dan kuncinya bukanlah dengan sebuah kunci biasa yang dipakai orang-orang, tapi di sana kuncinya adalah sebuah benda seperti kartu yang digesek untuk membuka pintu, dan dari jendelanya aku bisa melihat semua yang ada di bawah karena aku menempati kamar yang ada di lantai atas tepatnya di lantai 24.

Akhirnya perlombaan akan segera dimulai di sana aku mendapatkan urutan yang ke 8 itu pasti akan lebih cepat dari nomor urutku sebelumnya, di sana banyak sekali anak-anak yang seumuranku dari berbagai negara dan baju yang mereka kenakanpun bagu-bagus dan indah-indah, itu membuatku jadi takut tapi orangtuaku selalu menenangkan aku di sana jadi aku tidak terlalu takut.

Aku sebenarnya ingin sekali berkenalan dengan peserta lain tapi aku tidak bisa berbicara dengan bahasa selain bahasa Indonesia, jadi aku hanya tersenyum kepada mereka. Dan akhirnya waktunya giliranku menampilkan kemampuan yang aku miliki, orangtuaku ternyata duduk di kursi penonton yang paling depan dan mereka berteriak memberi semangat padaku, seperti pada lomba sebelumnya, sebelum aku akan menampilkan kemampuanku aku terlebih dahulu memberi salam dan hormat kepada para juri dan para penonton setelah itu akupun mulai dengan tarian anggun lalu diselingi nyanyian.

Pada perlombaan itu ternyata aku mendapatkan juara harapan 1 dan menjadi juara favorit aku senang sekali sampai aku berteriak kencang, akupun pulang dengan sebuah medali emas yang cukup besar, sejumlah uang yang jumlahnya sangat besar melebihi jumlah uang yang aku peroleh sebelumnya, dan 2 piala besar yang di bawahnya ada tulisan “The Winner of Traditional Dance Competition” dan yang satu lagi tulisannya “The Favorite Winner”.

Dan waktu demi waktu aku lewati dengan mengikuti beberapa perlombaan di mancanegara sampai aku piala-piala besar maupun kecil berderet memenuhi beberapa lemari besarku juga beberapa mendali dan piagam penghargaan tergantung di rumahku.

Dan pada akhirnya aku tumbuh menjadi orang dewasa aku menjadi orang yang sukses aku telah memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara, dan setiap minggunya aku berkeliling Indonesia untuk mengenal beberapa kebudayaan yang belum aku tahu,akhirnya mimpiku menjadi kenyataan.

Itulah karangan yang aku buat, semoga menarik menurut kalian, dan bila ada perkataan yang salah tolong dimaafkan. Akhir kata saya mengucapkan Wassalamu’alaikum wr.wb.

 

Banjarja, 25 April 2015

Tertanda

 

Nur Shabrina Rufaidah

 

 

Catatan :

Penulis (Nur Shabrina Rufaedah), saat ini baru masuk di SMP N.2 Gombong, Kebumen, Jateng. Tulisan tersebut, benar hasil karyanya. Saya sebagai orang tuanya hanya memberikan pengantar dan catatan saja, tanpa mengedit/menyunting apapun. Awalnya tulisan tersebut akan diikirimkan ke panitia lomba, namun urung dikirim. Publikasi karangan ini semata-mata untuk pembelajaran dalam menulis, dan gemar membaca, bagi anak-anak seusianya.

Semoga, mimpi, harapan dan cita-citanya bisa tercapai, ya Nak..

 

 

6 Comments to "Karya yang Terlupakan Mimpi, Harapan dan Cita-Cita Seorang Anak Desa"

  1. ratman aspari  24 July, 2015 at 15:38

    Terima kasih untuk semua tim Baltyra,yang telah memberika suport luar biasa bagi kami..

  2. J C  24 July, 2015 at 05:47

    Ikut mendoakan sukses untuk ananda tercinta…

  3. James  20 July, 2015 at 10:44

    makasih bang Djas……

    hadir juga mbak Lani meski telat

  4. Lani  20 July, 2015 at 10:33

    KANG DJAS : mahalo absenannya……..dua lainnya pd kemana yah?

  5. djasMerahputih  20 July, 2015 at 09:33

    Absenin trio Kenthir…
    Lanjut terus nulisnya Sabrina…!! good job..

  6. Dj. 813  19 July, 2015 at 23:19

    Sukses selalu untuk Sabrina . . . ! ! !

    Terimakasih dan salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.