Sang INTEL

Ki Ageng Similikithi

 

Dalam perjalanan pulang dengan Lufthansa dari Frakfurt ke Jakarta di tahun akhir delapan puluhan. Saya duduk di kelas bisnis, di seberang ada ibu ibu anggota DPR RI dalam perjalanan dari London. Lupa namanya, tetapi beliau masih nampak sehat dan anggun. Punya beberapa tanker minyak, dari berita-berita di media. Sempat ngobrol, ramah sekali dan lembut tutur kata beliau. Suaminya kecelakaan helikopter beberapa tahun sebelumnya. Beliau sempat bilang tadi ada bapak-bapak dari Jakarta juga,  dalam pesawat ini.

Pada saat pesawat stop over, entah dimana, tiba-tiba seseorang datang menghampiri, “Mas dari Jakarta?”. “Enggak pak, saya tinggal di Yogya”. Orangnya ramah, tinggi badan sedang, wajahnya bersih dan tampan. tetapi yang menyolok adalah kumisnya yang begitu tebal melintang, seperti dalam dongeng. Jasnya sedikit kependekan kesan saya, tanpa dasi, krag hem putihnya terletak di luar jas. Nampak relaks. Waktu itu hanya orang-orang yang dengan kedudukan tinggi seperti pengusaha besar yang memekai jas tanpa dasi, apalagi kalau krag hem terbuka di luar jas. Dalam perjalanan ini saya khusus memakai three pieces suit, kebetulan diundang sebagai konsultan oleh konsorsium industri di Jerman.

“Wah sial mas. Saya ini INTEL, barusan  diusir dari Brussel. Jangan bilang-bilang ya mas. Saya dapat tugas memata-matai konggres parlemen Eropa di sana”. Katanya hari pertama lancar-lancar saja, bisa mewawancarai beberapa anggota dan membuat foto-foto. Tidak lupa dia memperlihatkan foto dirinya berdiri gagah di muka gedung parlemen Eropa. Bahkan ada satu foto mesra dengan seorang perempuan berambut blonde. Hari kedua pagi padi katanya didatangi pejabat imigrasi. Dan langsung diberitahu bahwa pemerintah Belgia tidak senang dengan kegiatannya. Saya terhenyak dengar ceritanya.

Print

Dulu memang senang baca cerita cerita detektif. Insting saya berpikir ke dunia intelijen. Bapak ini seorang intel, tetapi ada beberapa kekeliruan fatal bagi seorang INTEL. Banyak kebiasaan INTEL kita yang tindakannya sering bertentangan dengan penyamaran intelijen. Asal-asalan inilah hasil analisis amatiran saya, kekeliruan-kekeliruan Sang Intel itu.

  1. Memperkenalkan identitas diri sebagai INTEL. Seorang intel yang baik, tidak akan pernah bilang “Saya ini Intel lo”.
  2. Pasang kumis tebal melintang. Di masa ORDE Baru, ada petunjuk boss kalau semua slagorde INTEL harus pelihara kumis tebal. Kalau perlu pasang kumis palsu pas melakukan tugas. Pembuat brengos palsu ini ada di Tanah Abang. Semua badan intelijen dunia tahu itu.
  3. Memakai jas seragam dari lembaga tempatnya bekerja, lengkap dengan logo di dadanya. Dari logonya jelas orang tahu kalau dia INTEL. Penjahit jasnya berlokasi di Glodok. Gak tahu pembuat logonya. jasnya agak kependekan, alias wagu untuk ukuran INTEL.
  4. Kesukaan berfoto ria, selfie. Dia pesan minta difoto langsung jadi. Tidak menyadari kalau penjaja foto sekali jadi itu adalah petugas keamanan parlemen Eropa. Dari fotonya jelas dia itu Intel.
  5. INTEL Indonesia dilarang bertugas berpasangan laki perempuan seperti dalam film James Bond itu. Tidak bermoral katanya. tetapi sebagai INTEL laki-laki pasti syahwatnya meledak-ledak. Sang Intel ini pasti plirak plirik liat perempuan di Eropa di musim panas dengan pakaian agak minim. Tak berani tanya siapa yang diajak foto itu. Jangan-jangan pancingan saja, counter intelligence dari Brussel.

Apapun analisis ini, saya menikmati percakapan yang hangat, terutama mengenai dunia intelijen dari Sang Intel. Melihat kumis di wajahnya yang tampan, gaya dan isi candanya, saya tidak yakin kalau Sang Intel ini tidak punya WIL di Indonesia. Wajahnya sangat marketable pasti banyak yang gandrung, apalagi kalau dia bersikap terbuka dan transparan “Saya ini Intel lo”. Intel di jaman Orde baru selalu menjadi impian para gadis dan wanita lajang.

world

Tranformasi nilai sesudah tahun lima puluhan. Idola wanita di tahun lima puluhan adalah tentara, terutama angkatan darat, sampai ada lagu Kopral Jono. Di masa Orde Baru ada aransemen lagu “Mat Intel”, tetapi sayang kurang meledak, karena yang memproduksi adalah lembaga intelijen nasional.

Salam damai mas Intel…

Ki Ageng Similikithi

 

 

10 Comments to "Sang INTEL"

  1. Lani  31 July, 2015 at 08:52

    IVANA : jd goblog dan gebleg itu sodaraa-an? hahaha………..tp klu geblek wah aku jd ngileeeeeeeeeeer……..

  2. ivana  31 July, 2015 at 08:32

    lha kok banyak cerita yg mirip ya… temen saya orang indo juga malah pamer… menurut oom saya yg INTEL…
    haduh… intel kok malah diumumkan ke public… dasar gebleg.

  3. Handoko Widagdo  31 July, 2015 at 07:19

    Jaman Orba semua profesi bisa jadi Intel ya Ki?

  4. J C  30 July, 2015 at 10:44

    Pak Ki Ageng, bukan hanya dulu…sekarang pun juga masih sangat banyak yang petentang petenteng model gitu kok. “Intel”, “BIN”, “Paspampres”, “KPK” dsb, dsb…

  5. James  30 July, 2015 at 10:23

    terima kasih bang Djas absenannya

    Kumis Abang Jampang …..Kumis Gatotkaca…….Kumis Bima…..Kumis Kresna….ada Kumis Semar gak yah ?

  6. Lani  29 July, 2015 at 23:55

    KANG DJAS : mahalo absenannya……….

    KI AGENG : Tulisan yg bikin aku ngakak lucu je………apakah dgn kata lain bs dibilang intel ini goblog???? Sdh jelas intel itu hrs terselubung kok malah di publikasikan????

  7. Dj. 813  29 July, 2015 at 22:59

    Dulu diawal sampai pertengahan tahun 90 banyak intel yang sekolah di BKA di Wiesbaden.
    Karena ada beberapa yang turut dalam persekutuan kristen, akhirnya banyak juga yang kenal.
    Mereka kebanyakan hanya training Job selama 1 tahun sajaKami jadi akrab, setelah para nyonya-nyonya mereka nengok. Dj. antar mereka ke belanda dan ke Belgia.
    Akhirnya saat 1996 kami mudik, kami ganti dimanja oleh mereka . . .
    Senang juga banyak teman dan akhir tahun 90 sudah ada yang jadi jendral namanya Nurfaizi, jadi kapolda Jawa-Tengan
    Padahal ingat saat mereka sekolah di Wiesbaden, kebanyakan baru mayor, bahkan ada yang Captain.
    Yang jelas, mereka tidak pernah mengaku, saya ini intel hahahahahaha….!!!

    Terimakasih Ki . . .
    Salam manis unuk keluarga dirumah, juga untuk mas Gondo sekeluarga.

  8. Alvina VB  29 July, 2015 at 22:07

    2. Pasang kumis tebal melintang. Di masa ORDE Baru, ada petunjuk boss kalau semua slagorde INTEL harus pelihara kumis tebal. Kalau perlu pasang kumis palsu pas melakukan tugas. Pembuat brengos palsu ini ada di Tanah Abang. Semua badan intelijen dunia tahu itu.

    Jangan2 si Kumis di KBRI Jerman itu INTEL, ha..ha….

    Thanks Djas (yg lagi rajin ngabsenin).

  9. LBY  29 July, 2015 at 18:51

    Kenalan saya juga ada yg semacam itu, “saya ini anggota BIN lho” . jadi inget ceria intel Pak Ki jaman dulu. Hehehe….

  10. djasMerahputih  29 July, 2015 at 18:21

    Satoe: Absenin trio Kenthirs…
    Kisah intel dari jaman ke jaman. Thans sharingnya Ki Ageng..
    Pas kuliah dulu intel sangat populer di kalangan mahasiswa, tapi bukan intel seperti di atas, melainkan INdomie TELur..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *