Wisata Religi di Masjid Al Mashun & Buka Puasa di Ramadhan Fair Medan 2015

Wiwit Sri Arianti

 

Alhamdulillah…aku dipertemukan lagi dengan bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat. Memasuki hari Ramadhan tahun ini, aku berkesempatan datang ke Medan dan ini untuk pertama kalinya aku menikmati Ramadhan di kota Medan. Setelah menghubungi teman yang ada di Medan, kami sepakat untuk berbuka puasa bersama di “Ramadhan Fair” yang berlokasi dekat dengan Masjid Raya Medan dan sekitarnya.

Pertimbangannya kenapa kami memilih tempat tersebut karena lokasi ramadhan fair terletak di lingkungan Masjid Raya, sehingga kami bisa langsung shalat setelah membatalkan puasa dan melanjutkan buka puasa setelah selesai mendirikan shalat maghrib. Selain itu, ramadhan fair ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali pada saat bulan ramadhan, sehingga pasti ada banyak hal menarik dan aku penasaran dengan bubur melayu atau bubur sup yang disediakan untuk semua yang datang di masjid raya setiap ramadhan.

Setelah menyelesaikan acara sekitar jam 17.00 wib, aku langsung kembali ke kamar, siap-siap dan menuju lobby menunggu Hanum, teman satu tim sewaktu menangani emergensi di Aceh sesaat setelah tsunami, dia berjanji akan datang dan buka puasa bersamaku. Sebenarnya letak Masjid Raya cukup dekat dengan hotel tempatku menginap, namun karena agak lelah setelah bekerja dalam keadaan puasa, maka kami memutuskan untuk naik becak saja dan pulangnya nanti baru berjalan kaki.

Begitu sampai di masjid, saya terkesima dengan keindahan bangunan Masjid Raya ini, mungkin ini masjid terindah dan termegah di kota Medan. Menurutku hampir setiap kota di Republik ini pasti memiliki yang namanya Masjid Raya atau Masjid Agung atau Masjid Akbar yang megah dan indah, karena masjid raya tersebut merupakan salah satu kebanggaan dari masyarakat di setiap kota. Contohnya saja, Masjid Istiqlal di Jakarta yang menjadi kebanggaan masyarakat Betawi, Jakarta, bahkan aku yang bukan orang asli Betawi maupun Jakarta, aku juga sangat bangga dengan Masjid Istiqlal. Apalagi arsitek Masjid Istiqlal adalah Presiden Pertama Republik Indonesia, jadi pantaslah kalau bangsa Indonesia juga membanggakannya.

Begitu sampai di Masjid Raya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berfoto di depan masjid, sebagai bukti bahwa aku sudah pernah mengunjunginya dan mendirikan shalat di masjid ini. Foto di bawah ini diambil saat matahari sudah terbenam di ufuk barat, tapi kenapa di dalam foto nampak langit masih terang seperti layaknya masih sore. Mungkin karena efek sinar lampu yang sangat terang dipasang di setiap jengkal di sudut masjid.

wisata religi medan (1)

Setelah berjalan mengelilingi masjid, ada kesan kalau masjid ini sangat kental dengan gaya arsitektur Eropa, meskipun tanpa meninggalkan sentuhan Melayu. Sehingga nampak sekali kalau Masjid ini merupakan perpaduan sempurna antara arsitektur Eropa, Timur Tengah, dan Melayu. Masjid Raya Medan yang menjadi identitas Kota Medan ini, memang bukan sekedar bangunan antik bersejarah biasa, tetapi juga menyimpan keunikan tersendiri mulai dari gaya arsitektur, bentuk bangunan, kubah, menara, pilar utama hingga ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi setiap bagian bangunan tua ini.

Masjid Al Mashun adalah nama dari masjid raya ini merupakan salah satu peninggalan Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam – penguasa ke 9 Kerajaan Melayu Deli yang berkuasa 1873 – 1924 . Masjid Raya Medan (Al- Mashun) sendiri didirikan pada 1906 pada tanah seluas 18.000m2, berkapasitas 1.500 jamaah, dirancang dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India dan Eropa abad 18 oleh seorang arsitek yang berasal dari Belanda yang bernama Van Erp, tapi proses pengerjaannya diteruskan oleh J. A. Tingdeman.

“Selasar dan jendela masjid dengan lukisan kaca yang indah”

“Selasar dan jendela masjid dengan lukisan kaca yang indah”

“Selasar dan jendela masjid dengan lukisan kaca yang indah”

“Selasar dan jendela masjid dengan lukisan kaca yang indah”

 

Ruang utama masjid tidak nampak dari luar karena terlindungi oleh selasar kecil yang menghubungkan antara serambi satu dengan serambi yang lainnya. Ada 8 pilar berdiameter 0,60 m pada bagian dalam masjid raya ini yang berfungsi sebagai penopang dan tiang penyangga kubah utama pada bagian tengah masjid. Sedangkan 4 kubah yang lain berada di atas ke empat serambi, selain itu masih ada 2 buah menara yang menjulang tinggi di kiri-kanan belakang masjid raya.

Keunikan lain dari masjid raya ini ada pada mimbar, empat pintu utama dan 8 buah jendela serambi yang terbuat dari ukiran kayu merbau yang bergaya seni tinggi, lengkap dengan ukiran dan hiasan ornamen khas Melayu Deli pada setiap sudut bangunan yang mengesankan nilai-nilai sakral religius yang dalam bagi setiap muslim yang memandangnya.

Masjid raya ini bertetangga dengan Istana Maimoon yang juga merupakan peninggalan Kesultanan Deli. Sultan Deli sengaja membangun masijdnya ini dengan megah dan mewah karena menurutnya lebih penting membangun rumah Allah yang megah ketimbang membesarkan istananya sendiri. Jarak dari Istana Maimoon ke masjid raya hanya sekitar 200 m, sehingga ketika mengunjungi Istana Maimoon kita bisa sekalian mendirikan shalat di Masjid ini.

“Ornamen yang indah di dalam masjid”

“Ornamen yang indah di dalam masjid”

Aku juga menemukan tempat wudhu bagi perempuan yang bagus seperti yang terlihat pada foto di bawah ini. Tempat wudhu bagi perempuan ini terpisah dari bangunan masjid, terletak di samping kanan masjid, sehingga air yang menempel di kaki dan tangan sesaat setelah wudhu tidak membasahi karpet masjid karena sudah jatuh dalam perjalanan menuju masjid. Sehingga kebersihan masjid jadi lebih terjaga dan aroma tidak sedap yang selalu akrab di dalam masjid dan mushola hilang, hal ini dapat menambah kekhusukan dalam shalat.

Hal lain yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan masjid adalah tersedianya mukena yang bersih dan harum dengan aroma pewangi yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian. Sehingga, meskipun lupa membawa mukena, kita tidak perlu was-was karena sudah tersedia mukena yang bersih dan wangi.

“Tempat wudhu Perempuan”

“Tempat wudhu Perempuan”

“Mukena yang bersih dan harum pewangi”

“Mukena yang bersih dan harum pewangi”

“Papan peringatan ini ada di dalam masjid”

“Papan peringatan ini ada di dalam masjid”

Selain banyak hal menarik yang ada di dalam masjid raya ini, ada satu hal yang sangat menggangguku, yaitu papan pengumuman yang diletakkan di dalam tempat shalat dan di beberapa tempat yang strategis seperti dalam foto di atas. Kenapa hal ini mengganggu? Menurutku pengumuman tersebut menegaskan adanya kondisi yang tidak aman di lingkungan masjid yang megah ini. Sehingga kita harus sangat berhati-hati terhadap barang-barang berharga yang kita bawa saat berada di lingkungan masjid. Ironis bukan? Masjid yang sesungguhnya tempat beribadah, tempat orang-orang berdialog dengan Tuhan ternyata menjadi tempat yang tidak aman. Jangankan barang-barang berharga, sandal dan sepatu saja sering hilang atau tertukar dengan yang lebih jelek. Bahkan di beberapa tempat, kotak amal-pun bisa raib entah kemana. Sungguh sangat memprihatinkan…

wisata religi medan (8)

Foto di atas adalah suasana di depan pintu gerbang menuju masjid yang banyak orang berlalu lalang dan beberapa tempat di halaman masjid juga penuh dengan orang berkelompok menikmati takjil. Sayang sekali kami tidak kebagian, sebetulnya aku ingin merasakan nikmatnya bubur melayu atau bubur sup yang terkenal itu. Menurut informasinya, bubur sup ini selalu disediakan di Masjid Raya setiap tahun selama bulan Ramadhan sejak tahun 1960-an. Siapapun yang datang ke masjid pada saat buka puasa, mereka bisa ikut makan gratis. Dana yang dibutuhkan untuk menyediakan bubur sup selama ramadhan ini sekitar 80 juta rupiah berasal dari sumbangan masyarakat dan donator. Karena aku tidak kebagian buburnya jadi tidak bisa berbagi dengan teman-teman seperti apa bentuknya.

Sepertinya saat terbaik mengunjungi masjid ini adalah saat bulan Ramadhan, karena masjid menjadi sangat hidup dan penuh dengan kegiatan setiap harinya, apalagi dipadukan dengan acara ramadhan fair, yang berlokasi di samping masjid raya. Menurut seorang petugas, ramadhan fair kali ini berhasil mengumpulkan pedagang kuliner sebanyak 130 orang dan 80 orang lainnya pedagang non kuliner. Menurut temanku ada yang berbeda pada kegiatan tahun ini, agar masyarakat yang berbuka puasa lebih nyaman dan terhindar dari hujan, seluruh arena kuliner dipasang tenda, seperti nampak dalam foto di bawah ini. Kegiatan Ramadhan Fair ini memadukan antara pelaku kuliner, pemerintah, dan masyarakat dalam kemasan religi yang dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu di lingkungan masjid raya, lapangan sepak bola Marelan, dan lapangan Cadika Jalan Karya Wisata Medan Johor.

wisata religi medan (9)

Suasana buka puasa di Ramadhan Fair sungguh meriah, setelah keliling mencari tempat duduk, akhirnya kutemukan agak ke tengah sehingga benar-benar dapat merasakan riuhnya suasana karena setiap orang berbicara, setiap orang pesan makanan dan setiap orang juga ingin dapat layanan duluan. Meja kursi makan ditata di tengah dan pinggir lokasi dipenuhi dengan gerobak yang menyediakan beraneka makanan seperti 3 contoh yang ada di foto ini berupa gerobak empek-empek Palembang, sate Bandung asmara, dan durian. Lengkap sudah kunjunganku ke Medan kali ini, bisa buka puasa bersama teman lama, menikmati ramadhan fair dan mendirikan shalat di masjid yang megah dan bersejarah.

wisata religi medan (10) wisata religi medan (11) wisata religi medan (12) wisata religi medan (13) wisata religi medan (14)

Foto mobil bank ini merupakan salah satu contoh non kuliner yang ikut meramaikan ramadhan fair di Medan. Menurutku mobil bank ini dapat membantu mereka yang kekurangan uang tinggal menggeseknya di ATM yang adad di mobil bank tersebut.

Oke teman-teman, sampai di sini dulu jalan2ku ke Medan dalam rangka tugas sambil menikmati wisata ramadhan, sampai bertemu lagi di wisata berikutnya. Kalau Pak DJ biasa bilang salam manis dari Maniz, maka aku bilang salam manis dari Batavia…

 

 

20 Comments to "Wisata Religi di Masjid Al Mashun & Buka Puasa di Ramadhan Fair Medan 2015"

  1. Wiwit Arianti  14 August, 2015 at 16:39

    Sip mas JC, tapi kenapa dirimu kok tidak suka durian? aku slalu penasaran dengan teman2 yang tidak suka durian, soalnya ueenak sekali lho, betul kan mas Handoko?

  2. J C  14 August, 2015 at 14:28

    Mbak Wiwit, semuanya suka (kecuali duren’nya ) dan aku sudah pernah mengunjunginya…

  3. Wiwit Arianti  13 August, 2015 at 20:00

    Halo mbak Hennie, apa kabar? ternyata kampung halamanmu Medan to mbak?
    Ayo, kapan mengunjungi Medan aku tak ikut, ntar kalau mau mudik kabar2 ya mbak, siapa tahu pas jadwalku ke Medan, jadi kita bisa berwisata sama2

  4. HennieTriana Oberst  13 August, 2015 at 17:24

    Memang asyik mengunjungi Ramadan Fair di sekitar Masjid Raya Medan.
    Wah mbak Wiwit bikin kangen saya akan kampung halaman.

  5. Wiwit Arianti  7 August, 2015 at 15:57

    Pak Dj,…maksudnya ajaran yang baik2 aja yang diambil dan ajaran yang buruk harus dibuang or tidak perlu diikuti. hehehe….

    Tapi ajaran Pak Dj Ok banget, saya setuju.

  6. Wiwit Arianti  7 August, 2015 at 15:54

    Pak Sumonggo,…pingin nyobain satenya gak pak? haha….

  7. Wiwit Arianti  7 August, 2015 at 15:50

    Itulah Bu Lani, sungguh sangat menyedihkan..

  8. Wiwit Arianti  7 August, 2015 at 15:45

    Iya pak djas, karena baru nyicipi jadi belum puas, kurang banyak hehehe…

  9. Dj. 813  6 August, 2015 at 17:19

    Wiwit Arianti 5 August, 2015 at 15:25

    Sama2 Pak Dj, nampaknya copet ada dimana2 termasuk di masjid. Mungkin mereka sedang mempraktekkan ajaran “ambillah yang baik2 dan buanglah yang buru2″ hehehe….just kidding pak…
    ———————————————————

    Oooooooo . . . . begitu ya . . .
    Jadi ajaran itu ada ya mbak . . .
    Kalau gitu Dj. salah mengajarka ke anak-anak Dj.
    Berilah yang terbaik untuk orang lain, cukupi dirimu dengan yang baik saja.
    Kalau dapat yang jelak, jadikan yang jelekpun agar ada menfaatnya.

    Kalau ambil yang terbaik untuk diri sendiri, kasihan orang lain kan . . . ? ? ?
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    salam manis dari Mainz .

  10. James  6 August, 2015 at 09:34

    terima kasih Alvina……hadir meski telat…..telat meski hadir

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.