Bertemu dan Berpisah

Djoko Paisan – Mainz, Jerman

 

HALLO ANDA SEMUANYA DI BALTYRA YANG BERBAHAGIA…

Salam Jumpa…!!! Maaaaaf sebelumnya, karena sudah tidak tahu mau cerita apa, sudah kehabisan idee / bahan makanan…Eeeee…. maksud Dj. kehabisa idee atau thema untuk nulis… Hahahahahahahahaa…

Jadi mohon maaf, kalau kali ini cerita sedih sedikiiiiiit saja, boleh ya…Judul di atas, sengaja Dj. tulis demikian, karena memang Mainz kehilangan seorang Raja yang berasal dari Indonesia. Seorang Raja, seorang suami, ayah dan juga opung dan tulang juga teman dan sobat yang sangat baik…Sopan tutur katanya, suka memberi dan ramah budi pekertinya dan selalu senyum. Dan yang sangat bisa dilihat, dia dulu adalah seorang yang sangat sayang keluarganya. Dia adalah bapak Sirait Raja Poltak, Dj. mengenalnya sejak tahun 1975, jadi sudah 40 tahun dan cukup lama.

bertemu-berpisah01

Maaaaf, Dj. menuliskan di sini, bukan untuk pamer, tapi mengingat dia seorang raja yang tentu sangat banyak yang mengenalnya. Olehnya Dj. tuliskan di sini, siapa tahu, banyak teman dan handai tolannya yang tidak mendengar kepergiaannya. Mungkin saja mendengar dan tahu, tapi tidak bisa datang untuk melayatnya di Mainz. Jadi foto-foto di bawah ini, semoga berguna bagi keluarga dan semua teman dan sahabatnya.

Jelas, saat Dj. mau menuliskan hal ini, Dj. sudah terlebih dahulu meminta ijin kepada putranya yang juga sangat baik. Hal ini juga karena dia seoraang Raja Batak, maka pada tanggal 29 Juli kemarin dia diupacarakan dengan adat Batak. Namun mungkin tidak semeriah kalau dirayakan pemakamannya di tanah Batak.

Jadi mohon sekali lagi dimaafkan kalau Dj. juga tidak sempat banyak ambil foto, hanya foto-foto yang mampu Dj. ambil saja.

Kebaktian yang dipimpin oleh seorang hamba TUHAN, Pendeta David Tulaar, asal Manado, di rumah duka.

bertemu-berpisah02 bertemu-berpisah03

Kothbah pendeta dalam bahasa Jerman dan Indonesia, sedang upacara dalam bahasa Batak.

bertemu-berpisah04

Juga lagu-lagu pengantar kepergian dalam bahasa Batak berupa Koor, yang sangat menyayat hati.

bertemu-berpisah05

Setelah acara selesai, maka jemaat memberikan salam duka kepada semua keluarga yang ditinggalkannya.

bertemu-berpisah06 bertemu-berpisah07 bertemu-berpisah08 bertemu-berpisah09

Namun jenasah, hari itu belum dimakamkan, karena akan diadakan sekali lagi kebaktian perpisahan yang hanya dihadiri untuk kaum keluarga saja. Jadi saatnya mereka melepaskan, suami, ayah, tulang dan opung mereka. Setelah selesai, maka kami melanjutkan dan berpindah tempat, ke salah satu gedung kecil yang disewa oleh saudara mereka, untuk agar bisa berbincang dan kembali mengenang akan kebaikan selama masa hidup Raja Poltak.

Selain juga untuk foto bersama, karena yang datang bukan saja dari Mainz, tapi banyak yang datang dari Frankfurt, Köln, Bassel di Swiss dan bahkan adik dari Raja Poltakpun datang dari Indonesia. Ini teman-teman yang tinggal di Mainz yang juga sudah manula.

bertemu-berpisah10

Berfoto dengan Pendeta Tulaar yang yang sudah sejak 24 tahun Dj. kenal, tapi kami sudah lama tidak pernah bertemu. Juga asyiiik bisa ngobrol cerita lama.

bertemu-berpisah11

Padahal kalau diingat, 24 tahun yang lalu saat datang ke Mainz, masih muda dan rambutnya masih ada, sekarang sudah runtuh. Daniel baru umur belum ada 1 tahun.

bertemu-berpisah12

Kebiasaan orang Jerman, setelah layat, maka keluarga akan mengajak pelayat minum kopi dan teh, sambil makan kueh serta ngobrol. Tapi kali ini, yang punya acara adalah saudara-saudara dari Batak, jadi malah ada acara makan-makan juga, walau sederhana saja. Apakah makanan ini ada artinya, maaaf Dj. kurang tahu.

bertemu-berpisah13 bertemu-berpisah14 bertemu-berpisah15 bertemu-berpisah16 bertemu-berpisah17 bertemu-berpisah18 bertemu-berpisah19

Dan ini yang Dj. makan…Sedikit bakmi goreng, paha ayam goreng, rendang, tahu tempe dan sambal goreng telur. Kalau ada yang mau, silahkan ambil.

bertemu-berpisah20

Jadi untuk mata orang Jerman, ya sedikit aneh. Karena itu juga saudara-saudara dari Batak memperkenalkan adat istiadatnya. Putra Raja dan adik yang dari Indonesia dengan nama yang sama, juga Raja Poltak…

bertemu-berpisah21 bertemu-berpisah22

Pelayat yang mungkin juga anda kenal.

bertemu-berpisah23 bertemu-berpisah24 bertemu-berpisah25 bertemu-berpisah26 bertemu-berpisah27 bertemu-berpisah28 bertemu-berpisah29

Okay…

Siapa tahu dari anda yang membaca, ada yang mengenali foto-foto yang Dj. pajang di atas. Sedangkan bagi kami, adalah satu pengalaman yang baru, karena biasanya setelah pemakaman, hanya dengan kopi dan makan kueh saja. Hal itupun bukan satu keharusan, banyak juga yang setelah pemakaman dan memberi salam duka kepada yang ditinggalkan, maka kebanyakan langsung pulang ke rumah. Tapi tidak ada salahnya untuk belajar sesuatu yang baru.

Terimakasih kepada pengasuh Baltyra dan anda semua yang selalu setia membaca oret-oretan Dj. Mohon maaf, bila ada kata-kata yang tidak berkenan, jangan dijitak kepala Dj ya… Hahahahahahaha…

Semoga Kasih dan Berkat TUHAN, selalu menaungi kita semuanya.

 

Salam manis dari Mainz.
Dj. 813

bertemu-berpisah30

 

 

About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

15 Comments to "Bertemu dan Berpisah"

  1. J C  14 August, 2015 at 14:25

    Pak Djoko, pertama kali saya melayat ayah teman saya di Berastagi, saya terkaget-kaget. Di acara itu mereka benar-benar berpesta pora, makan-makan, tertawa-tawa, tersenyum. Ternyata menurut tradisi Batak, meninggal justru semakin senang di alam berikutnya…

    Salam untuk keluarga besar Paisan di Mainz ya…

  2. Dj. 813  5 August, 2015 at 13:52

    James 5 August, 2015 at 10:34

    hadir juga akhirnya karena semalam ditunggu tapi tidak muncul artikelnya…..

    terima kasih bang Djas dan ci Lani , James ada nih hanya telat hadirnya
    —————————————————————–

    Hallo bung James . . .

    Terimakasih sudah hadir . . .
    Salam,

  3. Dj. 813  5 August, 2015 at 13:51

    triyudani 5 August, 2015 at 09:47

    Kematian selalu menyisakan kesedihan.
    ——————————————————-

    Matur Nuwun mbak Tree . . .
    Bisa jadi demikian awalnya, tapi bisa juga dilihat dari kacamata yang lain.
    Berpisah dengan anak yang harus melanjutkan belajar diluar kota saja, bisa sedih.
    Tapi demi masa depan si anak . . ., maka semua harus direlakan.
    Kehidupan adalah satu ruangan dan kematian adala pintu untuk menuju ruangan yang akan datang.
    Olehnya Yesus berkata: Akulah pintu . . . ! ! !
    Barang siapa masuk melalui aku, dia tidak akan binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.

    Salam manis untuk keluarga dirumah.

  4. Dj. 813  5 August, 2015 at 13:46

    Handoko Widagdo 5 August, 2015 at 08:53

    Selamat jalan, engkau sudah berbahagia di sisi Bapa.

    ——————————————————–

    Mmas Handoko . . .
    Matur Nuwun mas . . .
    Bebahagialah mereka yang percaya didalam Kristus, walau telah mati, namun akan mengalami kebangkitan.
    Seperti Kristus yang telah bangkit .
    Salam manis dari Mainz, untuk keluarga dirumah .

  5. Dj. 813  5 August, 2015 at 13:44

    Anwari Doel Arnowo 5 August, 2015 at 05:53

    Mas Djoko,
    Tulisan ini dan photo-photonya menampilkan senyum di mana-mana, itu seperti anda menggambarkan almarhun yang selalu tersenyum. Sayapun menginginkan yang seperti itu, Jangan menangisi saya bila sudah waktunya tiba saya mati. Saya ingin semua yang hadir tidak menangis tetapi justru menyanyikan lagu-lagu gembira, Tidak apa-apa kan? Seperti ketika saua lahir 77 tahun yang lalu! Begitu,lhoooo !!! Tetapi saya juga sadar bahwa itu mungkin wishful thinking, karena semua keluarga dan kerabat tidak sependapat dengan saya dan mereka mungkin sekali tidak seperti itu wujud pemikirannya. Yaaa, akan saya terima saja, kalau saya masih bisa menerima. Kan saya akan sudah ALmarhum, bukan NOG NIET marhum??
    Terimalah salam saya,
    Anwari Doel Arnowo – 2015/08/05
    ———————————————————————–

    Cak Doel . . .
    Matur Nuwun, sudah mampir . . .
    Sangat benar, apa yang Cak Doel tulis . . .
    Jadi ingat satu kejadian . . .
    Di dalam agama Kristen, bila ada yang meninggal, biasanya dirumah yang ditinggalkan, ada
    dibikin kebaktian penghiburan.
    Dengan maksud, agar yang berduka tidak lama bersedih, karena hal ini juga ada tertulis di dalam
    kitab suci orang Nasrani. ( Tesalonika 4 : 13 – 18 )
    Nah selesai kebaktiaan penghiburan, maka acara ramah tamah dan makan bersama, seperti biasa.
    Banyak cerita ttg masa hidup almarhum.
    Lalu Dj. juga turut nimbrung dan cerita ttg satu Jokes dan semua yang dengar turut tertawa.
    Sungguh, suasana jadi berubah, wajah yang tadinya murung, paling tidak jadi bisa senyum,
    walau tidak ngakak . . .

    Okay Cak Doel.sekali lagi, matur Nuwun.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *