Menolak Terjajah (kembali)

djas Merahputih

 

Meskipun kemerdekaan republik tercinta telah genap berusia 70 tahun, nyatanya nikmat kemerdekaan tak sepenuhnya dirasakan oleh rakyat Indonesia. Kesulitan hidup, pengangguran, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Petani dan nelayan tak jauh berbeda nasibnya dengan rekan mereka yang memilih menjadi buruh pabrik maupun perkebunan.

Cita-cita kemerdekaan jelas menyebutkan, terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata “keadilan” merujuk pada pemerataan kesempatan, sedangkan kata “seluruh” sudah pasti bermakna bukan sebahagian, tidak sekelompok kecil dan bukan satu wilayah atau pulau-pulau tertentu saja. Melainkan segenap warga negara republik ini, baik yang bermukim di dalam maupun di luar negeri. Entah mereka berasal dari pelosok desa maupun para penduduk di kota-kota besar.

Kemerdekaan bukanlah sekedar rangkaian kalimat seperti tertera dalam naskah proklamasi saja. Secara umum kemerdekaan dapat diartikan terbebasnya seseorang dari dua hal, yaitu dari lapar dan rasa takut. Sebaliknya, penjajahan justru akan menimbulkan kedua hal tersebut. Lapar dan rasa takut merupakan ketidaknyamanan mendasar bagi setiap manusia, bahkan juga bagi makhluk hidup lain.

menolak terjajah

Jika kelaparan tak lagi ada maka keadilan bukanlah sesuatu yang sulit. Saat rasa takut bisa diminimalkan maka kenyamanan hidup semakin mudah untuk dicapai. Selebihnya, urusan hidup bermasyarakat bisa ditata sebijak-bijaknya. Hikmat kebijaksanaan, begitu pesan sila keempat dalam Pancasila.

Ketahanan pangan serta stabilitas keamanan merupakan indikator utama nilai-nilai kemerdekaan bangsa. Tingkat pendapatan perkapita bukanlah tujuan utama diperjuangkannya sebuah kemerdekaan. Sebab ia tak mewakili hakikat kemerdekaan setiap individu warga negara. Ia sekedar angka-angka statistik yang hanya berguna di atas meja. Tak peduli apakah para petani, nelayan, buruh serta rakyat kebanyakan di luar sana masih akrab dengan kelaparan dan rasa cemas.

Makna lapar selain berkaitan dengan kebutuhan pangan bagi jasmani juga bisa diperluas ke arah kebutuhan lain. Misalnya lapar (keinginan menuntut) ilmu, lapar harta, hasrat kuasa dan syahwat biologis. Patut diperhatikan bahwa ketiga hal terakhir paling berpotensi mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat.

Begitu pula halnya rasa takut atau cemas, bukan sekedar takut pada ancaman keamanan semata. Ia juga bisa bermakna cemas pada kesehatan, kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat, kesempatan bersekolah bagi anak, hak menetap dan bertempat tinggal hingga kecemasan pada lingkungan hidup yang semakin tercemar. Kecemasan akan tergusur dan terusir bisa jadi merupakan hal paling tragis yang masih bisa kita jumpai serta nyata terjadi di depan mata para penguasa. Negara seringkali gagal memperjuangkan kemerdekaan warganya.

Negara nampaknya terbiasa untuk selalu berakrobat dengan menjadikan hakikat kemerdekaan sebagai taruhannya. Menggantungkan ketahanan pangan pada produk-produk import serta pengadaan alutsista dari luar merupakan kebijakan paling akrobatik bagi sebuah negeri. Sebab kedua hal tersebut adalah pondasi terpenting bagi eksistensi suatu bangsa. Rakyat lapar mudah dikonfrontasi, sementara kekurangan senjata akan melemahkan daya tahan terhadap ancaman. Pertahanan yang rapuh, selain meruntuhkan wibawa, di saat bersamaan juga menurunkan posisi tawar terhadap hal-hal strategis saat bernegosiasi dengan dunia luar.

70-tahun-indonesia

Nilai kemerdekaan kita terpotret dari seberapa kuat ketahanan pangan serta kekuatan hankam kita saat ini. Kita berhak memilih untuk hanya merdeka di atas kertas atau merdeka senyata dan sehakiki arti kemerdekaan itu sendiri. Para pejuang kemerdekaan telah membuktikan pengorbanan mereka bagi sebuah negeri merdeka. Namun, 70 tahun setelah itu kita masih belum mampu membuktikan bahwa negeri merdeka ini, hingga saat ini, tetap menolak untuk dijajah (kembali).

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Menolak Terjajah (kembali)"

  1. djasMerahputih  20 August, 2015 at 18:41

    Kang JC:
    Betul Kang JC, meskipun djas tak sepakat dengan terminologi “Penjajahan”, kelatahan orang-orang beragama yang tak membumi dan cenderung ekslusif memang mengkhawatirkan. Kekuatan dana dari padang pasir dapat mengintervensi kedaulatan dan kemandirian kita sebagai sebuah bangsa merdeka. Untung saja masih ada NU dan Muhammadiyah. Semoga tradisi keaagamaan nusantara dapat terus bertahan di tengah badai padang pasir ini. Pengalaman kita sebagai bangsa untuk hal-hal serupa sebenarnya telah cukup banyak.

  2. J C  20 August, 2015 at 18:04

    Penjajahan yang paling menguatirkan sekarang adalah penjajahan dari padang pasir. Semakin banyak orang yang menuhankan agama itu sendiri, bukan berpatokan pada nilai universal Tuhan, tapi menuhankan agama…ini yang paling gawat…

  3. djasMerahputih  17 August, 2015 at 09:30

    Tji Lani :
    Bertanya lagi, beli obat Amnesia dimana yak? Yg plg mujarab, mustajab, dan mumpuni?
    ——
    Obatnya ada di hatimu yang terdalam… he he he…

  4. djasMerahputih  17 August, 2015 at 09:19

    Mas Hand:
    Dan menulis berarti: Membuat Tulisan…

  5. Handoko Widagdo  17 August, 2015 at 09:15

    Merdeka itu harus berbuat.

  6. djasMerahputih  17 August, 2015 at 08:57

    Dirgahayu NKRI….!!

    Jiwa, darah dan air mata para pejuang tak akan pernah sia-sia.
    Setiap cita-cita dan kehendak akan menemukan tempat dan waktunya sendiri… Seperti bulan berkehendak untuk purnama…

    Salam Jiwa Merdeka,
    (Generasi Penerusmu)

  7. Lani  15 August, 2015 at 10:34

    KANG DJAS : Saat ini Kona diguyur hujan deressssssss bingiiiiiit………hujan yg telah di-nanti2kan akhirnya datang juga, dibarengi gludug ngampar2…….(OOT).

    Bertanya lagi, beli obat Amnesia dimana yak? Yg plg mujarab, mustajab, dan mumpuni?

  8. djasMerahputih  15 August, 2015 at 09:07

    Tji Lani:
    Apakah hal demikian akan berkelanjutan, pertanyaannya: akan sampai kapan? Jawabannya, ada ditangan orang Indonesia sendiri.
    —————–
    Kita cuma butuh obat AMNESIA kok… (Mintanya sama para ahli sejarah macam kang ISK)
    Keterjajahan masih begitu lekat di alam bawah sadar, butuh stok obat anti AMNESIA lebih banyak..

  9. djasMerahputih  15 August, 2015 at 09:01

    mba AVY:
    Betul kata mba Avy dan orang2 dari luar..
    Memang salah satu masalah rakyat Indonesia adalah “Latah”.
    Apa saja yang lagi trend pasti langsung menjamur bak cendawan di musim hujan…
    “Berkepribadian dalam budaya” masih jauh di awang-awang…
    Mudah-mudahan cepat insyaf…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.