Y O L O

Anwari Doel Arnowo

 

Ah, apa pula ini?

Hanya singkatan dari You Only Live Once yang berarti Hidup Hanya Satu Kali. Tersirat jelas sekali bahwa ungkapan ini menyatakan niat untuk membuat sesuatu perbuatan menjadi sah dengan alasan. Alasannya bisa   saja berupa ungkapan juga: Kalau Tidak Sekarang Kapan Lagi? Secara keseluruhan ungkapan ini mewakili alasan untuk urusan perbuatan yang amat pribadi, tidak ada rasa bertanggung jawab, ceroboh dan sifatnya melanggar batas-batas yang bisa diterima akal.

YOLO

Ini bisa terjadi bilamana seorang pejabat Negara sedang menghadapi pilihan menerima atau menolak uang haram sebagai imbalan tindakan hukum yang bisa dilakukannya sesuai dengan kekuasaan yang diembannya. Sungguh ini kesempatan besar yang memang susah ditolaknya, tetapi godaannya datang makin membesar. “Oh, Allah aku tak kuasa melawannya” itu kata batinnya. Terbayang oleh  dia bagaimana jarinya akan menari-nari sepanjang sisa hidupnya, menghitung lembaran-lembaran uang yang akan dimilikinya! Apa yang bisa di dapatkannya? Keliling Dunia, jalan-jalan bersuka-suka dan bersenang-senang?

Pergi beribadah ke Tanah Suci? Mengajak dan membayar semua biaya sanak saudara? Bisa dan akan mampu pula! Oh alangkah nikmatnya. Akan tetapi? Ada tetapinya, lho! Apa? Tetapi ada pilihan lain. Ditangkap dan diperiksa di sebuah kantor yang letaknya di Jalan Rasuna Said, di DKI  Jakarta namanya K.P.K (Komisi Pemberantasan Korupsi). Bagaimana kalau terjadi yang begini? “Ah, aku kan punya banyak koneksi di Kepolisian dan di Kejaksaan. Aku bagi-bagi saja mereka dengan uang tunai! Beres, kan?”

Begitulah akhirnya keputusan yang diambilnya. Beberapa bulan berikutnya dia mengalami rasa amat malu karena namanya terpampang di media cetak maupun elektronik, anak-anaknya malu di tempatnya bekerja dan juga di sekolahnya masing-masing. Gambarnya memakai rompi warna merah muda bertuliskan TAHANAN KPK banyak ada terpampang dengan jelas di media. Dia berakhir di penjara Salemba atau di Jalan Guntur atau di penjara Sukamiskin, Bandung. Rasa meyesal? Sudah terlambat. Yang harus dihadapi sekarang adalah kesendirian serta terisolir, hidup dijauhi oleh teman-teman dan saudara-saudara serta khalayak ramai. Mau kembali suatu saat nanti setelah selesai masa hukuman? Dua belas tahun lagi? Mana mungkin? Sudah jauh lebih tua, kan? Adakah cara jalan membalikkan arah waktu ber”jalan” ? Ya gunakanlah akal budimu. Gunakanlah otakmu, karena otakmu juga masih canggih dan luarbiasa kegunaannya. Bisa mengakibatkan hasil baik atau sebaliknya. Semua tergantung dalam cara menggunakannya.

Yang penting untuk selanjutnya harus legal harus sah secara hukum-hukum yang berlaku.

Perode berikut ada saat saat yang menggoda. Bermain-main dengan cara hukum, bernegosiasi sehingga bisa  mengarahkan ke arah kemungkinan keringanan masa hukuman. Apapun, pasti ada caranya di dalam upaya seperti ini. Tentu harus dipikirkan yang selama ini telah diabaikan. Ada contoh yang sebaiknya dilakukan dengan tekun. Menjaga kesehatan jasmani dan kejiwaan. Memerhati dan menjaga berkeinginan hidup yang lebih baik, berkelakuan dan berperi laku yang baik. Menerima kondisi terpenjara dengan pikiran sepositif mungkin. Membaca buku apa saja dan belajar sesuatu yang baru pada setiap saat dari lingkungan sekeliling yang ada di sekitarnya.

Jauhi rasa malu dengan tidak membuat malu diri sendiri. Nasi telah menjadi bubur, kata pepatah. Makan saja buburnya dengan nikmat. Jangan mengeluh tanpa guna. Jalanilah hidup selanjutnya dengan positif dengan tekad baru: Y O D O (You Only Die Once) : Anda Akan Mati Hanya Sekali.

 

Anwari Doel Arnowo  –  24 Juli, 2915

 

 

9 Comments to "Y O L O"

  1. J C  14 August, 2015 at 14:24

    Setuju pak Anwari: urip mung sepisan…life is short…

  2. Dewi Aichi  6 August, 2015 at 20:18

    Jangan sampai permalukan diri-sendiri…hidup hanya sekali saja. Maka sikap hati-hati dalam segalanya itu penting agar tidak malu seumur hidup.

  3. Itsmi  5 August, 2015 at 14:02

    Untuk orang yang melakukannya, dia tentu mempunyai kegangguan psikis, jadi penilaian kalian pada dia, bagi dia tidak ada arti…

  4. James  5 August, 2015 at 10:38

    hadir bang Djas….

    heran yah cerdasnya Manusia mau saja diperbudak oleh Uang, padahal sewaktu meninggalkan dunia ini tidak akan terbawa tuh duit

  5. Anwari Doel Arnowo  5 August, 2015 at 05:38

    Teman teman semua,
    Tidak satupun di antara diri kita ini yang pernah MINTA apalagi memilih dijadikan dan dilahirkan ke muka Planet Bumi ini.YOLO Hidup mengalir di jalan kehidupan masing-masing, terserah sesuai dengan pilihan masing-masing pula. Kemudian kita malah harus mati. tanpa tau kapannya, YODO. Cuma seperti itu saja kok. As simple as that.
    Anwari Doel Arnowo – 05/08/2015

  6. Djoko Iswadi  5 August, 2015 at 04:15

    Hidup di dunia,hanya sekali dan itupun tinggal beberapa langkah lagi…….

  7. Lani  5 August, 2015 at 00:14

    KANG DJAS : mahalo sdh dan sll diingat………kemana yg lainnya yak?

    CAK DOEL : menanggapi komentar mas DJ, oleh krn nya harus sll diingat pepatahnya jangan kebalik “hidup hanya/demi uang” kapan menikmatinya krn life is too short.

  8. Dj. 813  4 August, 2015 at 23:25

    Cak Doel . . .
    Begtulah kalau manusia sudah menjadi hamba uang .
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  9. djasMerahputih  4 August, 2015 at 17:04

    Satoe: Absenin trio Kenthir…
    Hidup hanya sekali, terlalu singkat untuk musingin urusan orang lain… he he he…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.