Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)

Handoko Widagdo – Solo

 

Note:

Saat memperingati Kemerdekaan RI ke 70, saya telah menyelesaikan sebuah buku tentang Diponegoro. Semoga artikel ini bisa menambah semaraknya Perayan HUT Kemerdekaan RI.

 

Judul: Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 – 1855)

Penulis: Peter Brian Ramsay Carey

Penerbit: KOMPAS

Tebal: xlii + 454

ISBN: 978-979-709-945-9

takdir diponegoro

Sebagai seorang pahlawan nasional, tempat Diponegoro dalam sejarah negerinya sudah pasti, tetapi apa nilai-nilai yang lebih mendalam yang diwariskan oleh Sang Pangeran? Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupannya? Apa pemaknaan yang lebih luas [dari kehidupan beliau]? (p. xxxii). Buku ini membahas Diponegoro sebagai pribadi. Diponegoro sebagai manusia. Melalui buku ini kita bisa belajar banyak dari sosok Sang Pangeran.

Diponegoro sebagai pahlawan sudah ditetapkan. Namun masih ada pihak-pihak yang mempertanyakan beberapa hal tentang kepahlawanan Diponegoro. Diantara pertanyaan tersebut adalah (1) apakah benar Diponegoro membela rakyat saat memberontak kepada Belanda, ataukah karena keinginan berkuasa di Jawa yang tidak tercapai? (2) Benarkah perang Diponegoro dipicu oleh ketersinggungan beliau ‘hanya’ karena tanahnya di Tegalrejo diberi patok untuk pembangunan jalan? (3) Bagaimana dengan ‘cacat’ Diponegoro yang suka perempuan? Ketiga pertanyaan tersebut setidaknya bisa terjawab melalui buku ini.

Peter Carey mengawali bukunya dengan menjelaskan masa kecil Diponegoro. Informasi ini membuat kita mengerti mengapa Diponegoro begitu kuat memegang Islam, taat kepada budaya Jawa dan peduli kepada wong cilik.

Diponegoro dibesarkan oleh perempuan-perempuan hebat dan para kyai desa. Dalam Bab I (Masa Kecil dan Masa Muda) Peter Carey membahas tentang perempuan-perempuan di sekitar Diponegoro. Peter Carey menulis tentang Ratu Ageng (Permaesuri Pangeran Mangkubumi – nenek buyut Diponegoro) yang mengasuhnya dan mengenalkan ketaatan atas agama dan setia pada budaya Jawa. Carey juga bercerita tentang ibunda Diponegoro, Raden Ayu Mangkorowati yang membuat Diponegoro punya jaringan dengan para kyai pedesaan. Hubungan Diponegoro dengan kedua perempuan ini sangat dalam. Kedua perempuan inilah yang mengasuh Diponegoro muda. Carey juga menulis tentang Retnoningsih, istri yang setia yang menemaninya ke pengasingan.

Selain dari para perempuan hebat, Diponegoro dibesarkan oleh para kyai desa. Setelah nenek buyutnya meninggal, Diponegoro mengintensifkan hubungannya dengan para kyai desa. Bahkan Diponegoro menikahi anak seorang Kyai Desa. Istri pertama Diponegoro, Raden Ayu Retno Madubrongto adalah anak dari Kyai Gedhe Dadapan, seorang ulama terkemuka dari Desa Dadapan (p. 26). Selain berhubungan dengan Kyai Gedhe Dadapan, Diponegoro juga berhubungan dengan beberapa kyai, diantaranya: Kyai Muhammad Bahwi yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Ngusman Ali Basah, Haji Badarudin, komandan Korps Suranatan, Kyai Taptojani yang ahli penterjemah teks-teks Islam, serta Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari seorang ulama dari Arab.

Nenek buyut Diponegoro juga mengajarinya dengan ‘laku’ Jawa. Diponegoro melakukan perjalanan spiritual layaknya orang Jawa. Bahkan takdirnya sebagai seorang yang melawan Belanda didapatnya melalui serangkaian perjalanan laku tersebut. Dalam lakunya Diponegoro bertemu dengan Sunan Kalijaga, Panembahan Senapati, Sultan Agung dan juga Ratu Kidul. Keempat tokoh ini adalah para tokoh yang sangat penting dalam kepercayaan Jawa.

Diponegoro tidak hanya belajar dari tokoh-tokoh yang melingkupinya. Diponegoro juga belajar dari buku. Buku-buku tasawuf, fikih dan buku-buku tentang pewayangan menjadi bacaannya.

Pelajaran yang didapat dari para perempuan, khususnya nenek buyutnya, para kyai kampung dan dari buku-buku yang dibaca membentuk Diponegoro menjadi seorang yang memegang teguh Islam, menjalankan budaya Jawa dan penuh perhatian kepada penderitaan rakyat. Diponegoro juga menjadi teguh dengan takdirnya, yaitu menjadi orang yang terpilih untuk melawan Belanda meski waktunya tidak akan lama.

Proses menuju kepada keteguhan menerima takdir ini digambarkan oleh Peter Carey dengan sangat runtut. Penetapan takdir Diponegoro dijelaskan sejak Diponegoro masih bayi. Saat Diponegoro diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I), HB I sudah menubuatkan bahwa Diponegoro akan menjadi “orang yang akan menyulitkan Belanda”. Pertemuannya dengan Sunan Kalijogo di Goa Song Kamal adalah awal dari takdir Diponegoro. Peneguhan takdir Diponegoro terjadi di Parangkusumo, saat ia mendengar suara Sunan Kalijogo supaya Diponegoro menjaga ayahnya yang kelak menjadi raja. Diponegoro mendapat tanda berupa anak panah bernama “Sarutomo”. Ucapan Sunan Kalijogo ini sejalan dengan apa yang telah diucapkan oleh Sultan Agung tentang kehancuran Jawa (p 68).

Persoalan ajaran Islam dan kepercayaan Jawa dipersekutukan dengan sangat baik melalui cerita pertemuan Diponegoro dengan Ratu Kidul. Bahkan Diponegoro memasukkan kisah perjumpaannya dengan Ratu Kidul dalam babad yang ditulisnya.

Alasan Diponegoro memasukkan perjumpaannya dengan Ratu Kidul dalam babad yang ditulisnya, menurut Peter Carey adalah pertama Diponegoro menempatkan dirinya sejajar dengan Panembahan Senopati dan Sultan Agung, dua raja Jawa yang dianggap memiliki hubungan istimewa dengan Ratu Kidul (p. 66). Hubungan dengan Ratu Kidul ini memberi legitimasi bahwa Diponegoro memiliki kuasa terhadap alam lelembut yang sangat diyakini oleh orang Jawa. Kedua, Diponegoro mau menunjukkan bahwa sebagai seorang Islam beliau tidak memerlukan bantuan magis-spiritual dari pihak lain selain Allah (p. 67) Dalam perjumpaannya yang kedua, Ratu Kidul menawarkan bantuan kepada Diponegoro untuk melawan Belanda, dengan syarat Diponegoro mendoakan Ratu Kidul supaya kembali menjadi manusia biasa. Namun Diponegoro menolak bantuan tersebut karena sebagai seorang Islam, pertolongan yang diharapkan hanya dari Allah saja.

Sering kita mendengar bahwa Diponegoro memberontak kepada Belanda karena tanah pertaniannya di Tegalrejo diberi patok untuk pembuatan jalan oleh Belanda. Diponegoro sangat tersinggung dengan pematokan tanahnya tersebut. Untuk menunjukkan ketersinggungannya Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak. Peter Carey menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa pemberontakan Diponegoro bukan karena peristiwa pematokan tersebut.

Beberapa penyebab pemberontakan Diponegoro yang dicatat oleh Peter Carey diantaranya adalah budaya keraton yang telah berubah menjadi kebarat-baratan. Hamengku Buwono III lebih suka memakai pakaian Mayor Jenderal Belanda daripada memakai pakaian Jawa. Keraton dijadikan tempat mesum oleh Belanda dan para punggawa. Perselingkuhan di keraton antara Belanda dengan para pengageng keraton dan sebaliknya terjadi begitu nyata. Sebagai seorang yang memegang Islam dan menjunjung budaya Jawa tentu saja Diponegoro sangat kecewa dengan keadaan ini. Bahkan Diponegoro ingin menghancurkan keraton tersebut sampai tidak ada satu batupun yang masih tinggal. Diponegoro ingin mendirikan keraton baru yang Islami.

Penyebab kedua adalah tidak pedulinya Keraton dengan kemiskinan rakyat. Keraton terlalu tunduk dengan tuntutan Belanda. Penerapan pajak dan diijinkannya orang Eropa dan orang Timur Jauh untuk menyewa lahan menyebabkan kemiskinan di wilayah Keraton Jogja menjadi semakin hebat. Demikian juga dengan peraturan penebangan pohon jati di wilayah mancanegara (Madiun dan Sukawati) yang membuat rakyat tidak punya akses terhadap bisnis pohon jati ini. Hal ini telah menyebabkan pemberontakan Raden Ronggo di Madiun (yang kemudian menjadi mertua Diponegoro). Pemberontakan Raden Ronggo ini ditulis oleh Diponegoro cukup panjang dalam babadnya. Pemberontakan raden Ronggo menginspirasi Diponegoro untuk melawan Belanda.

Penyebab ketiga adalah perubahan peraturan tentang sewa lahan. Belanda mengubah peraturan penyewaan lahan kepada orang Eropa dan Timur Jauh, dimana mereka tidak boleh lagi menyewa lahan-lahan yang dulunya dikerjakan oleh rakyat. Namun demikian keraton harus serta-merta memberikan ganti rugi kepada sang penyewa. Sedangkan harga ganti rugi ditentukan secara sepihak oleh penyewa/Belanda. Akibatnya keraton terancam bangkrut. Diponegoro sudah menyatakan ketidak setujuannya dengan aturan ini. Namun Ibu Ratu memilih untuk menyetujui aturan ini karena ingin menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda. Sejak kasus itu Diponegoro tidak mau lagi menjadi wali Sultan dan memilih untuk pulang ke Tegalrojo.

Ketika patok-patok jalan itu dipasang di tanahnya, saat itulah Diponegoro merasa bahwa takdir yang harus dijalani sudah tiba waktunya. Maka pemberontakan segera dikobarkan. Diponegoro mendapat banyak dukungan dari para ulama, rakyat dan beberapa kerabat keraton yang kecewa.

Tentang kelemahannya dengan perempuan, Diponegoro mengakuinya secara terbuka. Sebagai orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh pewayangan Arjuno, Diponegoro sangat menyukai perempuan. Kasus yang dianggap memalukan adalah saat beliau berhubungan dengan perempuan Tionghoa yang menjadi tukan pijitnya. Hubungan yang tidak senonoh itu diyakini menjadi penyebab mengapa tentara Diponegoro kalah di Gawok saat berupaya menyerang Keraton Kasunanan. Bahkan Diponegoro tertembak. Pengakuannya secara terbuka ini menunjukkan bahwa Diponegoro adalah seorang ksatria. Bahkan saat di pengasingan di Manado, Diponegoro berminat menikahi anak ulama setempat, meski lamaran Diponegoro ini ditolak.

Buku ini juga mengisahkan tentang mitra Diponegoro dalam pemberontakan. Peter Carey membahas cukup panjang tentang Kyai Mojo dan Ali Basah Sentot Prawirodirjo sebagai dua tokoh yang mendukung pemberontakannya. Peter Carey juga menceritakan mengapa pada akhirnya kedua tokoh ini tidak lagi mendukung Diponegoro.

Di akhir buku, Carey menceritakan tentang penangkapan Diponegoro dan kehidupannya di pengasingan. Saat ditangkap Diponegoro tampil sebagai pemimpin Jawa yang bewibawa dan dihormati oleh Belanda.

Buku Peter Carey ini menceritakan Diponegoro sebagai pribadi yang utuh. Carey tidak hanya menulis tentang kepahlawanan Diponegoro serta mitos-mitos keluhurannya. Cary juga menulis kelemahan Diponegoro, sehingga buku ini bisa mengungkap Diponegoro sebagai manusia biasa. Manusia biasa yang layak dijadikan teladan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

37 Comments to "Takdir – Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)"

  1. Handoko Widagdo  29 August, 2015 at 11:11

    Bung Fahrudin, maksud saya membuat resensi adalah untuk memrovokasi orang lain untuk membaca. Jangan puas hanya membaca resensi ya.

  2. fahrudin  28 August, 2015 at 10:18

    Makasih bung atas resensinya. Paling tidak sudah ada gambaran tentang isi bukunya. Mungkin tidak perlu beli bukunya…..he..he. Buku kan mahal….!!!!?

  3. Handoko Widagdo  25 August, 2015 at 15:43

    Yang ini bukan Kasno Mas Iwan. Tetapi benar-benar Pangeran yang patut kita teladani.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 August, 2015 at 15:42

    Kasnowo Diponegoro. Bekas Cino Jowo Dipaksa Negoro.

  5. Handoko Widagdo  23 August, 2015 at 09:57

    Ah…. akhirnya serigala bertemu singa.

  6. djasMerahputih  23 August, 2015 at 09:40

    Lha, bukannya Serigala berbulu Domba yang paling sering menyamar jadi domba..??

  7. Handoko Widagdo  20 August, 2015 at 21:25

    Lho kok muncul binatang lain lagi Kang Djas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.