Pahlawan Kesiangan dan Bakul Kompor

Condro Bawono

 

Pahlawan Kesiangan (PK) adalah orang yang tidak tahu duduk persoalan sebenarnya dan selengkapnya tetapi sok tampil sebagai pahlawan. Berbekal informasi yang sedikit, sepihak dan sepotong-sepotong, PK berusaha tampil “heroik” sebagai pembela pihak yang DIANGGAPNYA terzalimi. Dia bersikap demikian KARENA salah satu atau ketiga-tiganya dari kemungkinan berikut ini:

pahlawan kesiangan

1. Dia merupakan “orang dekat” dari pihak yang DIANGGAPNYA terzalimi, sehingga dia “kesulitan” mengambil-jarak untuk memperoleh penilaian-obyektif. Apapun yang dikatakan oleh pihak yang DIANGGAPNYA terzalimi cenderung diterima oleh PK sebagai suatu “cerita yang benar”. Empati emosional Si PK menyebabkan pikirannya tidak terbuka bahwa sesungguhnya cerita itu hanyalah “cerita yang dibolak-balik” atau “cerita yang benar TAPI tidak lengkap”.

2. Dia merupakan “orang yang butuh dekat terus” dengan pihak yang dibelanya KARENA dia “butuh sesuatu” dari pihak yang dibelanya itu. “Sesuatu” itu dapat berupa apa saja, entah materi, entah popularitas, entah sekadar kesempatan sering diajak piknik atau bersenang-senang. Si PK khawatir kehilangan kenyamanan itu, maka ia berusaha “tampil terdepan” sebagai “hero” yang “berkacamata kuda”.

3. Dia merupakan “orang yang tidak sadar” akan dinamika kehidupan dan hukum “cakra manggilingan”. Si PK lupa bahwa ada kemungkinan suatu saat dia pun akan kena “tendang” justru oleh pihak yang (pernah) dibelanya mati-matian itu. Hubungan emosional “sangat dekat” itu menjadi BIUS yang membuat Si PK lupa bahwa pihak yang DIANGGAPNYA terzalimi itu pernah BERLAKU ZALIM PULA kepada para sesama (mantan) “orang-orang dekat” yang kini sudah semakin menjauh. Si PK lupa pada kemungkinan bahwa suatu saat dirinya pun hanya akan dianggap sebagai “gedibal” (tanah-liat yang menempel di kaki) yang akan “dikerok” oleh si pemilik-kaki yang DITEMPELInya dengan sangat setia itu.

Kombinasi ketiga faktor tersebut menyebabkan Si PK menjadi tidak berwawasan-luas. Terhadap suatu masalah yang DIANGGAPnya “kecil” dan hanya melibatkan dua-tiga orang, dia sulit membuka wawasan bahwa ada kemungkinan masalah itu sesungguhnya hanyalah BAGIAN KECIL DARI MASALAH YANG JAUH LEBIH BESAR YANG MELIBATKAN SANGAT BANYAK ORANG.

Maka ketika ada orang-orang lain yang DIANGGAPnya “tidak terlibat” dalam masalah “kecil” itu ikut-ikutan “jualan kompor” dengan akting seolah-olah mendukung “perjuangannya”, Si PK tidak merasa bahwa sesungguhnya dia sedang DIPERALAT oleh orang-orang lain itu DALAM KERANGKA MASALAH YANG JAUH LEBIH BESAR. Dia tidak sadar bahwa dengan “kepahlawanannya” itu sesungguhnya dia sedang “dimanfaatkan” sekadar sebagai “pelanduk” di kancah “peperangan antar gajah-gajah”. Tinggal menunggu saatnya saja si pelanduk mati terinjak-injak oleh gajah-gajah, termasuk oleh “gajah bakul kompor” yang tadinya berakting mendukungnya itu.

Tetapi barangkali memang karakter Pahlawan Kesiangan adalah “bombongan” (gila pujian). Dia bagaikan sumbu kompor kualitas super. Cukup dengan setetes minyak dan sepercik api, menyala-hebatlah dia. Cukup dengan “jurus Sengkuni” yang dibungkus sikap “keibuan/kebapakan” dan kata-kata “manis” seperti “kamu pinter”, “kami bangga padamu”, “kamu sungguh luar biasa cerdas”, “kamu memang kawan yang setia”, “teruskan perjuanganmu” dan “kami mendukungmu”, maka seekor “gajah bakul kompor” sudah bisa membuat “si pelanduk” besar-kepala, cuping-hidungnya kembang-kempis, lantas semakin “penthalitan” kegirangan lupa-daratan.

Dan setelah lupa-daratan, si Pahlawan Kesiangan akan lupa bahwa suatu saat dia akan terpeleset jatuh terjerembab membentur-keras daratan, lantas terinjak atau bahkan DIINJAK oleh si “gajah bakul kompor” itu sendiri, DAN (ini dia:) DITINGGALKAN PLUS DILUPAKAN PLUS DIBOLAK-BALIK SENDIRI CERITANYA OLEH pihak yang tadi dibelanya mati-matian karena DIANGGAPnya sebagai pihak yang terzalimi itu.

 

Catatan untuk Renungan: 
HATI-HATI … Ketika kita hendak melakukan suatu perbuatan yang kita ANGGAP sebagai perbuatan “kepahlawanan”, kita harus menanggalkan “kacamata kuda”, membuka mata untuk wawasan seluas mungkin, jangan sampai kita terjebak sekadar menjadi “sumbu kompor kualitas super” …

 

Semoga bermanfaat…

 

 

7 Comments to "Pahlawan Kesiangan dan Bakul Kompor"

  1. J C  14 August, 2015 at 14:36

    Di Indonesia memang sekarang komoditi paling laris adalah kompor…hahaha…

  2. Linda Cheang  8 August, 2015 at 11:00

    aku lebih suka ngumpet saja dari perhatian publik sambil terus berkarya, daripada muncul terkenal tapi jadi pahlawan kesiangan

  3. djasMerahputih  7 August, 2015 at 15:31

    Hadir bang James..
    Pahlawan kesiangan yang telat hadir ketemunya pahlawan kemalaman…

  4. Handoko Widagdo  7 August, 2015 at 14:08

    Nasihat yang berguna. Maturnuwun.

  5. triyudani  7 August, 2015 at 13:24

    Membela tapi suatu saat kena tendang juga.Sungguh menyedihkan.

  6. James  7 August, 2015 at 09:52

    hadir mengabsenkan para Kenthirs lainnya yang belum muncul

  7. Dj. 813  6 August, 2015 at 23:20

    Pahlawan kesiahan ( PK ) adalah orang yang mau turut campur urusan rang lain.
    Kadang tidak tahu masalahnya, tapi sudah melontarkan kritik salah satu pihak
    dan membela phak lain. Hanya menginginkan pujiaan atau sedikitnya perhatian dari orang lain.
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.