Film Cerita dari Lapak: Voice of The Voiceless

Alfred Tuname

 

Menikmati dan membaca film adalah operasi segenap indera untuk menangkap gerak dan suara dalam bingkai cahaya yang mengalirkan rasa dan makna. Maka menikmati film bisa tidak berhenti pada rumus-rumus teknis sinematografi dan selera subyektif; bagus atau tidak bagus. Meksipun itu, kita tetap harus mengakui soal selera tak bisa diperdebatkan (de gustibus non est disputandum).

Melampaui soal selera, membaca film Cerita Dari Lapak adalah menapak jejak-jejak makna sekaligus mencari gugus-gugus persoalan realitas socio-economico-politic pada pentas lokal. Sebagai sebuah film dokumenter (documentry film), film Cerita Dari Lapak mencoba mengangkat persoalan rutin berurusan dengan “rongga perut” manusia, pasar tradional. Tetapi mengapa film?

***

Film Cerita Dari Lapak merupakan karya menarik Komunitas Mata Rantai dan Sunspirit for Justice and Peace, dan disutradarai oleh Indri Safitri Rahayu. Ia sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 2, Nggorang, Labuan Bajo, kelas III. Film merupakan film pendek dan diproduksi pada tahun 2015. Secara garis besar, film pendek ini bercerita tentang keluh kesah para ibu pedagang di pasar Waesambi, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. Keluh-kesah tersebut muncul dari pengalaman primer yang mereka alami di pasar.

Di pasar Waesambi itu, ibu-ibu pedagang harus berjuang melawan kemiskinan demi kebahagiaan keluarga, setelah mereka ditinggalkan suami, baik lantaran meninggal dunia atau pun cerai. Ada pun ibu-ibu yang harus menopang pendapatan suaminya yang berprofesi sebagai tukang ojek. Di samping itu, mereka juga harus berhadapan dengan kebijakan pemerintah daerah. Pemerintah daerah dianggap kurang memperhatikan nasib para penjual di pasar. Maka film Cerita dari Lapak merupakan artikulasi para ibu di pasar, voice of voiceless, dengan pemerintah daerah sebagai titik tembak.

cerita dari lapak

***

Film adalah anak kandung poetic culture yang bersilangan dengan rasa, imajinasi dan idea dalam satu paket gambar, gerak dan suara. Dalam culture poetic, film memanfaatkan bahasa ruang publik dalam bentuknya yang paling arkhais. Dalam film Cerita Dari Lapak, bahasa ruang publik didengungkan secara konkret dan natural. Maka realitas film pun adalah realis konkret dalam imaji spectator (penonton). Artinya, menonton film Cerita Dari Lapak adalah “menonton” ulang laku bicara-tindak kita melaui wajah-wajah aktor. Tatapan (gaze) film adalah mata spectator melalui lensa yang arahkan sutradara.

Saat itulah, film membidani simpati dan empati pada spectator. Itu hanya akan terjadi bila sentuhan nurani kemanusian melampui busana kepentingan dan golongan. Film Cerita Dari Lapak telah berhasil (setidaknya bagi penulis) memproduksi rasa kemanusian itu pada indra kita. Rasa kemanusiaan itu lahir dari proses “penelanjangan” spectator untuk melepas busana dangkal kepentingan dan golongan.

Sebab itulah, film itu sendiri adalah pervert art (istilah Slavoj Zizek). Bahwa, film persis tidak dibuat untuk memenuhi hasrat (desire) spectator, melainkan “mendemonstrasikan” cara berhasrat. Manakala hasrat adalah titik episentrum gerak seismik kehidupan manusia (skema psikoanalisa Freudian), film Cerita Dari Lapak menuntun kita pada serial kastrasi (pengebirian) “hasrat” ekonomi pada kesejahteraan bersama.

Maka masuklah kita pada prosa buruk negara (state) dan kewargaan (citizen) dalam lorong-lorong pasar. Di pasar, memang tidak ada persoalan “chaotic” berkenaan dengan konsep kewargaan. Bahwa setiap warga negara berhak melakukan aktivitas ekonomi (bisnis) dalam pasar. Sejauh narasi dalam film Cerita Dari Lapak, persoalan kewargaan sudah tuntas di pasar Waesambi. Sebab, konsep kewarganegaraan tidak berhubungan dengan etnik, kelompok dan agama.

Kewargaan hanya memanen persoalan bila dihadapkan dengan negara sebagai penguasa dalam sengkarut pasar. Ternyata pasar bukan lagi locus pembeli dan penjual, tetapi juga ada tapak-tapak simptomatik “penyamun” pada alas-alas pasar. Pada alas tapak-tapak penyamun itu, kewarganegaraan berjibaku dengan fundamen-fundamen ideologis yang integral dengan laku pasar bebas. Persisnya, negera benar-benar membiarkan “pasar” bekerja sendirian. Dalam arti yang sebenar-benarnya, pasar benar-benar tidak diurus. Dari film Cerita Dari Lapak, tampak jelas operasi rasionalitas intrumental, bahwa pembangunan fisik pasar benar-benar sekadar “proyek” menyamun uang APBD. Selebihnya, pasar tradional dibiarkan berkembang sendirian minus fungsi manajerial dan kontrol pemerintah. Bersamaan dengan itu pula, para penjual di pasar dipermainkan seperti keping karambol tanpa diberi akomodasi tempat berjualan yang pasti. Tetapi mereka terus diminta retribusi pasar; sebuah kewajiban tanpa imbangan neraca hak yang adil.

Mekanisme kontrol kebijakan harga pun ikut tidak pasti. Khusus untuk komoditas pangan seperti beras, pemerintah tidak menetapkan floor and ceiling price policy. Boleh jadi, karena fungsi Dolog (depot logistik) dan kebijakan pertanian tidak diurus secara becus. Akibatnya, pembeli dan penjual pun sama-sama gigit jari dan semakin menderita. Persoalan berkaitan dengan kebijakan dan distribusi ikan dan sayur-sayuran nyaris persis sama.

Siklus penderitaan penjual di pasar pun tidak berhenti. Ada beban sosial dometik lain yang harus ditanggung serta. Para ibu penjual (dalam Cerita Dari Lapak) harus menanggung double burden, baik sebagai penopang ulung keluarga sekaligus perawat keluarga. Derita traumatik ini membuat para perempuan (ibu-ibu) semakin menyingsingkan lengan baju untuk melawan beban sosial (pendidikan anak, janda-cerai) dan ekonomi (kemiskinan).

Bagi para perempuan itu, trauma hanya akan terobati dalam kebahagiaan keluarga. Kebahagiaan keluarga tentu merupakan manifestasi dari keadilan sosial dan ekonomi pada titik yang paling inti. Sayangnya, keadilan sosial dan ekonomi ini hanya serupa puisi panjang demokrasi ekonomi, sebab kebijakan ekonomi mikro nyaris lapuk dalam batok kepala pembuat regulasi (pemerintah daerah). Regulator masih telampau sibuk dalam urusan makro ekonomi dan kekuasaan. Regulator terlampau jauh membiarkan “natural fallacy” (istilah F.A. von Hayek), yakni telalu banyak menerima investor asing demi PAD (Pendapatan Asli Daerah) tetapi melupakan keadilan sosial. Warisan nalar pembangunan ekonomi “Orba-is” ini masih kuat dalam tubuh pemerintahan daerah.

Maka melalui film Cerita Dari Lapak, para spectator diajak untuk tidak saja berempati tetapi juga menstimulasi cara berpikir untuk keluar spektrum nalar “Orba-is”, seraya mentrasformasi kewargaan menjadi sebuah kekuatan sipil. Yakni, sebuah subject position untuk melawan semua langgam pemiskinan sistemik yang merusak fundamen-fundamen kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Cerita para perempuan penjual dalam Cerita Dari Lapak adalah cerita tentang kita dan realitas kita. Sebab, mereka adalah aktor yang merepresentasikan kita. “A person, is the same time that an actor is, both on the stage and in common conversation; and to personate, is to act, or to represent himself, or another…”, demikian tulis Thomas Hobbes (1987). Akhirnya, setiap derita menjadi tertangguhkan tidak hanya menjadi cerita, malainkan harus menjadi ajakan aktif untuk bertindak dalam laku tutur, pikir dan tindak kita.

 

Ruteng, 2015

Alfred Tuname

 

-pasar bersih watucermin

-komunitas mata rantai

-pasar waesambi

-Edward Angimoy dan Indri Safitri Rahayu

 

 

4 Comments to "Film Cerita dari Lapak: Voice of The Voiceless"

  1. J C  30 July, 2015 at 10:29

    Film pendek ini memang apik…

  2. Muhamad Hamka  29 July, 2015 at 21:00

    Ulasan bung Alfred cukup renyah sekaligus menohok kemanusiaan kita. Saya setuju, bahwa Paradigma pola pembangunan di tubuh pemda yg masih cendrung project oriented adalah salah satu problem yg membuat neraca keadilan (di pasar tradisional) menjadi bopeng. Apreasiasi yg tinggi untuk koa momang Indri Safitri Rahayu (Isra) dan terimakasih yg tulus untuk semua mentor yg telah membimbing dan menggali potensinya Isra. Salam

  3. Dj. 813  27 July, 2015 at 23:58

    Bung Alfred Tuname . . .
    Terimakasih sudah mengingatkan dengan film yang sangat bagus . . .
    Dj. sangat senang melihat kehidupan dalam pasar traditional . . .
    Dj. dulu selalu pikir, mereka adalah orang-orang yang berbahagia.
    Karena berjualan dengan tidak memaksakan diri.
    Tidak laku hari ini, bisa dijual besok atau lusa . . .
    Tapi setelaj melihat film dokumantasi diatas, jadi kasihan juga, karena satu perjuangan yang berat.
    Semoga satu sat, mereka mendapatkan kemudahan.

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. djasMerahputih  27 July, 2015 at 20:17

    Satoe: absenin trio kenthir…

    Pasar tradisional, terus berjuang melawan zaman.
    Di pasar ini tak hanya sekedar bertransaksi, tapi disertai interaksi sosial antara penjual dan pembeli, sesama pembeli maupun sesama penjual (kultur Timur). Di pasar moderen, yang penting duitnya sudah masuk, peduli amat sama urusan lain (kultur Barat).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.