Kenyamanan

Meitasari S

 

Dalam keseharian, aku sering menjadi bahan olok-olok, baik teman maupun saudara-saudaraku.Sejak suamiku bekerja di Jakarta, ia mempunyai kebiasaan menelponku sehari lebih dari 3x. Pagi saat aku sudah sampai di kantor, lalu siang hari saat istirahat siang, kemudian sebelum pulang kantor, sampai di rumah atau saat makan malam dan sebelum tidur. Itu minimal lho. Hahahahaha…

kenyamanan (1)

Sering, ketika dalam suatu pertemuan dengan teman-teman maupun dengan saudara-saudara, ketika bel HP berbunyi, ada yang berseru: ABSEN! Bahkan, salah satu tanteku menyebutnya: Mr. Absen.

kenyamanan (2)

Tetapi hal itu tidak membuatku merasa risih atau jengkel. Justru aku merasa bangga dan senang-senang saja. Bahkan merasa kehilangan jika jamnya telpon dia tidak menelpon.

Kira-kira seminggu lalu, aku bertemu dengan teman-teman kecilku. Biasalah ada yang dari luar kota datang. Kami ngumpul untuk sekedar ngakak bersama.

Seperti biasa, karena waktu itu sudah jam telpon, berderinglah HPku. Memang aku lupa bercerita kalau aku akan ngumpul bersama teman-teman. Mr. Absen bertanya, aku sedang apa bersama siapa. Hahahaha…

Semua mendengar, karena speaker HPku rusak. Suara penelpon hanya terdengar jika speaker diaktifkan, atau menggunakan head set. Kebetulan headset tidak kubawa. Maka teman-teman mendengar pembicaraan kami. Sontak saja mereka terkikik dan berbisik-bisik antar mereka.

Lalu ketika suamiku mengakhiri pembicaraan, salah satu teman bertanya,

“Meit, jan-jan e ana masalah apa to kok bojomu ngabsen? Mesti awakmu ra iso dipercoyo.” (Meit, sebenarnya ada masalah apa kok suamimu selalu mengabsen? Pasti dirimu tidak bisa dipercaya).

Secara berseloroh aku menjawab :
“Ya karena aku cantik, suamiku takut aku digondol keong”

Lalu temanku itu menimpali,
“Sebenarnya suamimu itu melihat apa sih kelebihanmu kok sampai takut kamu ilang.”

Mungkin tingkah laku kami ini aneh ya buat mereka. Di usia kami yang sudah matang, masih saja kami melakukan hal yang layaknya ABG. Bahkan temanku yang lain mengatakan, seandainya itu dia yang ditelpon suaminya berkali-kali, ia akan marah. Merasa tidak dipercaya.

Aku hanya ngakak tidak bisa menjawab. Dan siang ini pertanyaan itu kulontarkan pada suamiku. Dan begini jawabnya :

“Aku orang yang tidak bisa jauh dari keluarga. Istri dan anak-anakku adalah orang-orang yang membuat aku bahagia dan tentram. Aku ingin selalu melindungi keluargaku. Jadi ketika aku tahu dimana keberadaaan keluargaku dan apa yang sedang mereka lakukan, itu sungguh sangat membuat aku tenang. Aku merasa bersalah tidak bisa mendampingi kalian, tidak berada di sisi kalian.” (Weee malah mewek dengar pernyataan ini).

kenyamanan (3)

“Begitu banyak godaan di luar sana. Tetapi aku bersyukur, aku tidak tergoda. Aku selalu berdoa, supaya Tuhan melindungi aku dan keluargaku, supaya aku bisa setia. Supaya Tuhan dan orang-orang yang kukasihi selalu mengingatkan ketika aku tersesat.”

“Begitu banyak contoh Nabi-nabi besar jatuh karena wanita. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan tidak mengingatkan  mereka. Padahal para nabi itu orang-orang yang terberkati. Apalagi kemarin ibu cerita, Pak A yang dulu seorang prodiakon di lingkungan kita. Seorang yang menurutku terberkati, tetapi dia tega menganiaya istrinya karena ia mencintai wanita lain, dan meninggalkan keluarganya. Sampai-sampai ketika anaknya menikah, ia juga tidak mau datang. Istrinya sakit untuk operasi jantung pun juga tidak ditengok. Aku ngeri sekali saat ibu cerita itu. Seorang tokoh, seorang yang menurutku tidak mungkin melakukan hal itu, tapi dia bisa melakukannya. Aku rasanya ingin mengingkari cerita itu. Aku tidak ingin seperti para nabi yang jatuh. Hingga aku langsung berdoa. Tuhan jauhkan aku dari kelalaian seperti yang dilakukan pak A. Aku ingin setia sampai akhir, bersama ibu dan anak-anak.”

Aku terhanyut mendengar ungkapan hati suamiku. Haru, bahagia dan bangga. Aku hanya bisa mengucap syukur: Terimakasih Tuhan.

Lalu ia melanjutkan ceritanya.

kenyamanan (4)

“Ibu, semua itu bisa terjaga, karena aku merasa nyaman. Aku bersyukur. Walaupun aku bukan orang yang romantis dan tidak bisa memanjakan ibu, tapi ibu selalu memanjakan aku. Kalau aku pulang, ibu selalu bikin acara pijitin, atau pun sekedar mengelus rambut dan punggungku. Dan kemanjaan-kemanjaan kecil lainnya yang membuat aku rindu kebersamaan kita. Selalulah begitu ya bu. Aku ingin segera kembali ke Semarang, kalau Dito dan Dita selesai kuliahnya. Menghabiskan hari-hari kita bersama. Melayani Tuhan berdua lagi seperti dulu.”

Ya, aku tahu, suamiku selalu mengulang-ulang keinginannya itu. Ia ingin segera kembali ke sisiku. Ia seorang yang sangat mencintai keluarganya.

Sebuah catatan kecil yang harus selalu kuingat, aku harus memberi kenyamanan padanya. Agar orang yang kucintai selalu merindukan kenyamanan saat berada di sisiku, dimanapun ia berada.

kenyamanan (5)

Jam istirahat usai. Mr. Absen mengakhiri obrolannya.

Dadaku rasanya sesak, dan airmata haru rasanya mau tumpah saja. Ah suamiku…. Semoga Tuhan mendengar doa kita. Amin.

 

Semarang, 21 Agustus 2015

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Kenyamanan"

  1. J C  31 August, 2015 at 05:40

    Setiap pasangan punya ciri khas dan gaya masing-masing…

  2. Mawar09  27 August, 2015 at 01:30

    Meita : apakabar say? terima kasih sudah berbagi kisah kehidupanmu. Bersyukurlah bahwa suami selalu menelpon untuk berkomunikasi, berarti dia selalu merindukan kamu. Salam dari jauh!

  3. Nur Mberok  26 August, 2015 at 11:24

    Ki Ageng, maturnuwun sudah membaca kisah keluarga saya.

    Salam hormat dari Semarang

  4. Nur Mberok  26 August, 2015 at 11:23

    James, thank you … you tooo

  5. Nur Mberok  26 August, 2015 at 11:23

    Kakang Dj … maturnuwun untuk doanya. Smoga Mei bisa seperti yu Susi…

  6. Nur Mberok  26 August, 2015 at 11:21

    Kang Djas … thank you ya ! You too …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.