Persinggahan

Dian Nugraheni

 

Aku pernah merasa kecil hati karena nyaris “kehilangan” Cedar, sampai dia usia kira-kira kelas V SD. Kehilangan itu karena waktu itu kami tinggal dalam keluarga besar yang hangat dan sangat pemurah. Terhadap anak-anak, prinsip yang ada adalah, setiap permintaan, keinginan, harus dipenuhi. Bahkan sebelum meminta, sudah ditawari duluan, “biar senang hatinya, dan lebih pede..”

Sementara prinsipku, untuk mencapai kesenangan apa pun, ya harus berjuang dulu. Perkara perjuangan itu keras, sedeng, atau light, lain lagi masalahnya. Juga aku mengerti, bahwa ada saatnya ketika anak mendapat “hadiah” tanpa meminta lebih dulu.

Nah, “tarik menarik” antara lingkungan yang sangat pemurah, dan aku, Ibunya yang selalu dengan pertimbangan inilah, yang akhirnya membuatku “kalah”. Peranku sebagai Ibu, lemah, kedudukanku sebagai seorang Ibu, nyaris menjadi pelengkap saja. Cedar yang borju dan banyak pengen, selalu punya andalan, “Kalau Mamah ga belikan, aku minta sama bla..bla..bla..”

dian-nugraheni01 dian-nugraheni02

Sampai…, kami “singgah” tinggal di Amrik, tepat ketika Cedar masuk kelas VI SD. Dan tau sendiri kan, kehidupan kami di Amrik bukanlah mudah. Setiap langkah adalah hasil dari perjuangan murni. Mental kami juga di”bantai” oleh empat musim yang dengan sangat ekstrem datang bergantian. Pendidikan tentang “budi pekerti” di Amrik, ternyata jauh lebih sangat tegas, meski disampaikan dengan nice, dan hasilnya pun, sungguh di luar dugaan. Cedar yang dulu selalu enjoy dengan keadaannya yang berada di atas awan, sedikit demi sedikit, akhirnya “kehilangan” penampakan yang demikian dan kembali “menginjak” bumi…

Kini, Cedar adalah anak muda, usia 17 tahun (Alhamdulillah), yang “terasah” batinnya, sehingga dalam usianya yang demikian muda itu, bagiku, sungguh membuatku sangat “bergantung” padanya.

Kadang, ketika kami sedang santai, aku ingatkan kembali sikap, dan gaya si kakak sewaktu kecil, yang kadang sangat menyakitkan aku sebagai ibunya, tapi ternyata dia nggak ingat sama sekali, “masa iya sih, Mah..?” katanya begitu, sambil tertawa dan memeluk dan menciumiku, seolah berkata, “maaf ya Maaah…”

tumpeng tumpeng-and-kue

Cedar memelukku bahkan ketika kami tidur malam. Dia selalu mengambil alih untuk menyelesaikan masalah bila Mamahnya “mati gaya” alias nggak tau harus gimana. Dia berkomunikasi dengan pihak luar dengan sangat dewasa.

Aku berhutang budi, hutang kasih sayang, dan hutang menciptakan kebahagiaan, kenyamanan kehidupan, dan seterusnya pada Cedar, dan juga pada Alma sang Adek, tentu saja. Dan sering kali, aku hanya bisa bilang maaf…

Selamat ulang tahun, Kakak Cedar, Sayang…Sehat, panjang usia, jadi anak yang baik, shalihah, senang hatinya, selalu berada dalam lindungan keselamatan dari Allah Tuhanmu…

Terimakasih, untuk selalu sayang sama Mamah dan Adek..Allah Tuhanmu akan menggantikan semua pengorbanan dan kerja keras Kakak dengan kebahagiaan yang mulia…amiin…

 

 

7 Comments to "Persinggahan"

  1. J C  30 July, 2015 at 10:32

    Yang namanya BUDI PEKERTI inilah yang sudah semakin hilang di Nusantara, digantikan oleh budi pekerti versi padang pasir yang sering salah kaprah, hanya sesuai dengan standar padang pasir yang sering berpatokan seputar selangkangan belaka…(bukan generalisasi, tapi “SERING”. Dan semakin banyak kelompok yang berkeyakinan dan sudah merasa punya surga kalau menerapkan segala hal yang berasal dari padang pasir ini…

  2. Dian Nugraheni  28 July, 2015 at 18:28

    Donald, djasMerahPutih, Oom Dj, cik Lani, terimakasih sudah siggah di persinggahan, bersyukur Cik, singgah di tempat yang lebih nggenah pendidikan budi pekertinya, di mana lingkungan juga sangat kuat mendukung ke arah itu..he2..Donald, banyak yang dilihat “salah” dari kejauhan yaa..enggak sih 100% bagus, semua ada kurangnya, tapi soal pendidikan budi pekerti, tentang emosional, pokoknya aku thankful banget..sama dengan Cik Lani, sebagi orang dewasa juga aku mulai belajar dari nol lagi di sini..

    Oom Dj, he2..walah Maknya senang dibilang Kakak Adik..
    djasMerahPutih, benar, Alam membentuk manusia sesuai dengan karakter lingkungan di sekitarnya, jadi bersyukur kalau pas berada di “alam” yang lebih mulia penghargaan terhadap manusia di dalamnya…

    All friends di Baltyra, makasih banyak doa, dan semangatnya buat Cedar dan keluarga kecilku yaa…Love all as always, cuma suka kurang waktu aja buat komen2..he2..

    Salam hangat kami ya..

  3. Lani  28 July, 2015 at 03:49

    DIAN : menarik membaca perjalanan anak sulungmu. Apakah dgn kata lain, kamu mengucapkan terima kasih pd negara keduamu, yg disebut paman Sam???? Krn ikut andil, mendewasakan Cedar???

    Hal itu pernah kualami masa kecilku di Indonesia, tdk pernah merasa kekurangan, akan ttp mama mendisiplinkan kami, bhw PRT bukanlah utk menjadikan kami anak2nya bak puteri raja………

    Oleh krn itu sejak aku menginjakkan kakiku dinegeri paman Sam, aku malah digembleng utk semakin mandiri, dgn dasar yg telah ditanamkan oleh mama

  4. Dj. 813  27 July, 2015 at 23:30

    Maaaaf, ada yang lupa . . .
    Fito ke dua, seperti kaka dan adik . . .

  5. Dj. 813  27 July, 2015 at 23:29

    Dian…..
    Terimakasih sudah sharing kehidupan yang sangat bagus….
    Semua ada masanya dan dengan melewati waktu, mau lama atau sebentar, semua bisa berubah.
    Yang baik bisa menjadi jelek dan yang jelek, bisa menjadi baik.
    Orang Jerman mengatakan….
    APA YANG TIDAK MEMBUNUHMU , HANYA AKAN MENJADIKAN KAMU LEBIH KUAT .

    Semua perjuangan, membutuhkan pengorbnan yang kadang menyakitkan
    Selamat Ulang Tahun untuk Cedar dan semoga semakin menjadi putri yang sayang
    keluarganya. Dan sukses dalam kehidupan dimasa yang akan datang.
    Salam manis dari Mainz.

  6. djasMerahputih  27 July, 2015 at 20:27

    Kesulitan hidup menempa jiwa, kemudahan hidup menguji rasa syukur. Kita bisa belajar dari keduanya.

    Mengapa begitu banyak ritual unik masyarakat nusantara? Salah satunya disebabkan oleh ungkapan atau ekspresi rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia kemudahan dan kelimpahan alam yang mereka rasakan.

    Alam membentuk manusia sesuai dengan karakter lingkungan di sekitarnya.

    btw, happy b’day Cedar.. wish you all the best..!!

  7. donald  27 July, 2015 at 16:27

    Menarik membacanya, musim (alam) yang memang menggembleng manusia untuk tidak manja, sistem pendidikan (budi pekerti) di negeri Paman Sam, sehingga wajar menghasilkan SDM unggul, layaknya bangsa2 maju…

    Amat disayangkan bangsa lain melihat negeri di utara sana dari kaca mata berbeda, apalagi soal kafir-mengkafirkan yang sedang hangat2nya di negeri sebelah selatan, yang juga penuh dengan alunan lembut pulau kelapa di tepi-tepi pantainya…

    Catatan menarik dan keluarga yang berbahagia!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.