Bromocorah dalam Pandangan Baru

Mastok

 

Nak berhentilah

Jangan sekolah bapakmu sudah tak kerja

Nak jangan menangis memang begini keadaannya

 

Pangkalan jatah di toko-toko dan di parkiran

Sudah bukan milik bapak lagi

Nak mari berdoa Agar bapak selamat dari penembakan

Berita gencar di setiap lembaran koran

Tentang dibunuhnya para bromocorah

 

Maafkan bapakmu anakku

Yang tak bisa membesarkanmu

Jangan kau benci bapakmu

Entah bagaimana masa depanmu

Entah bagaimana hari depanmu

 

Oh anakku

Jangan kau ikuti jejak bapakmu

By Iwan Fals

 

Dia bilang kita ini beruntung. Bisa baca-tulis, sekolah sampai kuliah, dan kerja yang baik. Tidak seperti dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang harus “bekerja di jalanan, menjual harga diri, tidur di pelataran toko”. Tidak bisa bersekolah karena keadaan.

Semoga, katanya, pemerintahan yang baru banyak membuat perubahan yang positif.

Para Kabinet baru yang baru seorang pengusaha, sarjana. Satu di antara hanya 32% masyarakat Indonesia (dan dunia) yang merasakan bangku kuliah. Tapi kehidupannya, pembawaannya, tanpa jeda dengan rakyat biasa. Jutaan masyarakat merasakan kedekatan dengannya, meskipun ia tidak populer di kancah perpolitikan. Ia menjadi inspirasi bahwa seseorang yang biasa saja, dengan prestasi dan visi, bisa juga jadi pemimpin bangsa.

bromocorah

Kisah heroik para “bromocorah”

Unik, itulah yang terbersit ketika melihat sepak terjang preman yang mempunyai karier (politik) menjulang. Dianggap sebagai “jagoan” yang mempunyai massa, mampu memobilisir suara dan fanatisme akar rumput membuat terlena para aktor politik dengan memberikan mereka wadah dalam partai, dari sana mulai dibentuk strategi khusus agar dapat merambat hegemoni dalam lingkup politis lain. Manuver dalam pilkada, OKP hingga anggota dewan mampu menjadi semacam bargain politik dalam menghimpun suara. Mari lupakan kapasitas akademis karena yang terpenting bagi sistem adalah bagaimana aktor politik yang terlajur masuk dalam recruitment dapat menghimpun suara yang masif.

Mereka yang menjadi tameng para preman adalah preman yang berganti status sosial, menjadi kisah heroik ketika mereka yang dahulu bergumul dalam labirin hitam sekarang menikmati empuknya menjadi kolaborator sistem politik. Tidak ada yang salah memang. Implikasi yang riil adalah preman dengan strata sosial tinggi ini cenderung menjadi aktor intelektual yang membekingi segala kegiatan yang bernuansa politis. Preman dengan strata sosial lebih tinggi ini mengambil “jatah” yang seharusnya dirawat oleh oknum hukum dan attack dog para jenderal, nilai yang lebih adalah dengan adanya tingkat emosional dan solidaritas sesama pelaku dan mantan aktor lembah hitam.

Ketika tataran sosial yang kita hadapi adalah tataran sosial yang penuh rekayasa dan kepura-puraan, maka sebutan sebagai bromocorah pada komunitas culas, korup dan pengecut , jelas dapat dikonotasikan sebagai antitesis dari sebutan bromocorah itu sendiri.

Apalagi kalau kita sepakat dengan apa yang dilontarkan oleh Ayu Utami dan Romo Muji tentang anatomi moralitas bangsa dan lain-lainnya yang juga penuh rekayasa dan akal-akalan itu. Maka kitapun boleh menjadi bangga atas sebutan atau gelar apa saja yang diberikan oleh masyarakat dan hukum sosial kita, termasuk sebutan sebagai bromocorah. Karena dalam masyarakat yang sakit, maka semua nilai akan terjungkirbalikkan sesuai dengan irama yang dibangun oleh tatanan masyarakat sosial kita. Apabila masyarakatnya adalah masyarakat maling dan rampok, maka kaum jujurlah bromocorahnya. Dan demikian sebaliknya, dan seterusnya.

Bromocorah, ketika cerita pendek itu dituliskan oleh Mochtar Lubis boleh jadi juga berada pada wilayah kebimbangan. Sehingga dengan kearifan Mochtar Lubis menggariskan dalam cerita pendeknya itu, apabila masyarakatnya tidak berubah, maka dia akan tetap garis tangannya. Bagi orang-orang yang di-cap bromocorah, tentu tidak akan pernah ada jalan keluar, hanya kalau masyarakatnya secara struktural sosial berubah, baru hidup mereka akan bisa berubah. Tetapi apa iya?

Ketika Orde Lama tumbang, maka nilai-nilai sosial juga menjadi lain disesuaikan dengan selera pemerintahan pengganti. Demikian juga ketika Orde Baru ditumbangkan oleh Orde Reformasi. Nilai-nilai juga terjung-kirbalikkan. Tetapi, ketika ruang lebih terbuka, dan perubahan ke arah kebaikan tidak terjadi, maka kitapun berlomba-lomba untuk menjadi hakim atas manusia lainnya. Dan berlomba-lomba menbromocorahkan manusia lain, agar kebromocorahan kita tidak diketahui.

Itu artinya, apa yang dilontarkan Mochtar Lubis tentang perubahan masyarakat ternyata tidak secara otomatis ikut berimbas secara moral. Dan saya sepakat dengan Romo Muji dan Ayu Utami. ukuran moralitas kita sangatlah represif. Dan semuanya kembali kepada kekuasaan. Bukan hanya sebatas kekuasaan pemerintah secara fasih, tetapi juga kekuasaan lainnya. Bahkan juga arogansi agama dan adat, menjadi tiang penentu ukuran moralitas. Dan diselenggarakan dengan pilih kasih – diskriminatif. Maka berbahagialah orang-orang yang di-cap sebagai bromocorah pada tatanan sosial masyarakat maling. Dan rupanya kini kita memang berada pada lingkungan masyarakat maling. Rampok kata WS. Rendra

Bromocorah  dalam tatanan yang dulu masa /jaman Nusantara memang sudah ada,tetapi tidak menonjol seperti gencarnya serbuan Medsos dan Tv yang setiap daerah punya ALAT PENYIARAN….dari 300 suku dan adat ini adalah Kotak yang berada di satu sudutnya , dari 700 an bahasa menjadi Lingkaran yang semakin membesar, apakah ini masih kurang yang membuat kita lebih mengenal Nusantara dari Sekolah yang Seleksinya sebuah karakter menjadi seorang kakek – nenek yang berusia 70 tahun…

 

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Bromocorah dalam Pandangan Baru"

  1. james  21 August, 2015 at 08:28

    hadir bang Djas……tapi telat nih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.