Kontinuum – Mengenang dan Menghantar Seorang Sahabat

Iwan Satyanegara Kamah, Josh Chen & Handoko Widagdo

 

Kita semua di sini kehilangan sosok yang luar biasa dari seorang cik Liliani Kuswardani. Aku sangat sedih dan shocked mendengar kabar ini dari Tessa Ayuningtyas Sugito di Group Baltyra Whatsapp tadi pagi (22 July). Rasanya lemes semua dan rasa kehilangan yang amat dalam. Waktu telepon Tessa, aku sendiri tidak kuat menahan tangis dan segera menutupnya tadi pagi.

Kenangan luar biasa dari cik Lili sekeluarga, koh Agus, Tessa dan Harun. Pertemuan awal yang “aneh”. Aku ketemu koh Agus waktu stranded di Bandara Polonia Medan delay penerbangan ke Jakarta selama berjam-jam. Masih lekat dalam ingatan, bagaimana aku mendengar logat medok koh Agus dan teman-temannya. Mereka adalah dari gereja yang sedang habis berkunjung ke Nias setelah gempa bumi. Aku sapa koh Agus, berbincang akrab segera. Ternyata koh Agus dan cik Lili adalah pemilik Pondol Es Cendol yang sudah aku kenal sejak 1997 waktu pertama kali merantau ke Jakarta. Aku sering makan di Pondol Grogol dan baru ketemu para pemiliknya bertahun-tahun kemudian.

pondol

Sejak itu persahabatan dua keluarga kami terjalin luar biasa. Entah berapa kali kunjungan cik Lili dan koh Agus berdua ke rumah, begitu juga kami sekeluarga ke Pondol Grogol dan Tanah Abang tempat “inofficial markas BALTYRA” dimana entah berapa kali sudah jadi tempat ketemuan dari tahun ke tahun. Lebih terkaget-kaget lagi ketika tahu di waktu yang berbeda ternyata cik Lili adalah sobat baik sejak TK si Lani di Kona, ternyata dunia sungguh kecil.

Entah berapa kali cik Lili dan koh Agus tukar pikiran mengenai Tessa dan Harun, bagaimana kuliah mereka. Dan akhirnya Tessa mengepakkan sayap ke Eropa selama beberapa tahun di Belanda dan Finlandia, sementara Harun mengepakkan sayap ke MIT di Amerika. LUAR BIASA cik Lili dan koh Agus sebagai orangtua! Tessa dan Harun sungguh kebanggaan mereka berdua dan entah berapa kali orangtua yang sederhana ini bercerita tentang anak-anaknya dengan penuh kebanggaan tapi sungguh dengan kerendahan hati yang tulus.

Kata cik Lili: “Aku dan koh Agus ki sopo to, Ji. Bukan turunan konglomerat, bukan turunan jenius, heran, bangga, anak-anak iso sekolah duwur-duwur kabeh dan beasiswa kabeh. Ora pernah wani ngimpi, tenan!”

Betapa bersemangatnya cik Lili dan koh Agus bercerita Harun memenangkan medali emas Olimpiade Biologi di Korea dan mendapatkan tawaran beasiswa dari mana-mana. Masih jelas ingatanku bagaimana kuatirnya mereka berdua ketika Harun menolak semua beasiswa yang sudah keluar pengumumannya karena hanya menunggu pengumuman beasiswa dari MIT. Aku bilang: “wis lah koh Agus, cik Lili, biar saja bocah-bocah yang menentukan langkah mereka sendiri, sebagai orangtua kita hanya mengiringi doa saja apa yang terbaik buat mereka”. Dan ternyata Harun diterima di MIT. Masih ingat jelas bagaimana cik Lili dan koh Agus menelepon mengabarkan kabar gembira ini.

Belum lagi cerita tentang si Tessa yang membuat si Mbok kuatir karena keteledoran dan kesleborannya. Aku selalu bilang: “sudahlah…ben mabur sing adoh sisan golek ilmu, setelah Holland, mana yang bisa dapat beasiswa lagi, mabur sing adoh sisan, jangan tanggung, ben entuk pengalaman luas.”. Cik Lili hanya komentar sambil ketawa-ketawa: “dasar edian, malah nganjuri kok makin adoh”.

Kenangan lain lagi adalah NASI TUMPENG dan macam-macam bubur bikinan cik Lili untuk 2 anak kami merayakan ulangtahun ke 8 yang di keluarga kami dirayakan khusus dinamakan SEWINDU. Dua tumpeng anak mbarep dan tengah semuanya dari Pondol…2010 dan 2012 tumpeng Pondol mengiringi anak-anak merayakan Sewindu mereka…

SELAMAT JALAN cik Lili! Doa kami sekeluarga mengiringimu kembali ke rumahNYA. Koh Agus, Tessa, Harun, big hugs from our family!

– JC –

 

 

KONTINUUM

BILA eksistensi manusia ini dilukiskan sebagai garis berkelanjutan (kontinuum), maka kematian hanyalah sebuah titik dalam garis itu yang menandai perpindahan dari satu fase ke fase yang lain.

Hari ini saya harus datang mengantar sahabat yang sangat baik, Tji Liliani Kuswardani menuju fase kehidupan yang lain, yang lebih baik dan lebih damai. Tji Lilik (saya biasa menyapa) dikremasi 26 Jul 2015 di Heaven Funeral Home, Pluit.

pondol01 pondol02 pondol03

Sudah 5 tahun lebih mengenal sosok Tjik Lilik, pemilik resto ‘Pondol’ Pondok Es Cendol. Menyajikan masakan khas Jawa Tengah dari racikan Tionghoa Peranakan. Ada di Grogol. Tanah Abang dan Megaria (ditutup 2013 dan ditempati Pekpek Megaria) Enaknya minta ampun. Beberapa kali kami makan di tempat itu bila ada teman lama dunia maya dari luar Indonesia pulang kampung, Tjik Lilik juga yang mengenalkan saya tiwul instan (enaknya minta ampun). Kalau pulang setelah membeli beberapa penganan, biasanya beliau memberi saya beberapa oleh-oleh untuk di rumah. “Ini roti dagangannya bapaknya Angel Cherrybelle. Buat anak-anakmu di rumah”. Tjik Lilik saat itu tahu dari sering ngobrol bahwa anak-anak saya penggemar Cherrybelle saat itu.

Berbincang dengan beliau pasti soal pendidikan. Bukan kuliner. Karena dua anaknya bersekolah di AS dan Finlandia dari beasiswa. Mengasyikkan. Terbuka dan sangat menghargai orang lain dalam pencapaian yang dikerjakan.

Suaranya medhok dialek Jawa Purworejo dan selalu keluar kata-kata riang dan positif dari bicaranya dan jenaka penuh humor. Semua orang yang baru dikenalnya secaa baik dan intens, dianggap seperti sebagai keluarga. Dan saya merasakannya.

pondol04 pondol05 pondol06

Membanggakan bisa berkenalan dengan orang baik, seperti dengan Tjik Lilik. Bila kelak saya menyusul beliau, saya akan bilang kepada Tuhan, bahwa hidup saya di dunia sangat menyenangkan, karena memiliki teman-teman yang baik di dunia.

pondol07 pondol08 pondol09

Selamat jalan Tjik Liliani Kuswardani. Kita akan bertemu kembali.

– ISK –

 

Saya hanya bertemu 4 kali. Itu pun hanya beberapa jam saja setiap pertemuannya. Namun kebaikannya telah membuat saya mengaguminya. Bahkan cara dia memperlakukan teman-teman dan keluarganya telah menginspirasiku untuk berbuat yang sama.

Dia tidak pernah melihat sisi jelek orang lain. Siapapun yang datang kepadanya diperlakukannya seperti saudara. Disambut, diperlakukan dengan sangat baik. Disuguhi makanan dari restorannya.

pondol10 pondol11

Dia juga menjadi teman yang mengapresiasi apa yang dilakukan orang lain. Saat saya ceritakan tentang orangutan, minatnya begitu tinggi. Dia menyimak dengan baik foto-foto orangutan yang saya tunjukkan. Sejak itu sering kali dia memanggilku dengan “Bapaknya orangutan.”

pondol12 pondol13 karangan-bunga

Beberapa hari yang lalu dia posting “Sang Penerus” di FB-nya. Dia mengomentari anaknya dalam pose sebagai wartawan kuliner. Dan menyebut anaknya sebagai generasi penerus. Ketika aku sambut postingnya dengan kalimat: “Sang penerus akan bersama dengan Sang Penebus dalam mengurus lurus.” Dia menjawab: “Tq semuaaaa… Semoga semua lancarrr hehe…”

Iya Cik, engkau telah menyiapkan segalanya. Seakan engkau sudah tahu jalanmu. Saya yakin semuanya akan lancar. Selamat jalan Cik Liliani Kuswardani, bebahagialah bersama Allah di Sorga.

– Handoko Widagdo –

 

 

33 Comments to "Kontinuum – Mengenang dan Menghantar Seorang Sahabat"

  1. Nur Mberok  26 August, 2015 at 11:50

    Rest in peace cik Lili.

    Terimakasih buat persahabatan yang indah….

  2. Handoko Widagdo  2 August, 2015 at 15:09

    Mbakyu Nunuk, jalan hidup orang tak ada yang tahu. Cik Lili telah menjalani hidupnya dengan sangat baik.

  3. nnk  31 July, 2015 at 15:22

    Dear all, meskipun belum mengenalnya secara pribadi, dari jauh saya turut menyampaikan Rasa Duka yang mendalam atas berpulangnya Zus Liliani. Semoga arwahnya diberikan tempat yang selayak mungkin di sisiNYA. Amien. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi semuanya. Amien.

    Ps. Dimas JC mijn beste. Saya jadi ingat telefoon dimas, satu atau dua hari sebelum acara Ngunduh Mantu anak saya di Jakarta. “… Kita bisa kumpul bersama beberapa teman di Rumah Makan Liliani . Kalau ada waktu kosong sehari sebelum atau sesudah acara Ngunduh Mantu…”
    Sayang sekali waktu dan kesibukan yang tidak mungkin untuk melaksanakannya. Rupanya memang belum dan tidak bisa mengenal zus Liliani.

    Selamat berweekend dan geniet er van… gr n kus nnk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.