LAAA…UUUT

Asrida Ulinnuha

 

Melihat anak-anak kecil yang bermain air berwarna kecoklatan di kubangan tanah setelah turun hujan, mengingatkanku pada masa kecil. Sekarang aku masih kecil sih, tapi pastinya bukan anak-anak lagi…hahaha…

Daerah tempatku tinggal di Tanah Kusir Kebayoran Lama dahulu adalah tempat yang cukup tinggi dibandingkan wilayah lain di Jakarta. Konturnya naik turun sedikit berbukit serta masih banyaknya kebun berpohon rindang, membuat tempat tersebut nyaman dan menyenangkan.

Setiap turun hujan, aku suka sekali menghirup aroma tanah basah yang menurutku gurih manis. Biasanya aku akan duduk di tepi jendela menghirup kuat-kuat udara beraroma tanah sepuasnya. Itu juga tetap kulakukan saat terjebak (atau menjebakkan diri) di rumah tetangga, asyik bermain tapi tak sempat (seringnya sengaja) pulang karena keburu hujan. Kami pun akan beramai-ramai duduk di tepi jendela, memandang hujan yang deras sambil mengobrol tak penting yang seringnya berisi cerita khayalan, jangan protes…maklum kan masih anak-anak. Yang lebih asyik, kadang kala kami makan ubi hangat yang digoreng mamah (mamahnya teman).

Pernah suatu ketika aku ikut bersama kawan-kawan main di lapangan yang tanahnya seketika berlumpur bersama hujan yang menderas. Kami main seluncuran di tanah yang licin seolah-olah sedang ski, atau melukisnya, atau menggali dengan batu dan jari membuat alur seolah itu sungai yang berakhir di bendungan, atau…banyaklah, apapun dapat kami mainkan. Pulangnya, ibuku akan mengomel panjang melihat aku yang basah kuyup dan kulit telapak tangan keriput semua, juga baju yang berubah warna jadi coklat, “…kamu itu main hujan apa habis berendam dalam tanah?”

Sangking panjangnya mengomel, aku tidak ingat apa persisnya yang diucapkan ibuku. Sambil melepaskan pakaianku, mengomel; lalu berjalan ke dapur masih bersuara; menjerang air untukku mandi dan membuat teh panas untuk kuminum, masih mengomel; saat aku mandi tetap mengomel, katanya mandiku lama sekali karena sambil melamun, “…ga ngelamun! Tadi cuma ngaduk air di ember biar ga panas…” protesku datar, sungguh alasan yang tidak bisa diterima ibuku.

Setelah mandi, minum teh hangat dan makan, lalu aku biasanya akan lupa kalau ibuku tadi mengomel dan melarang main hujan lagi, selamanya. Lain kali aku akan tetap main hujan juga.

Menjelang kelas tiga SD aku dimasukan ke Madrasah, atau sekolah mengaji kadang kami sebut. Pagi sekolah SD dan siangnya lepas Dhuhur berangkat sekolah Madrasah. Madrasah Istiqomah, tempatku sekolah siang, letaknya di wilayah Jalan Delman yang posisinya agak tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya, berbukit dan berjalan menanjak untuk mencapainya. Aku tidak suka hujan turun saat siang masih di Madrasah, di samping tidak bisa mencium aroma basah tanah lapang — juga karena aku akan sangat mengantuk –tekluk.

Terbebas dari jam belajar semua anak kecil pasti suka, jadi hujan atau tidak, waktunya pulang adalah saat paling menyenangkan. Setelah hujan deras sepanjang siang, aku dan kawan-kawan yang rumahnya searah akan sepakat pulang lewat jalan yang sama, yaitu melewati Sekolah Balet Ade Rayani, bukan untuk menonton orang latihan balet, apalagi ikut latihannya. Menuju sekolah balet tersebut, kalau dari Madrasah, jalannya menurun, di ujung turunan jalanan sedikit bergelombang seperti bukit kecil (bukan polisi tidur).

tepi pantai

Tahukah? Setelah hujan tempat yang bergelombang tersebut seolah berubah menjadi kubangan besar, kalau berdiri di tengah kubangan tinggi air sampai hampir selututku saat itu. Tepian air kubangan kami pikir indah sekali, kadang bergerak bergelombang kecil ditiup angin. Kami sepakat itu seperti ombak pantai….waaahh!

Setelah hujan, di sore yang menjadi cerah, sepulang sekolah Madrasah, kami semua berhamburan berlari menuruni jalan menuju kubangan sambil berteriak, “…laaa…uuuuttt…,” lalu berlompatan saling memercik air, kadang-kadang pakai gaya seolah sedang berenang dan lupa kalau seragam kami berwarna putih.

 

 

11 Comments to "LAAA…UUUT"

  1. Linda Cheang  25 July, 2015 at 12:15

    aku pasti suka laut karena aku anak gunung

    *nyambungin yang nggak nyambung, hihihi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *