“BATU” (BAhasa TUhan)

Ismu Sultan Alamsyah

 

“B A T U” (BAhaslah wakTU)………di masa manakah manusia berada sekarang…??? INJIL, artinya FENOMENA, gambaran dari kejadian di alam semesta yang muncul ke permukaan dan menjadi topik pembicaraan, adalah BAHASA TUHAN yang tidak dimengerti oleh manusia, TUHAN bicara tidak melalui mulut atau lidah, melainkan melalui kejadian-kejadian yang ada di setiap jam, hari, minggu, bulan. Tahun dan abad. Disebutkan sebagai ayat (tanda), dan hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang jadi penonton (saksi) = musyahadah. Serta diberi kitab (pelajaran) dan hikmah (pemahaman).

Tanpa disadari, kini putaran waktu telah membawa manusia kembali ke awal masa, di jaman “B A T U”? (BAyangan TUhan). Dahulu kala manusia membuat sesuatu untuk pemujaan dan pemujian, oleh bermacam-macam suku bangsa di muka bumi, dalam berbagai bentuk patung (berhala) dari “B A T U” seolah-olah (BAyangan TUhan)nya.

batu akik

Kini manusia membuat pula sesuatu untuk menjadi pujaan dan mendapat pujian oleh bermacam-macam orang dalam berbagai bentuk perhiasan-perhiasan dari “B A T U” (BAyar TUnai) jika ingin memilikinya. Dahulu dan sekarang hanya berbeda kondisi namun tak berbeda fungsi, tetap sama-sama untuk terpuja dan terpuji, yang sesunggahnya hanya pantas bagi ALLAH. Tak pantas bagi bagi yang lain.

Bahkan bagi sebagian orang menganggap “B A T U” (BArang TUah) yang telah terbentuk, memiliki mukjizat atau memiliki khadam (penunggu) yang akan membawa keberuntungan atau kesialan bagi pemiliknya. Nah…… kayaknya pola fikir seperti ini berjalan di tempat, masa lalu dan masa kini tak terpisahkan, ternyata hidup di dunia hanya sebentar saja.

Orang-orang dahulu memakai cincin besar-besar, hampir penuh di jari tangan kanan dan kirinya sehingga kelihatan seperti “B A T U” (BAndot TUa). Dan orang-orang masa kini,hanya agar kelihatan perbedaan antara “B A T U” (hamBA dan TUan), orang yang memakai batu berharga akan merasa kharismanya lebih tinggi dengan tampilan lebih percaya diri bagai seorang TUAN, yang tak memiliki batu berharga dianggaplah seperti seorang HAMBA yang jelata..

“B A T U” (BAhan TUlisan)……… maka Kami menuliskannya di dalam artikel ini agar dapat dibaca yang telah Kami bacakan lebih dahulu pada alam semesta ini..

HIASAN yang menjadi KIASAN.
“BATU” (Barang Awet Tetap Utuh). Namun hanya manusia yang dapat merusak dan merobahnya…………. Gunung dikeruk atau digali untuk mendapatkan bongkahan BATU, sungai dibongkar dan diacak untuk mendapatkan BATU, dari bongkahan besar lalu dibelah menjadi bongkahan kecil. Diasah, digosok hingga mengkilap dan disenter menembuskan cahaya, kemudian diikat dengan logam, titanium atau jenis besi lainnya, dalam bentuk cincin, liontin, gelang juga anting.

Terletaklah di etalase menjadi HIASAN yang menarik hati, sehingga berakhir mengikat dijari sang pembali.
Lalu siapakah yang terikat…….? BATUnyakah? BESInyakah? atau MANUSIAnya…???

Dan KIASAN yang menjadi HIASAN.
Seperti awal AGAMA berasal dari satu KITAB, dipelajari oleh ahli-ahli kitab, masing-masing berbeda pemahaman hingga terpecah jadi beberapa bongkah (aliran) masing-masing aliran membuat kitab, tak ubahnya seperti batu, ada yang menjadikannya mata cincin dengan segala macam bentuk yang indah dengan beragam warna dan nama, ada yang dijadikan liontin, dengan beragam bentuk dan nama pula. Maka agamapun demikian, bahkan menjanjikan keindahan surga, yang seorang manusia pun belum pernah melihat apalagi merasakannya, termasuk orang-orang yang menawarkan hal itu.

Kemudian pemeluk agama yang meyakininya telah mengikat diri dalam agama itu, masing-masing agama memuja dan memuji Tuhan yang menurut pemikiran mereka sangat benar (versi agamanya). Bagi orang yang fanatik dengan agamanya, seperti BATU cincin yang terikat di jari tangan dan liontin yang membelenggu di leher orang yang memakainya. Melekat dan dibawa kemana-mana serta diceritakan kronologinya. ia berkata : BATUku yang terbaik = (agamaku yang terbaik). Keyakinannya tak terigoyahkan lagi walaupun itu sebuah kekeliruan.

Bagi orang yang beragama setengah hati, seperti menempatkan BATU menjadi perhiasan di rumahnya, lantai keramik atau bentuk lain yang terpajang di buffet maupun lemari hias, tidak melekat di tubuh dan fikirannya,
orang-orang seperti mereka ini masih mau mendengarkan dan menerima hal-hal yang baru, dan ingin memiliki lebih luas dalam hal wawasan pemikiran.

AGAMA seharusya adalah KIASAN yang tentu harus dibaca dan dipelajari hingga memahaminya. Namun ternyata menjadi HIASAN yang dibangga- kan bagi pemeluknya dengan membangun tempat-tempat ibadah yang megah dan mewah, bahkan masing-masing agama dan aliran berlomba-lomba untuk membangunnya.

Maka kutuk Allah atas orang-orang yang sibuk dengan dunianya itu:
“Jadi batulah kamu atau jadi besi“ (Al – Isra’ 50)

Keraslah hati mereka untuk menerima kebenaran dari Tuhannya. Karena, Jenis dari BATU yang menjadi hiasan dan
jenis dari BESI yang menjadi pengikat. Kedua jenis itu akan menenggelamkan manusia yang terikat olehnya kedasar samudera fikiran yang gelap gulita…………….

Demikianlah “B A T U” (BAtas TUjuan) orang-orang yang hatinya telah “MEMBATU” (MEMiliki BAnyak TUntutan) demi hidup di dunia. Dan kita sama-sama menunggu apa yang akan terjadi nanti dengan “B A T U” (BAlasan TUhan)……? Dan manusia semua akan diberikan “B A T U” (BAtas wakTU)…….! Dan tetaplah menunggu “B A T U” (tiBA wakTU).

 

Ismu Sultan Alamsyah

 

 

5 Comments to "“BATU” (BAhasa TUhan)"

  1. James  6 August, 2015 at 09:43

    makasih Al….hadir juga deh meski telat

  2. Lani  5 August, 2015 at 22:58

    AL : mahalo sdh diingat

  3. djasMerahputih  5 August, 2015 at 17:13

    Hadir mba Avi…
    Batu Akik nan cantik.

  4. Itsmi  5 August, 2015 at 14:04

    saya kira batu juga bisa di buang…

  5. Alvina VB  5 August, 2015 at 13:14

    Absenin trio amigos di KAM dulu ya….
    Bacanya besok dah…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.