Isi Kutang Lebih Penting dari Kutangnya

Dwi Isti

 

Ada yang pernah mendengar atau membaca seloroh Gus Dur yang “mbeling” tapi ‘cerdas’? Setidaknya menurut saya itu cerdas, bila direnungkan 2 level lebih dalam dikit, bukan sekedar makna literal atau lebih parah yang mikir kotor hanya sebatas baca kata-kata saja (dari permukaan).

“Isi kutang lebih penting dari kutangnya ” hehehe…anda tau kan maksudnya? Terutama buat para lelaki..yang beliau maksud sebenarnya adalah “esensi itu lebih penting dari kemasan”. Walau kadang saya jadi sumpek bin stress kalo baca status-status yang dangkal alias bodho di medsos. Tapi alhamdulillah ada bagian dunia lain yang sangat menggairahkan.

Kali ini saya sedang tidak mood bicara tentang politik atau status-status aliran 2D yang sedang merajalela. Lebih seru bicara dengan manusia-manusia hebat yang lebih paham “isi kutang” daripada cuman mikirin “kutangnya”.

Anak-anak muda ternyata banyak yang asyik dan keren. Banyak di antara mereka yang mengukir prestasi, berkarya dan juga meraih limpahan materi di usia sangat muda, sudah menjelajah 4 benua, berkeliling di 50 negara….sudah bisa membahagiakan orang tua dan berbagi dengan sekitarnya, tanpa perlu tunduk pada aturan baku untuk meraih titel,mengejar gelar dan punya status. Just follow the passion, mengikuti suara hati, membangun “jaringan pipa” bisnisnya dengan diam tapi pasti.

Mereka orang-orang yang punya kecepatan belajar dan beradaptasi luar biasa,mereka sadar kecepatan perubahan dunia ini butuh respon yang super cepat…dan bergantung pada sistem pendidikan atau sistem-sistem yang sudah berjalan…kadang justru membuat kita tertinggal terlalu jauh.

Walau mungkin sebagian orang memandang apa yang mereka lakukan pada awalnya adalah gila dan mimpi, tapi akhirnya mimpi itu terwujud, dan hanya dengan kegilaan saja revolusi ke era baru yang lebih memberi harapan bisa terjadi.

young-entrepreneurs

Beberapa contoh antara lain, bagaimana seorang Tara yang sangat menggandrungi dunia animasi, hingga karyanya dikenal dunia, ketika mendapatkan tawaran dari Hollywood justru mengatakan , “kalo kalian yang butuh keahlian kami, kalian lah yang ke sini ….kami bisa bekerja cukup dari sini, di rumah kami di negeri sendiri”.

Bagaimana dua orang kakak beradik yang belum pernah mengenyam bangku kuliah, tapi proyeknya bisa mendapatkan award dari NASA, mengalirkan dollar sebagai income, membuka lapangan kerja sendiri juga untuk sekitarnya ….

Sebuah marketplace lokal, yang modalnya pas-pasan bisa menjadi bisnis start up yang meraksasa, yang dibangun sendiri oleh anak bangsa, maju bersama para pelaku UKM nasional dan kini telah memiliki omset ratusan milyar…hanya dalam jangka waktu belum mencapai 5 tahun….

Dan di sebuah daerah bernama Kaliabu, Sleman, yang sebelumnya para pemudanya menjadi punkers yang cenderung berandalan dan meresahkan masyarakat, lalu sekelompok anak muda membagikan ketrampilan mereka seputar Corel Draw dan Photoshop untuk berlatih membuat logo dan sticker…dan kini untuk bisa berincome minimal $500 perbulan dari hasil menjual jasa membuat logo tersebut…bukan hal yang sulit…it’s not bad untuk anak-anak yang sebelumnya dianggap sampah masyarakat.

Tanpa bicara berbusa-busa, tanpa ekspose yang bombastis…mereka ada dan sedang mengukir sejarah, dan aku bersyukur mata dan pikiranku mendapatkan kesempatan untuk memandangi dan mencermati sembari terus belajar dari mereka. Jangan heran bila, sekarang atau 5 tahun kedepan anda jarang menemukan “sarjana” tapi justru menemukan “jutawan” yang pekerjaannya “tidak jelas” …hehehe…….seperti memelihara tuyul, tidak bekerja di instansi tertentu atau di perusahaan tertentu….tapi merancang perusahaannya sendiri, tidak perlu berdasi atau bersafari…bahkan cukup dengan kaos oblong atau celana kolor…tapi ini lah eranya…era baru…semua orang mendapat kesempatan sama.

IQ dan IP mungkin masih diagungkan di dunia nya sendiri, tapi dunia baru yang bisa menghargai passion, talenta dan kreativitas juga semakin meluas dan memiliki penduduk sendiri…..dunia semakin berwarna. Fenomena sedang terjadi…dan dunia berubah semakin cepat….Life is too short….daripada waktu habis untuk menyebar kebencian dan kedengkian, I choose to stand on smart side

Seperti apa yang pernah ditulis Prof Rhenald Kasali, “meaning more important than money. Bila kita mencari meaning…uang akan datang sendiri”.

 

 

About Dwi Isti

Seorang penulis lepas yang berasal dari Surabaya dan sekarang tinggal di Jogja.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Isi Kutang Lebih Penting dari Kutangnya"

  1. Nonik-Louisa  19 August, 2015 at 14:41

    Setuju sama Om JC, judul yang sangat menarik & provokatif, meskipun isinya sama sekali tidak berkaitan dengan kutang & isinya. Ilustrasi yang diberikan juga sama sekali tidak bersentuhan dengan kutang dan isinya. hahahahahahahahaa! #sarap bin kumat….

  2. Handoko Widagdo  16 August, 2015 at 16:44

    Berbuat lebih baik dari kutangnya.

  3. Lani  15 August, 2015 at 08:08

    JAMES : mahalo, sdh di opyak2 dibangunin, dan diingat.

    Membaca artikel ini, hal yg tdk surprise, krn aku sering melihat acara Kick Andy, yg menampilkan orang2 muda Indonesia yg karyanya banyak diakui di manca Negara, bahkan banyak orang Indonesia yg mem-patentkan karya2nya di luar negeri, sebagian dr mrk tdk/belum ingin kembali ketanah air, bukannya mrk tdk berjiwa nasionalis, akan ttp mrk mengatakan klu tdk ada jaminan, entah itu dr segi gaji/pendapatan, atau krn mmg ilmu mrk terlalu tinggi, hingga belum/tdk ada tempat utk diterapkan dinegeri sendiri.

    Apalagi sdh rahasia umum, orang2 pinter itu kdg tdk dipandang sebelah mata dinegeri sendiri, tdk dihargai

  4. Alvina VB  15 August, 2015 at 06:10

    Ketawa baca judulnya, he..he…iya, jaman sekarang ini generasi X beda dengan generasi2 kita jadul, mereka pada kerja on-line dengan penghasilan yg memukau, biasanya pada mulai bisnis di usia muda dari ruang tidur sendiri/dari garasi rumah or-tu. Kreativitas anak muda yg tinggi dan banyak sekali bisnis2 baru yg bermunculan on-line. Sekarang istilahnya bukan lagi wild, wild world, ttp wild cyber world…

  5. Dj. 813  15 August, 2015 at 00:34

    Dwi Isti . . .
    Terimakasih untuk satu ilustrasi yang bagus . . .
    Tergantung isinya juga kan . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  6. djasMerahputih  14 August, 2015 at 16:23

    Hadir bang James….
    Di jaman pencitraan kadang kemasan lebih menarik dari isinya.
    Beruntunglah orang yang lebih mengejar konten.

    Masih akan lebih banyak lagi kejutan dari para pemuda nusantara…. It’s the time….!!

  7. James  14 August, 2015 at 15:42

    isi lebih penting dari cangkangnya

    absenin para kenthirs yang belom keluar dari cangkangnya

  8. awesome  14 August, 2015 at 15:20

    like *jempol*

  9. J C  14 August, 2015 at 14:57

    Huahahaha…judulnya sangat provokatif…terutama untuk Kang Anoew van Saroew… padahal isi artikel gak ada hubungannya sama sekali dengan kutang dan isinya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.