Bekerja, Berprestasi dan Berwisata di Kabupaten Lumajang

Wiwit Sri Arianti

 

Alhamdulillah,…aku selalu mendapat kesempatan bekerja dengan tugas yang bervariasi antara pekerjaan di kantor dan di lapangan, sehingga selalu menemukan hal-hal yang menarik, ini penting untuk menjaga semangat dan mengeliminir kebosanan. Seperti pekerjaan yang saat ini sedang kugeluti. Bekerja untuk “peningkatan kualitas pendidikan dasar”, wow, keren ya judulnya. Untuk pendidikan dasar, itu berarti pekerjaanku berhubungan erat dengan pendidikan untuk anak-anak sekolah dasar atau SD dan untuk anak-anak sekolah menengah pertama atau SMP. Bekerja untuk anak-anak menurutku selalu menarik karena banyak hal yang kutemui di luar pikiran orang dewasa, ini sungguh sangat menarik….

Bekerja, berprestasi dan berwisata merupakan moto dari teman-teman tim di Kab. Lumajang. Bekerja itu tidak asal-asalan, tapi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menghasilkan prestasi, setelah itu jangan lupa bersenang-senang untuk menjaga keseimbangan dan mencegah stress. Di bawah ini salah satu prestasi yang diraih teman-teman tim dari kabupaten Lumajang, salah satu kabupaten mitra USAID PRIORITAS.

Republik ini sudah meratifikasi berbagai macam regulasi internasional terkait dengan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas termasuk anak-anak berkebutuhan khusus atau sering disebut dengan ABK. Salah satu regulasi yang menjamin ABK untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang penyelenggaran pendidikan inklusif, dimana ABK bisa diterima belajar di sekolah umum bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya atau anak-anak non ABK.

Kabupaten Lumajang merupakan salah satu kabupaten mitra yang memiliki praktek yang baik dalam memberilkan layanan pembelajaran yang sesuai denga ABK. Salah satu ABK yang selalu menangis di kelas ketika mendapat tugas dari guru ketika ditemukan kebutuhan khususnya dan dilayani sesuai dengan kebutuhannya sekarang menjadi anak yang berani tampil dan tidak pernah menangis lagi di kelas. Ada juga anak yang beberapa kali tidak naik kelas kemudian dipindahkan ke sekolah yang memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak, akhirnya masuk dalam 5 besar anak berprestasi di kelasnya.

Anak-anak yang hobby-nya “kothekan” dan memukul benda-benda yang ada didekatnya, diorganisir dengan kegiatan bermain musik tradisional berupa gamelan dipadu dengan anak-anak yang suka teriak-teriak menjadi vokalisnya, ada juga karawitan dan sinden. Semua kegiatan tersebut membuat anak-anak senang dan tersalurkan bakatnya.

Di bawah ini foto 2 ABK dari Kabupaten Lumajang yang berhasil mengatasi ke-ABK-annya atas layanan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak yang dilakukan oleh guru. Sehingga mereka berani tampil mempresentasikan hasil pembelajaran di acara pameran pendidikan tingkat kabupaten yang dihadiri oleh Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan.

Saya merasa perlu mengangkat prestasi ABK ini karena saat ini masih belum banyak pihak yang peduli terhadap pendidikan ABK, bahkan ada kepala sekolah dan guru yang sempat terucap bahwa mengurus anak normal saja susah apalagi mengurus anak-anak yang tidak normal (ABK), astaghfirullah…… Padahal sudah ada jaminan untuk penanganan ABK berupa regulasi internasional, nasional sampai ke daerah yang berupa peraturan gubernur (pergub) dan peraturan bupati (perbup).

lumajang01

“Anak berkebutuhan khusus (ABK) bersama direktur program USAID PRIORITAS dalam acara pameran pendidikan di Kab. Lumajang setelah presentasi tentang neraca cartesius”

Selain berhasil membimbing anak-anak ABK menjadi berprestasi, kabupaten Lumajang juga sedang giat membangun budaya baca. Di hampir setiap kelas terdapat sudut baca semacam perpustakaan kelas yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak. Dalam acara pameran pendidikan juga disediakan sudut baca yang mampu menarik para guru dan murid untuk menikmatinya seperti foto di bawah ini.

lumajang02 lumajang03

“Para Ibu guru (foto atas) dan anak-anak (foto bawah) tertarik dan asyik membaca di sudut baca dalam acara pameran pendidikan tingkat kabupaten”

Hari kedua dan ketiga tugasku di Lumajang selalu selesai bersamaan dengan selesainya jam sekolah dan paling sore jam dinas PNS sehingga setelah itu bisa berwisata menikmati semua yang menarik di Lumajang. Sore ini aku ditemani oleh para sahabat di Lumajang berwisata durian, bagi teman-teman yang suka durian, saat ini Lumajang lagi musim durian dan karena musim maka harganya lebih murah. Ada beberapa varian durian di Lumajang, yang ada di foto ini dua diantara 4 varian yang kami coba nikmati sore ini. Ini durian oranye, sesuai warnanya yang oranye , daging buahnya tebal dan rasanya manis disertai sedikit rasa pahit. Sedangkan satunya, mereka menyebutnya durian pink sesuai warnanya. Yang ini rasanya lebih manis dan daging buahnya lebih tipis dibanding yang oranye.

Varian lain yang tidak sempat difoto karena sudah keasyikan makan, ada durian mentega, warnanya kuning seperti mentega, daging buahnya tebal dan rasanya luar biasa nikmat dengan kombinasi manis dan pahit yang seimbang. Satu lagi durian dengan warna putih tulang, bapak penjual mengatakan durian biasa, meskipun dibilang biasa namun rasanya tetap luar biasa, yang jelas lebih enak dan lezat dibanding durian biasa dari kota lain. Kesimpulanku, dari keempat varian tersebut yang paling enak durian mentega, disusul yang oranye, kemudian yang pink dan yang terakhir durian putih tulang.

Selain durian dengan empat varian rasa, Kab. Lumajang juga penghasil pisang yang berkualitas sangat bagus, namanya pisang agung dan pisang ….serta buah manggis. Karena banyaknya pisang yang dihasilkan maka masyarakat berkesempatan untuk membuat berbagai variasi produk makanan berbehan dasar pisang seperti kripik, sale dll.

lumajang04

“Pisang Agung”

 

lumajang05

“Pisang Kirana”

 

lumajang06

“Manggis”

 

lumajang07

“Menikmati durian pink bersama ibu guru yang punya hobby jalan-jalan ”

 

lumajang08 lumajang09

“Durian orange dan pink dari Lumajang”

Setelah kenyang menikmati durian, kami kembali ke hotel istirahat dan mempersiapkan tugas hari berikutnya. Seperti kemaren, setelah selesai acara kamipun melaju ke destinasi berikutnya yaitu ke situs Biting, ini merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah kota Lumajang. Dekat dari situs tersebut ada sebuah makam ternyata makamnya Aria Wiraraja atau orang Madura menyebutnya Minak Koncar.

Entah kebetulan atau memang rencanaNYA, salah satu teman yang datang bersamaku berasal dari Madura dan setelah diurutkan ternyata dia masih keturunan dari Minak Koncar. Kebetulan yang lain, temanku ini memiliki indera ke enam atau orang bilang “indigo” dan dia juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk alam lain. Jadilah dia berkomunikasi dengan eyang buyutnya yang bersemayam di pemakaman ini, saya tidak tahu seperti apa bentuk komunikasinya yang jelas setelah beberapa saat kata dia perutnya terasa mual mau muntah. Itu pertanda jika dia harus segera mengakhiri komunikasinya bersama Minak Koncar, ini komunikasi antara dua makhluk Allah yaitu manusia dan arwah manusia, hehehe….

Di bawah ini foto baliho tentang sejarah Minak Koncar dan kedatangannya di Lumajang, tapi maaf kurang begitu jelas karena terpaan cahaya matahari.

lumajang10

Menjelang senja, kami memacu kendaraan menuju trio telaga atau danau segitiga yang merupakan gugusan danau yang terletak di 2 kecamatan, yaitu kecamatan Klakah dan kecamatan Ranuyoso. Ketiga danau tersebut letaknya berdekatan, nama telaga tersebut adalah Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis. Kenapa disebut danau segitiga karena lokasi ketiga danau tersebut saling berdekatan dan jika ditarik dengan sebuah garis membentuk sebuah setiga. Jarak tempuh antara ketiga danau tersebut tidak lebih dari 8 Km, dari Ranu Bedali ke Ranu Klakah jaraknya sekitar 5 – 7 Km. Sedangkan jarak tempuh dari Ranu Klakah ke Ranu Pakis hanya sekitar 2 Km dan semua jarak tersebut dapat ditempuh dengan sangat mudah menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Di bawah ini foto ketiga ranu tersebut:

lumajang11

“Ranu Klakah”

 

lumajang12

“Ranu Pakis”

 

lumajang13

“Ranu Bedali”

Yang menarik dari ketiga ranu tersebut adalah lokasi Ranu Bedali yang terletak di bawah permukaan tanah seperti membentuk kawah yang besar dan luas, Ranu Bedali menjadi penghubung segitiga dengan kedua Ranu tersebut. Di kawasan ketiga ranu ini sangat menarik sebagai kawasan wisata, di sana ada pasar ikan apung, cottage wisata, persewaan perahu, sepeda air bahkan speedboat, lokasi pemancingan di tengah danau dan fasilitas wanawisata juga banyak dibangun di kawasan wisata ini.

Sebelum gelap menyergap, perjalanan kami lanjutkan ke pemandian alam Selokambang, sayang sekali waktunya sudah terlalu sore sehingga fotonya terlihat kurang cerah karena matahari mulai merambat menuju peraduannya.

lumajang14

“Senja di Pemandian alam Selokambang

Selokambang merupakan pemandian alam yang berlokasi di desa Purwosono, sebelah barat kota Lumajang sekitar 7 Km. Untuk mencapai lokasi tersebut sangat mudah dengan menggunakan kendaraan sendiri maupun kendaraan umum tanpa hambatan karena jalanan yang beraspal cukup mulus dan tidak perlu khawatir dengan kemacetan.

Selokambang berarti batu apung, banyak cerita yang beredar di masyarakat terkait dengan asal usul pemandian Selokambang ini. Salah satunya menurut legenda pada masa kerajaan Majapahit, ada seseorang yang menyelamatkan diri dari peperangan dan menyembunyikan sesuatu di balik sebuah batu yang besar di tepi danau. Batu tersebut bergeser dan masuk ke dalam danau, konon katanya atas bantuan seorang pertapa yang sakti. Namun aneh karena batu tersebut tidak tenggelam sebagaimana layaknya sebuah batu jika tercebur ke dalam air, tetapi batu tersebut terapung, sehingga dinamai batu apung atau Selokambang.

Pemandian Selokambang ini dilengkapi dengan tempat parkir yang cukup luas dan representatif serta berbagai macam warung yang menyajikan makanan tradisional yang siap menyambut kedatangan kita untuk rileks dan menikmati indahnya pemandian. Disini, kita bisa melakukan berbagai aktivitas seperti berenang, berperahu, sepeda air, permainan anak-anak dan olah raga tenis.

Hari berikutnya setelah pekerjaan tuntas, aku dan teman-teman memacu kendaraan naik menuju lokasi Senduro ke sebuah pura terbesar tempat orang-orang Bali “naik haji” pada sekitar bulan Juni. Pura ini namanya Mandara Giri Semeru Agung. Di bawah ini beberapa foto terkait dengan Pura Mandara Giri Semeru Agung.

lumajang15 lumajang16 lumajang17

“Narsis di depan Pintu Gerbang & Pendopo Pura Mandara Giri Semeru Agung”

Pura Mandara Giri Semeru merupakan objek wisata religi yang patut dikunjungi, dengan arsitektur khas umat Hindu yang sangat kuat menampilkan keagungan dan menambah keunikan Kabupaten Lumajang. Kehadiran pura ini seolah ingin menunjukkan bahwa Kab. Lumajang sangat menghargai adanya kerukunan umat beragama yang patut dicontoh. Di Lumajang, salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan komunitas muslim yang cukup kuat dapat menerima dengan baik keberadaan komunitas Hindu.

Semenjak tahun 1990, proses pembangunan Pura Mandara Giri Semeru dilakukan secara bertahap hingga sekarang, dan masih tampak di beberapa bagian kawasan belum selesai pembangunananya. Ketika kami memasuki gerbang utama, kami bertemu dengan candi yang megah serta beberapa tempat untuk sembahyang dan meletakkan sesaji, namanya Padmasana. Pada bagian pura ada yang disebut dengan candi Bentar di salah satu sisi dan candi Kurung di bagian dalam.

Semakin masuk ke dalam kawasan kami dapat menyaksikan beberapa bale, yang berfungsi sebagai tempat beristirahat dan tempat penyimpanan barang, seperti bale patok, bale gong, bale kulkul dan gedong simpen. Kemudian ada juga pendopo, yang disebut pendopo suci yang berfungsi sebagai dapur khusus dan bale patandingan yang biasanya dipakai untuk pertemuan tertentu. Kami dan para pengunjung lainnya tidak diperbolehkan untuk memasuki areal utama yang dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan, namun dari luar tampak bale agung dan padmanabha yang menurut penjaga pura merupakan bangunan suci utama dan sentral.

lumajang18

“Bersama patung Gajah, serasa di Bangkok”

 

lumajang19

“Bersama teman-teman di depan pendopo dan tempat sembahyangan”

Sebetulnya masih banyak tempat wisata di Lumajang yang masih ingin kukunjungi, namun karena waktunya sudah habis dan harus segera kembali ke Jakarta maka kucatat beberapa lokasi wisata lain yang bisa dikunjungi kalau ke Lumajang lagi.

Untuk keluarga besar Baltyra, silahkan mulai merencanakan untuk berwisata alam dan kuliner ke Lumajang, dijamin tidak akan kecewa…

 

Lumajang, 19 Maret 2015

 

 

24 Comments to "Bekerja, Berprestasi dan Berwisata di Kabupaten Lumajang"

  1. Nunuk Rarasanti  1 September, 2015 at 14:36

    Benar-benar menyenangkan… dan sesuai dengan program yang sedang dijalani “pembelajaran aktif kreatf efektif dan menyenangkan”. Bekerja, Berprestasi dan Berwisata, akan saya terapkan moto ini Bu Wiwit…

  2. Wiwit Arianti  31 August, 2015 at 21:18

    Iya mbak Vina, soalnya saya belum pernah ketemu durian pink selain di Lumajang. Ayo mbak kapan ke Lumajang besuk aku anterin
    Walah, apa gak “neg” ya makan durian sama nasi? kecuali kalau sudah dibikin sambel seperti tempoyak, mungkin sudah beda rasanya. tapi kalau masih durian asli trus dimakan sama nasi, apa enaknya ya mbak? hehe…

  3. Wiwit Arianti  31 August, 2015 at 21:11

    Sip Mas Handoko, memang sebaiknya saat musim durian supaya pengalamannya lengkap. Mas J C diajak aja mas, jadi durian bagian dia bisa untuk mas Handoko soalnya mas J C emoh durian hehehe….

  4. Alvina VB  31 August, 2015 at 19:27

    Mbak Wiwit, kl gitu musti ke Lumajang ya kl mau coba durian yg pink. Kl saya pribadi, suka durian yg 1/2 mateng/mengkel dan baunya tidak menyengat; saya gak suka durian yg sudah mateng banget dan baunya sangat menyengat. Di kel. saya juga gak semuanya suka durian. Yg saya paling heran tuch…org Sumatra, terutama org padang kl makan durian pake nasi loh….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *