Atas Nama Kebebasan

djas Merahputih

 

WARNING!!

Artikel ini mengandung materi sensitif.

Bagi yang merasa keimanannya belum mantap mohon segera beralih pada artikel lain. Keimanan adalah sesuatu yang tak dapat diilmiahkan. Iman (faith) adalah isi sedangkan agama (religion) adalah kulit semata. Jika seseorang telah yakin bahwa istrinyalah wanita tercantik di dunia, maka penjelasan ilmiah apapun yang dilontarkan para ahli dan pengamat kecantikan tak akan pernah mengubah keyakinan tersebut.

Artikel ini hanyalah tanggapan tak langsung atas artikel sebelumnya dari seseorang yang mengaku sebagai “Atheis”.

—————————-

Bebas bicara bukan datang begitu saja, itu dibayar dengan darah beratus tahun. Bebas bicara itu hal-hal yang mendasar dicapai dalam peradaban Barat. Dari sejarah kita tahu bagaimana hidup beragama dan efeknya. Oleh karena itu respek pada agama minimal. Atau apakah agama tertentu unik dan merasa menang sendiri serta di atas agama yang lain?

Sebuah kutipan, bersumber dari tulisan saudaraku Itsmi di Belanda. Walaupun artikel utuhnya adalah respon terhadap peristiwa radikal di Perancis, tulisan ini tak akan membahas peristiwa di belakang artikel tersebut. Penulis juga tidak tertarik dengan dialektika Timur dan Barat atau Negara dan Agama. Fokus utamanya adalah kebebasan. Kebebasan versi makhluk berakal.

Kebebasan adalah hal mendasar bagi manusia. Itulah hal tertinggi yang dianugerahkan Sang Pencipta. Bahkan malaikat pun iri dengan fasilitas mewah tersebut. Namun kebebasan itu bukanlah hal gratis. Ia akan selalu berhadapan dengan sesuatu yang bernama konsekwensi. Berbeda dengan hewan yang akalnya terbatas sehingga membuat kebebasannya tak terbatas, manusia memperlakukan kebebasan dengan batas-batas yang ditentukan oleh manusia lainnya. Tentu saja, sebab manusia lain juga punya pikiran alias berakal.

img01. Kebebasan yang bertanggung jawab

img01. Kebebasan yang bertanggung jawab

Untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi (di negara tertentu justru dibiarkan terjadi), manusia berakal ini menentukan sebuah nilai berdasarkan hasrat kebebasan yang disepakati bersama. Nilai tersebut berkembang menjadi hukum setelah budaya tulis dikembangkan oleh manusia. Setiap golongan berkembang dan beranak pinak sehingga hukum pun menjadi beragam. Keteraturan administrasi mengilhami terbentuknya negara sebagai rumah besar manusia.

Hukum negara adalah pagar bagi kebebasan para warganya. Hukum (seharusnya) menjadi sarana untuk menjaga kebebasan seseorang agar tidak mengganggu kebebasan sesamanya, sekali lagi sebab mereka juga menghendaki kebebasan yang sama. Hukum membolehkan anda merokok, sebatas anda tidak menghalangi kebebasan saudara anda untuk menghirup udara segar. Hukum membebaskan anda balapan mobil, asalkan tindakan tersebut tidak membahayakan teman anda yang ingin rileks berkendara. Hukum membiarkan anda menulis atau menggambar apa saja, sejauh hal itu tidak mengganggu para pembaca untuk menikmati bacaan atau komik bermutu. Hukum tidak melarang anda untuk menikah, selama tindakan anda tetap memberi ruang bagi seseorang untuk melajang (single). Intinya, kebebasan manusia sangat dibatasi dan ditentukan oleh kebebasan manusia lain di sekitarnya. Saat anda memilih untuk melanggar batas tersebut, bersiaplah untuk menerima konsekwensinya.

Secara alami, konsekwensi dari pelanggaran terhadap kebebasan orang lain adalah setara dengan perbuatannya sendiri. Jika anda mengumpat seseorang, bersiaplah untuk diumpat. Saat engkau memukul, sangat wajar jika anda juga kena pukul. Saat anda memuji maka engkaupun pantas mendapat sanjungan. Jika kalian memberi, tentu dengan senang hati pula mereka akan menghadiahimu sesuatu.

Konsekwensi yang tadinya alami dapat berubah menjadi sebuah eskalasi tanpa kendali saat hukum gagal mencegah riak-riak pelanggaran dalam masyarakatnya (Negara ataupun Agama). Pelanggaran tanpa konsekwensi akan dianggap sebagai “kebebasan kecil”. Kebebasan semu ini akan tumbuh dan berkembang sebisa mungkin hingga suatu saat konsekwensi itu datang menemuinya. Ternyata konsekwensi itu telah pula membesar, seperti bayangan yang mengikuti pertumbuhan sebuah pohon. Tak terasa namun pasti dan nyata. Silakan membuktikan sendiri, bahwa konsekwensi akan selalu datang sebesar eskalasi pelanggaran-pelanggaran yang ditolerir sebelumnya.

img02. Pengetahuan adalah kunci

img02. Pengetahuan adalah kunci

Kebebasan tetaplah kebebasan. Kebebasan adalah hal terpenting bagi manusia. Tetapi menyadari bahwa sebuah kebebasan bukanlah sesuatu yang absolut menjadi jauh lebih penting. Sekali lagi, ini disebabkan oleh tingkatan cara berpikir manusia yang jauh melebihi hewan. Kebebasan manusia sesungguhnya berarti keterbatasan. Sebab kebebasan tanpa batas telah dimiliki oleh hewan yang akalnya terbatas itu.

Orang yang menganggap kebebasan manusia adalah absolut dan tidak berkaitan dengan urusan kebebasan manusia lain, mungkin telah menganggap orang lain di sekitarnya sebagai hewan. Atau sebaliknya, dengan tanpa disengaja ia telah memproklamirkan dirinya sebagai manusia dengan akal terbatas. Dan ketika malaikat menyaksikan manusia jenis ini, rasa iri pada kebebasan manusia akan berubah menjadi senyum kebahagiaan. Ternyata lebih aman dan sentosa jika tak memiliki kebebasan.

*****

Di tahun 1934 Soekarno sudah memperingatkan bahwa Islam agama yang berpotensi baik dan modern. Jika bisa dibebaskan dari pemikiran superioritas dan superioritas paternalistik serta mengatur kehidupan orang berlebihan yang sudah berabad-abad lalu dan tentunya dari imperialisme Arab.” Kutipan ini juga dari artikel yang sama.

Kenyataannya, sumber hukum itu ada dua. Dari pikiran manusia serta wahyu dari Sang Pencipta.

Manusia sesungguhnya adalah “robot cerdas yang fleksibel”. Sang Pencipta memberikan wahyu sebagai buku manual bagi manusia untuk mengenali dan memperbaiki dirinya sendiri. Sang Pencipta menurunkan wahyuNya setelah melihat bahwa “robot” ciptaannya telah mulai menghancurkan dirinya sendiri. Fasilitas kebebasan yang dianugerahkan Sang Pencipta rupanya telah disalahgunakan. Di antara bagian-bagian buku manual itu terdapat “warning” atau peringatan-peringatan agar manusia menghindari kerusakan sehingga tetap mampu mengelola Bumi ini dengan benar.

Dalam perjalanannya sebagian manusia justru merevisi buku manual dari Sang Pencipta karena dianggap salah dan “terlalu lengkap”. Bagian tak penting (merugikan) dihilangkan dan kemudian ditambah dengan puisi indah buatan makhluk cerdas bernama manusia. Akibat terlalu sering direvisi oleh si makhluk cerdas ini, Sang Pencipta segera menurunkan versi terakhir yang terlengkap dan memutuskan untuk menjaganya sendiri. Ini jelas-jelas tertulis dalam buku manual tersebut.

Anehnya, keaslian buku manual itu terbukti masih bisa terjaga sampai kini. Tapi, “kecerdasan” manusia rupanya masih jauh lebih tinggi dari Sang Pencipta. Kata-kata dalam buku manual tadi diterjemahkan ke dalam bahasa berbeda dengan arti dan tujuan yang berbeda pula namun dalam kemasan yang jauh lebih menarik. Akhirnya, para pencari kebenaran malah lebih tertarik dengan gaya si Penerbit (bangsa tertentu) dan Percetakan, daripada isi bukunya sendiri. Kalimat dalam buku manual tersebut dikutip sepenggal-penggal. Bahkan setiap kata akhirnya bisa berubah makna. Islam yang berarti selamat bisa berubah menjadi celaka, dosa bisa berarti pahala, membunuh bisa disamaratakan dengan jihad (membela keselamatan).

img03. Membaca terbalik

img03. Membaca terbalik

Buku manual memang masih utuh tanpa revisi, namun sayang para mekanik membacanya dengan terbalik. Akibat keteledoran ini, “robot cerdas yang fleksibel” itu makin kaku dan sulit bergerak.

Agama adalah perangkat hati dan pikiran untuk menemukan Tuhan. Tuhan tak melekat dalam agama apapun. Ketika seseorang menyebut dirinya sedang membela Tuhan saat membela sebuah agama, maka sesungguhnya ia telah menjadikan agamanya sebagai berhala baru. Sebab Tuhan akan menghadirkan diriNya langsung kepada setiap manusia yang terus berusaha mencari dan menemukanNya, melalui agama-agama yang ada. Kitab Suci adalah buku manual perjalanan anda. Kekeliruan membaca dan menafsirkan kitab suci akan menghadirkan resiko tersendiri dalam perjalanan kita.

Itulah gambaran yang diungkapkan oleh Bung Karno pada tahun 1934. Buku manual itu jangan anda baca dalam keadaan terbalik…!! Sehingga Keterbatasan itu tidak kalian atasnamakan sebagai Kebebasan atau sebaliknya, membuat sekelompok orang Bebas untuk Membatasi segala sesuatu berdasarkan logika dan pikiran mereka sendiri (superioritas paternalistik).

 

Salam Kebebasan,

//djasMerahputih

——————————–

Mohon maaf jika ada yang merasa tak nyaman dengan tulisan ini.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

29 Comments to "Atas Nama Kebebasan"

  1. Itsmi  2 August, 2015 at 13:11

    JC, kalau kamu liat apa yang di muat di TV seperti satire mengenai kerajaan, nangkring di atas patung tidak ada arti….

    Kalau nangkring di atas patung mungkin kena denda karena merusakannya….dan patung itu dibuat dari uang pajak rakyat….

  2. djasMerahputih  1 August, 2015 at 09:05

    Thanks mba Al…
    Free speech doesn’t mean careless talk…!! Semua ada konsekwensinya…

  3. Alvina VB  1 August, 2015 at 08:54

    Kedengerannya cliche, ttp kebebasan musti dibarengin dengan tanggung jawab masing2 individu.

  4. djasMerahputih  1 August, 2015 at 08:11

    Yang jelas kebebasan ala manusia dan kebebasan ala hewan sangat jauh berbeda.
    Pertanyaannya balik ke diri sendiri, sesungguhnya kita ini hewan apa manusia sih..??

  5. J C  31 July, 2015 at 08:28

    Mana ini Itsmiiiiii…

  6. J C  31 July, 2015 at 08:27

    Ini ada berita:

    http://travel.detik.com/read/2015/07/31/071541/2979624/1382/kisah-turis-tiongkok-yang-dilarang-traveling-10-tahun

    KEBEBASAN toh? Kenapa tidak boleh? Makanya China dapat cap tidak ada kebebasan berekspresi, toh tidak merugikan orang lain, kenapa tidak boleh. (Ini pasti kata Itsmi). Pertanyaan yang sama: kalau ada turis datang ke Belanda, terus nangkring/hinggap di atas patung Ratu atau siapa dah, bikin foto seperti dalam artikel itu, aku yakin juga pasti ditangkap polisi atau masyarakat Belanda akan tidak terima dan tersinggung. Pertanyaan yang sama: kenapa tidak boleh, khan kebebasan berekspresi, toh tidak merugikan orang lain…

  7. djasMerahputih  30 July, 2015 at 20:29

    Betul Kang JC, namanya juga manusia, kadang2 kebablasan.
    Euforia reformasi saja sudah membuat kita bingung, kebebasan mutlak ternyata bisa melukai diri sendiri.
    Membebaskan anak kecil menyetir mobil di jalan umum contoh kecilnya..
    Dalam hal ketatanegaraan, otonomi daerah diartikan sebagai; korupsi bebas dilakukan asal di wilayah sendiri… (?).

  8. J C  30 July, 2015 at 10:29

    Sering sekali para “pemuja kebebasan” lupa, bahwa tidak ada kebebasan yang mutlak sebebas-bebasnya, sa’karep-karepe dhewe, mau apa saja, mau ngomong apa saja, mau nulis apa saja, yang lain tidak boleh marah atau tersinggung. Sering para “pemuja kebebasan” lupa bahwa kebebasannya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Tulisan apik, Kang djas!

  9. djasMerahputih  27 July, 2015 at 20:06

    ITSMI:
    Djas, problem besar dari pemikiranmu, itu tergantung siapa yang berkuasa…. kata lain kehendak penguasa itu kehendak Tuhan contohnya negara yang berdasarkan sharia…
    —————–
    Negara selayaknya dikelola berdasarkan azas kemanfaatan bersama. Agama menyempurnakannya dengan nilai-nilai ketuhanan, berupa ritual-ritual pencerah kebudayaan. Negara bersifat administratif sementara agama mengakar pada substansi kemanusiaan.

    Syariah bisa saja diterapkan pada masyarakat dengan kebudayaan yang tidak berbenturan dengan sistem tersebut, seperti di negara-negara Arab misalnya. Untuk Indonesia, syariah memiliki ruang sempit untuk mengakomodasi keragaman kultur masyarakat nusantara. Indonesia bukan negara agama, tapi sebuah negeri berTuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.