Penjelajahan Sunthi di Akhir April – Selamat pagi Samas (1)

Wina Rahayu

 

Penjelajahan ini sebenarnya sudah 2 bulan lalu Sunthi lakukan, tapi karena baru sempat menuliskannya sekarang, semoga ceritanya masih nyambung…

Setelah semalaman hujan mengguyur maka pagi ini, suasana masih nampak mendung dan sedikit kabut. Limpahan air hujan membuat beberapa tempat di Kabupaten Bantul, Yogyakarta mengalami banjir. Banyak persawahan yang terendam air, padi yang tinggal beberapa saat akan dipanenpun, hancur…

pantai samas (1)

Belum genap 30 menit Sunthi berada di dalam bis berkode N ke arah pantai Samas, hujan kembali turun dengan derasnya. Anak sekolah, buruh pabrik yang baru pulang setelah bekerja ship malam dan para pedagang pasar yang sudah berangkat sejak dini hari agak sedikit kerepotan saat mereka turun dari bis. Ada sebagian yang sudah membawa payung, ada juga yang menggunakan jas hujan plastik keluaran cina seharga 8 ribu perak….tapi ada juga yang hanya menutup kepalanya dengan jaket sebagai pelindung kepala.

Sunthi tetap menikmati segala suasana ini, sepanjang jalan yang melewati persawahan hampir semua terendam banjir. Persawahan yang di tanami bawang merah yang tinggal beberapa saat akan panen terendam dan hancur. Hanya tanaman terong yang masih mampu bertahan. Saluran irigasi dipenuhi luapan air dengan warna coklat keruh dengan arus air yang cukup deras. Seorang ibu yang duduk disamping Sunthi berujar bahwa sawahnya yang ditanami bawang merah juga hancur. Saat melewati sawahnya ia coba menyampaikan ke Sunthi sambil menunjuk ke arah sawah yang sudah tidak berwujud sawah tapi lebih menyerupai tambak.

pantai samas (2) pantai samas (3)

Saat semua penumpang sudah turun, tinggal Sunthi yang meneruskan perjalanan sampai ke arah pantai Samas. Masih terlalu pagi, tapi keinginan Sunthi sudah tak tertahan. Sunthi punya memori tentang pantai Samas, saat tahun 80an Sunthi pernah mengunjungi tempat ini. Hanya sedikit memori yang tertinggal tentang Samas karena terjembatani oleh foto yang waktu itu masih ada. Tak terbayangkan tempat yang tentu saja sangat jauh dari kota asal Sunthi Purwodadi, Grobogan. Pastilah jalanan ke pantai Samas saat itu tak semulus jalan yang Sunthi lewati pagi ini.

pantai samas (4)

Dengan naik bis jurusan Yogja – Samas Sunthi langsung masuk areal pantai Samas.

pantai samas (5)

Air hujan rintik-rintik masih menemani Sunthi saat menikmati pantai yang masih sepi pengunjung. Jalan menuju pantai dihiasi perkampungan nelayan yang sebagian juga dijadikan warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan. Sepertinya merekapun masih bermalas-malasan beranjak dari peraduannya, sekalipun jam sudah menunjukan pukul 8.

pantai samas (6) pantai samas (7)

Sekawanan anjing milik warga menyambut Sunthi, menyenangkan melihat mereka bermain di bawah guyuran rintik hujan. Ada beberapa yang bermain di pinggir pantai mengikuti tuan mereka yang sedang memunguti sampah yang menyertai gelombang malam tadi.

pantai samas (8) pantai samas (9) pantai samas (10) pantai samas (11)

Tak begitu istimewa melihat pantai yang sudah mengalami abrasi sejak tahun 2000 an, ditambah lagi dengan serakan sampah yang memenuhi pinggir pantai. Kondisi inilah yang bisa jadi membuat Samas menjadi obyek wisata yang kurang menarik dibanding pantai lain seperti Parangtritis, Depok dan pantai-pantai lain di daerah ini.

Perkampungan nelayan yang tampil ala kadarnya menjadi gerbang sederhana menuju pantai. Jajaran pohon cemara dan pandan laut yang membuat suasana tidak begitu gersang.

pantai samas (12) pantai samas (13) pantai samas (14) pantai samas (15) pantai samas (16) pantai samas (17)

Inilah kondisi pantai Samas pagi ini, jajaran kapal tertambat di tepi pantai. Tempat penimbangan ikanpun sepi dari kerumunan nelayan yang mebawa ikan hasil melaut. Musim “paceklik” dengan ombaknya yang ganas membuat nelayan sulit untuk melaut. Bisa saja jika mereka nekat untuk melaut maka kapal itu akan “kendem” alias terbalik sebelum sempat melaju di atas gelombang pantai Selatan.

“Kendem” sebuah kata yang asing di telinga Sunthi, kata itu terlontar dari seorang laki-laki dengan perawakan gagah. Dialah laki-laki, yang memberi inspirasi Sunthi di pagi ini. Laki-laki ini terus “Mengakar dan Menjalar” sebagai organisator rakyat di pantai Samas…

 

Tunggu cerita tentang laki-laki ini di seri “Selamat Pagi Samas (2)”…

 

 

5 Comments to "Penjelajahan Sunthi di Akhir April – Selamat pagi Samas (1)"

  1. J C  30 July, 2015 at 10:37

    Sering dengar cerita Pantai Samas, tapi kalau membaca dan melihat seperti ini, rasanya kok males mau coba ke sana…

  2. wina Rahayu  28 July, 2015 at 20:07

    Koh Han…Kabupaten Grobogan jauh dr pantai, jadinya suka main ke pantai…

  3. djasMerahputih  28 July, 2015 at 14:07

    Hadir bang James…
    Ada kenalan baru ya Sunthi? Ditunggu lanjutan kisahnya…

  4. Handoko Widagdo  28 July, 2015 at 10:03

    Hebat juga orang Purwodadi Gobogan bisa menulis tentang pantai.

  5. James  28 July, 2015 at 09:47

    1……sangat menyedihkan….sewaktu musim hujan sawah kebanjiran merusak panen….sewaktu kemarau merusak panen juga kekeringan…..apa Pemerintah tidak memikirkan para petaninya ? dengan membangun bendungan besar untuk menampung air hujan diwaktu musim hujan untuk keperluan pengairan sawah di musim kemarau….membangun bendungan tidak menguntungkan untuk Kantong Pribadi sedangkan Korupsi itu sangat Bermanfaat bagi Pejabat Pemerintahan

    kemanakah para kenthirs ? kok belum muncul ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.