Ni Hao, Panda

Yang Mulia Enief Adhara

 

Kaya biasa gue selalu belanja buat bahan masakan, walo nggak banyak tapi seminggu bisa 4 kali. Nah suatu sore sembari ngabuburit gue belanja beberapa keperluan masak. Di deretan rak minuman gue ngeliat ada minuman kaleng cap Panda. Ada 3 rasa dan entah kenapa gue beli aja semuanya. Mulai Liang Tea, Aloe Vera dan Cincau. Gue beli karena ada tulisan “Panda”.

panda

Gue mendadak teringat seseorang yang dulu deket banged sama hati gue dan gue selalu memanggil dia dengan kata Panda atau Pandaku. it was so long ago. Mengenal Panda ini sangat tidak ada rencana, dari sebuah forum di saat aku iseng. Tiba-tiba kita jadi saling sapa berlanjut japri. Dia posisi ada di Singapore dan gue di J-Town. Gak banyak cakap hanya basa-basi, tiba-tiba dia memberikan nomer HP dengan begitu aja. “Ko! Ini nomer aku di SG, itu di Jakarta dan ini nomer rumah Jakarta”, Tulisnya sambil langsung out.

Gue orangnya agak kaku dan susah untuk klik as person sama orang, so nomer itu gue biarkan aja, males aja mau keluarin HP. Hingga kemudian gue masuk forum lagi dan ini sudah 9 kali dalam 3 Minggu ini. Dan gue pun melihat Panda juga ada, padahal dia itu hampir gak pernah ada alias sangat jarang.Hobi baru pasca bangkrut adalah buka internet, hal yang sebenernya kurang gue minati sebelumnya.

Dia tau-tau nyapa, “Ko? Kamu yang aku kasih telponkan? Wah gak ada SMS sama sekali, aku kan gak tau tuh nomermu”.

Gue baru inget kalo gue nggak respon apa-apa waktu itu, dan gue langsung sok alasan, “Iyaa nih lupa, maklum aku pelupa, aku SMS deh abis ini”.

“Silahkan aja, tapi ke nomer Indo aja, aku soale udah di Jakarta”, Jawabnya

Dan akhirnya gue SMS dia, sambil agak mengingatkan, jangan pernah kasih nomer ke orang tak dikenal, dan itu sebenernya yang bikin gue sangat terkesan saat dia kasih nomer-nomer dia seolah dia udah yakin gue bukan orang freak atau bahkan penjahat.

Dia tertawa di SMS, “Hahahaha aku tuh kasih nomer gak tau kenapa, aku yakin aja Koko orang baik, biasanya aku malah gak kasih walau diminta”.

*****

Sejak itu kami sering update kabar, itu kebetulan terjadi di tahun dimana gue dipailit. itu sebenernya masa sulit, gue sedang menutup diri dengan dunia luar, kebanyakan orang terlihat aslinya. Maaf lho, kebanyakan pribumi dan gue benci pribumi waktu itu, walo gue sendiri pribumi. Sahabat gue yang warga keturunan umumnya tetep bersikap normal walo gue udah bukan siapa-siapa. Yang pribumi pura-pura nggak kenal dan asik menjadikan nama gue sebagai headline gossip paling seru.

Si Panda ini juga keturunan, itulah sebab gue mau mengenalnya walo agak ogah-ogahan. Gue sedang asik tenggelam dalam samudra lahar dan siap meleleh di dalamnya. Tiga bulan kami mengenal, 3 bulan dia pun akhirnya tau gue mantan orang kaya, well gue cerita sih pada akhirnya dan gue pikir biarlah dia tau dan pergi, ngapain juga gaul sama gue yang bangkrut fatal, melarat-rat from fab to flap!

Tapi dia nggak ‘pergi’ dia tetep baik dan selalu nanyain kabar. Dan gue akhirnya mengiyakan saat dia ngajak ketemu. Gue pakai cardigans Giorgio Armani yang sudah gak mungkin gue beli lagi. Di kemudian hari cardigans itu hilang entah siapa yang ambil, and itu membuat satu bait kesedihan, bukan karena berlabel Giorgio Armani tapi karena dengan itulah aku ketemu si Panda pertama kali.

Kita janjian di Plaza Senayan, yang selama berjaya adalah rumah ke 3 gue, rumah ke 2 kan Plaza Indonesia. Yup gue shopaholic dan memang waktu berbelanja membuat gue merasa free dan itu harus berakhir lantaran gue mendadak hidup di alam baru yang serba gelap, bukan di mana gue berasal! Agak ‘berat’ langkah gue memasuki tempat yang kini seakan tak ramah sama kantong gue.

“Aku dah di depan Prada, kamu ada di mana sih?!!”, Ujarku ketus liwat SMS. Janji jam 16.00 tapi jam 16.50 belom juga nongol. Catat! Gue orang yang susah menjadwal waktu tapi saat udah deal, maka gue hadir dan gak sekalipun gue janjian tapi gak hadir di saat orang itu sudah menunggu di lokasi yang disepakati. Kalo pun ada pembatalan, gue akan kabari satu hari sebelumnya. Itu lah sebab gue gak suka janjian sama orang yang ngaretnya gila-gilaan bahkan beberapa kali gue udah datang dan orang itu SMS, “Maaf aku gak bisa ke situ deh, ini macet banged”. Gue orang yang mood-nya cepet berubah, famous being unpredictable.

Dan biasanya nama itu gue masukan daftar hitam eliminasi walo dah kenal 5 tahun sekalipun. Nah Panda sih gak gitu, dia sudah pergi dari jam 3 tapi you know-lah traffic jam Jakarta yang kaya bangsat macetnya. Panda bolak balik SMS seolah dia bersalah, ahh gue ini memang brengsek juga sih, entah kenapa gue mudah ketus ketika mood gue menurun dan jadi galak ketika bad mood.

Sebenernya gue gak masalah Panda itu telat, tapi gue nunggu di antara Prada dan Louis Vuitton, dan waktu itu gue gak siap saat hanya jadi orang yang berdiri di luar etalase bukannya masuk ke dalam. Ditambah merchant Prada yang memang hapal betul sama gue dan sibuk menyapa, “Mas Enief ngapain berdiri di sini? Udah hampir 6 bulan nggak keliatan? Itu banyak new arrival lho”

Ohhh mai gaaatttt David, I don’t care about your damn new arrival, gue ini lagi stress bayangin itu malah dirojok-rojok disuruh masuk. Ya bukan rahasia gue termasuk pelanggan loyal koleksi Prada yang menurut gue classic and simple. Tapi akhirnya gue nolak halus, alasannya gue lagi ada janji sama temen buat makan. David yang memakai setelan hitam langsung masuk, dari dalam ada Vina, Yuliana dan Ben melambai ke arah gue, mereka memang sudah hapal apa yang dimauin Datuk Enief saat membuka pintu dan masuk ke dalam (Apa kabar mereka ya?)

Ok let’s skip that damn part, back to Panda. Akhirnya dia muncul, gue diem aja di koridor dan Panda nyapa dengan ramah dengan wajah nggak enak mengira gue marah, gue akhirnya senyum dan kita menuju ke Sogo bawah sebuah arena foodcort yang cozy. Pertemuan yang gak lama ya? Cuma satu jam gitu deh dan kami berpisah. Saat pulang melewati Bally lagi-lagi aku disapa hampir mirip dengan sapaan David, well memang semua toko itu rasanya dah hapal gue sih hahahaha…

****

Dua hari kemudian dia SMS (kita komunikasi pake GSM dan Esia) “Hi how are you?? Ko waktu kita ketemu pourhomme-nya apa?”

Gue jawab, “Dolce & Gabanna … why?”

“Aku suka baunya …..”, Jawab dia lagi.

Dan akhirnya kita saling bertelpon, walo 5 menit pasti adalah, soal SMS sehari bisa 20an sampai 45an (Selama deket sama dia tercatat ada 4678 SMS dari dia) Dan Panda ini jenis smart, dia bisa ngimbangin gue yang cerewet dan selalu ada aja topik buat dibahas, mulai fashion, agama, pergaulan, gaya hidup pokoknya banyak deh. Dia juga maklum sama bahasa gue yang campur aduk dan merasa gak perlu jadikan itu masalah. Kami juga beda agama tapi kami bergandengan, saling nanya tanpa unsur menghujat.

Soal bahasa gue yang acak kadut, ada kok beberapa orang yang katanya sih best friends bullshit nan “intelek” (catet ya dalam kutip, u know what I mean donk!) yang terang- terangan nyindir gue di media social atau bahas di belakang punggung yang intinya mereka anggap gue ini gak banged dan banyak gaya. Kalo mau me-label orang kudunya lihat dulu apa yang ada di balik itu, gak main nyamber aja, lagian so what gitu loch kalo tata bahasa gue buruk? Masbuloh?

Panda kadang jadi sasaran salah paham, kadang gue menyalah artikan ucapan dia dan gue langsung mencak- mencak, but what the magic happen, we still friend and selalu kembali bersama seperti pertama bertemu. Gue mengalami pergeseran kepribadian secara menyolok, gue mudah mendepak orang yang sekiranya tidak membuat gue nyaman, bagi gue saat 2 orang memutuskan mengucap kata ‘TEMAN’ atau ‘SAHABAT’ apalagi ‘PACAR’ tentu gak usahlah banyak cingcong soal hal yang dicari-cari, kalo kritik boleh asal membangun kalo cuma menghujat .. sorry I don’t need that.

Panda salah satu yang melintasi waktu, tak pernah ada hal yang membuat gue harus meninggalkannya, mulai dia kuliah, koas, hingga lulus dan akhirnya dia bekerja sebagai tenaga profesional. Dan hampir 8 tahun kami bersama hingga akhirnya tak lagi intens, gue mungkin yang memulainya. Ada yang tak lagi bener, gue selalu marah dan terluka dalam diam saat dia dekat dengan orang lain, dan gue seperti mata- mata berusaha mencari tahu. it’s not right.

Akhirnya kita ‘jauh’, tak sama seperti dulu, kesibukan dia makin banyak disela jadwal travelling ke manca negara yang menjadi hobinya bertahun tahun dan aku terus bergulat dengan hidup yang itu- itu aja.  Tapi … memang gue selalu teringat padanya, tanpa kata-kata tapi gue tau dia masih seperti dulu, hanya kami memang tak memulainya lagi, biar saja seperti ini.

Kami tidak bermusuhan, masih saling menyapa walau setahun hanya beberapa kali, masih update pin Bbm, gue sumtimes masih memikirkan dia dan dalam hati selalu bilang, “Nothing compares 2 u”, baik dari cara dia memandang gue as person, bicara apapun sesuai hati, gak mencla mencle apalagi bermuka banyak, smart, berpengetahuan dan membumi bila diperlukan, but sumtimes dia juga bodoh, but sekali kali menjadi bodoh adalah manusiawi. Hmmm gara- gara liat soft drink, gue jadi menulis ini hahahaha, apakah gue gila?? Who cares!

Qiang shang jing zhi de zhong shi wei shui ting liu (From whom the clock on the wall is stopin)
Shi bu shi he wo yi yang lai zhe bu zou (Is it like me who refused to leave)
Ni shuo gu shi yi jing jie shu hen jiu (You said the story had ended long ago)
Wo wang le xiang qian zou (I had forgotten to move on)

Wo nu li jia zhuang xian zai guo de hen hao (I tried hard to act as if I am doing well)
Xian zai de ni kan lai yi bu xu yao wo (You seem to be doing well without me)
Ye xu zai bu tong de shi kong (Even in different dimentions)
Hai qian zhe ni de shou (I can still hold onto your hand)

Xiang zhi dao ni zhen de guo de hao ma (Hope to know wheter are you doing well)
Mei you wo ye xu shi zhong jie tuo (It may be a reliave without me)
Jiang si nian chuan suo zai yu zhou shu qian guang nian (Let my miss on you move in the universe for thousand of light years)
Qiao qiao dao ni shen bian (Quietly beside you)

 

 

14 Comments to "Ni Hao, Panda"

  1. J C  31 August, 2015 at 05:39

    Enief, tulisanmu selalu unik! Tulisanmu yang seperti ini selalu menyentuh…

  2. Swan Liong Be  28 August, 2015 at 15:51

    Ini salah satu kisah menarik yang aku baca sampai selesai, bisa bikin orang tertawa karena tulisannya lucu.

  3. Swan Liong Be  28 August, 2015 at 15:49

    Lan untuk kucing namanya Kätzchen, tapi ada juga yang beri nama “Muschi” tapi ini juga diartikan saru,hehehe….

  4. Nonik-Louisa  28 August, 2015 at 13:49

    entah kenapa aku ngakak pas baca kalimat, “…traffic jam Jakarta yang kaya bangsat macetnya.” Hahahahahahaha. Totally understand it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.