Maaf, Indonesia Bukan Tukang Klaim Budaya Orang

Yuli Duryat

 

Kalau bicara klaim mengklaim, saya rasa Indonesia bukan tipenya. Banyak sekali budaya tanah air yang justru diklaim bangsa lain. Mungkin karena saking banyaknya, maka negara kita tidak begitu memperdulikan kekayaan tanah air yang sangat berharga nilainya.

Ketika diskusi sastra beberapa waktu yang lalu, saya terperanjat kaget karena seorang seniman Hongkong mengatakan ada orang Indonesia yang mengaku bahwa lagu Tien Mi Mi itu lagu dari Indonesia.

diskusi

‘Tien Mi Mi’ dalam fersi Indonesia ‘Dayung Sampan’ dinyanyikan penyanyi legendaries berkebangsaan Taiwan, Teresa Teng.

Meskipun saya tidak begitu paham bahasa Mandarin, saya justru lebih suka versi Chinanya. Lebih enak didengar. Teresa Teng sendiri lahir 29 Januari 1953 dan meninggal 8 Mei 1995. Umur 42 tahun/43 tahun dalam kalender China, ia meninggal akibat serangan asma akut ketika sedang berlibur di Chiang Mai, Thailand.

Wanita cantik yang bernama lahir Teng Li-Chun ini terkenal di antara masyarakat berbahasa Mandarin dan di seluruh Asia Timur termasuk Jepang. Ia terkenal berkat lagu-lagunya yang merakyat bernada balada romantis. Terkadang, namanya ditulis Teresa Deng atau Deng Lijun.

Selain lagu-lagunya yang berbahasa Mandarin, ia juga pernah merubah lagu-lagu dalam bahasa tradisional Taiwan, bahasa China, dialek Kanton, bahasa Jepang, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa lagunya yaitu “Selamat Jalan Kekasih/Good Bye My Love”, Ni Ce Me Suo. Teresa juga menyanyi Ayo Mama dari Maluku dalam bahasa Mandarin.

Setelah meninggal, ia dimakamkan bagai seorang pahlawan di Taiwan. Bendera Taiwan menutupi peti matinya. Presiden Taiwan saat itu, Lee Teng-hui, juga menghadiri pemakamannya. Teresa dimakamkan di sebuah kaki gunung di Chin Pao San atau Jinbaoshan, dalam bahasa harfiahnya berarti Gunung Harta Karun Emas, di sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, Taipei, Taiwan.

Sebuah patung dirinya dalam pakaian pertunjukan dipajang, didirikan sebagai tugu peringatan di tempat pemakamannya tersebut, diiringi dengan musik lagu-lagunya sebagai latar belakang. Di sana juga terdapat sebuah piano elektronik raksasa dimana para pelayat dapat memainkannya dengan menginjak balok-balok piano tersebut. Makamnya ini sangat sering dikunjungi oleh para penggemarnya.

Di Hongkong sendiri, berdiri sebuah rumah yang dibeli Teresa di tahun 1986 yang beralamat di Jalan Carmel Street nomor 18. Banyak penggemar yang berkunjung terutama ketika berita kematiannya tersebar. Rumah tersebut dijual untuk membiayai sebuah museum di Shanghai pada tahun 2002 seharga 32 juta dollar Hongkong. Rumah itu akhirnya ditutup untuk umum sejak tanggal 29 Januari 2004, hari dimana Teresa seharusnya berulang tahun ke-51.

Jadi tak ada klaim mengklaim di sini, Indonesia sudah kaya dengan budaya yang dimiliki, terbilang berlimpah malah. Untuk itu, mari hargai dan rawat budaya kita dengan baik jangan sampai kecolongan lagi seperti, Lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Keris, Batik, yang telah diklaim negara lain.

Terima kasih banyak, mohon diluruskan kalau ada yang keliru.

 

 

7 Comments to "Maaf, Indonesia Bukan Tukang Klaim Budaya Orang"

  1. J C  31 August, 2015 at 05:42

    Indonesia selalu begitu. Take it for granted, kalau sudah diserobot atau di’klaim negara lain, barulah heboooohhh…

  2. Budiono Santoso  26 August, 2015 at 05:20

    Salah satu implikasi budaya global. Orang juga ingin menikmati lagu2 dari bangsa lain.
    Salam damai

  3. Alvina VB  26 August, 2015 at 05:06

    Wah…baru pernah denger ttg lagunya Teresa Teng jadi lagu versi Ind- Dayung sampan. Saya rasa org Ind gak pernah claim karya negara/org lain, lah punya sendiri aja gak bisa dijaga kok, masa mau ngeklaim karya org lain, masa iya???

  4. Lani  25 August, 2015 at 23:31

    Setuju dgn komentar mas DJ……….sgt banyak ragam budaya di Indonesia, tp yg memiliki malah tdk menghargainya. Setelah di klaim, di caplok, diakui oleh negara lain baru mencak2……….pie iki???

  5. djasMerahputih  25 August, 2015 at 21:08

    Pihak yang menetapkan klaim sepihak sebuah produk budaya orang-orangnya dari mana saja ya…??
    Organisasinya bernama apa? kapasitas dan kredibilitasnya bagaimana? Kok kita taunya setelah diklaim saja…?? Ini bukannya kerjaan EO yang kehabisan lahan garapan ya…??

  6. Dewi Aichi  25 August, 2015 at 20:50

    Yuli…anjuran yang bagus Yulllll…………..semoga makin banyak yang paham…

  7. Dj. 813  25 August, 2015 at 17:10

    Tterimakasih Yuli Duryat . . .
    Indonesia memang kaya akan budaya, hanya malas merawatnya .
    Ini yang Dj.lihat .
    Senang menciptakan sesuatu, tapi perawatan tidak dipikirkan.
    Kalaupun dipikirkan, mungkin hanya bersifat sementara, saat barang itu masih baru.
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.