Pengabaian Orang Tua

Wesiati Setyaningsih

 

“Aku ini anak siapa?” tanya Po pada Ayahnya.

“Anakku,” kata Ayahnya.

Mereka berdua menatap ke cermin yang kebetulan tepat berada di depan, menghiasi dinding. Po seekor panda, sementara Ayahnya seekor unggas. Jelas berbeda secara fisik dan tidak mungkin kalau Po yang seekor panda itu anak kandung Ayahnya.

Betapapun besar cinta kasih Ayahnya, tetap saja Po berusaha mencari siapa kedua orang tua kandungnya. Po adalah beberapa dari kita yang selalu berpikir bahwa orang tua kandung itu adalah akar kehidupan. Tak heran kalau ke manapun berada, tetap saja dicari. Masalahnya adalah, bagaimana kalau sebenarnya orang tua itu ada, tapi tak pernah hadir? Atau pergi dan tak ingin dicari?

Saya heran apa sih yang terlintas dalam benak orang tua ketika mereka memutuskan punya anak, atau menyadari sudah punya anak? Ketika penerimaan rapor saya pernah tercengang ketika seorang perempuan paruh baya datang dan mengaku Nenek dari murid saya. Meski memang sah saja sebagai wali, beliau mengambilkan rapor cucunya, tapi saya merasa perlu bertanya ke mana orang tuanya. Jawabannya mengejutkan saya.

ignorant parents

“Bapak sama Ibunya itu cerai, dia ikut saya sejak kecil. Ndak tau orang tuanya sekarang di mana..”

Dan nyatanya kasus seperti ini tidak cuma satu kali saya temui. Ada lagi anak-anak lain yang mengalami hal yang sama.

Beberapa yang lain tetap tinggal bersama orang tuanya, tapi mereka tidak merasakan kehadiran orang tuanya. Buat orang tua macam ini yang penting anak mendapat papan, sandang dan pangan yang cukup atau bahkan berlebih, selesai.

Keduanya tetap saja menimbulkan luka batin bagi si anak bahkan sampai saat dia dewasa. Saya tidak mengalami keduanya karena orang tua saya ada dan hadir dalam kehidupan saya, tapi teman saya malah merasakan keduanya dan itu baru saya tahu setelah lebih dari dua puluh lima tahun kemudian.

Di sebuah acara halal bi halal sekaligus kangen-kangenan dengan teman SMA, saya bertemu dengan teman dekat saya di SMA. Musik memenuhi ruangan, suara obrolan saya dan teman saya hampir tak terdengar. Entah kenapa yang namanya pertemuan yang mestinya diisi acara ngobrol sana sini begini mesti diisi nyanyi-nyanyi dengan speaker keras padahal kami bertemu hanya ingin saling menanyakan kabar.

Teman saya sedang menceritakan masa lalunya yang selama ini dia simpan dari saya. Dua puluh lima tahun lebih kami berteman, saya tak pernah mengorek masalah keluarganya meski kami terhitung dekat; kami sempat punya geng bertiga. Saya hanya tahu kalau saat SMA dia tinggal bersama Om dan Tantenya. Saya memang pernah main ke rumah orang tuanya sekali bersama teman yang satu lagi, tapi tidak melihat Bapak dan Ibunya. Saya Cuma bisa menduga-duga.

“Buatku, Ibu itu ya Mbahku. Dulu Ibuku ndak pernah ngurusin aku. Dia seolah punya kehidupan sendiri dan enggak pernah ngurusin aku dan sodara-sodaraku.”

Mereka tiga bersaudara, dia anak tengah. Saya tak pernah mengira dia mengalami hal itu. Waktu dia tinggal bersama Om-nya yang guru SD, sepertinya hidupnya cukup tertata. Sejak lulus SMA saya tidak tahu lagi apa yang sudah dia lalui karena saya juga sibuk dengan hidup saya sendiri. Apalagi di jaman itu tidak ada telepon di kompleks rumah Ibu saya, apalagi hape.

Agak mengherankan kenapa dia harus tinggal dengan saudaranya karena setahu saya Ibunya kepala sekolah SD, selain mengajar juga memberikan les privat sore hari. Kalau mau membiayai sendiri, pasti mampu.

Ternyata Ayahnya meninggalkan Ibunya yang gila SDSB. Ibunya selalu hidup dalam dunianya sendiri dan menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada Ibunya. Teman saya mungkin terawat dengan baik, tapi tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Ibunya. Seumur hidup dia mendambakan pelukan dan perhatian Ibu kandungnya dan selalu terharu melihat kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

“Aku pernah bilang saya Ibuku, mana ada laki-laki yang mau jadi suami perempuan kaya Ibu begini?” katanya.

Dia tidak menyalahkan Bapaknya yang pergi meninggalkan Ibunya. Tapi dia menyesali bagaimana Ibunya membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa kasih sayangnya padahal Ibunya ada bersama mereka.

Sekarang teman saya itu seorang wanita karier sekaligus Ibu dari dua anak yang sangat mencintai anak-anaknya. Pengalaman masa kecilnya yang masih membekas hingga kini di usia empat puluhan, membuatnya ingin memberikan cinta terbaik untuk anak-anaknya.

“Jangan sampai mereka ngalamin yang kaya aku..” katanya.

Dengan rasa ingin tahu, saya tanya tentang Bapaknya.

“Masih ada. Tinggal di  Demak dan sudah naik haji dua kali. Aku pernah nemuin dia sama anak-anakku dan suamiku, maksudku biar anak-anak tau kalo mereka masih punya Eyang Kakung. Tapi…”

Wajahnya kelabu.

“Bapakku bilang, selama aku masih Katolik aku enggak usah nemuin dia lagi. Kalo dia mati aku juga enggak usah layat, kalo aku mati dia juga nggak akan layat.”

Saya heran mendengar ada orang tua mengatakan seperti itu karena masalah agama. Anak, adalah darah daging.  Apapun agamanya, jalan hidupnya, mestinya silaturahmi tetap dijaga. Apa sih ruginya silaturahmi sama anak sendiri meski beda agama? Yah, tapi kan itu pendapat saya…

Saya tak bisa bicara apa-apa selain sedikit menghibur.

“Ya sudah, enggak usah diingat lagi. Kamu punya hidup yang sudah mapan dan bahagia. Orang lain yang jalan hidupnya lancar-lancar saja belum tentu endingnya sebagus kamu,”kata saya.

Senja itu kami berpisah setelah saling berpelukan lama.

***

Benak saya tak henti memikirkan teman saya sampai sekarang. Apa gerangan yang dipikirkan orang tua ketika mereka punya anak? Memang anak tidak terlahir dengan buku manual yang memberikan petunjuk penyelesaian masalah. Tapi setidaknya orang tua punya hati dan rasa sebagai petunjuk. Asal hati dan rasa masih hidup normal, pasti semua masalah masih bisa diatasi.

Cuma kalau hati dan rasa sudah mati, bagaimana lagi?

Dari sisi anak sendiri, mereka pasti ingin mencari akar mereka. Seperti Po Panda di film kartun Kungfu Panda 2 yang dikisahkan mencari kedua orang tuanya. Po panda masih bagus nasibnya karena orang tuanya meninggalkan dia demi menyelamatkan nyawanya, bukan karena ego mereka berdua. itupun Po panda selalu mimpi buruk membayangkan bahwa dia telah digantikan oleh sebuah bit.Saya halnya teman saya yang masih merasakan luka hatinya setelah sekian lama berlalu, bisa jadi bakal seumur hidupnya.

“Orang bilang itu sudah lewat, maafkan saja. Tapi nyatanya memaafkan juga tidak bisa semudah itu,” katanya.

Kalau Po panda dihibur tabib yang menolongnya dengan berkata,

“Kamu, tidak ditentukan oleh masa lalu kamu, tapi ditentukan oleh apa adanya kamu saat ini.”

Sepertinya itu juga berlaku untuk kasus seperti teman saya. Apa sih gunanya masa lalu kalau cuma membuat seseorang lupa mensyukuri semua yang dia dapat saat ini? Enggak ada.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

26 Comments to "Pengabaian Orang Tua"

  1. J C  31 August, 2015 at 05:37

    Tulisan Wesiati selalu penuh makna! Dan yang sangat menarik membaca sekilas sejarah Canada. Ternyata begitu toh, Alvina? Baru tahu! Berarti eksploitasi pendatang terhadap penduduk asli di America dan Canada juga sama ya. Bedanya yang terekspos yang di America, sementara yang di Canada tidak begitu banyak terekspos seperti urusan penduduk indian (kulit merah) dan pendatang kulit putih di America…

  2. wesiati  26 August, 2015 at 18:16

    wah jadi sampai canada. tapi saya jadi tau masalah penduduk primitif canada ini… terima kasih ya….

  3. Lani  23 August, 2015 at 22:48

    AL & KANG DJAS : aku setuju, manusia klu sdh punya POWER & HARTA jd suka lupa ingatan, dan kebablasen lupa segalanya

    Nampaknya satu hal yg terjadi dimana-mana (mungkin belum semuanya), mengenai penghilangan penduduk/suku asli disuatu tempat, mrk dikuasai, pembodohan, penghilangan tata budaya, bahasa asli mereka. Agar mrk gampang dikuasai, dan dikendalikan.

    Mungkin klu di America contohnya pd suku Indian, juga suku/penduduk asli Hawaii sendiri, tanpa terasa/kelihatan mrk ditekan, dengan pendidikan dan cara2 dari orang2 yg menguasainya.

    Aneh akan ttp nyata

  4. djasMerahputih  23 August, 2015 at 11:34

    Djas, kl baca ttg sejarahnya Canada, bisa muntah-muntah dah….he..he…sejak awal pem. tidak punya niat baik, mereka mau menguasai anak-anak tsb utk menghapuskan tradisi dan bahasa org tuanya….
    ———————
    ha ha ha…. Itu tetap niat baik juga mba avy.
    hanya saja, pertanyaan Rendra terulang, “Niat baik itu untuk siapa…??”

  5. Alvina VB  23 August, 2015 at 11:24

    Bbrp suku asli di sini yg namanya aja kedengerannya asing di telinga org Canada sendiri: Atikamekw, Nisga’a, Abenakis, Tutchone, Dogrib, Odawa, Tagish, Potawatomi, Nunavik, Chipewyan, Passamaquoddy, Tsilhqot’in, dsb…Bahasa mereka sudah banyak yg terhilang krn generasi yg tua banyak yg sudah meninggal lalu tidak ada lagi yg bisa bhs tsb, krn anak-anak mereka dididik (secara paksa) dlm bhs Inggris dan Perancis.

  6. Alvina VB  23 August, 2015 at 11:16

    Djas, kl baca ttg sejarahnya Canada, bisa muntah-muntah dah….he..he…sejak awal pem. tidak punya niat baik, mereka mau menguasai anak-anak tsb utk menghapuskan tradisi dan bahasa org tuanya dan sehingga suku-suku asli tersebut akan lenyap perlahan-lahan. Sudah banyak bahasa asli Kanata (itu asal kata Canada dari bhs asli salah satu suku di sini) yg terhilang beserta tradisi mereka, krn anak-anaknya yg jadi link utk masa depan suku-suku tersebut terhilang identitasnya. Selain itu krn kurangnya pendidikan dulu, maka pemerintah gampang utk menguasai tanah mereka yg kaya akan emas, berlian dan minyak. Jadi salah besar kl ada anak-anak di sini yg bilang saya asli Canada, gak ada yg asli di sini, semua pendatang euy…, kecuali mereka-mereka suku2 asli yg ada sebelum para explorer datang ke mari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.