Lebaran di Kampung Kami

Hariatni Novitasari

 

Kalau Anda datang berlebaran di kampung kami, jangan berharap melihat opor ayam, rendang, ketupat, sayuran, sambel goreng hati yang mlekoh, dan sebagai macam makanan Lebaran pada umumnya berada di meja-meja kami. Lebaran di kampung kami, biasanya kami rayakan dengan sangat sederhana. Selama berlebaran di tanah air, saya belum pernah menjumpai menu yang begitu lengkap. Justru, menu lengkap Lebaran saya jumpai ketika saya berada di Amerika Serikat. Lengkap dengan ketupat, rendang, opor, sambel goreng, es cendol, dan semua masakan ada di atas meja.

kampung-kami

Setelah semalam kami sempurnakan puasa kami dengan zakat fitrah, pagi hari kami bersiap sembahyang di masjid. Nah, inilah spesialnya lebaran di kampung kami; ketika sholat berjamaah di masjid. Setiap rumah, biasanya akan membawa satu ember nasi berkat untuk kenduri. Nasi berkat ini isinya bisa nasi uduk atau nasi putih biasa dengan lauk pauk berupa sambel goreng (kentang, tempe, tahu), sedikit ayam yang digoreng atau dimasak lodho, telur dadar, mie goreng, kacang tanah/tholo goreng, dan serundeng. Setiap rumah hampir sama bawaannya. Kenduri inilah yang kami nantikan. Karena kenduri ini pula, semua orang – termasuk juga anak-anak, akan kerasan berada di masjid.

Setelah selesai sholat, kami akan bersalaman dengan para jama’ah yang ada di masjid. Kami saling memaafkan. Kami saling berurai air mata. Karena kesalahan-kesalahan kami dan karena mengingat orang-orang yang sudah tidak lagi bersama kami. Lebaran tidak pernah gagal membawa perasaan mellow. Setelah selesai bersalaman dan saling memaafkan, kami kemudian mencari tempat duduk untuk membaca tahlil. Eh, sebelumnya, kita akan mendengarkan pesan Idul Fitri dari imam sholat. Setelah itu kami baru membaca tahlil dan yasin bersama-sama.

Lalu, tibalah saat-saat yang juga kita nanti-nantikan… MAKAN NASI BERKAT! Nasi-nasi yang disimpan di dalam madrasah kemudian dikeluarkan satu demi satu dan didistribusikan kepada para jama’ah. Satu berkat biasanya untuk 5 atau 6 orang. Jangan memilih isinya karena kita tidak pernah tahu apa isinya. Kalau beruntung, ya lauknya banyak dan enak. Kalau lagi kurang beruntung, ya nasi dengan sambel goreng saja. Well, tidak ada keharusan sebenarnya nasi berkat yang dibawa isinya seperti apa. Tetapi, umumnya susunannya seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

Saya tidak tahu mengapa nasi seperti ini dinamakan dengan nasi berkat. Mungkin juga nasi yang penuh dengan berkah ya… Karena nasi yang kami makan telah didoakan. Biasanya, nasi berkat memang lebih enak dibandingkan dengan nasi-nasi lainnya yang kita makan.

Setelah nasi terdistribusi, kami kemudian mulai digging in makanan yang ada di depan kita. Paling tidak, kami membutuhkan waktu tambahan 20 menit untuk menikmati sarapan bersama-sama di masjid ini. Kemudian, membutuhkan waktu sekitar 10 menit lagi untuk mencari ember-ember kami. :). Setelah itu, kami pulang bersama-sama ke rumah masing-masing. Eh, jangan heran kalau di kampung kami, kami baru balik dari masjid pukul 08.00 WIB. Kemudian, barulah kami keliling kampung.

Ah, kalau saja ada yang ditanya apa yang selalu saya rindukan dari lebaran di kampung kami adalah nasi berkatnya. Tradisi yang mungkin sudah tidak ada di daerah lainnya. Tradisi yang mampu menggeser adat rendang, opor, sambel goreng, emping, dan makanan-makanan kelas berat lainnya.

 

Bisa juga dibaca di: http://mykepoprojects.com/lebaran-di-kampung-kami/

 

 

7 Comments to "Lebaran di Kampung Kami"

  1. Alvina VB  25 July, 2015 at 05:18

    HN: ini tradisi yg juga unik yg musti dilestarikan tuh. Duluuuu kl lebaran banyak yg ngirimin ketupat dan perlengkapnya, jadi ngangenin euy…

  2. J C  24 July, 2015 at 05:49

    Seru tenan…jadi ingat kalau di kampung dulu Lebaran, keluarga kami malah dikirimi ketupat dan opor lengkap. Di sini juga sesekali masih ada yang ngirimi…

  3. elnino  22 July, 2015 at 13:48

    Sayang gak ada fotonya, Mon… Serius pake ember? Bukan baskom gitu? Hahaha…pasti seru banget.

  4. Lani  22 July, 2015 at 01:39

    KANG DJAS : mahalo absenannya……….mana nasi berkatnya?

    HN : mencari ember-ember kami? apa maksudnya? utk apa dan diisi apa?

  5. Dj. 813  21 July, 2015 at 20:10

    Mbak HN….
    Terimakasih untuk sharingnya…
    Pertanyaan Dj. nih…

    1. Kampung kami itu dimana….???

    2. ( Setelah nasi terdistribusi, kami kemudian mulai digging in makanan yang ada di depan kita )

    Digging itu apa….???

    Terimakasih dan salam,

  6. James  21 July, 2015 at 11:18

    hadir lagi bang Djas……

    Lebaran di Kampung sih OK saja asal jangan Lebaran Kampungan saja

  7. djasMerahputih  21 July, 2015 at 10:31

    Satoe: absenin trio kenthir…!!
    Nasi BERKAT, memberkati seisi kampung… kereennn…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.