Naik Haji di Masa Silam (Jilid 3)

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Naik Haji di Masa Silam – Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji; Jilid III (1954 – 1964)

Penulis: Henri Chambert-Loir

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tebal: v + 367 halaman

ISBN: 978-979-91-0658-2

naik haji masa silam 3

 

Naik haji adalah sebuah fenomena. Ada berbagai cara seseorang berhaji. Ada yang berangkat karena niat, ada pula yang karena sebuah kebetulan. Namun jika panggilan Nabi Ibrahim ini sudah menjelma, maka tak ada penghalang yang bisa membuat seseorang berhaji.

Kisah-kisah dalam buku jilid III ini menunjukkan bahwa tidak semua orang berhaji karena niat. Tidak juga seorang berhaji karena sudah hidup saleh. Kisah Rosihan Anwar, Asrul Sani dan Misbach Yusak Biran (MYB) menunjukkan bahwa mereka berhaji karena ‘kebetulan’. Mereka sebenarnya tidak siap untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan dalam tulisan MYB, seorang dokter kapal haji yang tujuan utamanya pergi ke Jedah adalah untuk membeli blok mesin mobil Fiat, dan tak pernah sedikitpun berhaji, sesampai di Mekah menunaikan ibadah haji. Pengalaman mereka ini jelas berbeda dengan pengalaman Saiful U.A yang berhaji pada tahun 1954 dan Harun Amirrurashid yang berhaji pada tahun 1960. Kedua penulis ini memang sudah siap untuk berhaji. Niat dan amalan ke-Islamannya sudah ‘matang’ untuk menunaikan ibadah haji.

Marilah kita simak kegalauan Asrul Sani:

Mobil yang terakhir telah berangkat. Gedung telah kosong. Yang tinggal hanya saya dengan empat orang kawan. Mereka telah begitu baik untuk menanyakan kepada saya, kapan saya bersedia berangkat ke Mekah. Saya minta sore hari. Sedangkan hati kecil saya berharap moga-moga sore hari ini panjang sekali dan matahari tidak pernah turun.

Tetapi sore sudah datang dan kedutaan telah mengirimkan pakaian ihram. Kawan-kawan saya telah siap bersembahyang sunat ihram. Yang tinggal hanya saya sendiri. Saya telah dua kali bersembahyang dan kedua kalinya saya berhenti di tengah-tengah. Pikiran saya melayang ke mana-mana. Demikianlah saya berdiri di atas balkon dan memandang nanap ke laut mencoba menenangkan hati saya (p 1170).

Meski Asrul Sani begitu ragu untuk menunaikan ibadah haji, namun pada akhirnya dia mendapatkan kebahagiaan itu.

Saya merasa diri saya sangat lelah seperti habis melakukan suatu perjalanan jauh dan akhirnya saya diberi kesempatan duduk untuk melepaskan lelah saya. Saya merasa seolah-olah ada yang datang pada saya, yang sengaja datang menyambut saya dengan tangan terbuka tatkala saya datang. Tangan saya dibimbing dan saya didudukkan, lalu yang datang menyambut saya itu berkata, “Sudah lama kau pergi merantau, akhirnya kau pulang juga. Sekarang di sinilah kau dahulu. Istirahatlah di sini, tidurlah di sini, makanlah di sini – ini adalah rumahmu dan kampung halamanmu!” Air mata saya keluar dan saya menangis tersedu-sedu.

Kisah unik disampaikan oleh MYB. Saat beliau berpamitan kepada Presiden Sukarno, sebelum berangkat haji dan membuat film tentang haji, Sukarno mengharapkan bahwa film yang dibuat janganlah berisi dakwah yang membosankan, tetapi berisi tentang perenungan yang mendalam. Film tersebut haruslah menyerupai buku “The Road to Mecca” tulisan Leopold Weiss, seorang Yahudi yang masuk Islam dan kemudian beganti nama menjadi Muhammad Assad. Sukarno lebih paham tentang kisah ini daripada berbagai kisah perjalanan haji orang Nusantara.

Pada periode 1954 – 1964 perjalanan haji dengan pesawat terbang sudah menjadi lazim. Demikian juga perjalanan unta telah diganti dengan perjalanan dengan mobil. Namun beberapa penulis masih merasa bahwa perubahan perjalanan yang menjadi lebih singkat ini menghilangkan banyak makna dan kisah.

Pada bab terakhir dari buku ini disajikan statistik orang Nusantara yang berhaji. Kita bisa melihat bahwa faktor alat transportasi, ekonomi dan politik berpengaruh terhadap perjalanan berhaji orang Indonesia. Ketika perjalanan haji sudah dikelola oleh pemerintah, jumlah jemaah haji Indonesia meningkat pesat. Demikian pula saat perjalanan haji sudah menggunakan pesawat terbang. Jumlah jemaah haji Indonesia menurun drastik di awal kemerdekaan. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi yang sangat berat dan anjuran dari pemerintah untuk tidak mengajukan ibadah haji.

Jika anda ingin membaca lebih banyak tentang orang Nusantara berhaji, di daftar pustaka buku ini dicantumkan judul-judul artikel/buku/karangan tentang pengalaman berhaji.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Naik Haji di Masa Silam (Jilid 3)"

  1. Handoko Widagdo  14 August, 2015 at 20:07

    Ini menunjukkan bahwa jauh sebelum Global Community Nusantara berdiri, orang Nusantara sudah berani menjelajahi bumi.

  2. J C  14 August, 2015 at 14:27

    Mengikuti seri 1 sampai seri 3 benar-benar seru…jadi ingat cerita-cerita perjalanan muhibah Laksmana Cheng Ho…

  3. djasMerahputih  10 August, 2015 at 16:07

    Makasih doanya mas Hand… moga-moga juga buat semua yang memiliki keyakinan sama….

  4. Handoko Widagdo  10 August, 2015 at 15:55

    Doaku menyertaimu Kang Djas. Semoga undangan Nabi Ibrahim itu segera diperdengarkan untukmu.

  5. djasMerahputih  10 August, 2015 at 15:50

    Ha ha ha…. amiinnn…. 100x
    Artikel baltyra belum nongol…, pasti bang James udah ketiduran… he he he….

  6. Handoko Widagdo  10 August, 2015 at 15:44

    Siapa tahu Nabi Ibrahim meminjam suara para TKI?

  7. djasMerahputih  10 August, 2015 at 15:34

    Mas Hand:
    Undangan dari Raja Saudi atau dari Nabi Ibrahim Kang Djas?
    —————-
    Ha ha ha…. kayaknya undangan dari para TKI di Arab Saudi..

  8. Handoko Widagdo  10 August, 2015 at 15:23

    Undangan dari Raja Saudi atau dari Nabi Ibrahim Kang Djas?

  9. Handoko Widagdo  7 August, 2015 at 09:20

    Mungkin karena saat itu para calon haji harus naik kapal Kangmas Djoko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.